
Seorang laki-laki berwajah tegas turun dari kudanya, ia senang bertemu Caroline di kota. Awalnya dia hanya ingin membawakan sebuah hadiah kecil, tapi takdir mempertemukannya lebih dulu.
"Caroline." Sapanya seraya melangkahkan kakinya ke arah Caroline yang hendak memasuki toko.
Ketiga wanita itu menoleh, Mia dan Kenan saling melirik. Mereka takut sifat bar-bar junjungannya keluar.
"Ayo kita jalan." Ucap Caroline datar dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sesampainya di dalam toko, Caroline melihat semua biola. Ia berdecak kagum melihat jejeran biola dan meraba salah satu biola.
"Caroline ingin membeli biola." Baron Knight masih mengikuti Caroline, ia akan berusaha membuat Caroline menerimanya. Jika perlu dia akan menyerahkan nyawanya. Bagitu pun tentang Caroline adalah putri kandungnya belum ada yang tau. Dia takut setelah semua tau, banyak orang yang akan menghina Caroline. Karna Caroline hadir tanpa adanya pernikahan antara dirinya dan Berlia.
"Kalian antarkan dua biola ke rumah Baron Betrigh." Ujar Baron Knight pada pemilik toko yang berada di sebelahnya.
Baron Knight baik sekali, sampai dia membelikan biola pada nona Caroline batinnya.
"Maaf Baron Knight, walaupun keluarga Baron Betrigh tidak sekaya dengan keluarga Baron Knight. Aku tidak butuh di kasihani orang seperti mu." Ucap Caroline sinis.
Baron Knight menunduk, hatinya sakit. Semua ini hasil dari kebodohannya, jika pun dia memberikan nyawanya tidak akan bisa menyembuhkan rasa sakit hati Caroline.
__ADS_1
"Caroline, paman mencari mu kemana-mana." Ujar Duke Elios seraya mengelus kepala Caroline, ia tidak sadar di sampingnya ada Baron Knight.
"Paman, aku ingin membeli biola dan piano."
Duke Elios menarik nafasnya, "Seharusnya kamu tidak perlu keluar hanya mencari alat musik. Paman akan membawakannya untuk mu dan juga seorang guru."
"Aku tidak butuh guru, Paman belikan saja." Caroline meninggalkan Duke Elios dan Baron Knight.
"Ca, Baron Knight." Duke Elios langsung mengalihkan kepalanya melihat laki-laki yang sedang menunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Yang Mulia, biarkan aku yang membeli semuanya. Tolong berbohonglah pada Caroline, dia tidak akan menerima semua pemberianku."
Sementara disisi lain.
Ariana membuat keributan, ia melemparkan semua vas bunga dan lukisan dirinya dengan Baron Knight.
"Kenapa Ayah harus mengejarnya? aku tidak suka. Hanya aku lah putri mu." Teriak Ariana dengan amarah.
"Siapkan kereta, aku akan menjemput Ayah dari keluarga sialan itu." Ucap Ariana dingin.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Baron Betrigh, Ariana berlari. Ia tidak peduli dengan statusnya sebagai putri bangsawan. Yang ia pedulikan hanyalah Ayahnya agar tidak di rebut oleh Caroline. Dunia seakan runtuh, Caroline tidak hanya merebut Duke Elios, tetapi juga Ayahnya yang ia sayangi.
"Ayah,"
Caroline menggaruk kepalanya, baru saja ia sampai di rumah dan ingin beristirahat. Dan sekarang datanglah ulet belang yang akan membuat drama.
"Pulanglah, putri mu mencari mu." Caroline melangkah kan satu kakinya ke tangga. Tiba-tiba ucapan Arian membuatnya berhenti.
"Jaga perkataan mu Caroline, bersikaplah sopan. Dia Ayah mu, walaupun aku tidak menganggap mu seorang saudara."
Caroline menatap tajam Ariana, hawa dingin mulai keluar dari tubuhnya. Dia berjalan mendekat, dan satu tamparan melayang di pipi Ariana.
"Katakan sekali lagi aku harus sopan, pada dia." Caroline menunjuk Baron Knight yang berwajah pucat. "Lebih aku yang tidak sudi menerima mu. Aku juga jijik memiliki darahnya. Orang yang pernah menyakiti ibu ku dan aku. Teganya dia menikah dan membahagiakan wanita lain, memberikannya cinta. Sementara ibu ku menangis setiap harinya." Teriak Caroline melihat ke semua orang. "Para pelayan, kemarilah aku akan memberitaukan kalian, siapa orang busuk diantara kami. Dia, Baron Knight pernah memiliki hubungan dengan ibu ku. Ibu ku mempertaruhkan nyawanya melindungi ku dan dirinya, tapi apa? dia balas pengkhianatan, dia membalasnya dengan tangisan sampai Ibu ku meninggal."
"Aku membenci mu Baron Knight, aku membenci mu."
"Caroline maafkan Ayah," Baron Knight duduk di lantai, kali ini hatinya hancur berkeping-keping. Rasanya hatinya tidak akan utuh seperti semula.
"Sekalipun nyawa mu, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kamu tidak bisa membuat Ibu ku bahagia sampai dia meninggal. Nyawa mu tidak bisa menggantikannya." teriak Caroline meninggalkan suasana yang menegang itu.
__ADS_1