Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
kamu tetap anak ku


__ADS_3

"Caroline, buka sayang ini Ayah. Apa pun yang Caroline minta. Ayah akan lakukan." Ucap Baron Knight seraya menyandarkan dahinya di pintu Caroline.


Sedangkan Caroline menyandarkan punggungnya di belakang pintu, ia juga tidak tega setelah mengetahui semua penderitaan pemilik tubuh sebelumnya.


"Jauhi aku, anggap semuanya tidak pernah terjadi." Caroline menyandarkan kepalanya ke pintu itu.


"Tidak bisa Caroline, kamu tetap anak ku. Anak yang pernah Ayah harapkan."


"Jika kamu mengharapkannya, seharusnya dulu kamu menyayanginya walaupun dia bukan anak kandung mu tapi dirinya lahir dari orang pernah kamu cintai, aku lelah. Aku ingin istirahat." Caroline menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Hatinya juga lelah membahas semuanya dan larut dalam mata terpenjam.


Tak terasa matahari telah berganti bulan. Caroline terbangun karna merasakan sapaan angin malam yang melewati jendelanya. Dia melihat ke arah jendela, angin itu melambaikan gorden berwarna biru itu. Caroline turun dan merasakan sapaan angin itu. Angin sejuk tapi belum bisa membuat hatinya bernafas lega.


Jika harus seperti ini, dirinya tidak ingin mengetahui kebenarannya.


"Nona, apa nona sudah bangun?" suara ketukan pintu itu membuat Caroline berjalan ke arahnya. Perutnya juga lapar, butuh energi.


"Kenan, Mia, bawa masuk hidangan itu dan bawa masuk juga biolanya." Ujar Caroline.


Mia masuk dengan membawa nampan, sementara Kenan membawa biola yang Caroline minta dan menyerahkannya.


"Kalian keluarlah."

__ADS_1


Kenan dan Mia tak banyak bicara, ia mengerti, Caroline hanya ingin menyendiri saja.


"Nona, Baron Knight menginap disini."


"Kenapa Bibi tidak menyuruhnya pergi saja. Dia tidak akan betah tinggal disini." Caroline mengambil sesuap nasi di piringnya dan mengunyah nasi itu tanpa melihat ke arah Kenan dan Mia.


"Baron Knight memohon pada bibi Roseline, walaupun sudah dilarang." Balas Mia.


"Nona juga mendapatkan undangan dari istana menyambut kehadiran Pangeran kerajaan sebrang. Mungkin saat Nona berpapasan di kota pada waktu itu." Ujar Kenan.


Caroline memiliki ide, bukankah dunia asing ini bahasa hangul sulit di pelajari. Dengan cara itu, dia yakin namanya akan harum.


"Baiklah, kalian keluarlah."


Setelah menghabiskan hidangannya, Caroline mengambil biola di sampingnya dan menuju ke teras. Hembusan angin itu membuat rambutnya yang panjang bergerai terombang ambing.


Bunyi alunan dari gesekan senar itu membuat angin seakan mengikuti iramanya. Irama lembut itu membuat siapa saja akan terhanyut ke dalam melodinya.


Seakan irama itu mewakili apa yang Caroline rasakan, semenjak jiwanya datang ke dunia asing itu. Banyak sekali yang ia pelajari tentang cinta dan mencintai. Bagaimana rasanya tidak di cintai oleh orang yang kita cintai. Bagaimana rasanya di benci oleh orang yang merupakan ayah kandung kita. Jika hati bisa di ubah, dia ingin mengubahnya dan memulai kehidupan baru.


Caroline membuka matanya memperhatikan gesekan itu. Dia menghentikannya, para pelayan pun bertepuk tangan. Mereka baru tau ternyata Caroline mahir dalam musik.

__ADS_1


"Tuan, apa mungkin gadis yang pernah meminta di jalan dan bermain biola adalah nona." Ujar salah satu pengawal di samping Emi.


"Benar jadi Caroline," Duke Elios merasa yakin tentang rumor beberapa hari yang lalu. "Aku benar-benar Paman yang tidak berguna. Bisa-bisanya aku membuatnya meminta-minta di jalan."


Caroline Ayah bangga pada mu, Berlia ternyata kamu melahirkan seorang Putri yang sangat cerdas.


Caroline melihat kebawah, semua orang berkumpul. Malas melihat wajah yang menurutnya menyebalkan ia kembali masuk. Hatinya merasa lega mengeluarkan unek-unek di hatinya melalui musik.


Selang beberapa saat.


"Caroline, kamu sudah siap sayang?" tanya Baron Knight seraya melihat ke arah Duke Elios. "Ayah sudah menyiapkan gaun mu."


Pintu itu pun terbuka, Caroline sudah selesai bersiap-siap. Memakai gaun berwarna hijau rambutnya di biarkan bergerai saja. "Aku sudah siap. Ayo Paman." Caroline melewati Baron Knight begitu saja. Sementara Kenan yang memegang sebuah gaun, ia masuk dan menaruhnya ke dalam lemari.


"Kecantikannya mirip dengan mu Berlia." Gumam Baron Knight mengikuti langkah kaki Duke Elios dan Caroline.


Selama di kereta, Caroline hanya duduk manis sambil memakan biskuit yang di siapkan oleh Kenan dan Mia. Sesekali dia membolak-balikkan biskuit itu.


"Caroline, apa kamu tidak bisa memaafkan Baron Knight. Seberapa buruk kelakuannya pada mu dulu dan juga bibi. Dialah tetap Ayah kandung mu."


Caroline mengembalikan kue itu ke ranjangnya, "Apa karna dia mertua kesayangan Paman. Hati memang bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan Paman. Sama halnya dengan perlakuan Paman dulu. Caroline tidak akan melupakannya." Ucap Caroline datar dan langsung turun dari dalam kereta.

__ADS_1


__ADS_2