
"Hm," Selir Shu menatap Li An dengan heran. Mereka berdua sedang mengobrol santai di taman. Pemuda yang ditatapnya pun hanya diam sambil tersenyum simpul. Ada kecanggungan yang tiba-tiba menyeruak di sana.
"Apa katamu tadi?" tanya Selir Shu akhirnya.
"Kakak Huanran sudah mantap dengan pemuda itu," jawab Li An mengulangi laporannya, lantas balas bertanya, "Jadi, kapan dia dapat bertemu dengan Ibunda?"
"Ulangi lagi kata-katamu itu," pinta Selir Shu yang masih dipenuhi tanda tanya dan kecanggungan.
"Yang mana?" Li An pun jadi ikut bingung sendiri. Ia membalas tatapan heran Selir Shu dengan tatapan yang sama, bahkan terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang penasaran akan sesuatu.
"Hah …," Selir Shu malah menghela napas. Ia pun akhirnya berkata, "Lupakan saja. Aku hanya sedikit terkejut karena kamu tiba-tiba memanggilku ibunda."
"Apa Anda keberatan?" Li An mengerutkan keningnya.
"Tidak," Selir Shu menggeleng dengan wajah dinginnya, tapi ada sedikit senyum tipis di sana, "Tidak sama sekali. Panggil saja sesukamu."
"Hm, baiklah," Li An mengangguk kecil, tak menyadari senyuman tipis itu sama sekali. Ia pun mengulang kembali pertanyaannya.
"Dia seorang duta muda katamu?" Selir Shu bertanya memastikan sebelum menjawab. Li An pun mengangguk, barulah ibunda Putri Ketiga itu memberi jawaban, "Kalau begitu, dia bisa datang bertemu langsung denganku di hari ketiga minggu depan. Suruh dia datang langsung ke mari."
"Ibunda serius?" Li An meminta konfirmasi. Selama ini, ada banyak orang yang ingin bertemu dengan Selir Shu entah apa sebabnya. Namun, Selir Shu pasti menolak semua kunjungan itu kecuali kunjungan dari keluarga dekatnya.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih aman selain di sini," Selir Shu mengangkat cangkir pocinya, "Kamu tidak perlu berpikir macam-macam. Suruh saja dia ke mari. Aku akan menilainya dengan mata kepalaku sendiri."
"Oke," ucap Li An yang kemudian menceritakan hubungan persahabatannya dengan Ali. Ia menjamin kebaikan pemuda itu. Menurutnya, Ali adalah orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan selalu menjalankan amanah dengan baik.
"Dia juga sudah banyak berkontribusi dalam perkembangan Serikat Dagang Fuli. Kalau bukan karena bantuannya, serikat mungkin tidak akan sampai sebesar ini sekarang," jelas Li An dengan luwesnya, "Aku sudah banyak berhutang budi padanya."
"Apa ini juga termasuk caramu membayar hutang budi padanya?" tanya Selir Shu dengan wajah dinginnya yang tak berubah sama sekali. Pertanyaan itu berkaitan dengan perjodohan yang Li An upayakan antara Li Huanran dan Ali.
"Terserah Ibunda kalau mau menganggapnya begitu," Li An tak menyangkal sama sekali, "Menurutku, dia memang cocok dengan Kakak Li Huanran. Ibunda juga sudah meminta tolong padaku untuk mencarikan pasangan terbaik untuk kakak. Dialah yang paling baik menurutku."
"Yah, kita lihat saja besok," Selir Shu tak mempermasalahkannya lagi. Obrolan mereka pun terus berlanjut. Saat mentari mulai tergelincir ke ufuk barat, Li An pamit undur diri. Ia berniat untuk segera menyampaikan surat kepada Ali.
"Apa kalian yakin bahwa laporan ini valid?" tanya Selir Shu begitu selesai membaca bagian awalnya. Seorang wanita paruh baya yang mengantarkan laporan itu pun mengangguk tegas dan berkata, "Kami tidak akan berani berbohong pada Yang Mulia. Semua data itu adalah hasil penyelidikan di lapangan dan juga kesaksian dari orang-orang terdekat Tuan Duta Muda."
"Apa pemuda itu sungguh tak punya kekurangan?" Selir Shu masih saja sulit untuk percaya, "Kalian tidak dibayar orang lain, kan?"
"Sama sekali tidak, Yang Mulia," jawab si wanita paruh baya, "Saya sumpah. Itu semua adalah hasil penyelidikan yang sebenar-benarnya. Kalau Anda meminta kami untuk mencari kekurangannya, kami akan langsung melaksanakannya."
"Tidak perlu," Selir Shu menggeleng, lantas mengeluarkan sebuah kantong imbalan, "Terima kasih atas kerja keras kalian."
Wanita itu pun pergi, sedangkan Selir Shu kembali membaca lembar demi lembar laporan yang dimintanya. Laporan itu bukannya tidak mencantumkan kekurangan Ali. Ada beberapa kekurangan, tapi kelebihannya jauh lebih banyak. Pemuda itu bisa dibilang tipe ideal. Dia tampan, kaya, dan terhormat.
__ADS_1
"Mereka bilang ini sebagai kekurangan," gumam Selir Shu. Di sana tertulis bahwa Ali sering menghindari tatapan wajah dengan wanita mana pun. Si penulis laporan jadi salah paham dan mengira bahwa pemuda itu mungkin saja tak punya ketertarikan pada lawan jenis.
"Kalau saja aku tidak mendengar cerita dari An'er, aku mungkin akan langsung menolak pemuda itu," ucap Selir Shu puas, "Menundukkan pandangan. Itu adalah iktikad yang baik untuk saling menjaga satu sama lain. Kalau memandang saja ia segan, ia tak akan menyakitinya."
"Nyonya, Tuan Putri Ketiga memohon izin untuk bertemu dengan Anda," lapor seorang pelayan yang baru saja datang. Selir Shu pun menoleh sebentar, lantas mengizinkan Li Huanran untuk masuk.
"Duduklah, Putriku," ucap Selir Shu begitu Li Huanran sampai di hadapannya. Gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Ia terlihat lebih pendiam dan tenang.
"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" tanya Selir Shu memulai pembicaraan.
Li Huanran tak langsung menjawab. Gadis itu tertunduk kecil seolah sedang menatap kehidupan yang sedang menantinya di masa depan. Setelah beberapa saat, barulah ia menjawab dengan seulas senyum cantik yang disertai rona merah, "Saya sedang sangat senang akhir-akhir ini."
Selir Shu mengedipkan matanya dua kali. Tanpa bertanya sedikit pun, ia sudah tahu bahwa hati putrinya sedang berbunga-bunga. Itu menandakan bahwa ia memang cocok dengan calon suaminya.
"Apa kamu sudah jatuh cinta pada teman adikmu yang sangat kamu sayangi itu?" Pada akhirnya, Selir Shu tetap bertanya sekadar untuk memastikan. Dilihatnya anggukan kecil Li Huanran yang sedikit malu-malu. Dalam hati, ia teramat takjub dengan cara Li An mempertemukan jodoh untuk putrinya itu.
Ini bahkan belum genap setengah bulan sejak keduanya bertemu, tapi benih cinta itu sudah mulai tumbuh dalam hati. Itu adalah sebuah keajaiban. Biasanya, orang-orang awam berpikir bahwa cinta itu membutuhkan waktu dan kebersamaan yang panjang untuk bertunas–dengan pacaran atau apalah itu namanya, padahal sejatinya tidaklah begitu.
Pacaran hanyalah ketidakpastian nan berkabut tebal, sedangkan taaruf adalah angin lembut yang mengenyahkan segala keraguan. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengenal calon pasangan. Namun, di dalamnya terdapat esensi yang berbeda, bahkan bertolak belakang.
Pacaran bagai berjalan di tengah malam tanpa pengawasan, sedangkan taaruf bagai berjalan bersama penuntun yang akan selalu menjaga agar tidak tersesat. Begitulah kontrasnya. Kira-kira, manakah yang lebih baik?
__ADS_1