Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 037: Surat dari Li Xiang


__ADS_3

"Menghadap Yang Mulia Pangeran Keempat, menghadap Yang Mulia Pangeran Kedelapan," seorang kurir paruh baya berlutut di hadapan Li Bei dan Li An yang sedang berdiskusi di Kompleks Tamu Kehormatan. Ia pun memberikan sepucuk surat dari Li Xiang untuk kedua pangeran itu.


"Jadi, sekolompok pasukan musuh akan datang menyerang langsung ke ibu kota?" tanya Li Bei begitu selesai membaca suratnya, "Apa maksudnya ini? Apa benteng yang Pangeran Ketujuh jaga sudah runtuh?"


"Tidak, Pangeran," utusan Li Xiang itu menggeleng, "Benteng masih bertahan dengan baik. Hanya saja, kami mendeteksi pergerakan yang mencurigakan dari pasukan musuh di lembah-lembah sekitar. Tampaknya, mereka sengaja melewati benteng-benteng pertahanan terdepan untuk menyerbu langsung ke ibu kota."


"Lalu, kenapa kalian membiarkannya?" ucapan Li Bei yang dingin membuat si utusan tertegun sejenak. Pria paruh baya itu baru menjawab setelah beberapa saat, "Ampun, Pangeran. Mereka melewati medan yang sulit. Kami akan mendapat kerugian besar jika langsung menyergapnya. Karena itu, Pangeran Ketujuh memutuskan untuk mengirim pasukan bantuan ke ibu kota demi melindungi delegasi."


"Begitu, ya. Kamu boleh beristirahat sekarang," Li Bei mempersilakan utusan itu untuk pergi, "Aku akan memanggilmu lagi nanti."


Li An pun meminjam gulungan surat yang disampaikan kepada mereka. Dalam surat itu, Li Xiang mengungkapkan maksudnya untuk mengepung pasukan musuh dari dua arah. Karena itu, ia meminta delegasi di ibu kota untuk bertahan dengan baik.


"Berdasarkan deskripsi ini, sepertinya pasukan musuh yang datang bukanlah pasukan utamanya," kata Li Bei sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, "Mungkin mereka adalah pasukan pelopor yang dikirimkan untuk membingungkan kita. Lagi pula, laporan mengenai kondisi lini juga baru sampai beberapa hari lalu. Tidak mungkin kita kalah secepat ini."


"Yah, kemungkinan begitu," Li An setuju, lalu berpendapat, "Bisa jadi, incaran mereka sebenarnya adalah Benteng Angin yang Kak Xiang jaga. Dengan perginya Pasukan Baja Merah dari Benteng Angin, pertahanan di sana pasti akan berkurang. Yah, benteng itu bukan tanggung jawab kita sepenuhnya sih. Lagi pula, pasukan pertahanan Kerajaan Kiri tak selemah itu sampai akan kalah dengan mudah. Walau begitu, bukankah kita harus segera melaporkan hal ini pada Raja Kiri?"


"Benar, tapi kita harus memanfaatkan informasi ini dengan baik," Li Bei kembali menggulung suratnya, "Kerajaan Kiri terlalu cerewet sampai menyusahkan diri mereka sendiri. Jika mereka terdesak, mereka akan terpaksa mengikuti semua tuntutan kita."


"Hm," Li An mengangguk. Sebenarnya, tuntutan kekaisaran terdengar simpel. Kerajaan Kiri cukup mengakui kekaisaran sebagai pelindungnya dan membayar upeti tahunan. Dengan begitu, kekaisaran dapat dengan penuh melindungi negara protektoratnya.


Namun, itu tidaklah sesederhana kedengarannya. Saat Kerajaan Kiri menjadi protektorat kekaisaran, mereka memang memiliki otonomi atas wilayahnya sendiri, tapi akan ada juga saatnya nanti mereka harus mengikuti arahan dari kekaisaran seperti pada intervensi suksesi takhta. Hal itu sama saja dengan penjajahan tidak langsung, tapi masih lebih baik daripada dihancurkan oleh serangan lawan. Setidaknya, mereka bisa mengumpulkan kekuatan selama menjadi negara protektorat. Mereka akan merdeka sepenuhnya suatu saat nanti jika bekerja keras dengan baik.

__ADS_1


"Mari kita bertemu raja," ajak Li Bei, "Bagaimanapun, ia harus membuat keputusan cepat sebelum istananya rata dengan tanah."


Raja Kiri sangat syok saat mendengar kabar itu. Tubuhnya jadi gemetaran hebat. Andai ia tak memakai pakaian kehormatan yang berlapis-lapis, sudah pasti ketakutannya itu terlihat jelas. Li An dan Li Bei menatapnya dengan iba, tapi tetap mengedepankan amanah yang mereka bawa, yaitu menakhlukkan Kerajaan Kiri dengan mulus.


Pasukan pelopor dari Kerajaan Tengah memang tidak banyak. Namun, ada kabar bahwa kerajaan itu memiliki sekelompok pasukan elit yang dengan mudah membobol kota dari dalam sehingga pasukan di luar dapat masuk dengan mudah menyerbu kota. Karena itulah, beberapa benteng pertahanan Kerajaan Kiri dapat direbut dan menjadi yang paling lemah sekarang. Andai tiba-tiba pasukan itu muncul di ibu kota, Kerajaan Kiri pasti akan berada dalam bahaya.


"Anda tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya berlarut-larut," Li Bei mengingatkan, "Segera putuskan sebelum mereka menginjak halaman istana Anda, Yang Mulia."


Li Bei dan Li An pun pamit undur diri, meninggalkan sang raja untuk berpikir semalam dengan teror yang tak tampak. Keesokan paginya, raja benar-benar telah tunduk pada kekaisaran. Ia menyetujui semua tuntutan delegasi demi menyelamatkan kerajaannya yang terduduk di ujung tanduk. Tidak ada cara lain selain memohon bantuan kepada kekaisaran meski harus bersujud kepada mereka.


"Persiapkan diri kalian, kita akan mempertahankan ibu kota," seru Li Bei yang kini telah mengambil alih seluruh militer di dalam kota, baik dari kekaisaran maupun Kerajaan Kiri. Para pasukan pun berseru menyahut perintahnya dengan kompak. Para jenderal dari Kerajaan Kiri yang mulai kehilangann kepercayaan pada raja mereka dengan setia mau mengikuti perintah Sang Pangeran Keempat.


"Kakak An," panggil Li Rouwei begitu Li An pulang ke Kompleks Tamu Kehormatan, "Apa kita akan berperang?"


"Ya," Li An mengangguk pelan, "Kamu takut?"


"Hm," Li Rouwei menggeleng, "Aku menantikannya."


"Ha?" Li An tertegun. Ia sama sekali tak menyangka bahwa kata-kata itu akan keluar dari lisan Li Rouwei. Yah, dia memang masih polos sih.


"Apa kamu tidak mengerti maksudnya perang?" Li An jadi berwajah rumit, "Perang itu bukan pertunjukkan meriah seperti yang kamu saksikan pada festival-festival di kekaisaran. Itu adalah sesuatu yang jauh berbeda."

__ADS_1


"Em ... bukannya aku bisa melihat kehebatan para pasukan kekaisaran kita di medan perang?" tanya Li Rouwei dengan polosnya. "Kata Kak Xiang, pasukan kekaisaran hebat-hebat dan pasti memenangkan perang."


Li An menepuk jidatnya begitu mendengar hal itu. Ia lantas berlutut dan menepuk kedua pundak adik kecilnya yang merepotkan itu. Sang pangeran pun berkata, "Rou'er, perang itu berbahaya. Kamu bisa mati di sana kapan saja. Aku juga begitu. Siapa pun bisa mati di sana."


"Mati?" Li Rouwei tak dapat membayangkannya. Selama ini, ia hanya melihat yang indah-indah. Ia tidak mengerti yang namanya kehilangan, berbeda dengan Li An yang sudah kehilangan ibunya sejak kecil.


"Ya, karena itu, kamu harus berlindung saat harinya tiba," kata Li An dengan serius. Ia pun menghela napasnya panjang. Pangeran itu benar-benar menyesal sekarang. Harusnya, ia mendesak Li Rouwei untuk pulang saat itu, bukan malah memanjakannya.


Yah, nasi sudah jadi bubur. Li An harus melindungi adiknya apa pun yang terjadi. Ia harus memastikan agar putri yang nakal itu tidak melakukan hal yang sembrono seperti kabur dari istana untuk melihat perang. Jika mengingat rencana yang ia buat bersama Li Chen sebelum berangkat, hal itu bukannya tidak mungkin.


"Aku tidak main-main," Li An menekankan kata-katanya, "Ikuti perintahku dan jangan coba-coba untuk kabur. Kamu harus pulang dengan selamat."


Li Rouwei mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Ini pertama kalinya ia melihat Li An seserius itu. Biasanya, kakak laki-lakinya ini sangat tenang dalam bertindak. Jika Pangeran Kedelapan sampai seperti itu, situasinya pasti lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Putri Kesembilan pun hanya dapat mengangguk. Ia lantas menepuk-nepuk kepala Li An yang berlutut di hadapannya. Begitulah cara yang biasa Li An gunakan untuk menenangkannya. Kali ini, ia sendiri yang melakukan itu untuk menenangkan sang kakak. Tak hanya itu, ia juga memeluk Pangeran Kedelapan dengan hangat seakan ia adalah dewi yang membawa ketenangan. Anggap saja ini sebagai bentuk balas budi Li Rouwei pada sang kakak yang selama ini sangat perhatian padanya.


"Aku akan ikuti kata Kakak," bisik Li Rouwei dengan seringai kecil di bibirnya, "Tapi Kakak harus terus mengawasiku saat itu. Kakak tak ingin aku kabur kan?"


"Hah ...," Li An pun melepaskan pelukannya dan kembali menunjukkan wajahnya yang serius, "Pokoknya, jangan sampai kamu banyak bertingkah."


"Hmph!" Li Rouwei membuang muka. Ia kan sudah memberi syarat. Pada akhirnya, malah ia yang harus mengalah. "Iya, iya."

__ADS_1


__ADS_2