Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Merasa Aneh, kejujuran


__ADS_3

langsung terobos saja alurnya ya kak biar cepat EnD😌


krek


Pintu putih itu terbuka, Caroline langsung menuju ke arah pintu itu. Ia menatap ke arah laki-laki yang berwajah lesu itu.


"Ada apa?" tanya Caroline khawatir. Ia meraih kedua pipi Viscount Luis yang tampak sedih. "Apa ada masalah?"


Viscount Luis menggeleng. "Tidak ada hanya lelah saja." Ucapnya kemudian memeluk Caroline begitu erat.


Caroline memicingkan kedua alisnya, ada rasa kejanggalan di hati Caroline. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Viscount Luis.


"Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat dulu." Ucap Caroline.


"Caroline apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan ku." Ucap Viscount Luis.


Caroline memperlihatkan deretan giginya. "Sampai kapan pun, aku tidak akan meninggalkan mu." Ujar Caroline berlalu pergi.


Setelah selesai mandi, Viscount Luis merebahkan dirinya. Matanya menatap langit-langit kamarnya itu. Pikirannya melayang kejadian tadi.


"Kamu kenapa?" tanya Caroline menaiki ranjangnya. Sejak tadi ia merasakan aneh melihat wajah Viscount Luis.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Caroline.


"Tidak ada, aku sangat merindukan mu. Maaf hari ini aku sangat lelah, aku tidak bisa melakukannya. Maaf." Lirih Viscount Luis. Seharusnya malam ini, malam pertama mereka. Dimana ia harus menafkahi batin Caroline.


Caroline tersenyum, lalu mengecup singkat kening Viscount Luis. "Istirahatlah jangan memikirkannya."


Caroline merebahkan badannya di samping Viscount Luis, ia memeluk Viscount Luis lalu terlelap tidur. Sementara Viscount Luis masih belum bisa memejamkan matanya.


"Caroline." Gumam Viscount Luis mengecup kening Caroline dengan air mata yang membasahi pipinya.


Pagi harinya.

__ADS_1


Caroline membuka matanya, ia melihat ke sampingnya. Tidak ada Viscount Luis. Seharusnya dia bangun lebih dulu sebelum Viscount. Caroline merutuki kebodohannya, baru saja ia bergelar menjadi seorang istri, tetapi sudah membuat kekacawan.


Caroline menuruni tangganya, ia mencari keberadaan Viscount Luis. Namun tidak menemukan apa pun.


"Dimana tuan?" tanya Caroline pada seorang pelayan yang berpapasan dengannya.


"Maaf Nyonya, tuan tadi pagi-pagi sekali keluar. Saya di perintahkan untuk melayani Nyonya."


"Oh, baiklah." Caroline mengangguk, ia kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


Caroline melihat ke arah meja makan, tidak ada Viscount Luis yang menemaninya. Entah mengapa hatinya merasa kecewa. Tadi ia sudah mendengarkan, tidak usah menunggu Viscount Luis untuk sarapan.


"Sebenarnya ada apa sih dengannya?" tanya Caroline yang enggan menyentuh rotinya itu.


Caroline beranjak pergi, ia ingin menemui Viscount Luis. Hatinya tidak pernah salah dalam menilai seseorang. Ia sangat yakin Viscount Luis menyembunyikan sesuatu darinya.


"Viscount." Sapa Caroline membuat Viscount Luis yang baru saja membuka pintu kediamannya menjadi gugup.


Caroline beralih melihat ke arah kesatrianya. Orang itu hanya menunduk tidak berkata apa pun.


"Kalian keluarlah !" perintah Caroline datar.


Kedua pelayan dan kesatria Viscount Luis keluar setelah menunduk hormat. Caroline menatap lekat Viscount Luis. Sedangkan yang di tatap tampak gugup dengan mengeluarkan keringat.


"Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Viscount."


"Ti-tidak ada."


"Jika Viscount menganggap Caroline Knight sebagai istri mu. Tidak seharusnya seorang suami menyembunyikan sesuatu dari istri dan sebaliknya." Ujar Caroline.


Viscount Luis menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Jika aku mengatakannya apa kamu tidak akan meninggalkan ku."


Hati Caroline terhenyak, ia semakin penasaran apa yang di sembunyikan oleh Viscount Luis. Viscount Luis melangkahkan kakinya, ia langsung memeluk erat Caroline. Dadanya bergetar ketakutan. Baru saja dia menikah dengan harapan hidup bahagia. Tapi Tuhan berkehendak lain. Mungkin, mungkin dia hanya seorang suami pengganti sementara yang tidak akan bisa bersama Caroline selamanya.

__ADS_1


"Caroline," Viscount Luis melepaskan pelukannya.


Darah segar keluar dari hidung Viscount Luis. Kepalanya terasa pusing. Viscount Luis masih bertahan agar tidak kehilangan kesadarannya.


"Viscount." Caroline memapah tubuh Viscount Luis ke sofa, ia berteriak memanggil pelayan agar memanggil Dokter.


"Tidak Caroline, aku tidak apa-apa." Viscount Luis meraih sapu tangan yang ia selipkan di bajunya itu. Ia mengelap darah segar itu.


"Ini lah yang aku takutkan, aku memiliki penyakit yang sama persis seperti Ayah. Pada saat itu, Ayah juga meninggalkan diri ku bersama Ibu. Aku takut Caroline, aku takut kamu tidak mau bersama ku."


"Maaf Caroline, aku bukalah laki-laki sempurna."


"Cukup ! kamu laki-laki yang sempurna. Apa pun yang tejadi mari kita bersama." Ujar Caroline dengan tegas.


Viscount Luis merasa bersyukur dengan penyakitnya itu. Caroline tidak akan meninggalkannya. Ia salah menilai Caroline, ia pikir dengan kecantikan Caroline.


Caroline tidak akan mau merawatnya yang sakit-sakitan.


"Caroline, bolehkah aku meminta hak ku. Aku ingin hak ku, setidaknya aku memiliki seorang penerus sebelum aku pergi."


Tanpa ada keraguan, Caroline mengangguk. Sudah sepatutnya dan kewajibannya melayani suaminya itu. "Viscount tidak akan pergi, ya kita akan membesarkan anak-anak kita." Ujar Caroline meyakinkan Viscount Luis. Caroline merasa, penyakit Viscount Luis bukanlah penyakit biasa. Ada rasa takut di hatinya itu. Ia berjanji akan menghabiskan waktu untuk Viscount Luis, membahagiakan suaminya ini.


.


.


.


Setelah mengingat hari di mana Caroline atau Cyra yang ia kenal sudah menikah. Duke Elios memukul dadanya yang begitu sakit. Ia baru ingat, kepergiannya bersamaan dengan Caroline atau Cyra yang menikah.


"Yang Mulia," Sang kesatria tidak tega melihat Duke Elios yang sangat terpukul. Seharusnya dia tidak mengingatkan saja pernikahan Caroline dengan Viscount Luis.


"Kita harus menyelesaikan permasalahan di sini." Duke Elios langsung berdiri, amarahanya mulai membuncah. Ia menebas semua leher pemberontak itu. Melampiaskan semua rasa sakit yang bercampur dengan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2