Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 074: Menatap Langit Purnama


__ADS_3

“Aku sudah berkali-kali melihat purnama, tapi rasanya baru kali ini aku melihat yang seindah itu,” ucap Ma Yuan yang kini tengah duduk santai bersama yang lainnya di atas batu Bukit Pertapa Tua, “Sudah sebulan berlalu sejak kejadian itu. Kita belum bisa bertemu dengan Senior Ling dan saudara-saudara lainnya.”


“Hutan ini luas,” balas Sue Fang optimis, “Mereka mungkin sudah mendahului kita dan hampir sampai di kekaisaran. Kalau sampai kaisar mendengar kabar ini, beliau pasti akan segera mengirim pasukan untuk membalas perbuatan para bangsa bar-bar itu.”


“Mungkin saja mereka tidak selamat,”Jin Mi yang lebih dewasa dan realistis menanggapi tanpa peduli sama sekali dengan perasaan kawan-kawannya. Ucapannya itu membuat Ma Yuan dan Sue Fang tertunduk.


“Itu hanya kemungkinan. Aku yakin bahwa Jili sudah bertemu dengan mereka dan mengonsolidasikan kekuatan. Bantuan dari kekaisaran pasti akan segera datang,” Wang Hongli berusaha menghibur. Sebenarnya, ia lebih setuju dengan pendapat Jin Mi. Menurutnya, kecil sekali kemungkinan Ling Bao dan saudara-saudara pendekarnya yang lain selamat dari pertempuran itu. Namun, ia tidak bisa mengatakannya karena itu dapat mempengaruhi batin kedua pendekar muda itu.


“...”


Jin Mi memalingkan wajah, memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh. Pandangannya pun tertuju pada Li An yang sedang sibuk berdiskusi dengan si Pertapa Tua. Sebenarnya, mereka bisa saja pergi dari bukit ini sejak beberapa hari yang lalu. Namun, Li An memilih untuk menetap sebentar agar bisa menimba ilmu dari si Pertapa Tua.


“Nak, rasakan angin malam yang dingin ini!” ujar si Pertapa Tua yang memandang takzim seantero hutan nan gelap meski diterpa cahaya temaram rembulan, “Lihatlah bulan yang cantik itu, juga bintang-bintang yang bertebaran di langit!”


Li An melakukan instruksi si Pertapa Tua. Kulitnya merasakan dingin yang diantarkan oleh angin-angin malam yang lembut. Pandangannya menatap ke atas, melihat purnama yang sedang terbit dengan eloknya tanpa terganggu oleh awan sama sekali.


“Angin yang dingin ini adalah tanda-tanda kuasa Allah,” lanjut si Pertapa Tua, “Bulan, bintang-bintang, dan matahari pun juga merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka beredar pada titik edarnya dengan teratur. Karena itu, manusia dapat menghitung waktu dan musim. Nak, pernahkah kamu berpikir, apa yang akan terjadi jika mentari dan bulan itu saling bertabrakan?”

__ADS_1


“Mereka akan binasa?” tebak Li An. Si Pertapa Tua pun mengangguk, lalu menambahkan, “Tidak hanya matahari dan bulan saja yang binasa, tapi bumi tempat tinggal kita. Kalau mentari padam, kehidupan di bumi ini pun akan sirna. Segalanya akan membeku kedinginan seperti gunung-gunung di utara nun jauh di sana yang selalu membeku sepanjang tahun.”


“Tidak akan ada tanaman, buah-buah, dan hewan ternak yang dapat bertahan di kondisi seperti itu,” Li An membayangkan betapa mencekamnya dunia tanpa sinar mentari itu. Tak ada kehangatan, tak ada kehidupan. Hanya ada kebekuan yang sunyi di tempat seperti itu.


“Benar,” si Pertapa Tua kembali mengangguk, “Itu adalah kondisi yang sangat buruk sehingga tidak mungkin kita hidup di sana. Kamu mengerti, kan? Pergerakan segala benda di angkasa itu telah diatur sedemikian rupa sehingga seimbang tanpa ada yang cacat. Kalau kamu ragu, cobalah lihat langit yang indah itu. Lihatlah lagi dan lagi! Kalau kamu masih belum puas juga, palingkan kembali pandanganmu pada langit yang luas itu, niscaya pandanganmu itu akan kembali padamu dalam keadaan yang letih dan jenuh tanpa berhasil menemukan kecacatan pada ciptaan Allah Yang Maha Pengasih.”


Angin malam bertiup, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Pakaian Li An yang sudah lusuh dan mulai koyak menari-nari ditiup angin seolah tak peduli dengan penderitaannya selama ini. Li An pun mencoba saran si Pertapa Tua dan memandang ke langit. Dilihatnya angkasa nan luasnya tak terkira. Tiada cacat setitik pun yang terlihat di sana.


“Kita sudah mengerti bahwa alam ini ada yang menciptakan dan mengaturnya,” si Pertapa Tua melanjutkan kembali ucapannya, “Ia adalah Allah Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus segalanya. Dia yang tidak mengantuk, tidak pula tidur. Andailah Allah mengantuk barang sebentar saja, alam semesta ini akan kacau-balau di segala penjurunya.


“...”


Li An terdiam. Ia percaya pada semua yang si Pertapa Tua katakan. Ia sudah percaya sejak lama bahwa tidak mungkin ada dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Esa. Andai Tuhan itu ada banyak, mereka pasti akan saling bergaduh dan berperang dengan makhluk-makhluknya sehingga alam semesta ini akan runtuh. Li An tahu semua itu. Namun, ia masih belum bersaksi dan menyatakannya dengan jelas pada siapa pun, padahal Ali dan Keluarga Putri Kecil sudah sering mengingatkannya. Sayangnya, ia merasa bahwa tabir itu masih terlalu tebal untuk dilaluinya.


Malam semakin larut. Li An menguap pelan dengan mata yang sudah letih memandangi langit cerah berbintang. Ia pun pamit untuk tidur pada si Pertapa Tua. Kakek Pertapa Tua itu hanya mengangguk dan mempersilakannya untuk pergi.


Di sisi lain hutan, Yun Jili dan para Pendekar Cenangkas beristirahat. Beberapa dari mereka masih terbangun untuk berjaga. Ada yang duduk-duduk di atas pohon yang tinggi, ada yang berdiri di tepian batu yang besar. Mereka terus bersiaga atas kedatangan pasukan kekhaganan yang mungkin sedang mengejar mereka.

__ADS_1


“Ini sudah sebulan,” gumam Yun Jili pelan, “Hanya seorang bangsawan saja yang berhasil kita temukan. Kondisinya pun sangat mengenaskan.”


“Tuan Rubah Perak,” panggil seorang pendekar yang kebetulan sedang berjaga bersama Yun Jili, “Anda tidak perlu risau. Pangeran Kedelapan pasti selamat dan sedang berada di suatu tempat di bumi ini. Mungkin saja, beliau malah sudah dekat dengan kekaisaran.”


“Kuharap begitu,” Yun Jili tersenyum kecut. Fakta bahwa mereka masih belum menemukan Pangeran Kedelapan tetaplah terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Mereka tidak boleh sampai terlambat menyelamat kan Li An. Kalau tidak ….


“Chen, bangsawan malang itu …,” kata Yun Jili dengan matanya yang berbalut duka, “Dari Keluarga Shien, bukan?”


“Benar, Tuan,” si pendekar yang dipanggil Chen itu mengangguk. Marganya adalah Xie. Ia adik junior Wang Hongli yang baru keluar dari perguruan musim semi tahun lalu. Hampir setahun ia mengabdi pada Li An sebagai bagian dari Brigadir Cenangkas.


“Kalau saja ia tidak membawa token keluarganya, kita tidak akan pernah tahu siapa dia,” Yun Jili menghela napas pelan, turut berduka atas kematian Shien Lubu yang mengenaskan. Tuan muda dari Keluarga Shien itu ditemukan dalam keadaan yang tak utuh. Tubuhnya tercabik-cabik. Darahnya bahkan sudah kering saat para pendekar menemukannya.


Ada sebuah anak panah yang tergeletak di dekat kakinya saat ia ditemukan. Dari panah itu, Yun Jili memperkirakan bahwa Shien Lubu tertembak panah saat berusaha kabur dari pertempuran. Begitu sampai di hutan, ia malah bertemu hewan buas dan berakhir diterkam olehnya.


“Keluarga Shien mungkin akan sedih,” lanjutnya Yun Jili yang kini membuka sebuah kotak kayu berisikan token Keluarga Shien, “Padahal, mereka mengirim putra terbaiknya dengan tujuan mulia, tapi pemuda itu malah berakhir mati dalam tragedi yang mematikan.”


Andai Yun Jili dan para Pendekar Cenangkas tahu apa yang telah Shien Lubu lakukan, mereka tidak akan pernah berduka atas kematiannya. Pemuda itu telah mendapat balasan atas kelakuannya yang didorong oleh perasaan dengki dan iri hati. Adu domba yang dilakukannya akan berbuntut peperangan besar yang penuh dengan darah. Ia hina di dunia, di akhirat pun ia akan semakin terhina.

__ADS_1


__ADS_2