Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
kepikiran


__ADS_3

Duke Elios menunduk, ditarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan. "Nona Ariana, maaf aku tidak bisa mengantar mu." Ucap Duke Elios seraya menoleh ke arah Nona Ariana. Sebisa mungkin nona Ariana bersikap lembut dan menebarkan senyumannya.


"Tidak apa Yang Mulia Duke. Saya mengerti mungkin Yang Mulia Duke hanya ingin menenangkan hati." Balasnya.


"Ehem, maaf mengganggu. Apa Yang Mulia Duke melihat Nona Caroline?" tanya Pangeran Oskar sambil membawa sebuah sebuah jus dan kue kecil. Pangeran Oskar pun merasa tidak enak melihat wajah kedua orang di depannya. Duke Elios menampakkan taringnya sementara Nona Ariana menampakkan tanduknya. Tubuhnya pun seketika merasakan hawa dingin.


Pangeran Oskar melihat kanan kiri, sama saja ia tidak menemukan keberadan Caroline.


"Maaf Pangeran, Nona Caroline baru saja pergi." Balas nona Ariana dengan lembut. Padahal wajahnya kini memerah menahan amarah. Telinganya bertambah keluar asap mendengarkan nama Caroline, wanita yang ia ingin sobek mulutnya.


"Oh, maaf mengganggu waktunya." Ucap Pangeran Oskar bergegas pergi dengan langkah terburu-buru. Ia bergidik ngeri melihat wajah mereka bak seperti monster. "Benar-benar pasangan yang serasi."


Melihat punggung Pangeran Oskar yang sudah menjauh. Amarah Duke Elios sedikit reda, sudah sedari tadi ia ingin menghajarnya, tapi di tahan karna takut mengacaukan pesta Kaisar Ferdinand.


"Yang Mulia Duke, hamba undur diri." Ucap nona Ariana menunduk hormat.


"Baiklah, hati-hati." Balas Duke Elios dengan wajah datar.

__ADS_1


Hanya butuh satu jam nona Ariana sampai ke kediamannya. Selama di perjalanan pun pikirannya dan hatinya tidak tenang, ia ingin segera sampai di rumahnya dan melampiaskan semua amarahnya.


Nona Ariana turun, ia langsung menuju ke kamarnya dan membanting semua yang berada di dalam kamarnya. "Sialan ! Caroline !" teriak nona Ariana sambil melemparkan vas bunga tembok yang tak jauh darinya.


"Aku sangat ingin merobek mulutnya, aaaaa. Aku membenci mu." Teriaknya menggelagar.


"Ada apa Ariana?" tanya seorang laki-laki di ambang pintu dengan wajah keheranan. Dirinya yang saat ini bersantai sambil mencicipi teh, di kejutkan dengan bunyi barang pecah dari lantai atas.


"Caroline Ayah, Caroline membuat ku malu." Ucapnya sambil menangis sambil menarik selimutnya ke bawah. "Aku membenci mu, Caroline. Tunggu saja pembalasan ku." Sambungnya lagi.


"Ariana tenanglah, ceritakan apa sebenarnya terjadi?" tanya laki-laki paruh baya itu.


"Apa? beraninya gadis rendahan itu melakukannya. Tenang saja Ayah akan membantu mu untuk membalasnya." Seru sang Ayah.


"Terimakasih Ayah," nona Arian langsung memeluk Ayahnya dan tersenyum menyeringai.


Sudah aku bilang, kau bukan kawan ku Caroline.

__ADS_1


"Baiklah, kamu ganti saja gaunnya. Biar Ayah yang menemui gadis itu besok." Ucapnya sambil mengelus pucuk kepalanya.


Tuan Knight pun bergegas pergi, ia mengepalkan tangannya menuju kamarnya. "Aku akan membuat perhitungan dengan mu."


Tuan Knight menatap ke arah kesatria di sampingnya. "Levi awasi nona Caroline, beraninya dia melakukan hal itu pada putri ku." Perintahnya dengan nada dingin dan tersenyum sinis.


"Baik Yang Mulia." Ucapnya membungkuk hormat.


Disisi lain.


Duke Elios masih kepikiran dengan perkataannya sendiri. Karna kemarahannya menguasai dirinya. Ia tidak berfikir panjang lagi. Ia takut perkataannya memang benar membuat Caroline menjauh darinya.


"Apa yang aku lakukan? kenapa aku bisa berkata seperti itu?" Duke Elios mondar-mandir di ruangannya. Apa yang harus dirinya lakukan jika benar Caroline tidak menganggapnya Paman lagi. Ia takut perkataan Caroline menjadi kenyataan. Ia tidak bisa melakukannya. Dirinya sangat menyayangi Caroline. Besok ia harus bertemu dengan Caroline.


"Almand, kamu selidiki, apa Caroline sudah sampai di kediamannya?" perintahnya tanpa melihat ke arah Almand. Ia sangat khawatir saat pertengkaran itu Caroline hanya sendirian tidak ada siapa pun. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Duke Elios menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Caroline sedang asiknya berjalan kaki di Ibu Kota. Ternyata malam hari di Ibu Kota lebih ramai. Caroline berhenti di sebuah toko. Ia membaca pajangan nama toko itu, "Kue Ale." Gumamnya.

__ADS_1


Caroline beranjak masuk, saat dirinya melangkahkan kakinya menaiki tangga. Ia mendengarkan seseorang memanggil namanya.


__ADS_2