Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Berduaan di Perahu


__ADS_3

“Kak Mei-Mei! Arahkan perahunya yang benar!” seru Li Roulan sebal. Karena tadi mereka terlalu lama bertengkar, perahu yang mereka tumpangi pun jadi berada di posisi terakhir. Li Mei yang memegang separuh kendali perahu membalas bentakan adik cerewetnya, “Kamu yang salah. Jangan kuat-kuat dayungnya. Nanti beloknya kejauhan.”


“Kakak yang lemah. Lihat Xiu’er! Dia sudah jauh sekali dengan kita. Kasim! Kenapa berhenti? Cepat bantu dayung perahunya!” Li Roulan marah-marah ke seorang kasim tua yang harusnya membantu mereka untuk mendayung perahu ini. Namun, karena Li Roulan dan Li Mei terlalu banyak bertengkar, kasim itu jadi tidak bisa melaksanankan tugasnya.


“Tuan Putri …,” si kasim ingin mengingatkan, tapi perkataannya dipotong oleh Li Mei, “Cepat dayung saja! Kami sudah ketinggalan jauh. Ih ... Rou’er! Ini semua gara-gara kamu!”


“Kenapa Kakak Mei terus menyalahkanku. Kakak yang salah. Arahkan perahunya yang benar! Jalur kita belok lagi,” Li Roulan sewot mengingatkan. Kasim yang membantu mereka pun kewalahan. Ia hanya dapat pasrah mendayung perlahan sambil membantu Li Mei dan Li Roulan meluruskan jalur perahu. Sayangnya, setiap kali ia berhasil melakukannya, pasti Li Mei atau Li Roulan akan membelokkannya lagi.


“Chen’er, kita memimpin di depan. Ayo semangat! Dayung sedikit ke sini. Kasim, lebih cepat lagi,” Li Xiulan mengomando timnya dengan baik. Mereka kompak mendayung dan mengarahkan perahu. Setengah perjalanan telah berlalu dan mereka masih dengan baik memimpin di depan.


“Benar! Aku pasti mengalahkan Kakak An,” Li Chen berseru semangat. Sebenarnya, ia sama sekali tidak membantu. Walaupun membawa dayung, tenaganya masih terlalu kecil untuk memberi pengaruh pada perahu.


Li Xiulan pun juga tak jauh berbeda. Selama ini, ia fokus untuk menjaga Li Chen agar tidak jatuh. Bocah lima tahun itu terlalu banyak bergerak sehingga membuat jantung kakaknya berkali-kali nyaris copot.


“Kakak Xiu, lihat! Itu burung. Itu burung,” Li Chen menunjuk-nunjuk sekelompok angsa yang tengah berenang di danau. Tubuhnya terlalu menjorok ke depan. Karena itu, Li Xiulan harus terus siaga agar adiknya tidak terjatuh. Kasim yang menemani mereka pun beberapa kali ikut panik.


“Kakak terlalu lambat,” ejek Li An dengan dinginnya. Ia dan kakaknya saling berhadap-hadapan. Sesekali wajahnya menoleh ke tim Li Xiulan yang telah jauh di depan. Tidak! Sebenarnya, jarak mereka tidak terlalu jauh. Li An saja yang terlalu hiperbolis karena sedang merajuk pada kakaknya.


“Benarkah? Kita akan semakin cepat kalau seseorang membantu,” balas Li Huanran menyindir. Senyum manisnya bahkan ikut mengias Li An. Ia benar-benar akan sangat terbantu jika adiknya yang pemarah itu ikut mendayung.


“Kenapa Kakak tidak menerima bantuan kasim?” Li An mempertanyakan keputusan kakaknya. Sejak awal, ia tahu kalau kakaknya curang dalam undian. Maka dari itu, ia tak sudi membantu kakaknya yang licik.


“Nggak kenapa-napa, kok. Tenanglah dan jadi anak yang baik. Ayunda begini demi kebaikanmu juga,” Li Huanran terus mendayung dengan sabar. Perahu mereka berjalan sedikit demi sedikit, tapi pasti. Tidak seperti milik Li Mei dan Li Roulan yang inkonsisten, lambat pula.


“Huh! Bukannya ada yang mau Kakak katakan? Katakan saja sekarang kalau itu penting,” Li An membuang muka ke arah angsa-angsa putih yang tadi dilihat Li Chen dengan semangat. Padangan matanya menatap sedingin salju. Ia tak terlalu tertarik dengan unggas-unggas yang cantik itu.


“Wah …! Ternyata kamu bisa jadi anak yang peka, ya?” Li Huanran pura-pura terkejut. Tangannya sudah pegal. Ia lelah karena terlalu lama mendayung. Tanpa mengatakan apa pun, Putri Ketiga itu menyerahkan dayung di tangannya kepada Li An. Untung saja adiknya menerima sepasang kayu itu tanpa protes, tapi matanya melotot tajam seolah-olah mempertanyakan kata-kata Li Huanran di awal tadi.


“Kamu sudah merasakan hangatnya keluarga kan?” Li Huanran mulai berbasa-basi, “Kita tidak akan kesepian kalau punya keluarga.”


“Aku nggak kesepian kalau sama bunda,” potong Li An dengan tawar hati. Sebenarnya, Li Huanran tidak ingin menyinggung masalah Selir Ai terlalu cepat. Namun, karena Li An menyebutkannya lebih dulu, Li Huanran harus memanfaatkannya dengan baik, “Benar, kalau kita tinggal bersama keluarga yang kita cintai, kita tidak akan kesepian.”

__ADS_1


Suasana hening beberapa saat. Hanya ada semilir angin yang berhembus dan suara percikan air yang terdengar setiap kali Li An mendayung perahunya. Kakak beradik yang duduk dalam satu perahu itu saling memandang dalam hening. Di tatapan mereka ada sendu dan kesedihan walaupun tertutup topeng siasat dan topeng dingin.


“Seperti burung-burung yang bermigrasi pada musimnya. Mereka kompak menuju ke satu arah yang sama demi keberlangsungan hidup bersama,” lanjut Li Huanran akhirnya. Tangan halusnya meraih permukaan air di danau. Rasanya dingin dan menyegarkan. “Kita bersatu dalam naungan yang besar, saling bahu-membahu, membawa kemakmuran untuk Kekaisaran Tang. Tanah yang luas ini menjadi tanggung jawab kita sebagai Keluarga Kekaisaran. Jika kita memimpinnya dengan baik, kedamaian pasti meliputi daratan Tang ini.”


“Ayahanda Kaisar ingin melihat dan bertemu denganmu. Beliau ingin kamu kembali ke istana dan belajar seperti pangeran-pangeran yang lainnya,” Li Huanran pun mengatakan inti pesan yang disampaikannya setelah mondar-mandir membicarakan banyak hal. Kedua tangannya menepuk paha Li An, mensugestinya untuk percaya dengan ketulusan yang ia tunjukkan. Putri Ketiga itu berharap agar Pangeran Kedelapan mau kembali bersamanya.


“Bukannya … istana bukan tempat yang seindah itu,” Li An berhenti mendayung. Kepalanya tertunduk. Ia mengingat jelas buku-buku yang dibacanya. Pangeran yang cerdas itu bahkan mengonfirmasi bacaannya kepada Kakek Ma. Pustakawan tua itu membenarkan bekas tinta-tinta darah yang tertulis dalam catatan sejarah. Singgasana yang diduduki oleh Kaisar Tang saat ini adalah kursi yang telah memangku orang-orang bertangan kotor.


“Memang tidak seindah itu, makanya aku ingin mengajakmu untuk mengubahnya menjadi lebih baik sehingga seluruh rakyat Kekaisaran Tang dapat hidup dengan makmur dan damai sentosa,” kata Li Huanran sambil menyentuh ubun-ubun adiknya. Ia tersenyum optimis. Sebenarnya ia memang tidak senasionalis itu, tapi ini demi menyelesaikan misinya. Toh, ia tinggal terus membimbing Li An untuk mewujudkan impiannya menuju kedamaian.


“Apa yang sebenarnya Kakak harapkan?” tanya Li An dengan suara yang lirih. Kepalanya masih terus tertunduk lesu. Ia duduk terombang-ambing di atas sebuah perahu bersama kakaknya yang menyebalkan. Pikirannya terhanyut dalam ucapan-ucapan Li Huanran yang penuh pesan kebaikan, tapi sulit diwujudkan.


“Bibi Hien dan Bibi Ai ingin kamu hidup dengan damai. An’er, mengertilah! Aku tidak mendorongmu untuk menjadi kaisar,” jawab Li Huanran dengan jujur, “Kamu ingin menjadi sarjana agar bisa mewujudkan kedamaian itu, maka ketahuilah bahwa tidak hanya kamu seorang yang berhak atas kedamaian itu. Semua orang berhak atasnya. Kekaisaran Tang berhak mendapat kedamaian di segala penjurunya.”


Li Huanran berhenti sejenak. Mata sipitnya memandang Li An penuh kasih. Senyum lembutnya membawa kehangatan. Ia kini meneguhkan hatinya untuk mewujudkan impian yang suci itu, “An’er, sarjana adalah pahlawan besar. Orang-orang hebat yang membawa perubahan. Kamu ingin menjadi sarjana, jadilah sarjana yang hebat dan berdirilah di samping saudara-saudaramu untuk mewujudkan kedamaian di seluruh negeri.”


Putri Ketiga pun menyentuh dada Li An seolah hendak menggapai hatinya, “Di dalam hatimu ada cahaya. Secercah harapan besar yang akan menerangi Kekaisaran Tang. Seolah-olah aku melihat cahaya itu dengan mataku sendiri. An’er, apakah kamu sudah merasakannya?”


“Bibi Hien pernah bercerita padaku. Saat ia mengandung dirimu, ia pernah bermimpi,” Li Huanran kini menyebut nama ibu kandung adiknya. Ia bercerita dengan jujur karena benar-benar pernah mendengarnya. Saat itu, usianya masih di bawah sepuluh tahun. “Bibi Hien melihat cahaya datang dari ujung samudra, juga dari ujung benua. Cahaya itu menyebar ke segala tempat, masuk ke rumah-rumah, bahkan Istana Kebahagiaan Abadi.”


“Cahaya itu hangat dan membawa kedamaian bersamanya. Bibi Hien pun berdoa agar kamu juga mendapatkannya, maka cahaya itu pun merasuk ke dalam kandungannya. Ia lantas melihat samudra, kota-kota besar, dan padang-padang luas yang diterangi cahaya itu. Bibi bilang, kamu akan berkunjung ke sana suatu saat nanti,” cerita Li Huanran berhenti, “Ah, maaf. Mungkin ada sedikit yang berbeda. Itulah yang kuingat sejauh ini.”


“Kakak sudah selesai?” suara Li An terdengar dingin sehingga membuat hati Li Huanran seakan tertusuk belati. Putri Ketiga itu takut usahanya sejauh ini menjadi sia-sia. Kalau ia gagal, terpaksa ia meminta mandat dari ayahandanya untuk membawa Li An kembali. Dengan begitu, pihak Pangeran Zhìzhě pun pasti ikut mendesak Li An untuk pulang ke istana. Namun, Li Huanran tidak ingin menekan adik kecilnya seperti itu. Walaupun baru bersama dalam waktu yang relatif singkat, ia sangat sayang padanya.


“Aku nggak mau tinggal di istana,” ucapan Li An kali ini terdengar lebih dingin dan serius. Li Huanran terkesiap seketika. Senyum di wajahnya pun meluntur berubah menjadi semburat sedih dan kecewa. Li An baru pertama kali melihat kakaknya begitu. Biasanya, Putri Ketiga itu selalu tersenyum dengan wajah yang riang.


“Apa yang sebenarnya kamu takutkan? Selama kamu tidak terlalu dalam menyusuri arus politik, kamu akan aman sentosa,” Li Huanran masih berusaha membujuk. Kalau saja Li An tidak tahu bahwa kakaknya pandai mengatur ekspresi, ia pasti akan langsung iba seketika.


“Darah,” jawab Li An singkat. Satu katanya itu telah mendiskripsikan banyak hal. Pangeran terasing itu menyatakan bahwa ia takut dan tak ingin turut campur dengan intrik politik, perebutan takhta, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.


“Ternyata kita sama,” Li Huanran kembali menyungging senyum, tapi teramat tipis dan terkesan getir. Wajahnya sedikit tertunduk, tapi matanya tetap menatap Li An dalam. Ia berusaha keras menghubungkan hatinya dengan bocah itu. “Aku juga muak dengan istana. Kalau bisa memilih, mungkin aku akan enggan menjadi putri berdarah keluarga kekaisaran. Lebih baik menjadi insan yang sederhana dan berada. Segalanya ada setiap kali dibutuhkan. Bukankah begitu?”

__ADS_1


Li An tidak menjawab. Ia masih mencerna maksud kakaknya. Reaksinya itu membuat Li Huanran menghela napas sabar dan kembali berkata, “An’er, kalau kamu tidak bersedia tinggal di istana, setidaknya berkunjunglah kepada ayahanda. Jika Pangeran Zhìzhě berkenan untuk terus menarawatmu, maka aku bisa membantumu untuk membujuk ayahanda.”


“Benarkah? Aku nggak harus tinggal?” tanya Li An memastikan. Selama ia tidak menetap lama di sangkar emas itu, ia mungkin masih bisa menerimawanya. Baginya, cukup dengan menjauh dari masalah politik untuk meniti hidup yang damai.


“Yah, ayahanda pasti mengerti,” Li Huanran berjanji.


“Baiklah, tapi jangan menahanku terlalu lama,” syarat Li An tegas. Li Huanran pun memeluk adiknya seketika. Perahu sampai bergoyang-goyang dan membuat Li An takut. Mereka bisa jatuh dari perahu itu begitu saja. Untung Li Huanran dapat menyeimbangkannya dengan cepat. Ia pun berkata penuh semangat, “Ayo kita mendayung bersama sekarang. Lihat! Mei’er dan Rou’er sudah ada jauh di depan kita.”


“Hmph! Kakak saja sendiri. Tadi kan Kakak bilang nggak butuh bantuan,” Li An membuang muka. Ternyata ia masih sedikit merajuk karena masalah di awal tadi. Li Huanran pun menyentilnya dengan keras sampai bocah itu menggerutu sebal. Pada akhirnya, mereka bisa bahu-membahu untuk mendayung perahu sampai ke tujuan. Namun, tetap saja mereka kalah.


“Kakak Huanran, aku punya hadiah spesial untukmu,” sambut Li Mei sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. Ia langsung muncul saat Tim Li An sampai di ujung tujuan. Senyumnya terlihat sangat mencurigakan. Gadis yang belum lewat usia sepuluh tahun itu masih kurang dalam mengendalikan ekspresinya.


“Hm? Apa itu?” Li Huanran tetap menanggapi candaan sepupunya dengan siasat yang siap membalas. Jika beradu mulut, tentu saja ia yang akan menang seperti biasa. Senyum liciknya yang sinis pun tersungging di wajah dengan mata sipitnya.


“Ini! Aku kasih spesial buat Kakak,” Li Mei menunjukkan sesuatu yang disembunyikannya.


Kroook ….


“Kyaaa ...!” Li Huanran berlari ke belakang Li An sambil berteriak histeris. Trik-trik liciknya yang ia siapkan untuk melawan Li Mei rontok seketika saat melihat kadok besar di tangan gadis tomboi itu. Putri Ketiga bahkan menarik Li An untuk bersembunyi. Ia paling benci dengan hewan-hewan menjijikkan seperti kodok.


“Eh? Padahal kadoknya imut loh,” Li Mei menyeringai senang. Ia merasa di atas angin. Akhirnya, ia berhasil menemukan kelemahan Li Huanran. Ia harus memelihara kodok anti-Putri Ketiga di Istana Pangeran Zhìzhě nanti. Dengan wajah yang riang, ia mengejar-ngejar kakak sepupunya tanpa peduli dengan status mereka sebagai gadis bangsawan.


“An’er,” suara Li Roulan yang lirih terdengar dari belakang, “Apa Kakak Mei sudah pergi?”


Li An pun menoleh. Ia melihat Li Roulan, Li Xiulan, dan Li Chen mengintip dari satu tempat yang sama. Sepertinya, mereka juga takut dengan kodok. Karena itu, mereka tidak terlihat saat Li An sampai di ujung danau.


“Dasar Kakak Jahat. Awas saja nanti. Aku akan mengadukannya kepada ayah,” gerutu Li Roulan dengan raut wajah yang masam. Kedua tangannya mengepal marah. Ia sangat kaget saat tiba-tiba seekor kodok besar melompat ke perahunya tadi. Untung ia sudah sampai di ujung danau. Jadi, ia bisa segera kabur sebelum kodok itu melompat ke gaunnya. Eh, Li Mei malah membawanya keluar dari perahu tanpa jijik.


“Dia datang lagi,” Li An menunjuk ke satu sudut. Li Roulan segera menghadap ke arah yang ditunjuk sepupunya. Ia pun bersembunyi di belakang pangeran kecil itu begitu melihat kodok yang ditangkap Li Mei melompat-lompat kepadanya.


“An’er, An’er, buang kodok itu! Cepat buang …!” teriak Li Roulan histeris di samping telinga Li An. Suaranya sangat nyaring sampai memekakkan telinga Pangeran Kedelapan. Li An pun reflek menendang kodok itu ke danau karena bentakan putri kedua Pangeran Zhìzhě. Setelah itu, ia menepis tangan Li Roulan yang mencengkeram pundaknya dengan erat dan berkata, “Sudah. Jangan teriak-teriak terus. Telingaku jadi sakit.”

__ADS_1


Tak lama kemudian, Li Mei datang dengan wajah tanpa dosa. Ia pun menanyakan keberadaan kodok yang ingin dipeliharanya. Li Roulan pun menatapnya dengan tajam dari balik tubuh Li An. Gadis itu masih waspada barangkali Li Mei membawa kodok yang lain. Setelah memastikan kondisinya aman, ia pun memarahi kakak tertuanya yang keterlaluan itu.


__ADS_2