
"Maaf nona, Yang Mulia Duke sedang sibuk." Ucap Emi membungkuk hormat.
Ariana tidak terima, ia yakin Duke Elios hanya memberinya alasan agar bisa menjauhinya. Pasti sekarang pikirannya hanya Caroline dan Caroline. Kekhawatiran ini lah yang ia takutkan, setelah pulang dari peperangan itu, Duke Elios bertambah memperhatikan Caroline, ia merasa Duke Elios menyimpan rasa.
"Aku akan menemuinya, kali ini aku yakin. Dia pasti sedang membutuhkan diriku." Kekeh Ariana mencoba masuk kembali.
"Nona, saya mohon. Kali ini tolong mengerti,"
"Minggir, jika terjadi sesuatu dengan ku. Yang Mulia Duke juga tidak akan mengampuni kalian." Bentak Caroline menyelonong masuk.
Ariana menghembuskan nafasnya, ia menggenggam erat tangannya seraya menatap lurus ke depan melihat laki-laki yang sedang fokus dengan kertas di depannya.
Ariana melangkahkan kakinya, ia yakin Duke Elios tidak akan memarahinya. Sudah beberapa kali ia masuk ke ruangan itu menemui Duke Elios saat berada di kediaman Baron.
"Aku sudah katakan, aku tidak ingin di ganggu." Suara dingin itu seketika menghentikan langkah kaki Ariana yang beberapa jarak dengan Duke Elios.
__ADS_1
"Yang Mulia." Cicit Ariana dengan mata berkaca-kaca. "Maaf aku takut terjadi sesuatu dengan Yang Mulia. Aku takut Yang Mulia sangat mengkhawatirkan Caroline." Ucap Ariana sambil terisak-isak.
Duke Elios menarik nafas, "Maaf Ariana. Bukan maksud ku seperti itu." Duke Elios berdiri, ia menuju ke arah Ariana dan memeluknya.
"Sudahlah, jangan menangis. Aku mohon, tolong mengerti."
"Baiklah, aku akan memberikan waktu. Tenangkan dulu pikiran Yang Mulia." Ucap Ariana membalas pelukan Duke Elios. Duke Elios pun tersenyum dan mengecup kening Ariana.
Setelah perkataan singkat itu, Ariana pergi dengan menahan amarahnya. Sesampainya di kediamannya, Ariana mengamuk di dalam kamarnya. Sehingga membuat pelayan ketakutan dan melaporkan semuanya pada Baron Knight.
"Ariana ada apa?" tanya Baron Knight memeluk putrinya begitu erat.
"Tenang sayang, Ayah akan membantu mu. Hari ini kabar gembira, Pangeran Oskar akan bertunangan dengan putri keluarga Viscount. Ayah pasti yakin Caroline yang mendengarkannya menderita. Jadi, Ayah tidak akan membiarkan siapa pun bahagia karna menyakiti Putri kecil Ayah." Ucap Baron Knight.
"Ayah, aku ingin Caroline di permalukan."
__ADS_1
"Tenang saja, Caroline pasti datang di acara pertunangan Pangeran Oskar." Ucap Baron Knight tersenyum licik.
Sementara di sisi lain.
Surat undangan dari istana tentang pertunangan Pangeran Oskar telah sampai di kediaman Bibi Roseline. Seorang pengawal yang di tugaskan khusus oleh Pangeran Oskar memberikan undangan itu dan sepuncuk surat untuk Caroline.
Caroline membaca surat itu seraya menaikkan salah satu alisnya, di dalam surat itu tertulis Caroline tidak boleh bersedih dan meminta maaf atas janjinya yang tidak bisa di tepati. Caroline mendesah, ia mengambil sepotong kue di piring itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. "Apa dia pikir aku menyukainya, baiklah aku akan mendatanginya. Uhu, kita lihat drama apa lagi yang akan di ciptakan oleh Baron Knight jos bersama Putrinya nona Ariana." Caroline menjatuhkan surat itu ke sembarang arah. Ia menatap pohon di depannya, sudah lama aku tidak menaiki pohon dan bermain ayunan. Rasanya menyenangkan jika ia kembali ke masa kecilnya. Tidak kenal cinta, tidak kenal lika liku kehidupan. Yang ada hanyalah tentang bermain dan makan.
"Kenan, bisakah kamu menceritakan semua kehidupan Caroline saat berada di kediaman Baron?" tanya bibi Roseline tanpa mengalihkan pandangannya menatap Caroline yang sedang duduk bersantai.
Kenan tersenyum kecut, air matanya lolos keluar. "Nona tidak bahagia Nyonya. Selama ini Nona sangat mencintai Duke Elios, sedangkan Duke Elios mencintai nona Ariana putri dari Baron Knight."
Bibi Roseline memegang dadanya yang terasa sakit, mendengarkan nama Baron Knight sudah pasti laki-laki itu.
"Baron Knight." bibi Roseline masih menanyakannya lagi. Bisa saja pendengarannya salah.
__ADS_1
"Benar Nyonya, nona Ariana putri pertama dari Baron Knight. Hamba kasihan, Baron Knight sering ikut campur urusan nona Caroline dengan Duke Elios. Pada waktu itu, Baron Knight mendatangi sendiri nona Caroline dan memarahinya sebelum nona Caroline mengalami kecelakaan itu dan membuatnya koma beberapa hari. Hamba merasa Baron Knight membenci nona Caroline." Jelas Kenan mengingat tatapan Baron Knight saat memarahi Caroline.
"Nona Caroline hanya bisa menangis saat Baron Knight menghinanya. Apa karna Baron Knight mantan kekasih nona Berlia." Ucap Kenan mendengarkan kisah nona Berlia. Sudah tak jarang semua orang mengingat masa mereka. Kadang ada yang mencela nona Berlia karna memilih orang yang salah setelah kekasihnya menjadi Baron terkenal.