
5 Tahun kemudian.
Seorang wanita tengah memandang sebuah lukisan dirinya dengan seorang laki-laki. Ekor matanya beralih ke lukisan di sampingnya dengan menggendong seorang bayi mungil. Semenjak lima tahun ini, dia merawat bayi kecil itu tanpa ada seorang suami. Banyak para bangsawan yang melamarnya. Namun ia tidak menerima lamaran itu, mengingat mendiang suaminya memintanya menikah dengan Duke Elios. Hatinya bahagia mendengarkan itu, tetapi hatinya masih merasakan kesedihan.
Selama lima tahun ini, Duke Elios membantu baby Elca. Sampai baby Elca memanggilnya dengan sebutan Ayah. Entah itu karna hati anaknya sangat dekat dengan hati Viscount Luis, anaknya tau apa keinginan sang Ayah atau memang takdirlah yang menginginkan mereka bersatu.
"Sudah 5 tahun. Aku merasa hanya kemarin aku melahirkan putra kita. Di sana apakah kamu sangat merindukan diri ku? aku merindukan mu. Putra kita sangat mirip dengan mu, sifatnya, kelakuannya." Wanita itu terkekeh. "Kamu tau, bukan aku yang menjelaskan tentang dirimu. Tetapi Duke Elios. Dia menceritakan semuanya pada Putra kita. Sampai Putra kita bercita-cita akan seperti dirimu. Akan mengikuti kesukaan mu." Air mata yang tadinya ia tahan, kini keluar dengan helaan nafasnya.
"Kamu tau, Elca bahkan menyebutnya dengan Ayah. Padahal aku sudah melarangnya. Mungkin Elca kecil sangat dekat dengan hati mu." Lirihnya.
"Ibu." Teriak anak kecil di ambang pintu dengan nafas ngos-ngosan. Ia berlari ke arah Caroline yang di sambut dengan pelukan hangat olehnya.
"Ibu, Ayah mengejar ku." Ujar anak laki-laki itu.
"Sayang jangan nakal, Paman pasti mencari mu." Caroline mengelus pucuk kepala putranya itu.
__ADS_1
"Huh, Ayah payah. Dia tidak akan menemukan diriku di sini." Ujar baby Elca dengan bersendekap di dada. Membanggakan dirinya.
"Kata siapa Ayah tidak bisa menemukan mu." Suara itu membuat baby Elca langsung bersembunyi di belakang tubuh Caroline. Baby Elca mengintip, ia melihat Duke Elios yang menuju ke arahnya.
Duar
Duke Elios meraih baby Elca kecil, ia menggendong baby Elca seraya mencium pipi gembulnya bertubi-tubi.
Baby Elca pun tertawa, ia merasakan geli saat Duke Elios menciuminya.
"Aku tidak apa-apa Paman, aku hanya merindukannya." Ujar Caroline jujur.
Duke Elios melihat ke arah lukisan itu, ia tersenyum kecut lalu membawa baby Elca keluar untuk bermain dengannya kembali. Tepat langkahnya berada di depan pintu. Caroline menghentikannya.
"Paman, Caroline menerima Paman."
__ADS_1
Bagaikan tersengat listrik. Duke Elios berdiri layaknya seperti patung. Jantungnya berdetak hebat. Apa dia salah dengar? mungkin hanya ilusi. Duke Elios memutar badannya, ia ingin menanyakan perkataan Caroline. Apakah benar atau tidak?
"Caroline."
"Aku menerima Paman sebagai suami ku."
Duke Elios berlari kecil. ia memeluk Caroline dengan tangan kanannya. Di tangan kirinya masih menggendong baby Elca.
"Caroline kami tidak bohong kan, benar kamu menerima Paman?"
Caroline mengangguk, sudah saatnya dia bangkit dari kesedihannya. Ia akan memenuhi permintaan Viscount Luis. Ia berharap Viscount Luis juga merasakan kebahagiaanya. Lagi pula hatinya masih terpaut pada Duke Elios.
"Cyra, aku mencintai mu." Caroline menatap sendu, hatinya tersentuh. Duke Elios masih mengingat namanya. "Paman mengingat nama ku."
"Tentu saja, karna nama itu aku merasakan keunikan yang ada pada dirinya dan karna nama itu pula jantungnya ku seakan meledak." ledek Duke Elios yang mendapatkan cubitan kecil di lengannya.
__ADS_1