Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
kedatangan Viscount Luis


__ADS_3

Setelah pertunjukan itu, Kaisar Ferdinand dan seluruh anggota istana merasa malu pada Caroline. Mereka tidak tau, orang yang di anggap rendah oleh semua orang kali ini mengharumkan nama kekaisarannya. Kini semua orang tidak ada yang berani lagi berbisik di belakang Caroline. Mereka bungkam setelah melihat pertunjukan Caroline.


Sedangkan Caroline dan Pangeran Xio Jue bersantai di halaman depan memakan berbagai macam kue.


"O, iya Caroline. Bagaimana jika kamu ikut dengan ku. Tenang saja, aku akan menjamin keselamatan mu."


"O, tidak tidak aku tidak bisa. Aku harus kembali ke rumah bibi ku." Ujar Caroline.


"Padahal aku ingin sekali kamu ke kerajaan ku."


"Nona," panggil seorang wanita.


Caroline menoleh, "Ada apa?" tanya Caroline seraya menaikkan alisnya.


"Tuan Viscount datang ke kediaman Baron." Ujar Kenan.


"Apa?" Caroline kaget, ia langsung pulang bersama Kenan tanpa pamit ke Pangeran. Tidak sampai di depan gerbang, Caroline kembali ia baru ingat tidak memberikan hormat bisa saja hari ini pertemuan terakhir mereka.


"Maaf Pangeran aku lupa, aku harus pergi."


Caroline langsung membungkuk hormat dan berlalu pergi. Pangeran Xio Jue pun hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingin menghentikan Caroline tidak bisa, Caroline pergi tanpa mendengarkan perkataannya.


"Pangeran dimana Caroline?" tanya Kaisar Ferdinand.


"O Caroline sudah pergi, Baginda. Katanya dia kedatangan tamu."

__ADS_1


"Kedatangan tamu?" Duke Elios dan Baron Knight saling menatap setau mereka Caroline tidak pernah kedatangan tamu. Bahkan bergaul dengan wanita bangsawan saja tidak punya. Sedari kecil Caroline telah membatasi pergaulannya dengan para kalangan kelas atas.


"Baginda maaf, hamba undur diri." Ucap Duke Elios dan Baron Knight. Mereka begitu penasaran dengan tamu Caroline dan memilih meninggalkan pesta.


Kaisar Ferdinand mengerti, "Baiklah."


Lain halnya dengan Pangeran Oskar yang selalu mencari celah ingin menemui Caroline. Caroline pun hanya menghindari dan enggan menemuinya atau sekedar berbincang. Selalu ada alasan dari Caroline untuk menghindarinya. Seakan Caroline begitu membencinya.


"Seandainya aku tau Caroline memiliki bakat, aku pasti merestui mu." Ucap Kaisar Ferdinand yang merasa menyesali atas perbuatannya.


"Jadikan ini pelajaran Baginda. Dari dulu aku sudah tertarik dengan Caroline. Karna sifatnya berbeda dari yang lainnya." Timpal Permaisuri Eveline.


***


"Tuan."


"Caroline." Laki-laki itu menghampiri Caroline, berjongkok dan mencium tangan Caroline. "Aku merindukan mu." Ucapnya sambil mengelus pipi Caroline. Wajah Caroline bersemu merah menahan malu.


"Ehem, sebaiknya kalian mengobrol dulu." Bibi Roseline pun pergi meninggalkan kedua orang itu.


"Ayo iku aku, Luis bisa melihat sekitar rumah ini."


"Kapan kamu akan kembali ke rumah Nyonya Roseline?" tanya Viscount Luis. Hatinya begitu sangat merindukan Caroline. Sudah beberapa hari ini dia tidak fokus pada pekerjaannya dan mogok makan.


"Entahlah, aku tidak tau. Tapi secepatnya aku akan pulang."

__ADS_1


"Bagaimana jika pulang bersama ku? aku ingin secepatnya mengadakan pertunangan kita." Ujar Viscount dengan wajah sendu. Dia ingin secepatnya menjadikan Caroline miliknya.


"Aku masih butuh waktu,"


"Kamu tidak mencintai ku kah?" Viscount Luis menatap nanar ke arah Caroline. Benar, pertemuan mereka hanya sekali. Caroline tidak akan mudah mencintainya.


"Aku butuh waktu,"


"Tapi aku ingin kamu belajar mencintai ku Caroline. Aku berjanji akan membahagiakan mu. Aku mohon Caroline jadilah istriku dan ibu dari anak ku."


Caroline begitu terharu mendengarkan ucapan Viscount Luis, Apa dia boleh mencintai laki-laki lain. Sedangkan pemilik tubuh ini, mencintai Duke Elios.


"Bersabarlah, aku akan mencoba dan belajar mencintai Viscount."


"Maka dari itu aku ingin secepatnya mengadakan pertunangan kita."


"Tidak semudah itu Viscount," suara dingin itu membuat hawa sekitar taman itu panas.


"Tidak semudah itu, Viscount Luis melamar Caroline tanpa sepertujuan ku." Sambungnya lagi.


"Duke Elios."


"Benar, aku masih belum memutuskan Caroline bersama siapa? aku tidak ingin dia salah memilih."


Baron Knight dan Ariana tidak ingin menyela, mereka tidak bisa memotong pembicaraan Duke Elios, mereka merasa Duke Elios dalam keadaan marah.

__ADS_1


"Kata siapa aku harus mendengarkan Paman lebih dulu? Hidup ku, Aku yang menjalaninya bukan Paman." Sanggah Caroline.


"Caroline." Bentak Duke Elios.


__ADS_2