
"Emmm, Paman akan menunggu di ruang tamu." Ujar Duke Elios berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan dari Caroline dan Viscount Luis.
Caroline pun langsung menoleh, ia merasa tidak enak hati. Namun ia tetap bersikap seperti biasa saja.
Caroline membantu Viscount Luis memasang bajunya. Setelah selesai ia menuju ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu lama, Caroline keluar dari kamar mandinya.
Deg
Viscount Luis menahan hasratnya. Lekukan tubuh Caroline membuat juniornya kembali menegang. "Sayang." Viscount Luis menyerbu bibir Caroline, mencium, ******* dan memperdalam ciumannya itu.
"Sayang, aku tidak tahan." Ujar Viscount Luis dengan nafas berat.
"Lakukan !" Ujar Caroline. Ia mencium Viscount Luis, lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Viscount Luis.
Viscount Luis pun tidak bisa berfikir panjang. Dia membuka jubah mandi Caroline. Hingga jatuh ke lantai. Sama halnya dengan Caroline, ia kembali membuka pakaian Viscount Luis.
Viscount Luis menggendong tubuh Caroline ke arah ranjangnya. Ia mencium bibir Caroline, beralih ke lehernya.
Kedua buah benda kenyal itu, ia cuman dan meremasnya. Sekali hentakan juniornya masuk ke area Caroline. Sesekali Viscount Luis mencumbu setiap inci tubuh Caroline seraya melajukan juniornya dengan lambat atau pun cepat.
__ADS_1
Desahan itu keluar dari mulut mereka secara bersamaan, merasakan sesuatu yang sudah mencapai klimaksnya.
Kedua orang itu tidak memperdulikan ketiga orang yang sedang menunggu mereka. Duke Elios merasa frustasi, pasti sudah terjadi sesuatu pada mereka. Tidak mungkin kedua orang itu menghabiskan waktu sampai berjam-jam.
Huh, bocah tengil itu. Aku ingin membasmi juniornya batin Duke Elios yang merasa geram dan cemburu.
Panasnya di luar, tidak sepanas hatinya yang kini menahan rasa cemburu, marah dan sabar menunggu. Ingin sekali mulutnya meneriaki Viscount Luis.
"Kenapa Caroline lama sekali?" tanya bibi Roseline. Sudah beberapa hari ia bersama Baron Knight menunggu kedatangan Caroline ke kediaman mereka.
"Sudahlah tunggu saja, namanya juga pengantin baru." Timpal Baron Knight yang mendapatkan tatapan tajam dari Duke Elios.
Telinganya bertambah panas mendengarkan ucapan Baron Knight.
*Setidaknya kamu merasakannya Duke batin bibi Roseline
Aku ikut merasakan rasa sakit hati mu Duke. Bersabarlah, jika Caroline memang jodoh mu. Sejauh apa pun jarak kalian. Pasti kalian bersama.
Untung saja aku jomblo gak laku-laku, setidaknya aku tidak merasakan sakit hati batin Emi sambil bergidik ngeri*.
__ADS_1
tap
tap
tap
"Bibi, Ayah." Panggil Caroline mempercepat langkah kakinya. Ia memeluk Baron Knight dan bibi Roseline secara bergantian.
"Maaf akhir-akhir ini Caroline sibuk." Ujar Caroline berbohong. Padahal tadinya ia ingin menceritakannya. Namun Viscount Luis menyuruhnya untuk tidak memberitaukan masalah penyakitnya itu.
Duke Elios mengepalkan tanganya, tanpa sengaja ia melihat sebuah tanda di leher Caroline. Duke Elios menatap geram ke arah Viscount Luis. Sementara Viscount Luis hanya menaikkan kedua bahunya, bersikap acuh.
"Caroline apa di rumah ini ada serangga. Lihatlah leher mu sangat jelek." Ejek Duke Elios seraya melirik ke arah Viscount.
Caroline langsung menutupi lehernya dengan kedua tangannya. Tanda ini adalah ulah Viscount Luis. Ia sudah mengatakan jangan memberikan banyak tanda.
Enak saja dirinya mengatakan serangga, bahkan mengatakan lukisan ku di leher Caroline jelek. Ingin aku memberikan mulutnya bahan peledak. Sekalian dia tidak punya mulut agar suatu hari tidak bisa mengukir di leher Caroline batin Viscount Luis.
"Hah, di rumah ini memang ada serangga. Serangganya besar, kuat dan tampan." Balas Viscount Luis.
__ADS_1
"Ahem, apa Bibi dan Ayah sudah sarapan? Sebaiknya kita sarapan bersama." Timpal Caroline menghentikan percekcokan kedua laki-laki itu.
Viscount Luis dan Duke Elios saling memalingkan wajah mereka. Kedua laki-laki itu akan tetap mendukung semua keputusan Caroline dan menjaga satu wanita yang berada di dalam hatinya itu.