
2 hari kemudian.
Seorang gadis cantik tengah berbalut gaun berwarna putih dengan berenda di bagian lehernya dan bagian dadanya serta menutupi kepalanya dengan kain tipis berjaring itu. Rangkain bunga bertahta di kepalanya. Menandakan wanita itu akan mengadakan pesta pernikahan.
Wanita itu pun berjalan dengan menggandeng lengan Baron Knight di samping kanannya dan berjalan di atas karpet merah menuju altar.
Di sana, seorang laki-laki tengah menatap tubuh wanita yang kini menuju ke arahnya secara intens. Sangat cantik dan memukau. Debaran jantung di dadanya bertambah kencang. Laki-laki itu pun meraih tangan wanita itu untuk mengatakan sumpah janji sucinya.
Caroline menarik dalam-dalam nafasnya, hari ini status jandanya akan berakhir. Caroline menoleh mengangguk kepalanya pertanda dia sudah siap mengucapkan janji itu.
Setelah lima menit dalam ucapan janji suci itu. Duke Elios menyingkapi kain putih tipis itu ke belakang kepalanya.
"Cyra." Gumam Duke Elios lalu mengecup intens bibir itu lembut. Saling mengungkapkan kerinduan mereka yang sudah mendalam beberapa tahun ini.
"Ayah, dia sudah bahagia," ujar seorang wanita sambil mengeluarkan air matanya. Bahagia sekaligus sakit, itu lah yang ia rasakan saat ini.
"Ariana, ayah bangga pada mu." Baron Knight menepuk pelan bahu Ariana.
Setelah acara itu, Caroline dan Duke Elios menyambut para tamu bangsawan yang mengucapkan selamat. Bahkan Duke Elios tengah menggendong baby Elca di tangan kirinya. Para Bangsawan pun menatap takjub. Kini mereka tau, selama ini Duke Elios memperjuangkan cintanya untuk Caroline. Jika dulu Duke Elios yang menolak Caroline. Namun sekarang berbalik, Duke Elios lah yang memohon akan cintanya Caroline.
Acara demi acara telah selesai. Kini Caroline tengah duduk di depan riasannya seraya menyisir rambut yang mengkilap itu.
"Sayang." panggil seorang laki-laki dengan lembut. Laki-laki itu menutup pintunya dengan rapat-rapat kemudian berlari ke arah Caroline yang di sambut dengan pelukan hangat.
"Ada apa?" tanya Caroline.
"Aku rindu." lirihnya seraya melepaskan pelukannya. Kemudian mencium dan menyesapi rakus bibir wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, nanti kita lanjutkan."
Blush
Pipi Caroline memerah, ia memegang dadanya. Baru kali ini dirinya merasakan degupan kencang setelah melakukan pertama kali dengan Viscount Luis. Namun degupan itu semakin kencang. Ia ingin mengurungkan niatnya. Tetapi hati kecilnya berkata lain. Tubuhnya menginginkan kerinduan itu yang sudah lama di pendam.
Selang beberapa menit. Pintu kamar mandi terbuka. Memperlihatkan dada laki-laki berotot dengan jubah mandinya berwarna navy. Rambutnya basahnya di biarkan bergerai. Selama ini Duke Elios tidak lagi memperhatikan tubuhnya, ia membiarkan rambutnya panjang.
Duke Elios mendekat, langkah kakinya semakin mendekat dan mendekat. Tubuh Caroline menegang, ia memundurkan langkahnya sampai tubuhnya ambruk di atas ranjangnya tanpa kesengajaan.
Duke Elios mengusap lembut bibir itu. Ia mendekatkan wajahnya begitu pula bibirnya yang sudah semakin dekat.
Caroline menyambut bibir Duke Elios, ia menyesuaikan, mengimbangi ciuman bibir Duke Elios. Caroline semakin memperdalam ciuman itu, lidah mereka saling menyapa. Tangan Duke Elios pun meraba lekukan tubuh Caroline.
Tangan Caroline pun perlahan membuka jubah Duke Elios yang kini telah telanjang bulat.
"Sayang," ciuman Duke Elios beralih ke arah leher Caroline. Tangan kanannya bermain di area kedua buah benda kenyal itu. Juniornya semakin menegang ia tidak tahan melihatnya, lalu dengan rakusnya Duke Elios *******, menyesapi benda kecil yang menghitam itu. Ia mencium setiap inci lekukan tubuh Caroline. Memberikan tanda kissmarknya.
Duke Elios memasukkan miliknya dengan pelan dan lembut. Sampai juniornya menguasai semua area milik Caroline. Ia benamkan selama beberapa menit. Dengan lembut ia memainkan iramanya.
Ya, area Caroline masih sangat sempit. Membuatnya perlahan memainkannya, tidak ingin Caroline merasakan kesakitan. Bahkan saat ini Caroline meringis. Air mata itu kembali membasahi pipinya.
"Sayang, maaf." lirih Duke Elios merasa kasihan.
Caroline tersenyum, ia bahagia. Duke Elios menerimanya yang kini statusnya telah menjadi janda.
"Maaf sayang." Duke Elios mengecup kening Caroline, lalu mencium matanya secara bergantian. Kemudian menjilat air mata Caroline.
__ADS_1
Duke Elios pun kembali mencium bibir Caroline, menyesapinya dengan lembut. Tangan Duke Elios bergerilya di kedua benda kenyal itu. Dan sekarang giliran mulutnya lah yang menyesapinya.
Lenguhan itu keluar dari mulut Caroline. Sepertinya Caroline tidak merasakan kesakitan. Duke Elios melajukan juniornya dengan cepat namun lembut. Desahan di antara keduanya pun terjadi. Caroline mengalungkan lengannya ke leher Duke Elios, ia memeluk Duke Elios yang memajukan miliknya.
"Elios."
"Caroline."
Kedua orang itu kembali berciuman tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Ijinkan aku nakal pada suami ku." ujar Caroline terkekeh.
Kali ini jamuan itu di pimpin Caroline, entah kapan Duke Elios telah berbaring sementara Caroline berada di atasnya. Caroline pun mencium lembut bibir Duke Elios, menyesapinya dan **********. Caroline beralih ke leher Duke Elios memberikannya beberapa tanda.
Ciuman itu semakin menurun, Caroline memberikan beberapa tanda di dada kekar milik Duke Elios.
Setiap inci tubuh kekar Duke Elios, ia berikan tanda cintanya.
Desahan berkepanjangan dan keras itu membuat Duke Elios merasakan kenikmatannya. Ternyata Carolinenya sangat lihai. Duke Elios beringsut, ia menatap wajah cantik di depannya. Bukan wajah Caroline tapi melainkan wajah Cyra yang ia lihat pertama kalinya.
Tubuhnya di penuhi keringat, ia mencium bibir itu kembali.
"Aku mencintai mu." Caroline menghentikan aktivitasnya, membiarkan semburan putih yang kedua kalinya melebur di rahimnya.
"Mau aku ajari bercinta sampai puas." Cyra tersenyum menyeringai.
Caroline melepaskan miliknya, ia membaringkan tubuhnya dalam posisi tengkurap. "Lakukan." ujar Caroline.
__ADS_1
Duke Elios yang tadinya bingung, ia kemudian mengerti apa kemauan Caroline. Tak butuh beberapa lama. Duke Elios mencium bahu leher belakang Caroline, mencium bahunya lalu turun ke punggungnya.
Caroline merasakan areanya kembali memanas dengan junior Duke Elios. Mereka kembali melakukan itu dengan gaya yang Caroline ajarkan.