
"Kerajaan Kiri telah menyatakan ketundukannya pada kita," ujar Li Bei di ruangan yang tertutup itu, "Saatnya memperluas dominasi ke Wilayah Utara dan Timur Laut."
Beberapa orang di ruangan itu mengangguk, sedangkan yang lain larut dalam pikirannya masing-masing, termasuk Li An. Kondisi di ibukota Kerajaan Kiri sudah mulai stabil meskipun Raja Kiri belum sepenuhnya pulih. Para menteri di kerajaan dengan senang hati mau bekerja sama bersama kekaisaran. Dengan begitu, akan semakin mudah mengendalikan Kerajaan Kiri ke depannya.
"Kaisar akan mengirimkan pasukan tambahan untuk meneruskan invasi ke Utara dan Timur Laut," lanjut Li Bei, "Para panglima sekalian, persiapkan diri kalian. Beberapa waktu mendatang, kita akan sangat sibuk menaklukkan Kerajaan Tengah dan Kerajaan Kanan."
"Kami selalu dalam keadaan siap, Pangeran," jawab salah seorang panglima tegas. Ia memiliki tubuh besar yang kekar, rambut yang menjuntai panjang, dan perawakan yang berwibawa selayaknya seorang panglima. Ia merupakan salah satu panglima kekaisaran yang datang dari perbatasan setelah penyerangan terhadap ibu kota Kerajaan Kiri.
"Benar, aku pun sudah tidak sabar untuk menghajar wajah para cecenguk itu!" Li Xiang ikut menjawab, "Kita harus melakukan persiapan secepatnya sebelum mereka sempat menghimpun pasukannya kembali."
"Tentu, pasukan dari Kerajaan Kiri pun akan ikut dalam penaklukan bersama kita," Li Bei mengabarkan, "Di samping itu, kita juga harus bisa menciptakan kestabilan di wilayah yang sudah tunduk. Menteri Liu ...."
"Siap, Pangeran. Kami akan mengurus segalanya sebaik mungkin. Anda tidak perlu risau dengan pengurusan wilayah," seorang pria dari Keluarga Liu menjawab. Li An memperhatikannya dengan teliti. Pria itu adalah seorang sarjana tinggi yang jauh di atasnya.
"Pangeran An, kami akan sangat membutuhkan bantuan Serikat Dagang Fuli untuk membangkitkan perdagangan dan kesejahteraan di wilayah," lanjut Menteri Liu, "Mohon bantuan dan kerja samanya."
"Aku mengerti," jawab Li An singkat. Sejak awal, inilah tujuannya diikutkan dalam delegasi. Pangeran Kedelapan bertanggung jawab atas suplai logistik dan penstabilan wilayah yang telah tunduk dalam genggaman kekaisaran. Dengan serikat dagang yang dimilikinya, misi itu akan menjadi lebih mudah. Lagi pula, Li An memang berniat untuk memperlebar naungan sayap bisnisnya.
Tak ada perdebatan panjang dalam diskusi itu. Semua yang hadir setuju dan yakin bahwa kekaisaran akan dapat maju lebih jauh kali ini. Kerajaan Tengah dan Kerajaan Kanan pun akan jatuh ke dalam genggaman tangan mereka.
__ADS_1
Beberapa hari setelah pertemuan itu, rencana segera dilaksanakan. Persiapan pasukan telah lengkap. Bantuan dari kekaisaran pun telah datang. Para panglima mulai bergerak bersama pasukan mereka masing-masing, termasuk Li Xiang yang kali ini ikut maju ke medan perang terdepan.
"Kakak, ke mana kita kali ini?" tanya Li Rouwei dengan riangnya.
"Kota Lotus," jawab Li An. Sebagaimana yang lainnya, pangeran muda itu pun ikut bergerak menjalankan tugasnya. Ia berkeliling ke setiap kota-kota besar di Kerajaan Kiri dan membangun Serikat Dagang Fuli di sana sekaligus memastikan agar pemerintah daerahnya tidak memberontak kepada Raja Kiri yang saat ini sedang terbaring dalam perlindungan kekaisaran.
Selama beberapa bulan, Li An dan rombongannya terus berpindah dari satu kota ke kota yang lainnya sampai datanglah surat-surat dari kekaisaran. Surat itu meminta Li An, Li Chen, dan Li Rouwei yang masih di bawah umur untuk kembali ke kekaisaran dengan alasan perayaan upacara kedewasaan Li An.
Namun, di balik alasan itu, ada sebagian pihak yang sebenarnya khawatir dengan perkembangan Serikat Dagang Fuli di Wilayah Utara. Mereka tak ingin Li An menyebarkan pengaruhnya lebih jauh lagi. Selama ini, banyak orang di Wilayah Utara lebih mengenal Li An daripada para pangeran yang lain karena keterlibatannya dalam penstabilan wilayah. Meskipun para pangeran yang terjun ke dalam perang juga populer, tapi mereka lebih terkesan mengintimidasi dan ditakuti.
Selain perintah itu, ada juga surat dari Li Huanran. Putri Ketiga itu tak mengirimkan sesuatu yanng muluk-muluk. Ia hanya bertanya kabar dan meminta oleh-oleh kepada Li An. Oiya, dia juga meminta waktu Li An sebelum upacara kedewasaannya nanti untuk berjalan-jalan bersama. Bisa jadi, itu adalah perjalanan terakhir mereka berdua sebelum Li An resmi dewasa.
"Besok lusa kita akan pulang," jawab Li An, "Aku harus menyelesaikan beberapa urusan lagi di sini."
Sembari menunggu Li An menyelesaikan urusannya di cabang baru Serikat Dagang Fuli, Li Chen mengajak Yong Seong dan Seonghwa pergi ke luar. Li Rouwei menolak ajakannya. Karena itu, Putri Kesembilan tidak ikut. Gadis kecil itu lebih suka mengusik kakaknya di kantor bersama Yun Annchi, putri sulung Sang Sarjana Rubah Perak yang kini sudah berusia tiga tahun daripada jalan-jalan bersama sepupunya.
"Aku senang bisa belajar bersama kalian," kata Li Chen kepada Yong Seong dan Seonghwa yang terus mengikutinya sampai ke sebuah padang yang hijau berangin lembut, "Kalian sudah seperti keluargaku sendiri. Persaudaraan ini ... semoga akan terus terjalin untuk selamanya."
"Kami pun juga senang dapat bersama dengan Anda sekalian," ujar Yong Seong tulus. Meskipun Li Rouwei sering mengganggunya saat belajar, ia hanya menganggapnya angin lalu dan keisengan anak kecil biasa. Lagi pula, menjalin persahabatan dengan para pangeran dan putri dari kekaisaran bukanlah hal buruk. Semua keluh kesahnya hari ini akan terbayar suatu saat nanti.
__ADS_1
"A ...," Seonghwa ingin mengatakan sesuatu, tapi entah mengapa ada sesuatu yang menghalanginya untuk bicara. Li Chen dan Yong Seong pun larut dalam obrolan mereka. Andai saat itu sang putri berani mengungkapkan maksudnya, nasibnya di masa depan pasti akan sangat berbeda.
***
Li An pulang dengan membawa setumpuk kabar gembira dari para panglima. Kekaisaran dan Kerajaan Kiri yang mereka kendalikan telah berhasil menaklukkan daerah-daerah paling luar dari Kerajaan Tengah dan Kerajaan Kanan, bahkan masuk cukup dalam ke daerah Kerajaan Tengah yang mulai runtuh. Itu adalah kemajuan besar setelah bertahun-tahun mereka terhenti di Kerajaan Kiri.
Jamuan besar pun diadakan untuk menyambut kedatangan Pangeran Kedelapan dan rombongannya. Ramai bangsawan ingin menarik perhatian Li An agar bisa menjalin hubungan baik dengannya. Meskipun pengaruhnya di kekaisaran tak sebesar para pangeran yang aktif di kancah militer, ia tetaplah pangeran yang diperhitungkan. Andai pun para bangsawan itu tak mendapat manfaatnya sebagai pangeran dari kekaisaran, mereka masih mendapat keuntungan dari hubungannya dengan Serikat Dagang Fuli. Karena itu, kebanyakan dari mereka datang bersama putri-putrinya yang berdandan cantik.
"Kamu benar-benar sudah besar, ya, An'er?" gumam Li Huanran melihat keramaian itu. Jika sesuai dengan prediksinya, tak lama lagi Li An akan bertunangan. Ia sendiri pun juga pasti akan segera ditekan untuk menikah sebagai salah seorang putri dari kekaisaran. Ini mungkin jadi saat-saat terakhir mereka sebagai kakak dan adik yang sangat dekat.
"Ya, aku kan memang tumbuh dengan cepat," jawab Li An yang sekarang sudah jauh lebih tinggi dari kakak tersayangnya. Sepertinya, ia kurang tepat menangkap maksud dari gumaman Li Huanran.
"Padahal, dulu kamu hanya setinggi ini," Li Huanran memposisikan tangannya sepinggang, mengisyaratkan betapa kecil Li An dahulu. Pangeran Kedelapan pun tertawa kecil. Tahun demi tahun itu berlalu dengan cepat. Ia pun tak menyangka bahwa ia harus segera mengadakan upacara kedewasaan sebentar lagi.
"Sekarang, Kakak yang jadi pendek," canda Li An.
"Meski begitu," Li Huanran tersenyum simpul, ada haru yang samar di sana, "Kamu tetaplah anak kecil di mataku. Apa pun yang terjadi, kamu tetaplah adik kecilku yang cengeng sejak pertama kali bertemu."
"Yah," Li An membalasnya dngan senyum tipis seolah pasrah, "Terserah Kakak mau menganggapku bagaimanapun. Aku pun akan selalu menjadi adik Kakak yang paling baik."
__ADS_1
Arc 1, tamat.