Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Jangan Ikut


__ADS_3

“Jauh-jauh sana! Kakak masih bau!” usir Li Rouwei dengan suara cemprengnya yng melengking, “Kakak Xiang kalau mau ke sini tuh mandi dulu. Rumahnya Kakak An yang harum jadi bau setiap kali Kakak Xiang ke mari sembarangan.”


“Hai, aku buru-buru ke mari karena kamu sudah membuat masalah,” Li Xiang tak terima disalahkan. Lagi pula, tubuhnya tidak sebau yang Putri Kesembilan katakan. Dia sudah berkali-kali mengendus bajunya dan tidak tercium apa-apa.


“Kakak, kamu bisa pinjam bajuku kalau mau,” Li An menawarkan sambil menunjuk kediamannya. Li Xiang terlihat enggan. Sekali lagi, ia diam-diam mengendus pakaiannya sebelum menjawab. Namun, saat ia hendak menerima tawaran itu, Li Rouwei sudah lebih dulu melarang, “Jangan! Nanti bajunya Kakak An jadi kotor. Kakak Xiang pulang dulu sana! Ganti di rumah!”


“Apa masalahmu sebenarya? Kamu mengusirku?” bentak Li Xiang kesal.


Lagi-lagi Li Rouwei bersembunyi di balik Li An. Ia pun memprovokasi kakaknya dengan melontarkan ejekan yang lain dan kembali mengusir, “Tuh Kakak dah peka, tapi nggak pergi juga. Hus! Hus! Minggir sana!”


“Rou’er …!” Li Xiang menekan dahinya dengan tangan kanan, berusaha meredakan amarah. Sayangnya, ia tidak bisa lagi dipaksa bersabar. Pangeran Ketujuh pun berlari cepat untuk menangkap adik kecilnya yang nakal. Dengan kecepatannya yang sudah terasah selama pelatihan manjadi pendekar, ia pasti akan menangkap Li Rouwei dengan mudah.


“Wee ... Kakak lambat,” ejek Li Rouwei yang kini sudah berpindah ke sisi Li Huanran. Saat Li Xiang kembali berniat menangkapnya, ia pun berlari sambil berteriak senang. Tawanya membumbung ke udara, meramaikan Paviliun Aixin yang kecil, tapi asri.


“Kena kau!” seru Li Xiang begitu berhasil menangkap adiknya dan mengangkat gadis itu tinggi-tinggi. Li Rouwei pun meronta. Kedua tangan kecil yang lemah memukul-mukul punggung Li Xiang. “Turunkan aku! Aku adalah seorang putri, bukan kayu bakar.”


“Coba saja turun sendiri,” Li Xiang pun terkekeh puas. Saat ia melepaskan adiknya, Li Rouwei pun menantangnya lagi. Mereka bermain kejar-kejaran di halaman orang tanpa tahu malu. Toh, ini rumah saudaranya sendiri. Begitulah anak-anak bermain.


“Mereka akrab sekali,” ujar Li Huanran sambil menyerahkan kembali Yun Annchi pada ibunya, Mimi. Ia pun kembali duduk di saung bersama Li An sambil menyaksikan permainan Putri Kesembilan dan Pangeran Ketujuh yang meramaikan halaman mereka.


“Yah, rasanya kayak melihat dua anak kucing yang sedang bercanda. Mereka suka saling menggigit dan menerkam,” balas Li An dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya, “Cara Rou’er mencari perhatian juga unik. Dia selalu berhasil membuat Kakak Xiang jatuh dalam permainannya.”


“Hubungan mereka sangat dekat, apalagi mereka saudara kandung,” gumam Li Huanran, “Aku dan Kakak Bei saja tidak sedekat itu.”


“Jelaslah, Kakak kan nggak seagresif Rou’er,” Li An menoleh pada kakaknya sehingga mereka saling bertatapan, “Kakak kan juga jarang pergi dari sini.”


“Pfth …,” Li Huanran memekarkan kipasnya dan tertawa kecil dibaliknya. Terlihat sosok mungil adiknya yang imut dulu di tubuh Li An yang sekarang. Waktu begitu cepat berlalu. Anak cengeng yang menangis tersedu-sedu setiap malam itu sudah menjadi pemuda cerdas yang memimpin sebuah serikat besar sekarang. Hati ini jadi merasa rindu, “Soalnya, ada kamu di sini. Kamu kan bakal nangis lagi kalau kutinggal pergi. Makanya, aku nggak bisa pergi.”


“Kakak selalu melihatku sebagai anak kecil,” Li An pura-pura mengeluh, lalu meletakkan kepalanya di meja giok yang sejuk. Ia pun menghela napas. Terintas berbagai bayang-bayang pekerjaan yang akan dipinggulnya esok. Malasnya. Rasanya ingin sekali kembali ke masa lalu. Masa kecil di mana tak ada sesuatu pun yang harus dipikirkan.


“Kamu memang selalu menjadi adik termanisku sepanjang waktu,” Li Huanran mengatubkan kipasnya sehingga tampak sebuah senyum cantik yang menawan di bibirnya. Ia pun menutuk Li An dengan kipasnya. Anggap saja ini pembalasan untuk yang tadi. Ah, bukan. Li Huanran melakukannya untuk mengingatkan Li An agar tidak sembarangan tidur di meja. “Bangunlah! Jangan bermalas-malasan. Nanti kamu jadi gendut.”


“Aku mewarisi gen ideal ibuku, jadi Kakak tidak perlu khawatir,” balas Li An asal. Kepalanya pun dipukul lagi dengan kipas Li Huanran, kali ini lebih keras sehingga ia terpaksa bangun. Dilihatnya seorang dayang datang kepada sang kakak.


“Putra Pangeran Zhizhe ke mari?” Li Huanran memastikan pendengarannya benar. Si dayang pun mengangguk. Tanpa banyak bertanya lagi, Putri Ketiga pun menyuruh dayang itu untuk segera mengizinkan Li Chen masuk.


“Kakak An, Kakak Huanran, lama tak bertemu,” sapa Li Chen akrab. Bocah itu juga sudah tumbuh besar sekarang. Parasnya tampan. Ada aura cendekiawan yang memancar darinya, sama seperti Li An. Dia baru saja selesai dari kelasnya dan langsung meluncur ke mari begitu mendengar kedatangan Li An.


“Kamu masih saja pendek,” ejek Li An dengan senyumannya yang menyebalkan—setidaknya di mata Li Chen.

__ADS_1


“Hmph, aku masih masa pertumbuhan. Lihat saja nanti! Aku bakal lebih tinggi dari Kakak An,” gerutu Li Chen. Tingginya memang masih jauh di bawah Li Huanran. Pertumbuhannya sedikit lebih lambat karena ia lebih suka belajar di rumah, sedangkan Li An yang merupakan rivalnya selalu dipaksa oleh Wang Hongli untuk lari dan latihan pernapasan setiap sore sejak berumur tujuh tahun.


“Omong kosong, dari dulu kamu juga bilang bakal mengalahkanku,” Li An mengingatkan tekad sepupunya itu di masa lalu. Namun, tekad itu tidak juga kesampaian karena Li An terlalu cepat berkembang dalam dunia akademiknya. “Harusnya, kamu fokus dulu ujian tingkat kedua, baru kemudian menimbang ulang untuk menjadikanku rival.”


“Pokoknya lihat saja, aku yang bakal menang pada akhirnya,” Li Chen bersikeras.


“Iya deh, iya,” Li An menjawab pasrah. Sebenarnya, ia tak pernah lagi menganggap Li Chen sebagai rivalnya sejak ia dibimbing belajar oleh Yun Jili, Sang Sarjana Rubah Perak dari Utara. Itu sangat tidak berimbang baginya. Jadi, ia memutuskan untuk mengalah, “Kamu saja menang, oke? Dari sekarang, kamu pemenangnya. Kamu lebih baik daripada aku. Kamu anak pintar, baik hati, dan bijaksana.”


“Jangan memutuskan sembarangan,” Li Chen tidak menerimanya. Mana mungkin ia mau mendapatkan kemenangan yang semu begitu. Itu lebih tepat disebut sindiran daripada penyerahan kemenangan. “Aku yang bakal kasih buktinya. Kakak An jangan sampai meremehkanku.”


“Iya, pasti,” Li An menjawab dengan nada yang santai, tapi serius.


“Gimana kabarnya Mei-Mei?” Li Huanran mengganti topik pembicaraan antara kedua adiknya. Li An dan Li Chen pun menoleh bersamaan. Mereka memang sudah kompak sejak kecil. Li Chen pun menjawab, “Kakak Mei baik-baik saja. Dia bilang, hidupnya di keluarga baru sangat bahagia. Suami dan kerabatnya sangat baik. Oiya, Kakak Mei memberi salam buat Kakak Huanran. Katanya, semoga cepat dapat jodoh.”


“Mei-Mei sungguh perhatian,” Li Huanran memekarkan kipasnya yang digenggam erat, menyembunyikan seringai getir di bibirnya, “Bagaimana dengan si kembar Rou’er dan Xiu’er? Mereka ada di ibu kota kan?”


“Iya, Kakak Roulan dan Kakak Xiulan ada di ibu kota. Mereka jarang keluar dari rumah,” jelas Li Chen, “Mereka pasti akan senang kalau Kakak Huanran berkunjung.”


“Tentu saja,” Li Huanran mengatubkan kipasnya, menunjukkan senyum yang tersungging manis, “Aku pasti akan datang. Ah, aku mungkin akan menemani mereka selama An’er pergi nanti.”


“Ada apa? Siapa yang memanggilku tadi?” Li Rouwei tiba-tiba muncul di antara Li An dan Li Chen. Li Chen sampai kaget dengan kedatangannya. Putra Pangeran Zhizhe itu baru sadar kalau ada putri lain di Paviliun Aixin. Ia juga baru menyadari keberadaan Li Xiang tak lama setelah itu.


“Ah, bukan Rou’er kamu kok, Adik sayang,” Li Huanran mengelus kepala Li Rouwei, “Tapi Li Roulan putri Pangeran Zhizhe.”


“Iya,” Li An yang menjawab. Li Rouwei kembali bertanya, “Kenapa Chen-Chen ke mari? Mau buat masalah juga?”


“Hai! Jangan panggil aku Chen-Chen. Kamu gadis kecil yang nggak tahu sopan santun,” protes Li Chen, “Aku jauh lebih tua darimu.”


“Hmph! Suka-suka aku. Aku kan putri kaisar, kamu putra pangeran,” Li Rouwei memalingkan wajahnya dari Li Chen, tak suka dengan kehadirannya. Kemudian, ia pun naik ke pangkuan Li An dan makan kue kering dengan nyaman di atasnya. “Kakak An, Kapan Kakak berangkat?”


“Belum tahu,” jawab Li An jujur, “Ayahanda kaisar belum memberikan perintahnya. Mungkin Kakak Xiang lebih tahu.”


“Memangnya kamu mau ngapain? Mau numpang sama An-An?” tanya Li Xiang yang baru saja bergabung di saung, “Nggak boleh. Kamu nggak boleh ikut ke Wilayah Utara. Di sana bahaya. An-An, jangan sampai dia ikut kamu.”


“Aku tahu. Aku sudah menolaknya tadi,” ungkap Li An, “Kupastikan dia tidak ikut.”


“Huh …! Dasar Kakak cerewet!” protes Li Rouwei tidak senang. Ia pun merayu Li An, “Kakak An, biarkan aku ikut. Aku akan jadi putri yang baik. Roe’er janji, sungguh. Kakak An jangan dengarkan kakak cerewet.”


Puk!

__ADS_1


“Aduh!?” Li Rouwei tiba-tiba dipukul oleh kakaknya. Pukulan itu cukup keras sehingga membuat kepalanya benar-benar sakit. Ia pun terisak, lalu menangis kencang di pangkuan Li An. Namun, Li Xiang tidak mau mempercayainya sama sekali.


“Kakak nakal!” seru Li Rouwei sambil menangis, “Kepalaku sakit.”


“Heh, kamu kira aku percaya sama air mata palsu,” ucapan Li Xiang membuat Li Rouwei semakin keras menangis dan membentak-bentak. Ia pun berseru mengusir Li Xiang, tapi Pangeran Ketujuh itu tak mau pergi sampai Li Rouwei ikut dengannya.


Li An pun menghela napas. Ia juga jadi korban karena Li Rouwei jadi banyak bergerak sejak tadi. Tangan kecil gadis itu sempat menimpuk kepalanya sebelum melempar sesuatu pada Li Xiang. Li An pun menggunakan jurus kakaknya untuk menangkan Putri Kesembilan. Dipeluknya Li Rouwei dengan hati-hati.


Wajah gadis kecil itu dipalingkan dari Li Xiang agar tidak melihatnya lagi. Dengan tepukan yang lembut di punggungnya, kondisi Li Rouwei berangsur membaik. Li Huanran juga menghela napasnya. Ia pun menasihati Li Xiang untuk lebih peka terhadap emosional adiknya.


“Dia benar-benar menangis,” tegur Li Huanran, “Kamu harus berbaikan dengannya nanti.”


Li Chen terdiam di tengah-tengah mereka. Sejak tadi, keberadaannya seolah menipis, bahkan menghilang. Ia satu-satunya orang yang tak mengerti arah pembicaraan para putri dan pangeran di Paviliun Aixin ini. Pamuda itu hanya mengamati dan memutuskan bahwa Li Xianglah korban sesungguhnya di sini. Sejak awal, Li Rouwei yang membuat masalah lebih dulu. Yah, tapi gadis itu masih kecil dan sangat egois. Bisalah diberi sedikit maklum.


“Ini terkait dengan masalah di Wilayah Utara,” jawab Li Huanran saat Li Chen bertanya, “Li An dan Li Xiang mungkin akan dikirim ke sana.”


“Wah, Wilayah Utara? Aku belum pernah ke sana. Apa aku boleh ikut?” Li Chen tertarik. Orang yang merepotkan pun bertambah satu. Dengan kompak, Li An dan Li Xiang menolak, “Nggak boleh!”


“Kamu fokus dulu sama pendidikanmu,” Li An mengingatkan, “Jangan berpikir ke Wilayah Utara itu sama dengan jalan-jalan. Di sana masih bergejolak sampai sekarang.”


Li Chen sempat menawar beberapa kali. Namun, ia tetap saja ditolak. Pamuda itu pun tidak memaksa lebih jauh. Berbeda dengan dirinya yang lebih dewasa, Li Rouwei mendapatkan sebuah ide yang brilian untuk tetap ikut bagaimana pun caranya. Li Chen pun akan masuk ke dalam siasatnya.


...***...


“Duduklah kalian semua!” titah Kaisar Yung Wei setelah beberapa saat menerima penghormatan dari seluruh menteri dan panglimanya, termasuk para pengeran senior maupun anak-anaknya yang sudah dewasa. Ia pun memulai rapat umum yang amat dinanti-nantikan ini.


“Baginda Kaisar,” seorang panglima dari Keluarga Bangsawan Song angkat bicara, “Ini adalah saat yang paling tepat. Kekaisaran Tang akan mendapat kemenangan yang mudah di Wilayah Utara kali ini. Kerajaan Kiri juga sudah menunggu di bawah komando kita.”


Tidak ada yang menentang. Pada dasarnya, semua keluarga bangsawan menginginkan aneksasi atas Wilayah Utara itu. Apalagi para keluarga yang sejak dahulu berlatar belakang militer. Mereka sudah tidak sabar untuk mengasah pedang.


Walau begitu, diskusi tetap mengalir. Para menteri memaparkan perkiraan mereka terkait hasil dari perang kali ini. Mulai dari kemungkinan terburuk sampai terbaik. Selama tidak ada variabel yang di luar dugaan, Kekaisaran Tang akan tetap mendapat untung baik dalam sisi hegemoni politik, ekonomi, maupun militer.


“Hah … aku tahu. Kita memang tidak bisa melewatkan kesempatan ini,” Kaisar Yung Wei pun memberi lampu hijau. Ia menunjuk beberapa jenderal untuk menyiapkan pasukan. Para menteri dan diplomat juga disiapkan untuk melancarkan ambisinya. Ini adalah cita-cita yang diinginkan oleh kaisar terdahulu sejak lama. Mereka akan memperbesar kembali teritori wilayah kekaisaran.


Li An dan Li Xiang benar-benar ikut dalam ekspedisi ini. Li Xiang akan terjun ke medan perang secara langsung bersama para jenderal dari keluarga bangsawan, sedangkan Li An akan ditugaskan dengan beberapa sarjana dan menteri untuk mengondisikan daerah di sekitar sana. Mereka akan banyak bernegosiasi dengan Kerajaan Kiri nantinya.


“Semoga perang ini cepat berlalu,” gumam Li An di malam harinya. Seperti biasa, ia menatap langit dari dalam kamarnya. Langit itu cerah dan berbintang indah. Rasanya, sulit dipercaya kalau sebentar lagi akan terjadi perang.


Li An pun membaringkan tubuh di ranjang. Namun, ia tak bisa juga memejamkan mata. Berbagai masalah memenuhi benaknya. Seandainya ia tidak mendapat panggilan dari ayahnya, harusnya ia sudah berada di sebuah kota yang dekat dengan Wilayah Utara sekarang. Serikatnya di sana menemui berbagai hambatan. Sudah jelas ini sangat berkaitan dengan kondisi Wilayah Utara yang sedang bergejolak.

__ADS_1


“Hah … apa yang harus kulakukan nanti?” keluh Li An di tengah-tengah keheningan malam. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, berharap dapat segera tidur dan melupakan semua masalah ini untuk sementara.


Namun, ia tetap saja tak dapat tidur. Ia pun memutuskan untuk bangkit dan pergi ke luar mencari angin malam sebentar. Untung bulan sedang terang malam ini. Cahayanya begitu menawan memanjakan bumi.


__ADS_2