Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
apa Caroline berubah pikiran


__ADS_3

"Wah, enak sekali." Ucap Caroline sambil melahap beberapa hidangan, ada sup wortel, sup ayam. Daging sapi, serta buah pir, jeruk dan Strowbery.


"Kenan, mana bibi tidak kelihatan sama sekali?" tanya Caroline sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.


"Mungkin Nyonya masih istirahat non." Sanggah ketua pelayan wanita.


Caroline mengangguk, ia hendak berjalan tapi berhenti setelah melihat bibi Roseline di ambang pintu.


"Ah, Bibi." Caroline berlari kecil memeluk Bibi Roseline. Hari ini ia akan melihat di sekitar Ibu Kota, suasana yang baru dan tempat singgah yang baru. Caroline tidak sabar ingin melihat ada apa saja di Ibu Kota. "Bibi boleh gak, Caroline keluar?" tanya Caroline.


"Caroline, kamu baru datang. Jadi beristirahatlah." Jawab Bibi Roseline dengan lembut, ngelus lengan Caroline yang menggandengnya.


"Tapi.."


"Tidak ada, harus nurut. Besok kamu boleh keluar. Bibi akan mengajak mu ke toko Bibi."


"Tapi bi ..."


Tiba-tiba seorang pelayan masuk, tanpa sengaja ia memotong pembicaraan Caroline. "Nyonya maaf mengganggu, di depan ada Marqueess Luis ingin bertemu dengan Nyonya."


"Oh, baiklah aku akan menemui." Balasnya lalu mengalihkan pandangannya ke samping kanan, melihat Caroline yang mengekerucutkan bibirnya, Bibi Roseline tidak sanggup menahan tangannya yang gatal ingin mencubit pipi Caroline. "Sudahlah, turuti saja hari ini. Besok sepuas mu lho." Goda Bibi Roseline sambil mengacak poni Caroline.


Caroline melirik ke arah Kenan dan Mia, ia berharap kedua wanita itu bisa membantunya. Namun salah mereka hanya menunduk sebagai jawaban menolaknya.

__ADS_1


Caroline keluar dari ruang makan, ia berjalan melihat-lihat sekitar kediaman itu. Selama di perjalanannya, sering kali Caroline menyapa para pelayan dan pengawal dengan ramah. Karna merasa bosan Caroline menghampiri seorang pelayan yang sedang menanam bunga mawar. Merekapun menanam bunga mawar itu di selangi canda tawa. Pemandangan itu pun tak lepas dari dua orang yang tanpa sengaja melihat mereka.


"Bibi dia siapa?" tanya laki-laki itu.


"Dia Caroline, sepupu ku Tuan." Balas Bibi Roseline tanpa mengalihkan penglihatannya. Ia merasa dunianya bersama Berlia seakan kembali.


"Apa besok Bibi akan membawanya?"


"Tentu tuan muda, memangnya ada apa Tuan muda?"


"Tidak ada," Ucap Tuan Muda tersenyum dan menunduk hormat berlalu pergi. Sebelum menaiki kereta ia masih melirik Caroline sejenak dan tersenyum


Disisi lain..


"Bagaimana? apa Caroline berubah pikiran?" tanya Duke Elios penuh harap.


"Maaf Yang Mulia, sepertinya nona Caroline sangat senang bersama Nyonya Roseline."


"Baiklah, Caroline. Kamu bersikeras ingin menjauh dari Paman. Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan." Duke Elios berjalan masuk, ia memilih menyibukkan dirinya dengan kertas istana. Mungkin dengan cara itu, sejenak ia bisa menghilangkan keresahan hatinya. Hanya beberapa saat ia melepaskan Caroline dan sekarang dirinya merindukannya.


Seharusnya, diantara mereka yang paling rindu adalah Caroline bukan dirinya. Selama ini Caroline lah yang mengejar dirinya, bukan dia. Tetapi sekarang, seperti dunianya terbalik. Caroline merasa puas berjauhan dengannya. Namun hatinya tampak kacau.


Brak

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia melakukan ini?"


pikiran Duke Elios semakin kacau, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan beberapa kertas di depannya. Pikirannya hanya Caroline dan Caroline.


"Tidak aku harus bertahan, dia yang selalu membangkang perkataan ku."


"Hormat hamba Yang Mulia. Di depan ada Pangeran Oskar."


"Bilang aku tidak bisa bertemu dengannya, aku ingin beristirahat. Dan katakan saja, Caroline berada di rumah Bibi Roseline." Ucap Duke Elios menghela napas, ia beralih ke arah sofa kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya, mungkin saja dengan tidur sebentar membuatnya lebih tenang.


Semenit, dua menit, tiga menit Duke Elios duduk, ia memukul pelan kepalanya. Tetap saja otaknya tidak bisa menghapus wajah Caroline. Mungkin ia sangat menyayangi Caroline sebagai keponakannya. Jadi hatinya tidak bisa menjauh dari Caroline.


"Aaakh.."


"Yang Mulia ada.."


"Apa lagi sih?" Bentak Duke Elios, hari ini dirinya tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.


"Ada nona Ariana."


"Aku sibuk !"


Hanya sepatah kata itu membuat Emi ketakutan dan buru-buru pergi.

__ADS_1


__ADS_2