Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Hanya Lima Menit


__ADS_3

Caroline menggelitiki perut Viscount Luis. Sampai Viscount Luis bangun dari pangkuan Caroline. Ia tertawa lepas tanpa ada beban di dalam pikirannya.


"Sayang berhenti, geli." Ujar Viscount Luis dengan nada memohon.


Caroline menghentikan menggelitikinya, ia menarik lengan Viscount Luis hingga tubuh mereka berpelukan. Caroline mencium bertubi-tibi kening Viscount Luis, kedua matanya dan kedua pipinya. Rasanya dia belum rela melepaskan Viscount Luis. Orang yang selama ini menjaga hatinya dengan baik.


"Sayang, jika kamu melakukan seperti ini. Rasanya aku tidak rela meninggalkan mu."


"Sayang aku ingin umur ku sampai bisa melihat anak kita merangkak lalu berjalan. Aku ingin dia memanggil ku Ayah."


Tangis Caroline pecah, ia tidak kuat menahan air matanya. Ia memeluk tubuh Viscount Luis yang bergetar menahan tangisnya.


"Jangan bicara apa pun, kamu akan melihat anak kita tumbuh dewasa." Ujar Caroline menyemangati Viscount Luis.


Viscount Luis menangis sesegukan, tidak mungkin di bisa bertahan lama. "Aku takut, aku meninggalkan anak kita dan dirimu. Tapi sebelum itu, kamu harus menikah dengan Duke. Iya, dengan Duke. Aku yakin dia akan menerima mu dan anak kita."


Seperti pisau yang menusuk tepat di hati Caroline. Hatinya sakit, ia tidak bisa mengatakan ita. Karna dia yakin, Viscount Luis mengatakannya disertai kasakitan di hatinya itu. Caroline menggeleng, ia tidak bisa meneruskan perkataan Viscount Luis.


"Sudah, sudah jangan di teruskan. Kita akan membesarkan anak kita sampai dewasa."


"Aku berharap begitu." lirih Viscount Luis memegang tangan Caroline yang menghapus air mata di sela pipinya itu.


"Baiklah, sebaiknya Viscount istirahat. Sudah hampir siang dan waktunya minum obat." Ajak Caroline.


Kedua orang itu pun saling menggenggam tangannya, mereka berjalan di selangi canda tawa.

__ADS_1


Sesampai di ruang tamu, kedua orang itu membeku melihat seorang laki-laki yang duduk dengan sopan melihat ke arah mereka.


Deg


Deg


Deg


Hati Caroline berpacu dengan kuat, ia gugup sekaligus takut. Takut Duke Elios akan membongkar semua rahasianya. Sedangkan Viscount Luis tidak bisa menahan cemburunya, hatinya mengatakan Duke Elios masih menyimpan cinta untuk Caroline. Dalam hatinya dia setuju melihat Caroline bersama Duke Elios di saat dia harus pergi.


Viscount Luis mengeratkan genggamannya, Caroline menoleh, ia mengerti kekhawatiran Viscount Luis. Sebisa mungkin dia menenangkan hati Viscount Luis.


"Paman," Caroline bersikap biasa. Duke Elios tersenyum, ia harus menguatkan hatinya jika ingin melihat Caroline atau Cyranya.


"Aku baik." Jawab Caroline sesantai mungkin.


"Apa Paman sudah lama di sini? maaf tadi kami."


"Tidak masalah, Paman tadi melihat kalian dan tidak ingin mengganggu waktu kalian." potong Duke Elios beralih melihat ke arah Viscount Luis.


Mereka pun duduk dengan berhadapan. Viscount Luis menatap tajam ke arah Duke. Sebelum dia mati, dia tidak akan membiarkan Caroline bersamanya.


"Baiklah, aku akan menyiapkan camilan untuk Paman." Ujar Caroline yang merasa tidak enak melihat tatapan sengit keduanya.


"Untuk apa Duke datang ke sini?" tanya Viscount Luis datar.

__ADS_1


"Aku hanya melihat keponakan tercinta ku." Jawab Duke Elios tersenyum sinis dan menekan.


"Dia sudah bahagia."


"Tidak yakin." Sahut Duke Elios dengan cepat.


"Sebaiknya Duke cepat pergi dari sini, mengganggu waktu ku saja." Ujar Viscount Luis sinis.


"Tidak akan justru aku akan menginap di sini."


"Kau." Kedua orang itu saling menunjuk dan berdiri dan saling memandang remeh. Kedua orang itu pun menoleh, saat seorang wanita yang membawa nampan berisi biskuit mematung di samping mereka dan mengeluarkan tatapan tajam ke arah mereka.


"Hem." Caroline menaruh nampan itu di ikuti kedua pelayan yang membawakan teh hitam untuk mereka.


"Paman ingin berbicara berdua dengan mu Caroline."


Mata Viscount Luis mendekik, ia langsung melihat ke arah Caroline, berharap Caroline menolaknya.


Caroline memikirkan permintaan Duke, ia meminta ijin pada Viscount Luis lewat dari matanya.


Viscount Luis pasrah, "Hanya lima menit."


Duke Elios ingin menyumbat mulut Viscount Luis. Beraninya dia memberikan waktu berduaan antara Paman dan Keponakaan.


Bicara apa yang hanya lima menit saja, berjalan saja keluar sudah lebih dari lima menit.

__ADS_1


__ADS_2