
Matahari telah nampak, awan biru di langit terlihat jelas dan indah. Tetasan embun di dedaunan terjatuh ke tanah. Terlihat seorang laki-laki yang tampak gagah dengan baju zirah besinya yang terlihat mengkilau. Pedangnya berada di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang pengikat kudanya itu. Derap kuda dan beberapa anak buahnya menghiasi perjalanan itu.
Laki-laki itu pun menatap lurus ke depan. Sudah dua hari ia tidak bisa tidur, selalu ada bayangan Cyra, gadis asing namun terlihat dekat.
Setiap ia memejamkan matanya, ia melihat Cyra dan Caroline yang tersenyum ke arahnya. Senyuman itu beda kadang sama. Laki-laki itu membuang nafasnya secara kasar, hatinya masih terpaut dengan wajah Cyra tapi hatinya sedikit kecewa. Ia tidak bisa menerima kenyataan Caroline pergi meninggalkannya. Dan selama ini, dia mencintai orang lain dalam bentuk wajah Caroline.
Disisi lain.
Terlihat kedua pasang sejoli yang tampak mesra dengan berdansa di tengah-tengah para tamu. Kedua pasang sejoli yang tak lain Caroline Knight dan Viscount Luis. Sesaat yang lalu mereka telah mengucapkan sumpah janji suci sebagai pasangan suami istri.
Semua orang berdecak kagum, aura kecantikan dan ketampanan keluar dari kedua sejoli itu. Siapa pun yang melihatnya pasti lah iri. Sempurna sangat sempurna di mata para bangsawan.
Suara tepukan tangan dari para bangsawan mengakhiri dansa mereka sekaligus musik biola dan piano yang mengiri dansa mereka tadi.
__ADS_1
"Aku mencintai mu Caroline Knight." Ujar Viscount Luis tersenyum lalu mencium kening Caroline begitu dalam.
Semua bangsawan laki-laki menganggap remeh Viscount Luis, mana ada laki-laki bangshaawan mencium istrinya di tempat umum. Bagi mereka, laki-laki lebih terhormat dari pada wanita. Sedangkan para bangsawan wanita menatap takjub. Baru kali ini mereka melihat seorang wanita yang sangat di hormati, di sayangi di depan umum. Menunjukkan seberapa cintanya laki-laki yang berstatus suami itu.
Para bangsawan wanita menatap iri, mereka mengatakan 'Betapa beruntungnya seorang wanita yang menjadi istri dari Viscount Luis, selain menjadi incaran para wanita. Viscount Luis terkenal dingin kepada para wanita yang tak tersentuh sedikit pun.
"Aku berharap kamu membuka hati mu untuk ku Caroline. Maaf aku tidak bisa seperti Duke Elios."
Caroline tersenyum getir. Ia tidak tahan melihat senyuman terpaksa itu. Ia tau Viscount Luis berpura-pura tersenyum. Namun hatinya masih kecewa.
Ehem
Derheman Baron Knight menyadarkan Caroline dan Viscount Luis. Mereka menahan malu di tatap oleh semua orang.
__ADS_1
"Selamat, sekali lagi selamat untuk kalian berdua. Caroline, jadi lah istri yang baik untuk Viscount. Dan untuk Viscount, aku titip Caroline." Ujar Baron Knight di iringi air mata yang berjatuhan. Ia terharu sekaligus bersyukur. Semua kebenaran terungkap, andai saja Ibu Caroline masih hidup. Pasti dia akan sebahagia ini.
Berlia, lihatlah putri kita. Dia sudah dewasa, waktu itu aku pernah bertemu dengannya saat masih kecil dan memandangnya benci. Maafkan aku Berlia, aku seorang laki-laki yang tidak pantas berada di samping mu. Pantas saja, Tuhan tidak mengijinkan aku memiliki mu batin Baron Knight.
"Ayah, Caroline mohon. Ayah menjaga kesehatan Ayah dan Ariana, aku menganggapnya sebagai saudara ku." Ujar Caroline, "Tapi kenapa dia tidak kesini?"
"Dia sedang berlibur ke rumah bibinya, mungkin kemarin dia sudah berangkat setelah berpamitan pada Yang Mulia Duke."
Caroline menarik nafasnya agar dada tidak begitu sesak. Ternyata kemarin mereka menghabiskan waktu bersama, pantas saja Duke Elios tidak menemuinya untuk yang terakhir kalinya.
"Emm." Caroline memaksakan senyuman itu keluar dari bibir merahnya itu.
Tak terasa waktu telah berganti, pesta itu pun telah usai. Kini Caroline melihat bayangan wajahnya di depan cerminnya. Malam ini adalah malam pertamanya dengan Viscount Luis. Ia melanjutkan menyisir rambut hitamnya itu.
__ADS_1
Caroline melihat ke arah pintu. Namun tidak ada tanda-tanda Viscount Luis membukanya. Caroline mengembalikan sisir itu ke tempat semula lalu melangkahkan kakinya ke sofa.
Sekitar satu jam Caroline menunggu kedatangan Viscount Luis. Ingin tidur duluan tapi dia takut tidak sopan. Sebenarnya dari awal Viscount Luis sudah mengatakan ada sesuatu yang mendesak yang menyuruhnya ke istana.