Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Putaran masa lalu Berlia.


__ADS_3

Satu hari satu malam ia tempuh. Tepat pukul 08.30 pagi. Caroline dan rombongannya sampai di rumah yang megah dan besar tampak asri itu dan dikelilingi pohon yang rindang. Ia memegang kipasnya dan tersenyum, "Akhirnya aku lepas." Teriak Caroline sambil meloncat-loncat. "Aku bebas, aku bebas. Yes, aku tidak ketemu lagi dengan wajah tembok itu. Hahaha, akhirnya inilah yang aku tunggu-tunggu." Caroline berdecak pinggang.


"Caroline." Teriak seorang wanita menatap Caroline dengan mata berkaca-kaca. Sudah beberapa tahun dia tidak bertemu dengan Caroline. Saat itu Caroline masih berumur 5 tahun.


"Nona, dia bibi Roseline." Bisik Kenan dan Mia. Caroline tidak akan merasa canggung, ia juga sudah mendengar cerita Mia dan Kenan tentang Bibi Roseline yang memanjakannya dulu. Menyayanginya dan menganggapnya seperti anak sendiri. Karna Bibi Roseline menjanda dan tidak punya anak. Suaminya telah meninggal saat pernikahan mereka sampai dua tahun.


"Oh, Bibi tercinta ku." Caroline berlari bersamaan dengan wanita cantik itu. Mereka saling berpelukan melepaskan semua rindu yang mendalam.


"Bagaimana kabar mu? bibi tidak menyangka kamu datang kesini. Maaf, Bibi belum bisa menjenguk mu." Ucap Bibi Roseline sambil menepuk punggung Caroline.


"Maaf Nyonya, ini ada surat dari Yang Mulia Duke."


Bibi Roseline melepaskan pelukannya, ia mengambil surat itu.


"Hamba harus pergi Nyonya, dan mohon bantuannya menjaga nona." Ucap Emi membungkuk hormat.


"Hah, tidak perlu khawatir. Tentu saja aku akan menjaganya."


"Ayo, masuk sayang." Bibi Roseline bergandengan tangan melewati Emi begitu saja. Sedangkan Emi melihat ke arah punggung yang mulai menjauh. "Yang Mulia apa keputusan mu benar, hamba seakan merasakan nona Caroline lebih bahagia tinggal di sini. Hamba juga merasa, nona Caroline lebih memilih tinggal disini selamanya." Gumam Emi.

__ADS_1


Caroline masuk ke sebuah kamar yang lumayan luas, ada lukisan yang jelas menghadap ke arah tempat tidur, ia tersenyum melihat lukisan Bibi Roseline dengan ibunya Berlia. Caroline menghentikan senyumannya, saat melihat mata Ibunya. Mata itu menyimpan kesedihan, terlihat jelas sudut bibirnya di biarkan tersenyum paksa.


"Bibi kenapa aku merasa, Ibu sedih? lihatlah matanya." Ucap Caroline.


Deg


Hati Bibi Roseline terasa sakit, benar saat itu pernikahan Berlia dengan Baron Bright. Lukisan itu menjadi saksi perpisahan mereka. Bibi Roseline memalingkan wajahnya, air matanya tak bisa terbendung lagi. "Ya, saat itu Bibi akan berpisah dengan Ibu mu. Sekarang istirahat lah dulu. Bibi akan menyiapkan sarapan mu." Ucap Bibi Roseline. Ia tidak bisa menangis begitu lama di hadapan anak malang ini.


Bibi Roseline langsung keluar, ia menyuruh pelayannya untuk menyiapkan sarapan pagi. Namun setelahnya, ia masuk ke dalam kamarnya melihat ke arah lukisan.


"Berlia, aku tidak kuat berhadapan dengannya. Hati ku sakit Berlia." Bibi Roseline memukul dadanya, ia menangis tersedu-sedu di lantai berhadapan dengan lukisan itu.


Flasback.


Bibi Roseline mengelus lembut kepalanya, "Bibi sudah berusaha, Ayah mu tidak mau mendengarkan Bibi. Bibi tidak tau apa yang harus Bibi lakukan Berlia."


"Aku sangat menyayanginya dan aku hamil anaknya Bi. Jika Ayah tau, dia akan menyuruh ku untuk membunuh bayi ini."


Bibi Roseline semakin menangis tersedu-sedu, ia juga bingung tak tau harus berbuat apa. Semenjak Berlia bersikeras tidak ingin menikah. Ayah Berlia mengalami shok dan kesehatannya menurun.

__ADS_1


"Aku akan menikah dengan mu dan bertanggung jawab nona Berlia."


Kedua wanita itu terkejut, mereka terkesiap. Sekujur tubuh mereka merinding. Berlia menunduk, ia meremas gaunnya.


"Aku akan menikahi mu, aku akan bertanggung jawab atas bayi mu, Berlia. Aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi mu." Baron Bright duduk berjongkok, ia melihat gadis kecil yang sering bermain dengannya sampai Baron Bright menyatakan cinta. Namun di tolak oleh Berlia karna mencintai seorang pelayan yang tak lain juga teman mereka.


"Dengar, aku menyayangi mu Berlia. Sangat dan sangat menyayangi mu."


"Tapi bagaimana dengannya aku tidak bisa." Berlia masih kekeh, tidak ingin menikah dengan laki-laki di depannya.


"Pikirkanlah, kesehatan Ayah mu. Sekarang dirimu tidak bisa memilih Ayah atau pun dirinya."


Berlia semakin menangis, Baron Bright memeluk Berlia begitu erat. Hatinya sangat mencintai Berlia, tapi dia juga tidak ingin memaksa Berlia menikah dengannya.


Hingga keputusan yang di ambil Berlia, harus berpihak pada Ayahnya. Gadis itu menerima semuanya, selama pernikahannya dengan Baron Bright, tidak ada kata bahagia. Kadang kala ia menangis, tetapi Baron Bright menghiburnya sebagai suami dan sebagai seorang Kakak.


Baron Bright memperlakukan Berlia dengan baik, menyayangi Putri yang bukan anak kandungnya. Mereka hidup hanya sebatas berteman di atas pernikahan. Sehingga suatu hari Berlia mendengarkan orang yang ia cintai menikah dengan orang lain membuatnya terpukul dan sering sakit.


Dengan sabarnya dan kesetiaan Baron Bright, ia menghibur Berlia dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sampai kecelakaan itu menewaskan mereka berdua.

__ADS_1


Flasback off.


"Berlia, Bibi tidak kuat. Sampai sekarang aku masih menyimpan rahasia ini. Kamulah yang berkorban untuknya. Demi melindungi dirinya kamu rela mengorbankan kebahagian mu."


__ADS_2