Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Menginap


__ADS_3

Caroline memandang Viscount Luis dengan tatapan malas. "Baiklah, tapi tidak usah lama-lama."


"Kenan, Mia ikut aku." Caroline menuju ke arah kereta kuda.


Sedangkan satu pengawal dan satu pelayan itu merasa senang kegirangan. Semoga saja setelah pertemuannya dengan Caroline membuat majikannya hidup kembali, tak seperti manusia hidup tak bernyawa.


"Aku sudah ngantuk pula." Gerutu Caroline membuang wajahnya ke arah jendela. Ia melihat kanan-kiri, sepi hanya ada angin yang menyapa. Para warga pun sudah tidur, lampu di rumah mereka telah gelap. Sesekali dirinya menguap melihat Kenan dan Mia yang kadang menjatuhkan kepalanya dan kembali membuka matanya.


Sesampainya di kediaman Baron Knight, Caroline, Kenan dan Mia berjalan lunglai. Matanya pun kini tak bisa di buka. Rasanya sangat berat. "Nona." Ujar Mia dan Kenan yang memegang lengan Caroline agar tidak terjatuh.


"Aku ngantuk sekali, aku mau numpang tidur dulu." Ucap Caroline kesal, jika bukan karna pesuruh Baron Knight, ia tidak akan menderita menahan kantuknya.


"Baik, Nona. Sebaiknya Nona istirahat dulu." Ujar pelayan itu.


Caroline masuk, ia mengedarkan pandangannya. Rumah begitu luas, harum, nyaman dan bersih. Lukisan Baron Knight dan istrinya yang berjejer rapi. "Cih, membuat ku muak saja." Desah Caroline melihat senyuman itu.


"Untuk apa kamu kesini?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul di atas tangga. Ia keheranan kedatangan Caroline, setaunya tidak ada yang mengundang Caroline kecuali Ayahnya yang meminta untuk bertemu dengan Caroline.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berdebat dengan mu, tunjukkan jalan dimana kamar ku. Aku ngantuk." Ucap Caroline santai seraya menaiki tangga.


"Tunggu, kamu tidak boleh ke atas. Jangan membuat keributan, Ayah ku lagi istirahat. Pergilah, aku tidak pernah mengundang mu."


Caroline menaikkan kedua bahunya, "Baiklah."


"Tunggu Nona, kasian Tuan. Biarkan Nona Caroline bertemu dengan Tuan."


"Siapa kamu? apa kamu berhak mengatur ku?" Ucapnya yang mulai naik pitam.


Caroline menyandarkan punggungnya me sisi tangga, ia melihat ke atas Ariana yang mulai mengeluarkan tanduknya. Beralih ke bawah melihat pelayan dan pengawal yang berdiri gemetar.


"Jangan pernah menginjakkan kaki mu di sini. Ini rumah ku, Baron Knight." Teriaknya dengan dada naik turun.


Caroline tersenyum, "Baron Knight siapa ku? dia juga Ayah ku. Aku juga berhak di sini." Ucap Caroline seraya menggaruk hidungnya. Lalu melangkahkan kakinya melewati Ariana.


Dengan kasarnya Arian mendorong Caroline sampai punggungnya terbentur ke sisi tangga. Untung saja tangannya secepat kilat memegang sisi tangga itu agar tidak terjatuh. "Jangan pernah menganggap Ayah ku adalah Ayah mu."

__ADS_1


"Ariana, hentikan !" teriakan keras, dingin dan tajam itu menggelagar di ruangan itu. "Apa yang kamu lakukan Ariana? bagaimana kamu bisa mendorongnya seperti ini? bagaimana jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi padanya?" bentak seorang laki-laki dengan amarah yang membuncah, hatinya begitu sakit melihat Ariana begitu kasar pada Caroline.


"Sepertinya kehadiran ku tidak di butuh kan di sini." Ucap Caroline hendak pergi.


"Caroline tunggu, biarkan Ayah berbicara pada mu." Ucap Baron Knight dengan suara lemah.


Ariana menggertakkan giginya, ia tidak terima kemarahan Baron Knight hanya demi Caroline dari dulu Ayahnya tidak pernah membentaknya sedikit pun. Tetapi malam ini hanya demi gadis busuk yang paling dia benci membuat Ayahnya memarahinya. "Ayah aku tidak akan pernah menganggapnya saudara."


"Yak, siapa juga yang menganggap mu saudara."


"Cukup Ariana ! cepat kembali ke kamar mu. Ayah tidak ingin kamu bersikap kasar lagi. Mau tidak mau kamu harus menerima Caroline,"


Ariana menghentakkan kakinya, ia membalikkan badannya dengan deraian air mata. Dadanya sakit melihat perubahan sikap sang Ayah. Ayahnya yang tak pernah memarahinya, kini memarahinya hanya demi gadis yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.


"Caroline maaf ya tadi, ayo masuk Nak. Ayah akan menunjukkan kamar mu. Istirahat lah dulu, besok Ayah ingin menghabiskan waktu dengan mu."


Secercah harapan ada di hati Baron Knight, ia bersyukur, Caroline mau menemuinya. Awalnya tadi ia putus asa. Caroline tidak akan mau menemuinya. Tetapi pelayan dan pengawalnya tetap kekeh akan membawa Caroline dan berusaha meyakinkannya. Hatinya berjanji akan memberikan hadiah karna jasa keduanya.

__ADS_1


Caroline langsung membaringkan tubuhnya dan terlelap. Baron Knight menyelimuti tubuh Caroline. Ia tersenyum, tidak tau lagi bagaimana rasanya mengungkapkan semua isi hatinya.


"Berlia." Seru Baron Knight mencium kening Caroline.


__ADS_2