
“Bertahanlah, Pangeran!” ucap Wang Hongli yang mulai tertatih-tatih melangkah, “Kita sudah cukup jauh dari mereka. Kita akan beristirahat sebentar lagi.”
Li An yang terkena tiga anak panah di tubuhnya tak menjawab sama sekali. Ia sudah kehabisan banyak darah selama perjalanan. Badannya lemas tak bertenaga. Setiap detik, tubuhnya terasa sakit karena ketiga anak panah yang menusuk itu.
Senja berganti malam. Ketika sinar mentari terakhir tampak di ufuk barat, hujan turun menimpa bumi. Wang Hongli mengeluh dalam hati. Kondisinya jadi semakin buruk karena hujan yang turun tiba-tiba ini.
“Adakah yang membawa makanan?” tanya Wang Hongli pada ketiga kawannya yang berhasil ikut kabur untuk melindungi Pangeran Kedelapan. Ketiga pendekar itu terdiam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berpikir untuk membawa daging hasil buruan sedangkan mereka tengah dikejar musuh.
“Hah … kita akan mencarinya besok,” pada akhirnya, Wang Hongli hanya dapat menghela napas. Hari sudah gelap. Malah berbahaya bagi mereka jika melanjutkan perjalanan tanpa arah di kegelapan. Mencari makanan sekarang pun tidak mungkin bisa dilakukan.
“Sayang sekali, tabib kita tewas di medan pertempuran,” gumam Wang Hongli lirih. Ia sudah melepas tiga anak panah yang tadinya bersarang di tubuh Li An. Dengan kain pakaiannya yang tebal, ia menutup luka Li An agar tidak terjadi perdarahan yang hebat. Padahal, ia sendiri juga sedang terluka. Fisik pendekarnya yang terlatih membuat ia bisa bertahan lebih baik.
“Kalian beristirahatlah dahulu,” ucap Wang Hongli pada dua orang pendekar yang sudah tampak lesu dan mengantuk, “Ma Yuan, berjagalah denganku. Kita akan bergantian nanti.”
“Baik, Ketua,” pemuda bernama Ma Yuan itu mengangguk, sedang dua pendekar lainnya bergegas tidur. Udara dingin menusuk kulit. Hujan yang deras tetap tak mampu mengganggu jiwa yang lelah untuk tidur. Setelah cukup lama keheningan menguasai sekitar, Ma Yuan pun buka suara dan bertanya pada Wang Hongli, “Ketua, ke mana kita akan pergi setelah ini? Ibu Kota Khagan pasti sedang kacau. Apa kita akan berjalan kaki kekaisaran? Pasti memakan waktu berbulan-bulan untuk sampai.”
“Kamu benar. Jili pasti sedang kerepotan di Ibu Kota Khagan sekarang. Namun, bocah yang cerdik itu pasti punya siasat untuk melalui semua masalahnya,” Wang Hongli tersenyum simpul, tapi kegelapan menutupinya, “Tidak ada pilihan lain. Kita memang harus kembali ke kekaisaran bagaimanapun caranya. Semoga Pangeran Agung dapat selamat sampai kita di sana.”
__ADS_1
Ma Yuan mengajukan beberapa pertanyaan lagi sebelum akhirnya terdiam. Ia tahu bahwa akan ada saatnya ia tertimpa masa-masa sulit sebagai pendekar. Seperti saat ini contohnya. Di masa depan, ia mungkin akan menghadapi situasi yang lebih mencekam lagi. Karena itu, ia harus bisa bertahan.
Hujan turun sangat lama. Dingin yang menusuk dalam menyerang Wang Hongli dan kawan-kawannya. Tidak ada kata menyerah. Mereka harus bisa bertahan dan membawa Li An kembali ke kekaisaran.
Begitu hujan reda, Wang Hongli membangunkan dua pendekar yang sudah beristirahat untuk bergantian berjaga. Ia pun merebahkan tubuhnya. Seketika itu pula, ia tenggelam di alam bawah sadarnya.
***
Qin Guang segera memacu kuda begitu perang berkecamuk. Sesuai rencana, ia harus melaporkan kekacauan ini pada menteri tinggi yang telah Xiao Chyou sebutkan. Melalui menteri tinggi itu, informasi akan segera sampai kepada Kaisar Yung Wei sehingga pasukan pembalas akan lekas dikirimkan.
Dengan kuda tercepat sekalipun, Qin Guang membutuhkan waktu sebulan lebih untuk sampai di kekaisaran. Itu karena ia bergerak tanpa pemandu dan sempat tersesat beberapa kali. Begitu ia sampai di gerbang ibu kota dengan kondisi yang amat lusuh, komandan penjaga gerbang langsung menghalangi jalannya.
“Tunjukkan tokenmu!” pinta komandan penjaga gerbang tegas. Ia orang yang taat pada prosedur keamanan—kecuali kalau ada cukup banyak fulus yang dia dapat untuk minum.
“Token saya jatuh di perjalanan. Uang saya juga sudah habis,” Qin Guang berkata sejujur-jujurnya. Ia mengumpat dalam hati. Sebagai seorang bangsawan yang suka menyelesaikan masalah dengan uang, ia tahu sifat asli komandan berperut buncit itu.
“Kalau begitu, Anda tidak bisa lewat,” si komandan menggeleng dan berpaling dari Qin Guang. Sikapnya itu membuat Qin Guang tersinggung. Ia berniat untuk balas dendam ketika dirinya sudah sampai di rumah nanti.
__ADS_1
“Oh, bukankah itu Tuan Muda Qin?” seorang pria berpakaian mewah yang kebetulan lewat menjadi kesempatan bagi Qin Guang, “Tuan Muda, bukankah seharusnya Anda masih di Ibu Kota Khagan?”
“Itulah masalahnya!” Qin Guang langsung berseru, “Aku harus segera melapor pada Baginda Kaisar. Ini berkaitan dengan Pangeran Kedelapan dan delegasi yang ada di Tarkan.”
“Hm, ikutlah denganku,” ucap pria bangsawan berbaju bagus itu. Komandan buncit yang tadinya berniat mengusir Qin Gaung segera menjura. Ia tak pernah menyangka bahwa pria berbaju lusuh itu adalah tuan muda dari Keluarga Qin.
Qin Guang tidak sempat melapor ke menteri tinggi karena kondisinya. Ia malah langsung dibawa menghadap kepada Kaisar Yung Wei karena kabar yang dibawanya. Begitu ia melapor, dilihatnya amarah yang membara pada diri sang kaisar.
“Periksa kebenaran berita itu!” titah Kaisar Yung Wei pada menterinya, “Persiapkan pasukan di perbatasan. Kalau berita ini benar, kita akan langsung menyerang mereka yang sudah lancang mencelakai delegasi kekaisaran. Kalau berita ini bohong, maka Tuan Muda Qin akan mendapat akibat yang pedih.”
“Ha!” para menteri dan panglima segera menjawab perintah kaisar, sedangkan Qin Guang berlutut terpaku di tempatnya. Berita ini sudah cukup lama. Ia tidak tahu benar bagaimana kondisi di Kekhaganan Tarkan sekarang.
Sehari kemudian, utusan resmi dari Yun Jili selaku penasihat Pangeran Kedelapan sampai di ibu kota. Laporan dari utusan itu mengonfirmasi semua berita yang dikabarkan oleh Qin Guang. Tak hanya Pangeran Kedelapan menghilang, para anggota delegasi bahkan ditahan oleh Ertamis Khagan.
Kaisar Yung Wei semakin murka mendengar kabar itu. Padahal, beberapa hari lalu ia kegirangan saat mendapat kabar baik dari delegasi yang datang lebih awal. Ia pun memerintahkan panglima-panglima terbaiknya yang ada di ibu kota untuk mempersiapkan pasukan yang lebih banyak. Mereka akan menuntaskan urusan dengan kekhaganan secepatnya.
Berita duka itu menyebar cepat ke penjuru ibu kota, termasuk kepada Keluarga Putri Kecil yang kebetulan sedang ada di sana. Akan tetapi, ketidakjelasan berita itu masih memberi sedikit harapan. Yah, sedikit harapan bahwa Pangeran Kedelapan masih selamat. Entah benar atau tidak, Putri Kecil hanya dapat memperbanyak doanya setelah mendengar berita itu.
__ADS_1
“Anda tidak perlu risau, Tuan Putri,” Mimi yang masih menetap di Kediaman Putri Kecil menghibur dengan lembut. Padahal, ia sendiri juga sedang gelisah akan keselamatan pangeran dan suaminya. “Utusan itu dikirim resmi oleh suami saya. Itu berarti, beliau masih selamat. Beliau pun pasti sudah bergerak untuk mencari Pangeran Agung meski dengan dirinya sendiri.”
“Benar,” Putri Kecil menyungging senyum kecil yang mengandung kepedihan, “Semoga dia selamat di dunia dan di akhirat.”