Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Kata Mereka


__ADS_3

Kabar pertemuan Kaisar Yung Wei dan Li An tersebar secepat seantero ke seantero istana. Para dayang, kasim, selir, sempai menteri dan panglima pun mendengarnya. Mereka menduga bahwa Li An telah dijadikan sebagai putra kesayangan oleh sang kaisar. Cerita bocah itu digendong di atas punggung Kaisar Yung Wei menjadi topik paling hangat. Setiap orang menanggapinya dengan sudut pandang yang berbeda.


“Aku lihat sendiri kemarin. Yang Mulia Kaisar Yung Wei menggendong Pangeran Kedelapan di pundaknya,” kata seorang dayang muda penuh semangat, “Pangeran Kedelapan memang menggemaskan. Aku jadi ingin menggendongnya juga.”


“Bagaimana kalau kita minta dipindahkan ke Paviliun Aixin? Di sana juga ada Putri Ketiga yang baik hati. Aku yakin bahwa di sana akan sangat menyenangkan,” komentar dayang lainnya. Ada yang setuju dengannya, tapi banyak juga yang tidak. Mereka bahkan berdebat sampai ditegur oleh kepala dayang.


“Pangran Kedelapan sungguh beruntung. Aku tak pernah melihat Yang Mulia Kaisar Yung Wei menggendong pangeran lain selain dirinya,” pendapat para kasim sedikit berbeda, “Ah, pasti aku akan kecipratan keberuntungannya jika berada di samping beliau.”


“Jangan mimpi. Kalau Pengeran Kedelapan benar disayang Yang Mulia Kaisar Yung Wei, tidak mungkin kita yang kasim rendahan ini bisa mengabdi di sisinya,” sanggah kasim yang lain. Kasim pertama pun hanya menaikkan pundaknya sesaat, lantas berkata, “Heh, siapa yang tahu?”


“Yang Mulia Kaisar Yung Wei jelas-jelas menyayangi Pangeran Kedelapan, bagaimana menurut kalian?” seorang sarjana muda mengajak kawan-kawannya berdiskusi. Mereka adalah calon menteri-menteri masa depan yang saat ini menjadi pegwai negeri kelas menengah. Saat ini, sebagian besar dari mereka terus memperhatikan gejolak di istana dengan seksama untuk mengabdi pada pangeran paling berpotensi di masa depan.


“Tidak perlu dipikirkan. Wajar saja Yang Mulia Kaisar Yung Wei menggendong putranya. Lagian, Pangeran Kedelapan masih kecil. Aku juga suka menggendong adikku seperti itu,”


“Bukannya itu tanda bahwa kamu menyayangi adikmu. Jika itu kamu, tentu tidak ada apa-apanya. Akan tetapi, ini adalah Yang Mulia Kaisar Yung Wei dan Pangeran Kedelapan. Ini pasti berdampak besar pada situasi politik di masa depan.”


“Ya, walaupun Pangeran Pertama memiliki pengaruh yang kuat sekarang, belum tentu beliau yang jadi kaisar di masa depan. Tergantung dari bagaimana Pangeran Kedelapan memanfaatkan keberuntungannya.”


“Pokoknya, kita harus mengawasi situasi ini lebih lanjut. Kita lihat bagaimana angin di langit Kekaisaran Tang ini akan berhembus.”


“Paman Quon, apa yang sebenarnya dibicarakan baginda bersama Pangeran Kedelapan?” tanya Permaisuri Enimen pada Menteri Liu. Telinganya sangat gatal saat mendengar gosip dari para dayang. Jadi, ia tidak bisa diam mendengar masalah ini.


“Aku tidak tahu. Akan tetapi, Baginda Kaisar sempat menanyakan pendapatku mengenai kesanggupan Pangeran Kedelapan dalam menanggung beban kaisar,” jelas Menteri Liu. Ia duduk di sebuah kursi, sementara keponakannya duduk di belakang tirai, “Bisa jadi itu hanya cara Baginda Kaisar untuk menghilangkan kejenuhannya. Pangeran Kedelapan masih kecil dan menggemaskan. Aku pun sempat terkesima saat melihatnya. Dia seperti cucu kecilku yang secantik malaikat. Namun, lebih baik kita mengawasi pertumbuhannya dulu dengan seksama.”


“Bagaimana dengan Zhang’er?” Permaisuri Eminen menyinggung nama Pangeran Pertama yang saat ini merupakan putra mahkota.


“Kita harus tetap menyokongnya sebagai putra mahkota,” Menteri Liu menjawab dengan tegas, “Kudengar, Pangeran Kedelapan tidak suka dengan takhta kaisar. Kita tidak bisa menginvestasikan sesuatu yang tidak pasti. Cukup awasi perkembangannya saja.”


“Benar,” suara hembusan napas Permaisuri Eminen terdengar setelah itu, “Andai saja aku dapat melahirkan seorang putra untuk baginda, aku pasti tidak perlu bimbang begini.”


Banyak pihak yang mulai berekspektasi tinggi pada Li An. Namun, tak sedikit pula yang geger karenanya. Mereka merasa gelisah dan takut. Rapat rahasia pun digelar. Beberapa orang elit bangsawan berkumpul di forum bermeja bundar demi membahas masalah ini secara mendetail dan serius.


“Kita tidak bisa diam. Kalau Pangeran Kedelapan benar-benar menjadi kaisar, dia pasti akan mencoba untuk mengusut kasus yang menimpa Selir Ai,” kata seorang berkumis runcing, “Habislah kita jika kasus itu diselediki sampai tuntas.”


“Yah, ini bukan masalah sepele. Kaisar jelas sengaja membawa Pangeran Kedelapan berjalan-jalan untuk menunjukkan keberpihakannya. Pangeran Kedelapan akan mendapat kemudahan dan kesempatan besar untuk menjadi kaisar di masa depan,” seorang pria tua berkeriput menambahkan.

__ADS_1


“Aku tahu itu. Makanya kita berkumpul di sini. Adakah yang ingin mengemukakan pendapatnya lebih dahulu? Apakah yang harus kita lakukan mengenai hal ini?” seorang pria paruh baya berbadan besar meminta pendapat. Meja bundar menjadi senyap untuk beberapa saat. Kamudian, seorang pria beralis tebal unjuk suara, “Bukankah mudah melenyapkannya selagi belum tumbuh? Kita hanya perlu mengirim sekelompok pembunuh bayaran.”


“Dasar bodoh!” umpat seorang pria tua yang rambutnya setengah beruban, “Kaisar Yung Wei pasti sangat memperhatikan Pangeran Kedelapan sekarang. Kalau kita bergerak sembarangan, malah kita yang akan kena batunya.”


“Benar, lagi pula ini hanya satu tanda kecil. Kita tidak perlu berlebihan untuk menghadapi pangeran yang masih polos itu,” pria tua lainnya berpendapat. Dia seorang yang memiliki jidat berlekuk-lekuk, “Kita cukup menjauhkannya dari kaisar. Itu adalah cara paling aman.”


“Tidak, itu masih kurang. Kaisar Yung Wei tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi,” pria beralis tebal tidak setuju. Pria tua beruban pun membentak, “Lantas, apa yang mau kita lakukan?”


Tidak hanya kelompok itu saja yang gelisah atas tindakan Kaisar Yung Wei. Di kediamannya, Nyonya Zhouyi sedang berpikir keras. Kekhawatirannya benar-benar terjadi. Bertambah sudah salah satu batu sandungannya.


“Kepala Dayang Yi, bagaimana pendapatmu tentang ini?” tanya Nyonya Zhouyi dengan nada yang lebih dingin dari biasanya. Ia menatap tajam Kelapa Dayang Yi yang tengah bersujud dengan tubuh gemetar. Saat ditanya, wanita paruh baya itu pun menjawab, “Sa, saya rasa, Baginda Kaisar Yung Wei hanya berusaha menghibur Pangeran Kedelapan. Pangeran sangat syok ketika kehilangan ibundanya.”


“Omong kosong apa yang kamu katakan?” Nyonya Zhouyi tidak menerima pendapat kepala dayangnya. Ia pun mempertanyakan tugas yang selama ini diberikannya kepada wanita paruh baya itu.


“Am, ampun, Nyonya Zhouyi. Kami masih belum bisa mendekati Pangeran Kedelapan,” jelas Kepala Dayang Yi yang semakin merinding dalam sujudnya, “Ta, tapi … Pangeran Ketujuh pernah bertemu dengannya.Mungkin kita bisa ….”


“Apa putraku bisa meleburkan kegagalan kalian? Aku sudah memberi kalian tugas, tapi kalian tidak segera melaksanakannya,” ucapan tegas Nyonya Zhouyi memotong kata-kata Kepala Dayang Yi. Sebenarnya, Li An bukanlah masalah besar baginya. Ia memang gelisah. Namun, selir ayu itu masih dapat mengendalikan dirinya untuk tidak bertindak gegabah.


“Hah … sudahlah. Aku mengerti kesulitan kalian. Selir Shu pun pasti akan lebih melindunginya setelah ini,” Nyonya Zhouyi memalingkan wajahnya. Ia pun mulai memikirkan rencana baru. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa mendaki lebih tinggi.


Beberapa hari kemudian, rumor yang lebih besar tersebar. Kaisar Yung Wei telah menunjuk pengajar dan pengawal pribadi untuk Li An. Keduanya adalah orang yang amat tersohor di Kekaisaran Tang. Penunjukan itu memperjelas kasih sayang dan perhatian Kaisar Yung Wei terhadap Pangeran Kedelapan.


“Salam, Pangeran Kedalapan. Saya Yun Jili. Mulai hari ini, saya akan menjadi pengajar Anda, Pangeran,” seorang pemuda berambut putih memberi hormat kepada Li An. Wajahnya dingin dengan senyum yang amat tipis. Ia adalah seorang sarjana dari suku minoritas di Wilayah Utara. Konon, pemuda itu pernah tertimpa sebuah musibah yang membuat ia sangat syok sampai rambutnya memutih sejak kecil. Karena itu, ia dijuluki Sarjana Rubah Perak Utara.


“Saya Wang Hongli. Mulai hari ini, saya akan menjadi pengawal utama Pangeran,” seorang pemuda berbadan tegap turut memperkenalkan diri. Ia adalah pendekar pedang ganda yang lahir dari keluarga prajurit. Kemampuannya terjamin sejak dini. Ia terkenal berkat kemenangannya dalam Festival Pendekar Muda yang diselenggarakan setiap awal dekade baru. Orang-orang mengenalnya sebagai Pendekar Cenangkas Kembar karena kedua pedang lurusnya.


“Apa kamu yang akan mengajariku berkuda?” tanya Li An begitu Wang Hongli selesai berkenalan.


“Tidak hanya berkuda, Pangeran. Kita juga akan belajar bela diri dan seni berpedang,” Wang Hongli memperjelas. Ucapannya yang datar menunjukkan ekspektasinya yang rendah terhadap bakat bela diri Li An. Itu karena ia mendengar bahwa Pangeran Kedelapan adalah anak yang tertutup. Anak seperti dia biasanya tak akan tertarik dengan latihan-latihan berat dalam bela diri.


“Hm, baiklah. Aku akan berusaha dengan giat,” jawab Li An tak kalah datarnya. Wang Hongli pun hanya mengangguk pelan. Matanya menatap selidik, mencoba membaca karakter dasar majikan kecilnya ini. Ia pun berpikir untuk mengamati lebih jauh.


“Lalu, Kakak Rambut Putih,” Li An menatap pengajarnya sambil sedikit memiringkan wajah.


“Yun Jili, Pangeran. Anda bisa memanggil saya Jili atau Yun,“ pemuda berambut putih itu mengingatkan, “Saya dengar Anda sudah menguasai karakter-karakter dasar. Maka, saya memberi Anda keleluasaan untuk memilih pelajaran kita ke depannya.”

__ADS_1


“Hm, oke. Itu jauh lebih baik,” Li An mengangguk kecil, “Lalu, apa kalian akan terus bersamaku sepanjang hari?”


“Itu tugas kami, Pangeran,” Wang Hongli yang menjawab.


“Berarti baginda kaisar menyuruh kalian mengawasiku?” tebak Li An dengan suara yang polos. Wang Hongli membenarkan. Li An pun menghembuskan napasnya dan bilang bahwa ia ingin ke Pagoda Arsip Kecil sekalian memilih pelajaran. “Kalian tunggulah di depan. Aku mau siap-siap dulu.”


“Baik, Pangeran,” Wang Hongli dan Yun Jili memberi hormat serempak. Mereka pun menunggu di depan sesuai perintah Li An.


“Rubah Perak, bagaimana pendapatmu tentang pangeran kecil kita?” tanya Wang Hongli memulai percakapan. Yun Jili tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya, baru kemudian berkomentar, “Seperti kata orang, pangeran memang cerdas untuk anak seusianya. Namun, ….”


“Istana adalah tempat yang kejam,” Wang Hongli melanjutkan kalimat Yun Jili yang terputus. Sarjana berambut putih itu pun menggangguk, “Karena itu, kita diutus langsung untuk membimbingnya.”


“Aku tidak pernah mengira akan diberi tanggung jawab sebesar ini,” Wang Hongli menghembuskan napasnya. Tugas menjaga Li An memang terdengar sepele. Namun, nyatanya tidaklah sesederhana itu. Ke depannya, pasti banyak pihak yang berusaha mengincar anak ini, baik untuk melenyapkannya maupun memanfaatkannya.


“Kuharap pangeran tidak hanya cerdas, tapi juga bijak dan berpendirian,” Yun Jili mengangkat teh yang diseduhkan untuknya, berniat menyeruputnya, “Aku tidak ditugaskan untuk membimbing pangeran yang kelak akan menjadi kaisar. Baginda kaisar pasti mengatakan hal yang sama padamu. Jadi, kuharap tidak ada kejadian-kejadian yang mungkin merenggut nyawaku.”


Wang Hongli tertawa kecil, “Tenang saja, aku dan timku akan memastikan kita selalu aman. Yah, aku juga tidak berharap ada hal semacam itu, tapi kan kita tidak tahu bagaimana pikiran orang lain. Fokus saja pada tugas dan bimbing Pangeran Kedelapan sampai beliau menyelesaikan pengembaraannya.”


“Itu pasti sangat lama. Aku jadi merasa tidak akan bisa menikah,” canda Yun Jili dengan senyum datarnya. Wang Hongli terkekeh keras mendengar itu. Ia pun malah menambah rasa pesimis pada sang Sarjana Rubah Perak, “Benar, benar. Lagian, siapa yang mau menikah dengan pria macam hantu putih seperti dirimu?”


Sebuah tutup poci menimpuk dahi Wang Hongli saat ia sibuk tertawa. Pria berbadan tegap itu pun reflek mengelus keningnya dan mendapati Yun Jili menyeringai seram. Ia pun hanya tersenyum kecut. Kalau saja ini bukan kediaman Pangeran Kedelapan, mereka pasti sudah saling bertukar lempeng poci terbang.


Ketika Yun Jili dan Wang Hongli tengah sibuk saling bertukar sindiran, Li An baru mau berpamitan pada kakaknya. Ia sudah berganti pakaian dengan jubah yang Kaisar Yung Wei kirimkan. Jubah itu tidak terlalu mencolok sesuai permintaannya, tapi tetap saja terlihat jelas kualitasnya yang tinggi.


“Jangan pulang terlalu sore dan berhati-hatilah. Istana sedang rawan sekarang,” pesan Li Huanran sebelum adiknya pergi. Ia telah mendapat beberapa surat sejak rumor Li An mulai menyebar. Memang tidak ada kabar buruk dan terkesan lebih ke kabar positif. Namun, ia masih belum bisa melepas kekhawatirannya.


“Aku tahu,” Li An membalas datar. Dilihatnya air muka Li Huanran yang bergelombang menunjukkan kecemasannya. Ia yakin bahwa kakaknya itu pasti akan membuntutinya kalau saja Yun Jili dan Wang Hongli tidak ada. Sampai kemarin, hal itu masih terjadi. Ia jadi heran dengan pekerjaan asli Putri Ketiga itu.


“Apa Kakak cuman mau berdiam saja di sini?” akhirnya Li An bertanya karena terlalu memikirkan hal itu. Li Huanran mengerutkan kening. Ia pun menjawab, “Yah, memang mau ke mana lagi? Lagian, Kakak Meili bakal datang ke sini.”


Li Huanran menyinggung nama pengajar sekaligus sepupunya, Liu Meili. Ia adalah sarjana wanita yang bertanggung jawab atas pendidikan Putri Ketiga. Selama Li Huanran pergi membujuk Li An untuk pulang, ia mengambil libur dan baru kembali beberapa hari yang lalu.


“Kakak itu, ya?” Li An berwajah malas. Kesannya terhadap Liu Meili bisa dibilang buruk. Ia tidak suka dengan wanita yang hobi mencubit pipi itu, apalagi sikapnya yang sok akrab dan supel. Li An merasa terganggu karenanya.


“Hais, jangan terlalu membencinya. Kakak Meili tidak bermaksud jahat. Dia hanya gemas melihatmu,” Li Huanran menahan tawa kecil mendengar gerutuan adiknya, “Yah, itu karena dia sudah tidak sabar untuk memiliki momongan. Kudengar, sekitar akhir musim dingin nanti, anak pertamanya akan lahir.”

__ADS_1


“Berarti Kakak malah mengganggunya kan?” Li An berkomentar.


“Tidak juga. Kami lebih sering bercerita bersama. Jadi, aku sama sekali tidak menggangunya,” balas Li Huanran santai. Ia tersenyum ramah seperti biasa saat Li An pamit untuk pergi. Setelah itu, ia melanjutkan hobi kaligrafinya sembari menunggu kedatangan Liu Meili.


__ADS_2