Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 042: Kedatangan Li Xiang


__ADS_3

Li An menatap keluar benteng dengan pandangan dingin. Di perkemahan musuh sana, kepulan asap terlihat membumbung tinggi. Api besar menyala. Sekelompok prajurit berzirah merah menyerbu markas itu bak semut-semut api yang menyerang mangsanya.


"..."


Tak ada kata yang terucap. Li An hanya terdiam dengan para perwira militer yang hari ini bertugas mengawasi benteng bersamanya. Meski begitu, sorot matanya yang dingin seolah berkata kepada para perwira dari Kerajaan Kiri itu, "Lihatlah itu! Begitulah nasib kalian jika berani menentang kekaisaran."


Para perwira tertegun melihat penyerangan yang dilakukan oleh Pasukan Baja Merah. Para prajurit berzirah merah itu menyerang dengan cepat. Melihat porak-porandanya markas musuh, perasaan para perwira Kerajaan Kiri jadi tercampur aduk. Senang, syukur, kagum, dan takut. Semua itu tak dapat diekspresikan dengan jelas oleh mereka.


Para pasukan pelopor dari Kerajaan Tengah merupakan pasukan elit. Mereka mampu melawan cukup keras barang sebentar. Namun, selepas kepala para perwira tinggi mereka dipajang di ujung tombak perang, moral dalam diri mereka pun runtuh seketika. Pilihan bagi mereka hanya tiga; antara mati, tertawan, atau kabur dengan hina dan hidup dalam pengasingan.


Sayangnya, tak ada yang dapat kabur dari Pasukan Baja Merah yang dipimpin oleh Li Xiang. Mereka semua pun tertangkap. Beberapa di antaranya memutuskan untuk bunuh diri karena tak sudi menjadi tawanan, sedangkan yang lainnya berharap-harap cemas agar nyawa tak melayang dan mendapatkan pengampunan. Pasukan Baja Merah telah sukses menunjukkan kedigdayaannya di hadapan Kerajaan Kiri dan Kerajaan Tengah pada pertempuran pertama mereka hari ini.


"Selamat datang, Pangeran Xiang," sapa Li An hormat. Ia menyambut Pangeran Ketujuh langsung di depan gerbang. Sebagai seorang pangeran, ini adalah peperangan pertama bagi keduanya. Syukurlah peperangan ini berjalan mulus di pihak mereka.


"Tak perlu sekaku itu, Saudaraku," Li Xiang tersenyum bangga menerima sambutan itu, "Senang sekali melihatmu dalam kondisi sehat. Tampaknya, kamu dan Kakak Keempat dapat bertahan dengan baik."


"Yah, ini juga karena bantuan Kakak. Terima kasih atas bantuannya," balas Li An datar. Bantuan yang ia maksud merujuk pada Pasukan Baja Merah yang datang lebih dulu. Jumlah mereka memang tidak banyak. Namun, mereka sangat membantu dalam memperkuat pertahan benteng.


"Mari kita masuk dulu," Li An mempersilakan, "Kakak Xiang dan Pasukan Baja Merah pasti butuh istirahat sekarang."

__ADS_1


"Hm, tentu saja," tanpa banyak berbasa-basi lagi, Pasukan Baja Merah yang dipimpin oleh Li Xiang masuk ke ibu kota membawa tawanan yang mereka tangkap. Derap langkah mereka terdengar amat kompak. Penampilan mereka yang berzirah lengkap dan berdarah-darah membuat para penduduk enggan untuk menyambutnya di jalanan. Namun, para warga sipil itu diam-diam mengintip dari celah jendela mereka dengan perasaan rumit.


"Bagaimana dengan benteng yang harus Kakak jaga sekarang?" tanya Li An dalam perjalanan ke istana. Ia berkuda dengan santai di samping Li Xiang. Penampilan mereka berdua sangat berlainan. Jika Li An berjubah ala cendekiawan yang bersih dan rapi, Li Xiang berzirah besar ala militer yang gagah dan menakutkan karena bekas pertempuran yang baru saja dilaluinya.


"Biarkan saja mereka. Lagi pula, mereka bukan orang lemah yang akan jatuh hanya karena ditinggal beberapa waktu saja," balas Li Xiang masa bodoh dengan nasib Benteng Angin yang harusnya ia jaga, "Kalaupun aku tak ke mari, perwira mereka di sana pasti yang akan datang ke mari. Mana mungkin aku mau menunggu dengan bosan di benteng yang kuat itu?"


"Kakak benar," Li An menatap Istana Pusat Kerajaan Kiri yang sudah semakin dekat, "Menurut penyusup yang kami tangkap, tujuan penyerangan ini adalah untuk memecah konsentrasi Kerajaan Kiri dan menawan delegasi kekaisaran. Andai saja ibu kota terkepung lebih lama lagi, pasukan dari benteng-benteng terdekat pasti harus dikirim untuk membantu. Saat itu terjadi, kekuatan di benteng-benteng itu akan sukar ditembus oleh musuh."


"Cih! Mereka telah salah mencari lawan. Beraninya mereka menyerang ibu kota saat delegasi kekaisaran ada di sini," celoteh Li Xiang. Ia pun teringat oleh adik kandungnya. "Bagaimana kondisi Rou'er di sini? Apa dia baik-baik saja? Kudengar, istana mendapat serangan yang masif di malam hari."


"Dia gadis yang kuat dan pemberani," jawab Li An. Wajah Li Rouwei kecil yang usil muncul di pikirannya seketika, "Tentu saja ia baik-baik saja. Hanya saja, ia jadi lebih merepotkan sejak penyerangan itu."


"Merepotkan bagaimana?" Li Xiang penasaran. Ia memang tahu bahwa adiknya itu sangat manja dan egois. Kehadirannya dalam delegasi sungguh membuat ia sendiri mempertanyakan keputusan ibunya. Yah, yang penting ia baik-baik saja di bawah pengawasan Li An dan Sarjana Rubah Perak, Yun Jili.


"Salam atas Pangeran Ketujuh. Salam atas Pangeran Kedelapan," kata menteri tua itu, "Terima kasih atas bantuan Kekaisaran Tang. Tanpa bantuan kalian, kami tak akan dapat berjuang dan selamat sampai sejauh ini."


Li An dan Li Xiang hanya mengangguk kecil. Mereka pun diantar masuk ke istana, sedangkan Pasukan Baja Merah yang banyak diarahkan ke barak militer bersama para tawanan. Hanya orang-orang paling elit yang ikut mengawal Pangeran Ketujuh.


***

__ADS_1


"Kakak An! Kakak sudah pulang," seru Li Rouwei begitu Li An dan Li Xiang sampai di Kompleks Tamu Kehormatan, "Kenapa Kakak lama banget? Kalau ada musuh yang wush ...wush ... lagi gimana?"


"Semoga saja nggak ada," balas Li An sembari mengusap rambut gadis kecil yang menyambutnya itu, "Kamu juga nggak perlu khawatir lagi sekarang. Kakak Xia–"


"Kakak Xiang kenapa ke sini?" seru Li Rouwei marah. Suaranya yang cempreng dan melengking itu membuat Li An dan Li Xiang tertegun keget, "Kakak bau! Mandi dulu sana. Nggak enak tahu! Jangan masuk pakai pakaian kayak gitu."


"Ro–Rou'er?" Li Xiang baru ingat kalau ia masih memakai zirah perangnya yang bersimbah darah. Wajar saja Li Rouwei berseru marah begitu. Namun, tetap saja ia iri. Kenapa hanya Li An yang mendapat perlakuan baik begitu?


"Karena Kakak An lebih baik," celetuk Li Rouwei yang segera bersembunyi di balik jubah Li An sambil menutup hidungnya, lalu kembali mengusir Li Xiang, "Ih ...! Kakak Xiang mandi dulu sana!"


"I–iya, iya" pasrah Li Xiang. Padahal, ia sangat gagah di medan perang hari ini. Tak ada musuh yang dapat melukainya. Namun, ia sama sekali tak berdaya di hadapan adiknya yang tomboi dan galak itu. Yah, apa mau dikata. Perkataan Li Rouwei memang tidak salah. Ia harus segera mandi sekarang.


"Kamu sudah selesai belajar?" tanya Li An memeriksa kewajiban Li Rouwei. Selama ia sibuk mengawasi jalannya perang di luar benteng bersama Li Bei, adik kecilnya itu punya kesibukan yang lain.


"Belum," jawab Li Rouwei, "Tapi hampir selesai sebentar lagi. Kakak, ayo bantu aku."


"Hm," Li An pun mengangguk. Syukurlah ia sedang senggang sekarang. "Tanyakan saja kalau ada yang mau kamu tanyakan."


Setiap hari, Li Chen, Li Rouwei, Seonghwa, bahkan Yong Seong harus belajar dengan giat bersama Yun Jili. Ada banyak sekali hal yang harus mereka hafalkan dan pelajari. Tentu saja Li Chen yang paling cepat melakukannya. Ia sudah terbiasa belajar seperti itu sejak kecil. Ambisinya untuk menjadi sarjana di usia muda juga cukup berpengaruh. Lagi pula, ia yang paling tua di antara mereka.

__ADS_1


Meskipun sedikit terpaksa, Yong Seong juga belajar dengan baik. Ia sangat bersyukur ketika mendengar adiknya selamat di bawah perlindungan Li An dan Pasukan Cenangkas malam itu. Sebagai balas budi, Li An memintanya untuk belajar dengan giat agar menjadi penerus suksesi takhta di masa depan nanti. Ketika ia menjadi seorang raja nanti, kekaisaran akan lebih mudah mengontrolnya.


Seonghwa juga belajar cukup baik. Ia bisa mengusai pelajaran dengan cepat untuk anak-anak seusianya. Kecepatannya dalam memahami itu memaksa Li Rouwei yang paling malas untuk belajar lebih giat bersama yang lainnya. Itu merupakan perkembangan yang baik untuk diri. Yah, tetap saja Li Rouwei paling semangat belajar ketika bersama Li An seperti hari ini.


__ADS_2