
"Para penyusup itu sungguh hebat. Meski kita sudah menduga kedatangan mereka, kita masih sempat kecolongan," gumam Li Bei sambil mengamati kompleks istana yang luas. Sebagiannya telah di telan si jago merah. Malam yang galap di sana menjadi terang membara dan panas, lengkap dengan suara rintihan dan teriakan ketakutan para penghuninya yang tidak tahu apa-apa.
Pangeran Keempat dan beberapa pengawalnya mengamati segala kekacauan itu dari pagoda tertinggi di istana. Semalaman ini, ia sibuk membaca di sana sembari menunggu kedatangan musuh yang bakal menyerang. Sebagaimana perkiraannya, para penyusup itu sungguh datang malam ini.
"Mereka bahkan membunuh tanpa pandang bulu," seorang pendekar yang sejak lama menemani Li Bei turut berkomentar. Namanya adalah Xiao Long. Karena kemampuan bertahannya yang hebat, ia berjuluk Pendekar Naga Bumi. Perguruannya sama dengan Wang Hongli. Bisa dibilang, ia adalah kakak seperguruan sang Pendekar Cenangkas Kembar. "Pangeran, apakah Anda akan tetap diam saja seperti ini? Anda harus segera mengungsi."
"Apa ada tempat yang lebih aman daripada di sini?" Li Bei berwajah datar, lalu menatap ke kompleks tempat mereka menginap, "Adik-adikku sedang dalam bahaya di bawah sana. Yah, aku tidak perlu terlalu khawatir sih. Lagian, An'er punya pasukan yang hebat di sisinya. Kalau aku ke bawah, aku malah akan merepotkaan kalian."
"Bagaimana kalau ada penyusup yang ke mari?" Xiao Long melirik sekilas ke suatu tempat. Li Bei pun menyeringai seram, lantas berkata, "Seperti dia?"
"Cih! Aku sudah keta ...!?" sebuah belati menusuk dada sosok hitam yang bersembunyi di balik bilik. Tak jauh darinya, Xiao Long menatap dingin sosok yang telah menjadi seonggok mayat itu.
"Ambilkan panahku!" pinta Li Bei kemudian. Ia sempat melihat bagaimana Li An memamerkan kemampuan memanahnya. Sebagai orang yang sama-sama tangan dingin dalam kemampuan itu, ia tak mau kalah dari adiknya. "Kita akan turun sebentar lagi."
"Siap, Pageran!" salah satu pendekar di bawah Xiao Long berseru. Ia pergi sebentar, lalu kembali dengan seperangkat alat memanah yang telah disiapkan sejak semalam.
Li Bei senang dengan sikap tanggapnya. Ia pun berdiri dan berseru, "Aku sudah berjanji pada Raja Kiri untuk menyelamatkan kerajaannya. Habisi para penyusup dan siapkan pasukan di benteng. Kita akan kedatangan tamu yang lebih besar besok."
"Ha!" para prajurit berseru.
***
__ADS_1
"Kakak An!" teriak Li Rouwei setelah mendengar rintihan kakaknya. Dilihatnya lengan Li An yang merah, basah oleh darah. Ada sepucuk belati yang nyaris mengenainya.
"Aku tidak apa-apa," kata Li An sambil menahan rasa nyeri di lengannya. Matanya pun menyapu sekitar dengan cepat. Dalam sekejap, ia menemukan si pasukan pelopor itu.
"Biar saya saja, Pangeran," seorang pendekar lebih cepat menyiapkan panahnya daripada Li An, "Tangan Anda terluka. Sebaiknya Anda segera beristirahat."
"Kuserahkan padamu," Li An pun membatalkan niatnya untuk menarik anak panah. Lagi pula, lengannya memang sakit. Sepertinya, serangan itu melukainya cukup dalam.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan pasukan penjaga keluarga kerajaan yang tengah bertarung dengan musuh. Mereka terlihat kerepotan meskipun menang jumlah. Pasukan pelopor musuh amat lincah ke sana-ke mari membuat bingung mereka.
"Tuan Pangeran!?" salah seorang perwira tinggi yang mengenal Li An langsung berseru. Ia pun menghampiri Pangeran Kedelapan dari Tang itu. Bagaimanapun, mereka juga bertanggung jawab atas keselamatannya. Kekaisaran pasti akan sangat murka jika putra-putri mereka terbunuh di tempat ini. Itu akan menambah beban bagi Kerajaan Kiri nantinya.
"Bagaimana kondisi Keluarga Kerajaan Kiri?" Li An langsung memastikan kondisi sekutunya. Jika mereka mati hari ini, sia-sia hasil negosiasi mereka selama ini.
"Aku tahu," Li An mengangguk kecil. Wajahnya yang dingin bak tanpa ekspresi membuat gugup si perwira tinggi. Ia takut pangeran muda itu akan menuntut kerajaannya nanti atas keamanan istana yang buruk. "Di mana tempat tuan kalian?"
"Mari ikuti saya, Tuan Pangeran," perwira itu pun menunduk hormat begitu mendapati musuhnya hampir berhasil ditumpas oleh para pendekar dalam waktu singkat. Sisanya mundur begitu melihat pasukan bantuan yang kelihatannya lebih hebat dan elit.
***
"Pangeran Seong, kita sudah sampai," ujar Ji begitu mereka sampai di sebuah paviliun besar yang dijaga ketat oleh puluhan atau bahkan ratusan prajurit. Kasim itu pun menurunkan si pangeran kecil dari gendongannya. Mereka beruntung bisa sampai di sini dengan selamat.
__ADS_1
"Kasim Ji, carilah Seonghwa! Kamu harus menemukannya," pinta Yong Seong dengan tubuhnya yang masih gemetaran hebat. Matanya masih sembab, padahal ia terus berusaha untuk tidak menangis.
"Saya akan mencarinya, Pangeran," Ji berjanji sambil menunduk hormat, "Silakan Anda beristirahat dulu di dalam."
Yong Seong pun masuk ke dalam paviliun itu. Ia mendapati banyak sekali orang yang terluka, entah itu pelayan atau prajurit, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, semuanya ada di sini. Melihat itu, Yong Seong jadi merasa bersalah atas kelemahan dirinya. Ia benar-benar bodoh dan tak dapat diandalkan, padahal ia terlahir sebagai seorang pangeran yang telah menikmati berbagai fasilitas hidup yang nyaman.
"Pangeran, Anda harus segera beristirahat. Tempat ini aman, jadi Anda tidak perlu khawatir," ucap seorang dayang yang Yong Seong kenal. Ada rona lelah di wajah dayang itu. Terlihat jelas bahwa wanita itu sudah bekerja keras.
"Aku ...," Yong Seong malah berpikir untuk kembali ke luar dan membantu orang-orangnya. Ia tidak ingin tinggal diam seperti ini, sementara nasib adiknya belum diketahui. Namun, setelah berpikir ulang, ia pun sadar bahwa dirinya sungguh tak berguna.
"Antar aku," gumam Yong Seong lirih setelah mengusap sisa air matanya. Ia pun mengikuti dayang paruh baya itu masuk ke sebuah ruang yang cukup luas. Ini adalah kamar yang disiapkan untuk seorang selir. Namun, karena masalah konflik teritorial dengan dua kerajaan lain, Raja Kiri tak pernah punya kesempatan untuk berpikir punya selir lagi sehingga tempat ini sempat kosong.
"Beristirahatlah dengan tenang, Pangeran," kata dayang itu sebelum pergi meninggalkan Yong Seong, "Panggil saja saya atau penjaga di luar jika ada yang Anda butuhkan."
Yong Seong tidak menjawab. Ia terdiam seribu bahasa dengan tatapan kosong. Bagaimana mungkin ia bisa beristirahat dengan tenang, sedangkan orang-orangnya sedang sibuk bertarung di luar?
***
Menjelang pagi, tak ada lagi penyerang yang datang. Ada beberapa kemungkinan. Mungkin saja mereka telah habis tak tersisa dibantai oleh para pendekar yang dipimpin Wang Hong dan Xiao Long. Mungkin juga mereka kabur atau bersembunyi karena banyaknya korban yang jatuh dari sisi mereka. Yah, dari pihak Kerajaan Kiri juga ada banyak korban, tapi mereka cukup berhasil bertahan.
Meski kondisi mulai tenang, bukan berarti masalah usai. Orang-orang yang selamat harus saling bahu-membahu untuk memadamkan api yang amat besar. Sebagiannya lagi harus berjaga barangkali ada serangan susulan, sementara yang lain harus membereskan mayat-mayat yang bergelimpangan di sana sini. Hampir tidak ada waktu istirahat untuk orang-orang dewasa.
__ADS_1
Ketika mentari mulai memancarkan sinarnya di ufuk timur, Li Bei dan Li An berdiri di puncak benteng. Mereka menatap ke luar dengan tenang. Di sana, ribuan pasukan pelopor yang tersisa sudah bersiap untuk menyerang.