Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
mimpi buruk Duke


__ADS_3

Di depan gerbang terlihat kereta Duke Elios, langsung saja Caroline menghentikan langkah kakinya.


"Kenan, Mia bukankah itu kereta Paman?" tanya Caroline melihat ke arah kereta, ia berharap Duke Elios tidak datang menjemputnya.


"Benar, nona. Akan tetapi sepertinya hanyalah Kesatria Emi yang menjemput nona."


Caroline mengangguk, mengerti. Dia kembali melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di depan Emi, Caroline menatap sengit ke arah Emi.


"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Caroline.


"Saya hanya di perintahkan oleh Yang Mulia Duke Elios menjemput nona sekaligus mengawal nona." Jawab Emi seraya melirik ke arah Viscount dengan wajah menunduk.


Caroline melepaskan tangannya, ia mendekat ke arah Emi dan sedikit berbisik, "Bilang padanya aku tidak butuh pengawalnya. Kemana saja selama ini saat aku berada di ambang kematian." Ucap Caroline seraya membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan dirinya akan pergi.


"Levi, jaga nona Caroline jangan sampai terkena lecet sedikit pun, nyawamulah taruhannya." Ucap Viscount dengan tegas dan tersenyum lembut ke arah Caroline.


"Baik Tuan." Jawab Levi.


Caroline tersenyum sinis, ia langsung menaiki kereta Viscount bersama bibi Roseline sementara Kenan dan Mia memasuki ke kereta bibi Roseline dan tidak memilih kereta dari kediaman Duke Elios.


Kereta pun berjalan, di dalam kereta bibi Roseline merasakan tidak enak. Ia selalu melihat me arah Caroline yang memandang keluar jendela. Ada rasa takut dan sekaligus khawatir di hatinya. Sudah lama ia tidak ke kediaman Baron.


apa aku harus mengatakannya saja, tapi bagaimana Baron Knight tidak akan mempercayainya.


"Bibi, apa bibi memikirkan sesuatu?" tanya Caroline merasakan sesuatu melihat raut wajah bibi Roseline.


"Ah, tidak ada Caroline, bibi hanya merasakan senang." Jawab bibi Roseline berbohong dan tersenyum.

__ADS_1


Kereta pun terus berjalan, menembus angin malam. Perjalanan yang mereka tempuh dari pagi. Kini membuahkan hasil, mereka telah sampai di kediaman Baron tepat pukul 05.00 pagi. Caroline turun di ikuti bibi Roseline.


"Caroline," sapa laki-laki yang berlari kecil menuju ke arahnya dan memeluknya begitu erat.


Caroline hanya diam, ia mengepalkan tangannya.


"Caroline apa kamu baik-baik saja?" tanya Duke Elios memeriksa tubuh Caroline, ternyata Caroline hidup senang. Terlihat jelas tubuhnya kembali berisi.


Caroline memundurkan langkah kakinya, ia membungkuk hormat. "Maaf Yang Mulia Duke, tolong jaga sikap Yang Mulia. Sekarang saya sudah bertunangan dengan orang lain."


Seketika tubuh Duke Elios membeku, bagikan di sambar petir dan tertimpa angin. Duke Elios menahan rasa sakit di hatinya.


Sementara bibi Roseline merasa senang karna perkataan Caroline yang sudah menerima lamaran Viscount Luis keluarga terpandang di kekaisaran Bintang.


"Benarkah Caroline," bibi Roseline langsung memeluk Caroline dengan menangis bahagia.


Mereka pun menunduk hormat dan berlalu pergi, meninggalkan Duke Elios yang masih membeku.


"Yang Mulia." Segera Emi menangkap tubuh Duke Elios yang hampir terjatuh dengan mata berkaca-kaca.


"Kita ke kediaman Duke." Perintah Emi kepada salah satu temannya agar membantu Duke Elios memasuki keretanya.


Sesampainya di kediaman Duke, Emi membantu Duke Elios duduk di tepi ranjangnya. Dia merasa kasihan terhadap Duke, hatinya juga yakin jika kini Duke Elios telah mencintai Caroline.


"Tolong bawakan air minum." Perintah Emi pada kepala pelayan.


"Tidak mungkin, semua yang aku dengar ini mimpi. Caroline tidak mungkin bertunangan." Duke Elios mendonggakkan wajahnya melihat ke arah Emi, "Katakan semua itu bohong. Ya, ini mimpi, mimpi buruk. Caroline anak yang aku jaga dan aku asuh sedari kecil tidak mungkin bertunangan dengan orang lain." Duke Elios tersenyum, ia mengusap air mata yang telah jatuh ke pipinya.

__ADS_1


"Yang Mulia, ini bukan mimpi. Nona Caroline memang bertunangan dengan Viscount Luis, saya melihatnya sendiri. Nona Caroline bergandengan tangan dan saling tersenyum, bahkan nona Caroline lebih memilih menaiki kereta kediaman Viscount. Nona Caroline juga berpesan, tidak membutuhkan pengawalan Yang Mulia."


"Tutup mulut mu, aku tidak ingin mendengarkannya lagi." Teriak Duke Elios dengan amarah yang mulai meninggi.


"Aku tidak akan pernah membiarkannya bertunangan dengan Viscount," bentak Duke Elios.


Emi memejamkan matanya, "Sadarlah Yang Mulia. Yang Mulia masih memiliki nona Ariana, tunangan Yang Mulia." Seru Emi mempertahankan kekuatannya mengatakan semua kebenaran. Dia tidak ingin Duke Elios terkena obsesi, jika semua itu terjadi, hubungan baik dengan Baron Knight juga hancur.


"Kamu berani mengatakannya, hah." Duke Elios menarik pedangnya dan mengarahkan ke leher Emi yang sudah berjongkok.


"Yang Mulia sendirilah, yang mengatakan tidak akan menyukai atau mencintai nona Caroline. Yang Mulia sendirilah yang bersikap acuh dan tidak peduli pada nona Caroline."


Duke Elios mengeratkan pegangannya sampai urat tangannya terlihat, ia menekan pedangnya hingga melukai leher Emi, darah mulai keluar dari leher Emi membuat Duke Elios kembali tersadar.


Akhhh


Duke Elios mengayunkan pedangnya, sementara Emi memejamkan matanya. Dia sudah siap di hukum oleh junjungannya.


prang


Emi membuka matanya, ia menoleh. Dia bernafas lega, ternyata Duke Elios tidak memenggal kepalanya justru melayangkannya ke arah pot besar itu.


"Tinggalkan aku sendiri Emi." Lirih Duke Elios, namun Emi masih diam. Dia takut Duke Elios akan melukainya.


"Tinggalkan aku sendiri Emi dan bawalah beberapa arak !" Bentak Duke Elios.


"Baik Yang Mulia." Jawab Emi menyerah, ia merasa Duke Elios membutuhkan waktu untuk sendiri.

__ADS_1


__ADS_2