Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
hukuman kedua pelayan


__ADS_3

Ke esokan harinya..


Caroline mengerjapkan matanya kemudian mengucek dengan pelan. Ia mulai terusik dengan sinar matahari yang menebus jendelanya. Caroline beranjak duduk, ia merentangkan tangannya. Caroline menguap seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Nona sudah bangun, saya sudah menyiapkan air hangat untuk Nona." seru pelayan wanita tersenyum ramah.


"Dimana Mia dan Kenan?" tanya Caroline, tidak biasanya kedua pelayan tidak melayaninya.


"Mia dan Kenan di hukum mencabut rumput di halaman belakang Nona." jawab sang pelayan.


Caroline membulatkan matanya, perasaan kedua pelayannya tidak berbuat salah padanya.


Caroline langsung turun, ia tidak memperdulikan kakinya yang kini bertelanjang.


Sedangkan Kenan dan Mia menggerutu sedari tadi, mereka tidak tau letak kesalahannya apa. Hingga Duke Elios tega menghukumnya dengan berat, mencabut rumput kecil menggunakan kedua tangannya. Bahkan ia tidak tau sampai kapan rumput kecil itu akan habis.


"Kenan, Mia." teriak Caroline ia berlari kecil menghampiri mereka.


Caroline berdecak pinggang, ia masih mengatur nafasnya. Lalu terduduk di atas rumput yang Kenan dan Mia kumpulkan.

__ADS_1


"Nona kenapa ada di sini?" tanya Mia, matanya beralih melihat kaki Caroline tanpa alas kaki.


"Kenapa kalian ada di sini? siapa yang menghukum kalian? seenaknya saja menghukum kalian." dengus Caroline dengan wajah kesal.


"Paman yang menghukumnya." Suara itu membuat jantung Caroline berdetak lebih cepat. Caroline menoleh, lagi-lagi ia harus bertemu dengan orang yang ia ingin hindari.


Dasar bokong ayam batin Caroline.


Caroline berdiri, ia berdecak pinggang. "Apa salah mereka Paman? mereka tidak memiliki salah dengan ku." Seru Caroline.


"Mereka tidak punya salah pada mu, tapi mereka punya salah pada ku." balas Duke Elios.


"Apa salahnya?" tanya Caroline seraya menaikkan salah satu alisnya.


Sementara Mia dan Kenan hanya saling menatap, mereka memang tidak tau kesalahan apa yang membuat mereka di hukum begitu kejamnya.


"Pokoknya mereka memiliki salah pada ku," kilah Duke Elios. "Aku akan pergi menemui tunangan ku." sambungnya lagi.


Caroline menghentakkan kakinya, "Hanya ingin menemui tunangan tidak perlu ijin." teriak Caroline. "Memangnya dia pikir aku Presiden apa?" gumamnya.

__ADS_1


Caroline duduk bersila di tengah-tengah Mia dan Kenan. Ia pun mencabut rumput itu satu per satu.


"Nona jangan seperti ini, gaun nona pasti kotor. Biarkan kami saja." seru Mia menatap khawatir.


"Tubuh nona juga belum tentu sembuh betul."


"Nona tidak perlu membantu kami."


Caroline menatap Mia dan Kenan bergantian, "Sudahlah diam, sebaiknya kita selesaikan ini." seru Caroline dengan bibir mengkerucut.


"Duh, nona begitu menggemaskan." ucap Kenan dan Mia dengan wajah berbinar.


"Hah, dari dulu memang aku menggemaskan. Apa kalian pikir dulunya aku jelek, ya?"


"Tentu tidak nona. Ah, nona dari dulu memang cantik." ucap pelayan Mia tersenyum.


Sedangkan sisi lain.


Seorang laki-laki seketika menghentikan langkahnya, pikirannya masih terngiang-ngiang dengan wanita tadi. Bagaimana jika dia membantu kedua pelayannya.

__ADS_1


"Hah, pelayan sialan." ucapnya seraya membalikkan badannya.


Sesampainya disana, benar saja ia melihat Caroline sedang bersanda gurau, duduk di tanah sambil mencabut rumput di depannya.


__ADS_2