Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 064: Balasan yang Tak Sampai


__ADS_3

“Ayahanda,” panggil Putri Kecil di hari Mimi berkunjung menyampaikan surat dari Li An, “Izinkan saya sendiri yang menulis surat balasan untuknya.”


“Hm, baiklah,” pria paruh baya yang dipanggil ayahanda oleh Putri Kecil mengangguk  kalem. Ia tidak keberatan sama sekali dengan permintaan putrinya itu. Lagi pula, ia akan tetap memeriksannya sebelum surat balasan itu dikirimkan balik.


Putri Kecil pun membawa surat dari Li An ke kamarnya. Ia membaca sekali lagi surat yang berisi banyak keterangan itu. Bahasa sastra yang tertuang di dalamnya mengandung makna yang begitu dalam. Jelas sekali bahwa Pangeran Kedelapan sangat berhati-hati saat menulis surat itu.


Sejujurnya, Putri Kecil merasa sakit hati, cemburu, dan marah pada Li An. Perasaan terkhianati itu muncul begitu saja di hatinya, apalagi saat ia melihat gadis yang datang bersama Mimi ke kediamannya. Gadis itulah yang Pangeran Kedelapan maksud dalam suratnya.


Putri Kecil terdiam cukup lama. Meski ia sudah meminta izin pada ayahnya untuk menulis sendiri balasan dari surat itu, ia malah jadi bingung saat berhadapan dengan kertas dan pena. Andai ia gadis yang egois, ingin sekali ia memarahi Li An sejadi-jadi, menuliskan banyak kata-kata tebal yang mewakilkan amarahnya, bahkan memutuskan ikatan janji yang baru diikatkan oleh pangeran itu beberapa bulan yang lalu.


Namun, cinta di hatinya lebih besar dari amarah itu. Ia tidak tega menuliskan kata-kata yang menyinggung pujaan hatinya itu. Jika hanya karena ini saja ia sudah berputus asa, maka doanya setiap malam akan menjadi sia-sia.


“Ah, benar,” Putri Kecil akhirnya mendapatkan ide setelah mengingat untai-untai doanya di setiap malam itu, “Aku adalah seorang Muslimah. Cinta kami tidak akan pernah bisa terjalin selama dia belum menjadi seorang Muslim. Ya Rahman, aku mencintainya demi mengharapkan keridhaan-Mu. Kepada-Mu hamba berpasrah diri.”


Putri Kecil segera meninggalkan kertas dan penanya, lalu memperbarui wudhunya. Ia pun menggelar sajadah di kamarnya. Detik kemudian, ia sudah khusyu dalam shalatnya. Doanya dalam sujud teramat dalam dan mendayu. Ia memohon petunjuk pada Rabbnya.


Selesai salat, Putri Kecil kembali ke mejanya. Ia sudah memantapkan hatinya. Cinta yang dalam lagi tulus membuat ia bersiteguh mempertahankan ikatan janjinya. Namun, ia menuliskan sebuah desakan. Desakan itu adalah inti yang mendominasi suratnya. Ia menuangkannya baik secara tersirat maupun tersurat. Saat menulis surat balasan itu, ia berharap Li An langsung mengerti maksudnya.


“Kepada Pangeran Kedelapan yang mulia, Pemimpin Perserikatan Dagang Fuli yang bijaksana, Pangeran An yang kuhormati,” gumam Putri Kecil sambil menulis surat balasannya. Ia menuliskan salam dan pembukaan formal berupa puja-puji kepada Tuhan Yang Mahakuasa setelah sapaan itu. Begitu pembukaan rampung, barulah ia mencurahkan isi hatinya, “Saya sudah membaca surat Anda. Meski hati ini merasa cemburu, saya dapat mengerti maksud Anda.”


Putri Kecil berhenti sampai di kalimat itu. Ia merasa bahwa tulisannya kurang tepat dan berniat membuangnya ke tempat sampah. Sayangnya, ia sudah menuliskan asma-asma Allah di dalamnya. Ia merasa tak bisa melakukannya. Pada akhirnya, ia pun melanjutkan kata-katanya itu.

__ADS_1


“Itu bukanlah masalah bagi saya. Di sini, saya masih menunggu Anda dengan setia sampai waktu yang ditentukan. Saya senang dengan ungkapan Anda mengenai sumpah Anda kepada Baginda Kaisar. Dengan begitu, saya merasa lega karena masih mendapat perhatian yang utama dari Anda. Jika gadis bangsawan itu adalah saya, maka itu adalah sebuah keberuntungan dan kehormatan bagi saya.


Namun, Anda harus mengingat bahwa saya adalah seorang muslimah yang taat. Saya tidaklah diperkenankan menikah dengan Anda sampai Anda menjadi seorang muslim. Wahai Pangeran, Anda adalah orang berilmu yang sudah mengaji Islam selama bertahun-tahun lamanya. Apa yang membuat Anda ragu? Padahal keluarga saya sudah menunjukkan bahwa pikiran yang dangkal mengenai boikot itu tidaklah benar.


Kapan Anda akan bergabung dengan keluarga kami? Bukankah Anda yang dulu meyakinkan kami bahwa agama ini adalah agama yang benar? Mengapa Anda malah belum menerimanya sama sekali?


Wahai, Pangeran~


Andai tabir itu adalah harta duniawi, maka ingatlah bahwa semua yang ada di dunia adalah fana. Makanan akan membusuk, baju akan lusuh, sedangkan emas dan perak akan diwariskan dan berganti tangan. Tidak akan ada yang membersamai Anda barang satu sen pun di akhirat kelak.


Wahai Pangeran~


Andai tabir itu adalah kekuasaan, maka ingatlah bahwa kekuasaan itu hanyalah sementara. Anda akan digantikan, baik cepat maupun lambat. Kehormatan itu mungkin akan melekat pada Anda sampai mati, tapi ia tidak akan berguna bagi Anda di alam akhirat nanti.


Wahai Pangeran~


Anda adalah orang yang cerdas dan bijak. Sejak kecil, Anda sudah memiliki pemikiran yang dalam. Seharusnya tidak ada lagi yang dapat membuat Anda ragu sedikit pun untuk berislam.


Cinta yang suci itu harus diikat dengan akad yang suci. Akad yang suci itu diikat oleh wali dari seorang muslimah kepada mempelai yang muslim. Dari akad itu, terbangunlah bahtera rumah tangga yang kelak akan berlayar sampai ke surga. Ia akan berlabuh di dalamnya, lalu empunya keluarga itu pun akan hidup bahagia bersama-sama.


Betapa diri ini merindukan cinta abadi, cinta yang tidak sekadar sehidup semati, tapi tersampai ke surga nan abadi. Saya selalu berdoa agar dapat berdampingan dengan Anda memasuki taman yang indah itu. Saya amat menantikan hari yang bahagia itu.

__ADS_1


Wahai, Pangeran~


Asalkan Anda berislam dan beriman, saya rela bersama Anda meskipun bukan satu-satunya. Saya tidak membutuhkan harta, kuasa, maupun kehormatan seorang putri, tapi cukuplah iman Anda menjadi mahar bagi diri ini.”


Putri Kecil berhenti sejenak dan meregangkan badannya. Ia menguap pelan karena tiba-tiba mengantuk. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri untuk membaca ulang isi suratnya, memastikan tidak ada kesalahan sedikit pun di dalamnya. Begitu ia sampai di kalimat terakhir, ia jadi terpikir untuk meminta sesuatu pada Pangeran Kedelapan.


“Gadis itu,” gumam Putri Kecil pelan, “Aku ingin lebih dekat dengannya. Aku harus meminta An’er agar mengizinkan gadis itu tinggal di dekatku. Kami mungkin akan menjadi ‘teman akrab’ ke depannya.”


Setelah menuliskan penutup dan memastikan tinta pada kertas sudah kering, Putri Kecil langsung melipat surat balasan itu. Ia ingin segera mengirimkan surat itu pada Li An. Semoga saja Pangeran Kedelapan segera masuk Islam dan melamarnya dengan sungguh-sungguh setelah itu.


“Ayahanda,” panggil Putri Kecil dengan suara lirihnya yang khas, “Saya sudah selesai menuliskan surat balasan.”


“Oh, begitukah?” seorang wanita paruh baya yang membalas. Ia adalah ibunda kandung dari putri kecil. Di ruang tamu, ia tengah menemani Mimi dan Asina mengobrol. Ketika ia membaca surat yang putrinya tulis, senyum yang lembut mengembang di bibirnya.


“Salam, Nyonya,” seorang pesuruh tiba-tiba masuk ke ruang tamu. Pesuruh itu berlutut dengan wajah yang tampak terburu-buru. Ia terdiam sampai wanita paruh baya yang ada di hadapannya mengizinkan ia untuk bicara. “Saya mendapat berita dari tuan. Ini perihal Delegasi Kekaisaran dan Pangeran Kedelapan.”


“Apa yang terjadi dengannya?” ibunda Putri Kecil merasakan firasat yang buruk.


“Beliau menghilang. Diduga bahwa para Kepala Suku Tarkan telah berkonspirasi dengan untuk membunuh beliau,” jawab si pesuruh dengan datar, “Perdamaian dengan Kekahagan Tarkan telah dibatalkan. Kaisar Yung Wei sedang menghimpun pasukan untuk membalas perbuatan mereka.”


Seisi ruangan menjadi hening seketika. Setiap orang di dalamnya terguncang dalam dilema masing-masing. Mimi tentu khawatir dengan keselamatan suaminya, tapi ia lebih khawatir pada Li An yang sudah ia asuh seperti putranya sendiri selama ini. Asina tidak pernah menyangka bahwa pengorbanannya akan berakhir sia-sia. Ia bahkan sudah tidak dapat kembali ke negerinya. Di antara mereka semua, Putri Kecil yang pertama meneteskan air matanya. Ia baru saja hendak mengirimkan surat balasannya yang berisi seruan dakwah dan cinta. Sayangnya, surat itu mungkin tidak akan pernah sampai pada penerimanya.

__ADS_1


Saat itu juga, Asina menyadari bahwa Putri Kecillah gadis yang Li An maksud dalam pembicaraan mereka malam itu. Gadis yang dicintai oleh sang Pangeran Agung. Gadis itulah yang mungkin harus ia layani setelah ini.


__ADS_2