Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 50: Kapan Kakak Berangkat ke Guangzhou?


__ADS_3

Diskusi tetap dapat selesai dengan tenang meskipun Kaisar Yung Wei sempat marah. Mungkin saja sang kaisar ingin memberi muka pada Ali dan rombongannya. Mungkin juga karena Li An terlibat di dalamnya. Bisa jadi pula karena Li Huanran angkat bicara di akhir sesi. Jadi, Kaisar Yung Wei berbaik hati untuk memaafkan perdebatan Pangeran Kedelapan dan Tuan Muda Liu.


Di hari berikutnya, Li Huanran pergi ke Istana Pangeran Zhizhe, pamannya yang telah lebih dulu masuk Islam. Kebetulan saat itu ada Li Mei dan keluarganya. Ada juga Li Roulan, Li Xiulan, dan Li Chen, serta adik mereka yang masih kecil. Nyonya Lu dan Nyonya Chu pun menyambut kedatangannya juga.


"Wah, akhirnya Kakak Huanran akan menikah," seru Li Mei dengan riangnya seperti biasa, "Semoga sakinah, mawaddah, wa rahmah."


"Apa?" Li Huanran tak mengerti maksud perkataan Li Mei.


"Bukan apa-apa," Li Mei yang tengah memangku putranya tersenyum simpul. Ada lesung pipit yang menambah keayuannya. Senyumnya yang biasanya terlihat usil jadi lebih baik sekarang. "Aku hanya berharap semoga rumah tangga Kakak nanti selalu diberi ketenangan, cinta, dan kasih sayang yang tulus."


"Kakak Huanran," Li Xiulan mengambil tempat duduk di samping Li Huanran, "Semoga bahtera rumah tangga Kakak nanti senantiasa terjaga dengan baik."


"Yah, tentu saja," Li Huanran membalas dengan senyuman simpul. Sejak dulu, dia memang sudah akrab dengan putri kembar dari Pangeran Zhizhe, apalagi Li Xiulan. Mereka sudah seperti kakak adik kandung sendiri.


"Kakak," Li Roulan mengambil tempat duduk di samping Li Huaran yang lain. Berbeda dengan yang lain, putri kedua Pangeran Zhizhe itu mengucapkan selamat pada Li Huanran karena sudah masuk Islam. Ia pun menutup ucapan selamatnya dengan berkata, "Mari kita saling berlomba dalam beramal saleh, menasihati dalam kebaikan, dan juga menasihati dalam kesabaran."


Utusan dari Kedutaan Khilafah juga datang ke Istana Pangeran Zhizhe hari itu. Di antaranya ada Zainab dan beberapa gadis Arab. Mereka mengucapkan selamat pada Li Huanran dan mendoakannya.

__ADS_1


"Selamat, Kakak Huanran," Zainab yang pertama memberi ucapan selamat di antara gadis-gadis Arab. Ia adalah yang paling akrab dengan Putri Ketiga sampai diizinkan memanggil Li Huanran seperti memanggil kakaknya sendiri.


"Terima kasih, Zainab," Li Huanran menyambut ucapan selamat itu dengan senang hati, "Sambutan kalian membuatku amat terharu."


Saat para wanita sedang mengobrol ria, para pria pun juga tengah berbincang bersama di ruangan lainnya. Di sana ada Li An, Li Chen, Ali, dan Uwais, serta beberapa pria lainnya. Topik yang tengah mereka perbincangkan pun tak jauh berbeda.


"Bagaimana dengan orang itu?" tanya Li Chen tiba-tiba. Orang yang ia maksud adalah Liu Hao. Meskipun Li An tak pernah menceritakannya, selalu ada informasi dari sumber lain yang bisa Li Chen dapatkan.


"Dia pantang menyerah," jawab Li An. Wajahnya yang biasanya tenang dan datar terlihat kesal sekarang. Selama beberapa hari ini, Liu Hao selalu berusaha untuk bisa bertemu dengan Li Huanran. Jelaslah Li An langsung menolaknya mentah-mentah. "Dia selalu datang setiap hari dengan bermacam hadiah. Dasar tak tahu malu! Apa dia berniat melamar gadis yang akan menikah?"


"Itu mengkhawatirkan," Uwais turut berkomentar, "Tuan Muda Liu itu sepertinya sangat terobsesi dengan Tuan Putri Ketiga."


"Ali," Uwais kini menoleh kepada Ali, "Kamu harus menjaga Tuan Putri Ketiga baik-baik."


"Tentu saja," Ali mengangguk. Sebenarnya, ia tak kalah kesal mendengar cerita mengenai Liu Hao yang Li An sampaikan. Namun, ia masih bisa menjaga muka dengan baik. Jika pemuda dari Keluarga Liu itu masih berani mengganggu Putri Ketiga setelah menjadi istrinya nanti, ia tak akan segan-segan pada orang tak tahu malu itu.


"Kapan Kakak berangkat ke Guangzhou?" tanya Li Chen penasaran, "Apa Kakak akan ikut bersama kami?"

__ADS_1


"Rencanaku begitu," Li An mengangguk, "Akan lebih baik kalau kita berangkat bersama-sama. Aku juga sudah minta izin pada Paman Fengying."


"Benar, lebih baik kalian ikut bersama kami," Li Chen jadi semangat, "Oiya, bocah itu juga bilang padaku kalau dia mau ikut juga."


"Siapa?" tanya Li An penasaran.


"Rou'er," jawab Li Chen dengan wajah yang seolah terbebani, "Dia merengek ingin ikut kemarin."


"Apa Permaisuri Zhouyi akan mengizinkannya lagi?" Li An sedikit ragu. Karena berjalan kali ini tidak berbahaya sama sekali, ia tak akan melarang Li Rouwei untuk ikut . Lagi pula, Putri Kesembilan itu pasti akan bisa mendapat banyak pengetahuan bagus selama perjalanan, sama seperti saat mengembara ke Wilayah Utara kemarin.


"Entahlah," Li Chen mengangkat bahu tak peduli, "Dia mungkin akan berusaha kabur seperti kemarin dulu kalau tidak diizinkan."


"Kemungkinan besar diizinkan sih," Li An menatap cangkir pocinya yang mulai dingin, "Ini kan bukan perjalanan berbahaya. Baginda Kaisar pasti juga tidak melarangnya."


"Hm, baiklah," Li Chen pun tak berniat untuk melarang sepupu kecilnya itu, "Tapi Kakak An yang harus menjaga dengan baik. Jangan sampai bocah itu mengacaukan pernikahan Kakak Huanran."


"Aku tahu," Li An mengangguk paham, "Mimi dan Kak Jili pasti bisa membantu kita untuk menjaganya dengan baik."

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu," Li Chen bernapas lega. Ia baru saja membayangkan betapa rewelnya Li Rouwei jika ikut bersama mereka. Jika ada Mimi dan Yun Jili, gadis itu pasti akan sedikit lebih tenang.


__ADS_2