
"Tapi Caroline masih butuh persetujuan ku." Sanggah Duke Elios tersenyum licik.
Caroline menoleh, ia tersenyum menunduk. "Caroline tidak perlu lagi ijin dari Paman. Semenjak Paman mengatakan membenci Caroline, saat itulah Caroline sadar. Caroline tidak berarti buat Paman." Balas Caroline melanjutkan langkahnya kembali. Sedangkan Duke Elios mematung, perkataan yang ia lontarkan untuk Caroline ternyata berdampak buruk bagi dirinya sendiri, ia kira Caroline akan berubah, ternyata tidak. Perkataan itu yang membuatnya bertambah di jauhi Caroline.
Sesampainya di kereta, Caroline berhadapan dengan Pangeran Oskar. Dia hanya menatap keluar jendela, niatnya ingin membicarakan masalah tadi, akan tetapi ia enggan menatap wajah Pangeran Oskar. Hatinya masih ada keraguan menerima Pangeran Oskar atau tidak.
"Emm, nona Caroline. Maaf atas kelancangan ku tadi." Lirih Pangeran Oskar, bagaimana pun juga ia merasa tidak enak mengatakan seperti itu. Dan lebih lagi, Caroline masih belum menyetujuinya.
"Tidak masalah," balas Caroline tersenyum.
"Apa nona masih ingin menikmati suasana luar?" tanya Pangeran Oskar. Jika Caroline mau, ia ingin menunjukkan suatu tempat yang indah.
"Boleh kah, aku masih ingin keluar." Ucap Caroline.
"Kita ke bukit." Perintah Pangeran Oskar.
"Baik Pangeran." Ucap kusir kuda itu dengan sopan.
"Apa Pemandangan bukit itu sangat indah?" tanya Caroline.
"Ya, aku ingin kita menghabiskan waktu berdua. Bolehkah?" tanya Pangeran Oskar penuh harap.
Caroline mengangguk, ia begitu tidak sabar ingin melihat pemandangan itu.
Setelah 2 jam mereka tempuh, kereta kuda berhenti. Pangeran Oskar turun lebih dulu di ikuti Caroline. Saat Caroline melihat hamparan lautan berwarna biru dengan tenang di iringi semilir angin. "Waw," Caroline berdecak kagum. Ia melihat beberapa kapal yang berlayar dan beberapa pelayan. Ada beberapa toko dan juga beberapa rumah penduduk di pesisir pantai.
"Apa nona menyukainya?"
"Jangan berbicara formal, aku merasa risih di panggil nona." Ucap Caroline melihat ke bawah. Ia penasaran ingin turun ke bawah.
"Kalian pergilah, aku ingin berdua dengan nona Caroline." Perintah Pangeran Oskar.
__ADS_1
"Apa Caroline sangat menyukai suasana ini?" tanya Pangeran Oskar sambil memandang lautan biru itu.
"Yup, betul. Aku ingin sekali memiliki rumah disini."
Pangeran Oskar menoleh, "Bisakah kita membangun keluarga kita disini."
Kali ini Caroline mendonggakkan wajahnya, hatinya masih di ambang keraguan. Pangeran Oskar selalu memperlakukannya dengan baik, ada rasa bersalah di hati Caroline. Caroline duduk di atas rumput kecil itu di ikuti Pangeran Oskar.
"Aku butuh waktu Pangeran."
"Aku harap jawabanya tidak mengecewakan ku." Ucap Pangeran Oskar terkekeh.
"Caroline saat melihat pemandangan ini, kamu ingin apa?" tanya Pangeran Oskar.
"Aku ingin membuat kastil disana Pangeran," Ucap Caroline menunjuk ke arah kapal yang di parkir di tempat dermaga.
Aku harap, aku bisa memenuhinya Caroline.
Caroline mengangguk, ia berdiri lalu menyodorkan tangannya yang ingin membantu Pangeran Oskar berdiri. Pangeran Oskar oun meraih jemari lentik itu menuju ke bawah melewati sebuah tangga tanah yang di buat khusus oleh Pangeran Oskar.
"Apa tidak ada yang datang kesini Pangeran?"
"Tidak ada, ini rahasia kita." Jawab Pangeran Oskar.
Caroline dan Pangeran Oskar melihat sekeliling pesisir pantai itu. Tatapannya tertuju ke arah laki-laki yang sedang memegang sebuah kuas.
"Pangeran kita coba lihat disana." Tunjuk Caroline.
"Ayo."
Sesampaainya di depan laki-laki itu, "Apa kalian ingin aku lukiskan?"
__ADS_1
Sejenak Pangeran Oskar diam, ia tidak ingin mengatakan iya karna takut Caroline menolak.
"Boleh," Ucap Caroline antusiasnya.
Pangeran Oskar dan Caroline saling berhadapan, mereka mengambil pose saat berdansa dan saling menatap. Seakan kedua pasangan itu saling mengungkapkan perasaanya lewat pandangan mereka.
Setelah sekian satu jam, lukisan itu jadi. Caroline dan Pangeran Oskar meminta dua lukisan agar bisa di bagi dan di buat kenang-kenangan. Tak terasa sore telah menyabut, Pangeran Oskar dan Caroline langsung kembali menaiki kereta dan menuju ke kediaman Baron Bright. Sesampainya di sana, terlihat Duke Elios yang menatap tajam ke arah mereka. Duke Elios maju, ia menarik lengan Caroline ke belakang tubuhnya.
"Seharusnya, Pangeran membawa pulang sebelum petang."
"Paman," pekik Caroline menatap tajam.
"Maaf Yang Mulia Duke, kami hanya.."
"Maaf Pangeran, Caroline butuh istirahat." potong Duke Elios tanpa mendengarkan penolakan Caroline.
"Caroline," sapa Nyonya Verland menangis tersedu-sedu sambil memeluk Caroline.
"Maaf membuat kalian khawatir." Ucap Caroline tersenyum melihat ke arah Baron Cosmin dan Nyonya Verland.
"Caroline butuh istirahat." Ucap Duke Elios dengan tegas dan kembali menarik Caroline.
Sampai di kamarnya, Caroline di hempaskan secara kasar ke atas kasurnya, "Caroline, kali ini Paman tidak bisa memaafkan mu." Ucap Duke Elios mengeluarkan aura dinginnya.
"Tidak perlu memaafkan Caroline." Balas Caroline santai. Ia menaruh lukisan itu di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya dan membelakangi Duke Elios.
"Apa ini?" Duke Elios meraih lukisan itu, ia membuka gulungan lukisan itu.
"Jangan Paman." Caroline hendak mengambil gulungan itu. Namun Duke Elios seketika menjauh dan membuka gulungan itu sampai ia membulatkan kedua matanya. Tangannya gemetar, di lukisan itu terlihat jelas tatapan penuh cinta Caroline dan Pangeran Oskar.
"Paman kembalikan."
__ADS_1
Duke Elios mengabaikan Caroline ia memegang lukisan itu dengan dada sakit bercampur amarah.