
Lain halnya dengan Caroline, sedari tadi pikirannya kacau, ia tidak tau harus apa? ingin melawan tapi takut tidak sopan dan lebih tepatnya Baron Knight orang tua kandung pemilik tubuh ini. Jika diam, sama saja dia menyerah. Caroline mengetuk dahinya, "Aku kan Cyra bukan Caroline, toh ini tubuh ini di tempati jiwa ku." Gumam Caroline.
"Oh, ayolah aku masih muda untuk memikirkannya, jangan sampai besok pagi muncul kerutan di wajah ku."
"Aku tidak mau jadi tua, seumur hidup ku. Aku ingin menolak tua. Apalagi aku pusing memikirkan peraturan istana, yang tak boleh ini, tak boleh itu."
"Lebih, baik aku berdisko saja, walaupun tidak ada musik."
"Tunggu, musik." Caroline berfikir, mungkin saja memainkan piano ia akan bisa menghilangkan stresnya.
"Kenan, Mia." teriak Caroline.
Mia dan Kenan yang menunggu di luar pintu, segera masuk menghadap Caroline.
"Kalian carikan aku biola dan piano."
"Untuk apa nona?"
"Untuk di masak, cepat lah cari. Menghilangkan mood ku saja." Ucap Caroline kesal, karna Kenan dan Mia semakin memperpanjang pertanyaannya.
Kenan dan Mia pun bergegas pergi, sampai di depan pintu mereka berpapasan dengan Duke Elios. "Gimana keadaannya Caroline?" tanya Duke Elios khawatir.
"Kenan, Mia tunggu. Aku akan ikut dengan kalian." Teriak Caroline.
Mendengarkan suara Caroline, Duke Elios melewati mereka begitu saja. Ia sangat rindu pada Caroline. Ingin memeluk Caroline.
"Caroline,"
"Untuk apa Paman datang kesini?" tanya Caroline seraya memutar bola matanya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar mu?" tanya Duke Elios sekedar basa-basi.
"Baik, masih berdiri belum mati." Jawab Caroline acuh seraya mengambil jubahnya.
"Mau ke.."
"Masih sibuk," potong Caroline berlari kecil dan menarik kedua tangan Kenan dan Mia.
Sesampainya di Ibu Kota, Caroline turun dari kereta, banyak orang yang berbisik-bisik ketika melihat Caroline. Mereka masih ingat saat kejadian di pest pertunangan Pangeran Oskar.
Caroline melirik salah satu wanita yang memakai pakaian pelayan seperti Kenan dan Mia, ia menatap Caroline dengan jijik. "Perempuan bangsawan yang rendah seperti dia tidak setara bersanding dengan Pangeran Oskar."
Dengan santainya Caroline menuju ke arahnya, "Jangan berbisik saja nona, sebaiknya to the poin saja. Katakan langsung pada orangnya."
"Dia memang benar gak tau diri."
"Ah, sialan. Nona seperti mu tidak pantas jadi bangsawan." Teriak salah satu wanita yang hendak menampar Caroline.
Aaaa.
Teriakan wanita itu menarik semua perhatian orang, wanita itu merasakan tulangnya seakan patah.
Caroline pun menghempaskan wanita itu sampai ke tanah.
"Kamu.."
Caroline mendekat, lalu berjongkok dan menarik dagu wanita itu. "Kamu pikir aku tidak berani melawan mu, aku bisa saja membunuh mu saat ini." Caroline tersenyum licik, ia melayangkan tangan kanannya ke arah pipi wanita itu hingga darah segar keluar dari mulutnya. "Siapa pun yang berani melawan ku? aku tidak akan tinggal diam." Ancam Caroline kemudian berdiri.
prok
__ADS_1
prok
prok
"Aku suka keberanian nona." Perkataan itu membuat Caroline mematung, bahasa yang tidak asing di telinganya. Bahas yang berada di zamannya.
"Aku suka keberanian nona." Ucapnya lagi.
Sedangkan Caroline menatap ke arah laki-laki di depannya dari bawah ke atas, laki-laki berhidung mancung, rahang yang tegas, bulu mata yang lentik dengan memakai hanfu ala kerajaan dahulu.
"Bahasa Hangul." Ujar Caroline mengkedipkan matanya dan melongo.
"Nona, maaf mengganggu nona. Yang Mulia mengatakan "Aku suka keberanian nona". Saya adalah penerjemah bahasa." Sapanya dengan sopan.
"Apa? aku bisa berbahasa Hangul." Ucap Caroline tersenyum. (bahasa hangul)
"Apa nona bisa berbahasa hangul?" tanya pria paruh baya terkejut, selama ini ia tidak pernah menemukan seseorang yang mengerti bahasanya.
"Tentu saja." Balas Caroline. (bahasa hangul)
"Aku tidak pernah menduga bisa bertemu dengan nona cantik dan bisa berbahasa hangul." Ujar laki-laki di depannya.
"Perkenalkan nama saya Xio Jue, Pangeran pertama dari Kekaisaran Xio." Ujarnya sopan.
"Caroline."
"Ca-ro-li-ne." Ucap Xio Jue terbata-bata mengucapkan nama dengan huruf yang membuat lidahnya sangat sulit di gerakkan.
"Terserah, yang jelas Caroline. O, iya maaf saya masih ada urusan dan saya meminta maaf karna membuat keonaran." Ucap Caroline membungkuk hormat dan menarik Kenan serta Mia.
__ADS_1