
“Baginda Kaisar, Pangeran Kedelapan telah tiba,” seorang ajudan melaporkan kedatangan Li An pada Kaisar Yung Wei. Pria paruh baya itu pun berpaling dari buku salinan putranya dan berkata, “Izinkan dia masuk.”
Pintu ruangan sang kaisar pun dibuka. Seorang bocah berjubah megah nan solid masuk dengan langkah yang tegap dan anggun. Ketika sampai di hadapan Kaisar Yung Wei, ia segera bersujud menunjukkan hormatnya kepada penguasa tertinggi Kekaisaran Tang sekaligus ayahandanya itu.
“Hormat kepada Kaisar Yung Wei Yang Agung. Li An, Pangeran Kedelapan memberi salam kepada Baginda Kaisar,” ucap Li An dalam sujudnya. Ia tidak akan bangkit sampai sang kaisar mengizinkannya. Walaupun sebenarnya enggan, ia tetap melakukannya dengan hati yang dingin.
Kaisar Yung Wei mengelus-elus jenggotnya. Ia tidak mengharap penghormatan sesempurna itu dari putranya yang baru berusia enam tahun. Ia bahkan lebih berharap putranya itu menyelonong masuk dan berseru dengan riang seperti anak-anak normal pada umumnya. Ia pun berkata, “Bangkitlah, Anakku.”
Li An bangkit berdiri dengan tegap. Matanya memandang tanpa sedikit pun rasa takut di sana. Tak ada pula rasa ketertarikan meskipun ruangan sang kaisar dihias sedemikian estetik. Di wajahnya seolah ada dinding es beku yang sangat dingin dan datar.
“Dari mana kamu mempelajari etiket-etiket itu?” tanya Kaisar Yung Wei berbasa-basi.
“Ibunda Aixin dan Kakak Huanran,” jawab Li An singkat. Ia telah dipersilakan untuk duduk. Pandangan matanya tertujuh pada teh di tangannya. Ditatapnya minuman herbal itu dengan sendu. Aromanya yang khas membuat ia teringat akan masa lalu. Teh ini adalah teh favorit ibundanya, Selir Ai. Ia pun menoleh ke ayahnya setelah beberapa saat terdiam.
“Kamu mengenalnya? Ini adalah teh yang sering aku minum bersama ibumu dulu. Aku yakin dia sering menyeduhkannya untukmu,” Kaisar Yung Wei tersenyum saat Li An menatapnya. Bocah itu pun mengangguk pelan, menanggapi basa-basi sang ayah. Ia tidak banyak membalas ucapan ayahnya dengan kata-kata. Sifatnya yang pendiam sesuai dengan yang dideskripsikan dalam laporan.
“Rasanya gerah kalau terus berada di sini. Ayo kita ke luar untuk mencari angin segar,” Kaisar Yung Wei mengajak putranya ke balkon istana yang tinggi saat hendak mulai membicarakan hal penting. Ia telah cukup mangamati tindak-tunduk bocah itu. Sekarang, ia ingin tahu lebih jauh mengenai kemampuannya di usia belia.
“Nak, bumi membentang sangat luas. Walaupun Tang telah menyebarkan pengaruhnya ke segala penjuru, rasanya tidak akan pernah sampai ke ujung dunia,” langit sore sangat cerah ketika Kaisar Yung Wei mengatakan hal itu. Ia memejamkan matanya selama beberapa waktu, menikmati hembusan angin yang membelai kulit kepalanya dengan lembut. “Beberapa waktu lalu kita kedatangan tamu yang menarik. Aku yakin kamu juga melihatnya bukan?”
Li An langsung menoleh ke Kaisar Yung Wei yang tersenyum penuh makna. Ia tak menyangka bahwa penyusupannya ke istana bersama Li Mei saat itu diketahui oleh sang kaisar. Mungkin karena ia masih kecil, jadi ia tidak mendapat hukumam sabab mengintip pertemuan penting antarnegara.
“Kudengar kamu tertarik dengan orang-orang asing itu. Apa pendapatmu tentang mereka?” Kaisar Yung Wei mulai masuk ke inti pembicaraannya.
“Mereka ...,” Li An terdiam sejanak guna menyusun kata-kata yang tepat, “Unik.”
“Hm? Jelaskan!” Kaisar Yung Wei menuntut jawaban yang lebih terang.
“Kepercayaan mereka jauh berbeda dengan kita. Yah, mereka berbeda. Cara bicara dan bertemannya juga, tapi aku suka dengan mereka,” jawab Li An antusias. Ia pun menceritakan pengalamannya selama tinggal di Guangzhou. Pangeran kecil itu sangat senang karena mendapat ilmu-ilmu baru yang tidak ditemukannya di Pagoda Arsip Kecil.
“Pagoda itu terlalu banyak menyimpan puisi. Sulit sekali memahaminya,” keluh Li An saat tiba-tiba ceritanya berbelok ke Pagoda Arsip Kecil. Ketika Ia bercerita dengan penuh semangat begitu, ia jadi lebih terlihat seperti anak-anak seusianya.
“Aku ingin belajar lagi dengan mereka. Di Bulan Ramadan nanti, akan mau ikut lagi ke Guangzhou sama Paman Fengying,” pinta Li An setelah selesai bercerita panjang lebar.
“Ramadan? Ah, bulan suci orang-orang Arab, ya,” Kaisar Yung Wei mengingat-ingat laporan investigasi sepupunya, Li Fengying.
“Bukan!” pria paruh baya itu pun terkejut saat Li An menyangkalnya begitu saja, “Ramadan bukan hanya punya orang Arab. Dia bulan sucinya seluruh manusia, seluruh bangsa di dunia. Lebih tepatnya bulan sucinya agama Islam dan pemeluknya.”
__ADS_1
“Haha … aku mengerti. Tampaknya kamu sangat tertarik dengan mereka. Apa kamu ingin menjadi Menteri Urusan Luar Negeri seperti Pangeran Zhizhe?” tanya Kaisar Yung Wei mencoba untuk menggali obsesi putranya.
“Nggak!” tolak Li An tegas, “Posisi itu punya Chen’er. Aku mau jadi sarjana jadi saja kayak Kakek Ma,”
“Maksudmu Pustakawan Ma?” Kaisar Yung Wei mengerutkan kening. Ia sedikit kecewa begitu mengetahui bahwa impian putranya terlalu sempit. Padahal, Pangeran Kedelapan itu adalah anak berbakat yang punya potensi tinggi dalam dirinya. Sayang sekali jika ia sekadar menjadi sarjana biasa di masa depan.
Li An mengangguk, lantas kembali bercerita tentang dirinya, “Aku suka buku-buku. Rasanya sangat menyenangkan saat membaca mereka. Tapi … kalau tempatnya berisik, rasanya jadi sumpek. Aku suka tempat yang sepi. Jauh dari pernak-pernik dunia itu juga kebahagiaan.”
“Kebahagiaan?” Kaisar Yung Wei dibuat mengerutkan keningnya lagi. Ia pun tersenyum sambil terus mengelus-elus janggutnya yang panjang, lantas meminta penjelasan lebih lanjut.
“Ya, karena aku bisa lebih menerima diriku apa adanya,” ucap Li An sambil menyentuh dadanya sambil sedikit tertunduk sendu seolah sedang memikirkan hal besar di pundaknya, “Aku hanya perlu bersyukur dengan segala hal yang kupunya. Dengan begitu, aku menggerus sifat tamak manusia yang ada dalam diriku.”
Kaisar Yung Wei menatap senyum tipis di wajah Li An yang sebelumnya sedingin tembok es. Penguasa tertinggi Negeri Tang itu pun menepuk kepala putranya, lantas berjongkok dan mewejang, “Kamu harus lebih giat lagi belajar. Banyaklah membaca, tapi jangan lupa pula untuk bersosialisasi dengan orang lain karena hidupmu akan sepi jika sendiri. Kamu dianugrahi kecerdasan yang tinggi. Dengan itu, kamu harus dapat membawa maslahat kepada lingkungan di sekitarmu. Menjadi pemimpin adalah cara paling efektif memanfaatkan potensi itu. Apa kamu tertarik untuk menjadi kaisar?”
“Aku? Kaisar?” senyum di wajah Li An seketika luntur sepenuhnya digantikan raut masam. Ia pun menggeleng sekuat-kuatnya, “Nggak! Aku nggak mau jadi kaisar. Kaisar itu ….”
Li An menghentikan kata-katanya begitu ingat bahwa ia berdiri di hadapan sang kaisar. Ia pun memalingkan muka. Kaisar Yung Wei cukup terkejut melihat reaksi itu.
“Ternyata kamu benar-benar nggak mau jadi kaisar, ya,” Kaisar Yung Wei lantas berdiri dan menghela napasnya, ”Yah, aku bukannya memaksa. Hiduplah sesuai kemauanmu sendiri. Namun, aku akan sangat senang jika kamu ikut seling bekerja sama dengan saudara-saudaramu untuk memakmurkan Negeri Tang. Dengan begitu, aku bisa tenang meninggalkan kekaisaran yang luas ini pada kalian.”
“Kamu lebih dewasa dari yang kukira,” Kaisar Yung Wei kembali mengelus kepala Pangeran Kedelapan takzim. Ia tersenyum hangat mendengar alasan dari bocah yang sekilas terlihat polos itu. Sang kaisar pun mulai memikirkan rencana masa depan untuk putranya yang bijak ini. Jika usahanya berhasil, mungkin Li An dapat menjadi penengah di masa suksesi nanti. Alangkah baiknya jika ia bisa menurunkan kekuasaan pada seorang putranya dengan damai. “Apa kamu ada sesuatu yang ingin kamu miliki selain Paviliun Aixin? Aku akan mengabulkannya selama aku mampu.”
“Aku mau cepat pulang ke istananya Paman Fengying. Di sana lebih enak,” pinta Li An tanpa sungkan.
Kaisar Yung Wei terlihat heran mendengar permintaan sederhana itu. Mudah saja mengabulkannya. Namun, ini akan membuatnya tidak dapat mengamati perkembangan bocah itu lebih dekat. Ia merasa wajib mengawasinya dengan baik. Jadi, ia menolak permintaan itu, “Kenapa kamu nggak suka di sini? Apa ada orang yang mengganggumu.”
Li An membuka mulutnya, tapi tak mengatakan sepatah kata pun. Ia ingin menjawab, “Iya.”
Memang ada orang yang mengganggunya di sini. Ah, orang itu bahkan sudah menyebalkan sejak pertama kali Li An bertemu dengannya. Dia berisik, cerewet, dan sok berkuasa. Akan tetapi, entah mengapa Li An tak dapat mengadukannya.
“Nggak,” akhirnya Li An menjawab sambil menggeleng. Toh, ia juga butuh Li Huanran di sisinya sebagai wali. Kalau ia minta walinya diganti, belum tentu kakak atau ibu tirinya yang lain akan bersikap setulus Putri Ketiga. Ia pun memberikan alasan sebenarnya ingin tinggal bersama Li Fengying, “Aku sudah berjanji pada Kakak Mei dan Chen’er untuk pulang lagi secepatnya, sama … Pagoda Arsip Kecil lebih dekat dengan Istana Pangeran Zhizhe daripada Istana Kebahagiaan Abadi.”
“Kamu suka ke pagoda kecil itu?” tanya Kaisar Yung Wei sembari memikirkan solusi yang tepat agar putranya tetap terima tinggal di istana.
“Ya, karena tempatnya sepi,” jawab Li An cepat, “Aku bisa fokus di sana.”
“Hm … kamu harus ikut Kelas Kekaisaran di Istana Kebahagiaan Abadi. Jadi, kamu tidak bisa sembarangan ke Istana Pangeran Zhizhe. Anak-anak di sana punya kelasnya sendiri,” balas Kaisar Yung Wei penuh ketegasan, lalu memberi tawaran, “Begini saja, kamu bisa bebas mengunjungi putra-putri Pangeran Zhizhe selama hari libur. Lalu, untuk masalah ke Pagoda Arsip Kecil … kalau kamu bisa cepat berlatih menunggang kuda, aku akan menghadiahimu seekor agar perjalananmu ke sana bisa lebih cepat.”
__ADS_1
“Menunggang kuda?” Li An memiringkan kepalanya, memastikan kembali tawaran yang di ajukan ayahnya. Kaisar Yung Wei pun mengangguk. Li An lantas berkata, “Baiklah, aku akan giat belajar, tapi ….”
“Ada apa? Apa ada hal lain yang mau kamu sampaikan?” Kaisar Yung Wei bertanya setelah Li An cukup lama terdiam.
“Kalau aku bisa menungga kuda, aku mau berkeliling ke seluruh daratan Tang,” kata Li An mengungkapkan keinginan kecilnya. Hari ini, ia berpikir untuk menjadi sarjana keliling ketika besar nanti. Bocah itu ingin mewujudkan harapan kakaknya yang ingin ia menjadi pahlawan yang membawa kebaikan di mana pun dirinya berpijak. Namun, hari esok tak selalu sama dengan ekspektasi sekarang. Bisa jadi nasib berubah seiring berjalannya waktu.
Kaisar Yung Wei terkekeh mendengar keinginan putranya yang cerdas itu. Harapannya terhadap Li An pun semakin tinggi. Ia lantas berkata, “Bagus, bagus. Seorang pangeran memang harus melihat dunia yang luas. Pergilah mengembara sejauh yang kamu mampu. Jangan hanya di Kekaisaran Tang saja. Tapakilah lembah-lembah di utara, kunjungilah pulau-pulau di timur dan selatan, karungilah lautan yang luasnya tak terbilang, dan lihatlah dunia lain di ujung barat yang jauh.”
“Namun, ingatlah satu hal,” sang kaisar terdiam sejenak. Ia menarik napas sebentar, baru kemudian melanjutkan, “Setelah kamu menyelesaikan perjalananmu, jangan lupa untuk kembali. Bawakan anugrah yang kamu dapat dari seluruh penjuru negeri untuk Kekaisaran Tang. Kamu harus ingat bahwa tanah ini adalah tempatmu pulang.”
Li An terpana mendengar kata-kata ayahnya. Ia seakan mendapat tujuan baru yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi sarjana. Impiannya pun berubah jadi ambisi. Mulai hari itu, ia bertekad untuk menyambangi segala penjuru negeri-negeri asing sesuai pesan sang ayahanda.
Awan-awan menyelimuti seluruh langit Ibukota Chang’an sore ini. Mentari pun mewarnainya dengan tulus sebagai tanda perpisahan. Seluruh langit jadi kemerahan karenanya. Sinar senja itu membuat orang-orang bergegas menyelesaikan sisa pekerjaannya dan beranjak pulang ke rumah.
“Ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan denganmu,” Kaisar Yung Wei mengangkat Li An ke atas pundaknya. Sang pangeran pun terkejut dengan gendongan yang mendadak itu. Jari-jemarinya spontan menjambak rambut sang kaisar yang sejak tadi melepas mahkotanya. Ia berjuang keras untuk menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh dari pundak Kaisar Yung Wei yang tinggi.
“Jangan takut dan nikmati saja. Aku akan membawamu berkeliling sambil membicarakan orang-orang asing dari Jazirah Arab,” Kaisar Yung Wei tertawa saat merasakan rambutnya dijambak. Sudah lama ia tidak bermain seperti ini dengan salah seorang buah hatinya. Terakhir kali adalah dengan putra keempatnya. Ketika itu, ia masih belum menjadi kaisar.
Li An terdiam dan terus mengencangkan cengkeramannya. Ia tak peduli dengan reaksi para prajurit yang keheranan melihatnya duduk di pundak sang kaisar. Toh, mereka tidak akan berani protes. Sayangnya, sekarang An belum tahu bahwa hal ini akan membawa masalah padanya di masa depan.
“Aku tertarik dengan mereka bukan hanya karena relasi perdagangannya, tapi juga keteguhan imannya,” Kaisar Yung Wei mulai bercerita. Li An di atas pundaknya mengigit bibir sambil berusaha menyimak dengan baik. Ia masih takut kalau-kalau dirinya terjatuh, tapi ada perasaan yang seru di hatinya. “Mereka tidak mau bersujud padaku meskipun mereka tahu bahwa aku adalah kaisar yang berkuasa atas negeri ini. Aku bisa saja memenggal kepala mereka saat itu juga, tapi mereka sama sekali tidak takut.”
“Mereka bilang, mereka tidak akan pernah bersujud pada pangeran, raja, atau kaisar mana pun. Mereka hanya bersujud kepada Rajanya para raja, Sang Penguasa alam semesta, Hyang Yang Maha Menciptakan segalanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa,” Kaisar Yung Wei terdiam merenungkan sesuatu selama beberapa saat. Tanpa sadar, ia telah menggendong Li An sampai taman besar Istana Kaisar.
“Aku telah membaca banyak kitab, jadi aku mengerti maksud mereka. Aku tahu bahwa apa yang mereka katakan adalah kebenaran. Mereka membawa cahaya dari sang utusan akhir zaman,” Kaisar Yung Wei kembali terdiam, tapi ia tetap berjalan di taman besar tanpa peduli dengan tatapan orang-orang, “Aku senang mendengarnya. Aku ingin menerimanya, tapi ….”
“Ayah mungkin akan kehilangan takhta kaisar,” sahut Li An untuk pertama kalinya.
Kaisar Yung Wei tersenyum getir. Tebakan putranya itu sangat tepat. Kalau saja para duta itu datang sedikit lebih cepat sebelum suksesi kaisarnya, ia mungkin dapat lebih leluasa berinteraksi dengan mereka bersama Li Fengying.
“Nak, kakek buyutmu mengklaim dirinya sebagai keturunan seorang tokoh filsuf besar saat merebut kekaisaran ini dari dinasti sebelumnya. Kakekmu juga membangun relasi yang baik dengan para pandita-pandita hebat dari kuil,” lagi-lagi Kaisar Yung Wei bercerita, padahal hari sudah semakin gelap, “Kekuasaan kaisar dan hegemoni religius saling mempengaruhi. Keduanya memiliki impresi yang kuat dalam politik kekaisaran. Kalau tiba-tiba aku menerima agama yang baru datang itu, mungkin saudara-saudaraku akan saling berkolusi untuk menggulingkanku.”
Li An baru diturunkan setelah sampai di sebuah saung. Ia menatap ayahnya penuh makna. Matanya berkedip beberapa kali. Ubun-ubunnya pun dipegang oleh sang kaisar. Dengan senyum yang mengembang, Kaisar Yung Wei berpesan, “Nak, jika ajaran itu cocok denganmu, terimalah ia dengan segenap hatimu. Jangan bimbang seperti diriku ini. Hidupmu pasti akan diberkati.”
Kaisar Yung Wei mewejang beberapa patah kata lagi. Sebelum hari benar-benar gelap, ia meminta para ajudannya untuk mengantar Li An kembali ke Kediaman Selir Ai yang lumayan jauh dari Istana Kaisar.
Sesampainya di Paviliun Aixin, Li An langsung disambut oleh kakaknya. Putri Ketiga itu sangat khawatir karena Li An tak kunjung pulang. Ia cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada adik kesayangannya. Padahal, Istana Kaisar adalah salah satu tempat dengan keamanan paling tinggi di Ibu Kota Chang’an. Yah, selama Li An kembali dengan selamat, itu sudah cukup bagi Li Huanran. Mereka berdua pun makan malam bersama tanpa pernah menduga bahwa mata para elang sedang mengintai mereka.
__ADS_1