
Acara pesta itu pun telah berlalu, kini Viscount Luis, Caroline, Duke Elios dan Baron Knight tengah berbincang bersama-sama. Sesekali mereka tertawa mendengarkan kisah masa kecil Caroline.
Duke Elios pun mengurungkan niatnya, ketika Viscount Luis tetap kekeh memintanya menginap di kediamannya itu.
"Ayah, kenapa Ariana tidak ikut?" Tanya Caroline.
Baron Knight tersenyum, ia mengelus pucuk kepala Caroline. "Tidak sayang, Ayah tidak ingin dia berbuat ulah. Kamu tidak perlu memikirkannya." Jawab Baron Knight.
"Lalu kapan Duke Elios dan Nona Ariana menikah?" Timpal Viscount Luis membuat Caroline dan Duke Elios serempak melihat ke arahnya. Caroline dan Duke Elios saling memandang satu sama lainya. Duke Elios ragu menjawab apa? Dia ingin mengatakan akan memutuskan pertunangan, namun takut Viscount Luis salah paham.
Ingin menjawab menikah, tetapi hatinya sudah tak lagi ada nama Ariana.
"Jangan tegang seperti itu Duke Elios. Aku percaya kalian pasangan yang sangat serasi." Sambung Viscount Luis memecahkan keheningan. Ia paham Duke Elios tidak ingin membahas masalah pernikahannya, sementara hatinya sudah milik Caroline.
"Em, iya." Ucap Duke Elios merasa ragu sambil melirik ke arah Caroline.
"Dan kami akan mengadakan tiga hari lagi pernikahan. Aku harap Duke Elios dan Baron Knight datang."
Caroline menunduk, ia tak ingin menimpali perkataan Viscount Luis.
"Aku harap kalian bahagia." Ujar Duke Elios tersenyum senang, padahal hatinya menangis dan berteriak kesakitan.
"Benarkah, aku selalu berdoa seperti itu, karna bagi ku Caroline adalah kebahagiaan ku, dunia ku." Viscount Luis meraih tangan kanan Caroline dan menggenggamnya lalu tersenyum ke arahnya.
Caroline sebahagiakan kamu bersamanya batin Duke Elios.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan di antara mereka. Caroline, Ayah tau sebencinya dirimu, masih ada rasa di hati mu pada Duke Elios. Sementara kamu tidak ingin menyakiti Viscount Luis. Kenapa kamu harus berkorban Nak?
"Caroline bolehkan Ayah berbicara dengan mu. Setidaknya Ayah melepaskan rindu Ayah. Besok Ayah harus kembali."
Caroline mengangguk, "Baiklah, kita berbicara sambil berkeliling Ayah." Ujar Caroline beranjak berdiri dan membungkuk hormat. Caroline dan Baron Knight pun pergi meninggalkan Duke Elios dan Viscount Luis berdua.
Kini tinggallah kedua pria itu yang saling melihat punggung Caroline yang mulai menghilang di hadapan mereka.
"Apa Duke masih mencintainya?" Viscount Luis beralih melihat ke arahnya.
"Kenapa kamu menanyakan itu Viscount?" tanya Duke Elios keheranan.
"Caroline masih mencintai Duke."
"Aku tidak tau Duke Elios sedih atau senang. Tapi pada kenyataan Caroline sudah memilih ku. Aku kan membuatnya mencintai ku. Seperti dia mencintai mu Duke atau bahkan lebih."
"Bagi ku sekarang hanyalah kebahagiaan Caroline yang lebih penting. Dan untuk masalah antara aku dan Caroline, aku percaya pada takdir. Jika Caroline di takdirkan untuk ku, sejauh jarak apa pun dia akan kembali padaku." Balas Duke Elios. Semakin ia berdebat, semakin sakit mendengarkannya.
"Baiklah, tapi kenyataanya memang Caroline sudah menjadi milik ku. Aku suka dengan perkataan mu itu. Dan ya, jangan lupa tiga hari lagi aku akan menikahinya." Ucapnya sambil mengambil tehnya lalu meminumnya.
Disisi lain.
Caroline dan Baron Knight berjalan mengelilingi kediaman itu, kediaman itu hanya terletak dua lantai dan di kelilingi pohon cemara beberapa pohon rindang lainnya. Rumah itu lumayan luas, asri dan nyaman. Siapa pun yang kesana pasti betah berlama-lama.
Baron Knight hanya melamun, sejak tadi ia hanya memikirkan kehidupan Caroline selanjutnya.
__ADS_1
"Caroline berhentilah bersikap kuat, jangan sampai kejadian seperti Ayah membuat mu kehilangannya."
Seketika Caroline menghentikan langkah kakinya, ia berbalik. "Aku kuat Ayah, bukankah Ibu juga orang yang kuat."
Deg
Baron Knight langsung memeluk Caroline, ia ingin mendukungnya tapi kali ini salah. Dia tidak ingin hidup Caroline hancur karna egonya.
"Caroline, batalkan pertunangan ini."
"Maaf Ayah aku tidak bisa, aku kuat Ayah. Aku tidak ingin sesuatu menimpa nama baik ku dan juga Ibu ku."
Aku sudah sangat sering mendengarkannya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aku tidak ingin ada kata-kata seperti itu.
"Ikutlah dengan ku, Ayah akan meresmikan diri mu Putri Ayah. Tidak akan ada yang berani menjelek-jelekkan nama mu." Ujarnya penuh harap.
"Benar, Caroline. sekarang sudah waktunya kamu mengakui Baron Knight." Ujar bibi Roseline tanpa sengaja mendengarkan percapakan mereka. ia tidak ingin Caroline di kenal anak di luar nikah tanpa cinta. Berlia dan Baron Knight saling mencintai, sampai mereka harus berkorban salah satunya.
"Aku ingin kamu mengakui Caroline putri mu atas dasar cinta. Dan untuk Putri mu Ariana, tolong lah awasi dia. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Caroline. Aku yakin kebenciannya semakin besar saat menerima kenyataan itu." Ujar bibi Roseline.
Caroline menatap ke arah Baron Knight, ia juga menginginkan namanya di akui oleh Baron Knight secara resmi.
"Ikut Ayah, ayah akan menjaga mu Nak. Percayalah pada Ayah. Kali ini Ayah tidak akan mempercayainya dan akan menjaga mu."
"Aku akan membicarakannya pada Viscount Luis untuk mengulur waktu pernikahan kalian." Ucap bibi Roseline berlalu pergi.
__ADS_1