Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 041: Serangan Pasukan Pelopor


__ADS_3

"Seperti yang diharapkan dari ibu kota," gumam salah seorang perwira musuh yang memimpin serangan benteng, "Pasukan bayang-bayang kita tidak bisa menakhlukkan mereka dalam semalam. Padahal, kita sudah mengerahkan kekuatan penuh untuk menembusnya. Selaian senior tertinggi, tak ada lagi pasukan bayangan yang tersisa."


"Kurasa," perwira lainnya berkomentar, "Masalahnya bukan kekuatan internal ibu kota, tapi tamu yang datang kepada mereka. Menurut laporan terakhir, pasukan tambahan dari kekaisaran datang sehari lebih dulu sebelum kedatangan kita."


"Bagaimana menurutmu?" perwira pertama memandang lurus ke benteng ibu kota, "Apakah kita akan mampu menembus benteng mereka yang dilindungi penuh oleh kekaisaran?"


"Kalau sekadar menuntaskan misi, aku yakin kita bisa," balas kawannya yang tersenyum pahit, "Tapi, sepertinya sulit untuk menembusnya, apalagi menakhlukkannya. Sejak awal, tugas pasukan pelopor adalah hanyalah untuk memecah konsentrasi musuh dan mati."


"Jangan bilang begitu, Kawan," perwira pertama menyemangati, "Bagaimanapun caranya, kita harus kembali dengan selamat dari perang berkepanjangan ini. Kita cukup memecah belah fokus mereka."


"Ya, kau benar," kawannya mengangguk kecil tanpa kehilangan senyum pahitnya. Perwira pertama pun berdiri di depan seluruh pasukannya. Ia dengan lantang berpidato singkat dan mengahirinya dengan sebuah perintah, "Tembakkan panah asura!"


"Ha!" seru pasukan pelopor kompak. Tak lama kemudian, sebuah panah khusus ditembakan. Itu adalah panah pertanda bahwa perang sudah dimulai. Para pasukan pelopor pun maju serempak.


***


"Mereka sudah menembakkan panah asura," ujar Li An di atas benteng. Dilihatnya ribuan pasukan yang datang mengepung. Senjata-senjata mereka berkilau elok nan menyilaukan diterpa sinat mentari. "Kita juga harus bergerak. Siapkan panah kalian."


"Ha!" jawab para pemanah di atas benteng. Mereka dengan kompak mengambil anak panah dan memasangnnya ke busur. Ketika musuh masuk ke jarak jangkauan panah, Li An pun memberi aba-aba pada mereka untuk melepaskan panahnya.


"Siapkan yang baru!" seru Li An memberi instruksi. Pasukan yang baru datang dengan anak panah yang sudah siap. Mereka bisa menembak kapan saja. Dengan satu instruksi Li An, ratusan anak panah berjatuhan di atas kepala-kepala musuh. Mereka yang tidak beruntung, matilah seketika.


"Kamu yakin bisa memimpin mereka dengan baik? Bukankah kamu fokus untuk jaadi sarjana?" tanya Li Bei yang berdiri di samping Li An, "Lenganmu pasti juga masih sakit. Jangan paksakan dirimu untuk kroco-kroco seperti mereka. Kamu bisa beristirahat sekarang."


"Sebentar lagi," balas Li An singkat, "Pasukan Cenangkas hanya patuh pada perintahku."

__ADS_1


"Haha ... kenapa Pasukan Cenangkas malah memakai panah?" Li Bei masih sempat-sempatnya meledek ketika perang sedang berlangsung, "Bukankah kalian ahli pertarungan jarak dekat?"


"Karena itulah mereka di sini," Li An menatap seorang pasukan musuh yang hampir menapakkan kakinya di atas benteng, tapi keburu di dorong jatuh oleh Pasukan Cenangkas yang pagi ini berjaga. "Lagi pula, kemampuan memanah mereka tidaklah buruk. Buat apa kita sia-siakan bakat mereka?"


"Kamu bukannya mau pamer kan?" tanya Li Bei yang terus memperhatikan jalannya peperangan. Li An pun tersenyum kecut, lalu membalas, "Siapa yang mau pamer? Coba salahkan seseorang yang malah keasyikan bermain saat kondisi masih belum kondusif, padahal Pasukan Naga dan Pasukan Baja Merah dari Kak Xiang ada di bawah kendalinya, ditambah pasukan penjaga kerajaan."


"Ck! Itu kan bukan masalah besar. Lagi pula, pasukanmu sudah cukup untuk menghabisi mereka," Li Bei menunjuk peperangan yang berpihak pada mereka. Ia cukup kagum melihat kelihaian Pasukan Cenangkas yang dipimpin oleh Wang Hongli di bawah kekuasaan Li An. Meskipun mereka sangat sedikit dibandingkan dengan pasukan di bawah pangeran yang lain, mereka adalah pendekar yang elit dan tangkas.


"Cukup apanya?" Li An berdecak kesal, "Kita kalah jumlah, sedangkan mereka terus berdatangan. Kekuatan kita akan melemah seiring berjalannya waktu. Kita harus bisa memenangkan perang ini secepat mungkin."


"Tak!"


Li Bei menyentil kening Li An. Ia berkacak pinggang dan berkata, "Aku tahu itu. Tapi, tugas kita bukanlah menyerang, melainkan bertahan. Pasukan Baja Merah akan sampai di sini dalam waktu beberapa hari lagi. Saaat waktunya tiba, biarkan pasukanmu beristirahat. Aku akan menggantikan posisimu."


"Biar Xiang saja yang menghabisi mereka," tambah Li Bei, "Kita cukup menstabilkan kondisi politik dan keamanan di sini."


Perang berlangsung sampai siang. Kedua belah pihak berhenti sejenak. Pasukan pelopor musuh memutuskan untuk mundur dan menyusun ulang strategi. Mereka baru kembali menyerang di sore hari. Pada malamnya, perang mereda. Namun, ketegangan masih tetap menyeruak di sekitar mereka.


"Pangeran, sampai kapan kita akan berdiam seperti ini?" tanya seorang perwira tinggi dari Kerajaan Kiri setelah beberapa hari mereka diserang. Setelah kekacauan malam itu usai, Raja Kiri ditemukan terluka dan tak mampu mengurus pemerintahan. Pangeran Yong Seong masih terlalu kecil, sedangkan para kerabat raja tidak mau menerima amanah yang berat dan berisiko ini, apalagi kekuatan militer mereka telah digenggam oleh pangeran dari Tang. Secara de facto, mereka telah tiada. Pemerintahan pun diurus oleh para menteri senior.


"Hari ini, mereka datang," jawab Li An tanpa banyak bercakap lagi, "Lihat dan perhatikan!"


***


"Ini aneh," kata salah seorang perwira dari pasukan pelopor, "Kenapa mereka sangat pasif?"

__ADS_1


"Pasif? Apa kau bodoh?" cibir perwira lainnya. Ia memiliki kumis yang panjang melintang. "Sudah berapa hari kita menyerbu ibu kota, tapi tak kunjung juga menginjakkan kaki di sana barang selangkah?"


"Mereka hanya fokus mempertahankan benteng," seorang perwira berambut putih unjuk suara, "Kemungkinan, mereka melakukan itu untuk mengulur waktu dan menunggu bantuan. Sepertinya, mereka tak memiliki banyak sisa pasukan untuk menghadapi kita secara langsung."


"Kalau begitu," seorang perwira bercelak tebal mengelus dagunya yang sedikit berjanggut, "Kita harus secepatnya menakhlukkan mereka sebelum bantuan datang. Dengan kekuatan penuh kita, hal itu pasti bisa dilakukan."


"Bukankah itu terlalu terburu-buru?" perwira pertama kurang setuju, "Sampai saat ini, pengintai dan kurir yang kita kirim belum juga kembali. Lebih baik, kita tunggu informasi dari mereka. Bukankah mereka akan segera datang?"


"Mereka tak akan pernah kembali," seorang perwira tua yang terlihat bijak menggelengkan kepalanya miris, "Pasukan bayangan bahkan tak tersisa, apalagi para pengintai yang kita kirim ke sana di malam buta. Adapun para kurir, harusnya mereka dalam perjalanan kembali dari markas besar."


"Sudahlah!" seru si perwira berkumis melintang, "Jangan seperti pengecut. Kita harus bergerak cepat dan menakhlukkan mereka."


"Tapi ...," si perwira pertama ingin menimbang ulang keputusan itu, tapi para perwira lainnya menatap ia dengan remeh. Mereka pun akhirnya membulatkan tekad. Si perwira berambut putih mengetuk meja seolah memfinalkan keputusan. "Tak ada perdebetan lagi! Kita akan menyerang ibu kota dengan kekuatan penuh besok."


"Mohon ampun, Perwira, mohon ampun," seorang prajurit tiba-tiba masuk ke tenda komando tanpa izin. Sikapnya itu membuat si kumis melintang marah. Ia ingin memukulnya, tapi si perwira tua menghalangi.


"Benar," si mata bercelak setuju dengan si perwira tua, "Dia pasti punya alasan yang bagus sampaii berani mengganggu rapat kita. Sebutkan masalahmu, Prajurit!"


"Pe–pengintai sudah mengonfirmasi," kata prajurit itu dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya, "Sejumlah besar pasukan berzirah merah datang ke arah kita. Sudah jelas bahwa pasukan itu adalah pasukan bantuan dari kekaisaran."


"Apa? Bagaimana mungkin secepat itu!?" si perwira pertama tak percaya, "Di mana mereka?"


"Jleb!"


Sebuah panah menembus masuk ke tenda komando. Panah itu menancap tapat di bahu si perwira pertama. Ia pun jatuh berlutut dan menahan sakitnya. Si prajurit akhirnya berkata dengan mata yang nanar, "Mereka sudah tiba."

__ADS_1


__ADS_2