
Keesokan harinya.
Caroline mengerjapkan matanya, ia beranjak duduk. Rasanya, badannya sakit semua. Semenjak beralih tubuh, Caroline tidak pernah berolahraga seperti dunianya.
Ia turun dalam posisi tengkurap, tangan di sisi kiri dan sisi kanan badan. Kemudian badan di dorong ke atas dengan kekuatan tangan. Posisi kaki tegap dan lurus.
"Satu, dua, tiga, empat." Genap angka Tiga Puluh, Caroline menghentikannya. Tubuhnya terlalu lemah untuk lebih dari angka Tiga Puluh dan akhirnya ambruk di lantai.
"Capek sekali." Gumam Caroline sambil menempelkan pipinya ke lantai. Rasa dingin lantai menyerap ke aliran wajahnya. "Hah, enak sekali."
krek
"Nona, apa yang Nona lakukan?" teriak Kenan dan Mia dengan tergesa-gesa. Ia mengangkat kedua tangan Caroline, membantunya berdiri.
"E-e-e kalian apa?" tanya Caroline.
"Apa Nona baik-baik saja." Kenan dan Mia meraba semua tubuh Caroline.
"Hais, kalian pikir aku jatuh ke lantai. Sudahlah aku mau mandi." Caroline bergegas pergi, ia menghiraukan Kenan dan Mia yang masih berteriak memanggilnya dan berlari ke arahnya.
__ADS_1
Caroline memejamkan matanya, ia meriliek sejenak tubuhnya. Rasanya sangat menyegarkan. Keluar keringat di pagi hari setelah itu mandi dengan air dingin.
Cukup berendam cukup 30 menit. Caroline berdiri, meraih jubah mandinya.
Ia pun di bantu oleh Mia dan Kenan bersiap-siap untuk sarapan pagi.
"Apa Bibi dan Paman sudah pulang?" tanya Caroline.
"Entahlah Nona saya tidak tau."
Caroline keluar dari kamarnya, ia melihat Ketua pelayan yang berdiri di depan pintunya yang hendak mengetuk pintunya.
"Maaf Nona, mengganggu ini ada titipan dari Yang Mulia Duke."
Caroline tersenyum sinis, ia mengingat kejadian tadi malam. Duke Elios menyalahkan dirinya.
"Beraninya dia,"
"Kirimkan gaun itu ke kediaman Nona Ariana." perintah Caroline datar.
__ADS_1
"Tapi Nona." Ketua pelayan ingin menolak, karna ia merasa tidak enak pada Duke Elios. Bagaimana jika dirinya yang di hukum? karna ia lah yang bertanggung jawab atas gaun itu.
"Antarkan saja, bilang itu dari Yang Mulia Duke. Jangan bilang dari ku. Jika tidak mau, buang saja." Perintah Caroline datar.
Ketua Pelayan tidak tenang, ia pasrah menjalankan perintah Caroline. Pilihan keduanya sama saja. Tidak ada yang menguntungkan bagi dirinya. Ketahuan di buang, sama saja ia yang akan di hukum oleh Yang Mulia Duke dan dirinya merasa enggan membuang gaun sebagus dan semahal itu.
Caroline memakan sarapannya. Namun tiba-tiba ia mengingat kembali perkataan Duke Elios. Ia menaruh kembali rotinya.
"Ada apa Nona? apa rotinya tidak enak?" tanya Kenan melihat merasa khawatir.
"Aku tidak apa-apa Kenan." Balas Caroline beranjak pergi. Ia ingin menghirup udara segar untuk menenangkan hatinya.
Sementara di sisi lain.
Salah tiga pelayan dan salah satu pengawal mengirimkan sebuah gaun seperti yang Caroline perintahkan. Mereka mengatakan jika Yang Mulia Duke menyuruh mereka untuk mengantarkan gaun itu. Wanita di depannya pun merasa senang, ternyata gaun itu lebih bagus dari yang sebelumnya ia pilih.
"Apa Nona Caroline tentang Yang Mulia Duke mengirimkan gaun indah ini?" tanya Nona Ariana.
Pelayan dan pengawal itu pun mengangguk, mereka saling melirik. "Be-benar Nona." Jawab salah satu pelayan dengan suara gugup.
__ADS_1
"Baguslah dan terimakasih." Ucapnya tersenyum licik.
Caroline pasti hari ini sedang menangis dan lihat saja nanti malam batinnya.