
"Kamu beneran jadi ikut dalam delegasi, ya?" tanya Li Bei memastikan kemantapaan adiknya yang masih belum melaksanakaan upacara kedewasaan, tapi punya legitimasi dengan kapasitasnya sebagai Sarjana Termuda. Li An pun menoleh pada Pangeran Keempat. Ia mengangguk sekilas tanpa membuka mulut sedikit pun.
"Kakak Bei, jaga An'er baik-baik," tegas Li Huanran serius. Ia telah mengatakan hal itu berulang kali sejak kemarin. Li Bei sampai bosan mendengarnya. Sebagai kepala delegasi, ia memang yang paling bertangung jawab atas rombongannya. Tanpa Li Huanran ingatkan pun, ia pasti akan tetap menjaga adiknya ini dengan baik.
"Bukannya sudah kubilang? Kamu nggak perlu khawatir," Li Bei menepuk pundak Putri Ketiga, "Kalaupun aku tidak ada di sampingnya, ada Pendekar Cenangkas Kembar yang mengawalnya. Lagian, dia bukan anak kecil lagi."
"Benar," Li An pun mendukung pendapat Pangeren Keempat. Sebenarnya, ia tidak akan protes jika Li Huanran menganggapnya sebagai adik kecil di tempat yang privasi seperti di rumah Selir Shu semalam. Namun, lain kata jika Li Huanran melakukannya di tempat umum seperti halaman Istana Kebahagiaan Abadi ini.
"Kakak An, hati-hati di jalan," di antara keluarga Pangeran Zhizhe, hanya Li Chen dan salah seorang adiknya yang mengantar kepergian Li An. Mereka berdua kompak meminta buah tangan dari Pangeran Kedelapan itu. Hubungan mereka sangat dekat sebagai saudara sepupu.
"Kakak An, jangan lupa," ucap Li Xiao, adik Li Chen yang paling dekat. Pewaris Pangeran Zhizhe itu memiliki dua adik kandung sekarang. Satu laki-laki, satu perempuan. Li Xiao ini masih tujuh tahun, sedikit lebih muda dari Putri Kesembilan, sedangkan adik bungsunya yang perempuan masih berada dalam buaian.
"Tentu saja, selama aku pulang dengan utuh, aku akan membawakannya untukmu," balas Li An dengan secarik senyum tipis. Kata-katanya yang terdengar pesimis itu langsung ditanggapi oleh Li Huanran, “An'er! Kamu harus pulang segera! Pokoknya kamu harus pulang dengan selamat. Nggak usah ikut-ikutan maju ke medan perang."
"Yah ...," Li An menggantungkan jawabannya, berniat menggoda sedikit kakak tersayangnya itu, "Siapa yang tahu? Barangkali ada penyusup yanng masuk ke Istana Kerajaan Kiri. Kita kan nggak bisa meramal masa depan."
"Tuk!"
Li Huanran reflek menyentill dahi adiknya yang ringan lidah itu, bercakap tak ada duganya, membuat orang lain khawatir padanya. Ia pun melotot pada Li Bei, lantas mengecamkan sekali lagi, "Kakak Bei, jangan biarkan An'er terluka sedikit pun!"
"Hah ...," Li Bei menghela napasnya heran. Ia sendiri tidak pernah diperhatikan sedalam itu oleh adik perempuan kandungnya ini. "Anak di bawah umur tidak akan dikerahkan ke medan perang. Dia pasti akan aman di Istana Kerajaan Kiri. Kamu jangan cemas lagi."
“Benar, Tuan Putri,” Wang Hongli selaku kepala pengawal Pangeran Kedelapan angkat bicara, “Anda tidak perlu risau. Kami pasti melindungi Pangeran Kedelapan dengan segenap jiwa dan raga kami.”
Meskipun Li Bei dan Wang Hongli sudah berkata demikian, Li Huanran tetap saja merasa gelisah. Padahal, kemarin dia masih biasa-biasa saja. Entah mengapa ada sesuatu yang membuat firasatnya memburuk. Ia jadi tidak bisa tenang sejak pagi ini.
“Kakak, aku hanya akan melakukan tugasku sebagai duta kehormatan di Kerajaan Kiri,” Li An pun turut menjamin keselamatannya sendiri. Ia sudah cukup puas melihat kekhawatiran Li Huanran atas dirinya. “Kakak Xiang dan pangeran-pangeran lain yang akan maju secara langsung ke medan perang. Mereka pasti bisa menyelesaikannya dengan baik dan cepat.”
Li Huanran menarik napasnya pasrah, berusaha memercayai perkataan adiknya. Yah, walaupun sebenarnya itu tidak perlu diragukan lagi. Dengan kualitas dan kuantitas pasukan Kekaisaran Tang yang besar, mereka pasti akan menang dengan mudah.
Putri Ketiga pun memeluk Li An dengan erat seakan masih tak rela berpisah dengannya. Untuk yang satu ini, Li An tidak merasa sungkan atau malu dengan kakaknya. Pemandangan yang penuh kasih sayang itu cukup jarang dilihat di lingkungan istana. Para bangsawan cenderung lebih peduli dengan harga dirinya dibanding daripada apa yang disebut sebagai hubungan kekeluargaan itu.
Di tengah pelukannya, Li Huanran mengulang beberapa pesan yang sejak kemarin telah diucapkannya. Ia pun menyampaikan salam dari Putri Kecil sebelum melepaskan pelukannya. Li An hanya tersenyum tipis menanggapi pesan itu. Baginya, tak ada yang lebih spesial daripada kasih sayang yang kakaknya berikan. Seandainya Selir Ai masih ada, pasti posisi Li Huanran itu ada pada ibundanya.
"Oiya, kudengar Rou'er sedang sakit," Li An teringat kabar yang sampai padanya pagi ini, "Hais ... padahal dia ngotot sekali ingin ikut ke Wilayah Utara sebelumnya. Kakak, titipkan salamku padanya."
"Tentu," Li Huanran tersenyum simpul. Ia pun tidak menyangka bahwa Li Rouwei sedang sakit pagi ini. Sebelumnya, ia pikir Putri Kesembilan yang sangat usil itu akan mengusik keberangkatan Li An.
"Kakak Bei, ada teman yang ingin kukunjungi," ucap Li An setelah sekali lagi pamit pada Li Huanran, "Aku akan bergabung dengan delegasi sebelum ke luar ibu kota."
__ADS_1
"Pergilah! Pastikan kamu tidak terlambat nanti," balas Li Bei enteng. Ia sudah tahu teman yang Pangeran Kedelapan maksud itu. Li An pun mengajak Wang Hongli pergi dari Istana Kebahagiaan Abadi. Mereka berkuda menuju sebuah bangunan besar yang megah di pusat kota. Di sana, Li An langsung disambut dengan hangat oleh seorang pria tua.
"Pangeran Kedelapan, selamat datang di Penginapan Benua-Samudra," sambut pria tua itu. Penginapan Samudra adalah tempat favorit orang-orang asing menginap selama di ibu kota kekaisaran. Karena kebanyakan tamunya adalah orang-orang asing yang datang dari seberang benua dan semudra, penginapan itu pun dinamai Penginapan Benua-Samudra. Mereka telah terafiliasi dengan Serikat Dagang Fuli sehingga mayoritas anggota kafilah yang bekerja sama dalam serikat pun juga singgah di sini. Ada perlakuan khusus yang mereka dapat sebagai anggota serikat.
Li An dan Wang Hongli berjalan naik ke lantai dua. Di sana terdapat sebuah restoran tempat para tamu makan dan bersantai. Seorang pemuda dari negeri asing telah menunggu Li An di sana. Pemuda itu melambaikan tangannya begitu melihat Li An sampai di ujung tangga.
"Pangeran, terima kasih sudah berkenan menerima undangan saya sebelum Anda berangkat," ujar pemuda itu yang tak lain adalah Ali. Saat ini, ia menjabat sebagai duta muda dari Khilafah. Sebagai anak keturunan Arab yang telah tinggal selama bertahun-tahun di tanah Kekaisaran Tang, ia dipercaya untuk mengurus berbagai hal yang terkait dengan hubungan kedua negara, terutama dalam bidang perdagangan. Dalam hal ini, Li An adalah kolega terbaiknya.
“Aku tak punya banyak waktu,” balas Li An dengan ekspresi datarnya yang biasa. Sebenarnya, ia sudah pernah meminta Ali untuk menghilangkan formalitas di antara mereka, tapi Ali tidak pernah mengindahkannya sama sekali. Li An pun tak pernah menekankannya. “Katakan saja pesan yang ingin kamu sampaikan.”
“Ah, sebenarnya saya hanya ingin mengobrolkan beberapa hal ringan dengan Anda. Konflik di Wilayah Utara pasti akan memakan waktu yang cukup lama. Kita tidak akan mudah bertemu dalam rentang waktu itu,” Ali tersenyum maklum dengan sifat dingin pangeran di hadapannya, “Saya harap, komunikasi dan koordinasi di antara kita tetap berjalan dengan lancar dalam situasi yang serius ini.”
“Aku tidak bisa menjamin hal itu. Lebih baik kamu menghubungi para direksi serikat jika ingin menghubungiku mengenai urusan perdagangan,” Li An pun meminum teh yang tersedia di meja. Baunya yang harum menjadi daya tarik tersendiri dalam Penginapan Benua-Samudra ini. Ali pun terkekeh, “Saya mengerti pasal itu. Syukurlah segalanya berjalan lancar sampai saat ini.”
“Bagaimana kamu bisa selalu santai seperti itu?” tanya Li An sembari melihat ke luar jendela. Iring-iringan rombongannya akan terlihat dari sini saat berangkat nanti, “Hidupmu seolah ringan tanpa beban sama sekali.”
“Itu karena saya menikmati hidup dengan bersyukur kepada Tuhan,” jawab Ali dengan senyum semringah di wajahnya, “Kami selalu diajarkan untuk bersyukur sejak kecil karena dengan bersyukur, nikmat yang kami dapat akan senantiasa bertambah, termasuk kebahagiaan dalam hidup.”
“Kamu beruntung,” Li An tersenyum getir. Hatinya bergetar saat itu. Ada dorongan yang timbul di sana, tapi ada juga keragu-raguan yang merasuk dalam dada. Ia pun malah berdalih demi menampik semua gejolak dalam kalbunya, “Andai aku bisa memilih tempatku dilahirkan, pasti aku akan memilih bumi yang paling terang. Kehidupan mewah di mahligai emas itu hanyalah kefanaan. Tidak mungkin aku menikmatinya di tengah persaingan dingin antarkeluarga. Padahal, keluarga itu sendiri lebih berharga daripada harta apa pun.”
“Pangeran, bukankah Anda memiliki keluarga yang solid dan hangat?” Ali bisa mengerti maksud sahabatnya. Namun, ia melihat dari sudut pandang yang berbeda, “Anda bahkan tak memerlukan kepekaan yang muluk untuk menyadarinya.”
...***...
“Chen-Chen, kamu terlambat lagi,” gerutu Li Rouwei begitu Li Chen sampai di hadapannya. Ia menggelembungkan pipi. Kedua tangannya berkacak pinggang. Tingkah lakunya yang egois dan arogan itu tak juga berubah, “Aku sudah lama menunggumu.”
“Aku harus mengantar Xiao’er dulu,” jelas Li Chen tak terima diprotes, “Kamu kira aku bisa buru-buru.”
“Hmph! Kamu selalu beralasan,” Li Rouwei tak menerima argumen lawannya, “Ayo cepat jalan.”
“Cih, dasar Putri Cerewet!” Li Chen pun mengikuti putri kecil yang sudah duluan melangkah itu, “Sebenarnya, kenapa akum mau menerima tawaran konyolmu ini.”
“Apa kamu bilang? Kamu sendiri juga mau ikut sama Kakak An kan?,” Li Rouwei berbalik. Langkahnya jadi terhenti karena itu, “Nggak usah banyak protes. Jalankan saja rencananya! Aku kan juga sudah berbaik hati menerima idemu.”
“Ini nggak sesederhana itu!” Li Chen menjambak anak rambutnya. Ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Jika rencana ini gagal, ia pasti akan mendapat hukuman yang berat. Apalagi kalau sampai Li Rouwei terluka.
"Sudah, jangan banyak omong. Ayo cepat ke sana," seru Li Rouwei kesal dengan tingkah partnernya yang pesimis itu. Li Chen pun mengangguk dan berbisik lirih, "Benar, kita harus bergegas."
"Hai! Chen-Chen, kamu ngapain?" protes Li Rouwei saat tiba-tiba Li Chen menarik lengannya untuk melangkah lebih cepat. Li Chen malah menyuruhnya untuk diam dan terus mempercepat langkah. Firasatnya memburuk begitu sampai di keramaian pusat ibu kota.
__ADS_1
Li Chen merasakan ada yang sedang mengikuti mereka. Entah itu orang dalam istana atau pihak-pihak luar yang tidak terduga. Semuanya sama-sama berbahaya kalau mereka benar-benaar mengincar Putri Kesembilan dan dirinya.
"Rou'er, jangan lihat ke belakang," kata Li Chen yang malah membuat Li Rouwei penasaran dan menoleh. Putri kecil itu pun bertanya dengan polos, "Memangnya ada apa di belakang?"
"Kubilang jangan menengok ke belakang," Li Chen menekankan. Firasatnya semakin buruk. Jantungnya berdetak kencang tanda gelisah. Ia jadi menyesal telah termakan ajakan gadis kecil yang nakal ini.
"Mereka semakin dekat," bisik Li Rouwei yang mulai mengerti situasinya, "Chen-Chen, cepat cari jalan kabur sebelum mereka menangkap kita."
"Memangnya kamu kenal dengan mereka?" tanya Li Chen penasaran. Ia masih berusaha untuk bersikap tenang, tapi hatinya tak dapat diajak berkompromi. Li Rouwei pun menjawab, "Nggak, mereka pasti penguntit. Ayo lebih cepat."
"Aku tahu," balas Li Chen dengan suara setengah tertahan. ia pun menarik Putri Kesembilan masuk ke persimpangan yang ramai. Ada berbagai kedai di sana. Mereka langsung masuk ke salah satu kedai pakaian yang paling ramai.
"Tuan Muda, Nona Muda, selamat datang di toko kami," sambut seorang gadis pelayan dengan penuh hormat. Namun, Li Chen dan Li Rouwei tidak memperhatikannya sama sekali. kedua bocah nakal itu langsung menyeleweng masuk sampai membuat si gadis tertegun.
"Pangeran Chen, Putri Kesembilan, ternyata Anda berdua ke mari," suara seorang pria membuat bulu kuduk Li Chen dan Li Rouwei sontak berdiri. Keduanya pun langsung mematung seakan tak dapat bergerak sama sekali, bahkan untuk kabur atau sekadar membalikkan badan.
"Kakak Yun, aku tidak melakukan apa-apa. Kami hanya jalan-jalan biasa," ucap Li Chen setelah berhasil memberanikan diri menoleh. Yun Jili yang ada dihadapinya pun mengerutkan kening. Sarjana Ruba Perak itu lantas berkata, "Hm? Benarkah begitu? Bukankah Putri Kesembilan sedang sakit pagi ini? Bagaimana Anda bisa membawa tuan putri yang sedang sakit jalan-jalan? Lagi pula, bagaimana seorang pangeran dan putri kecil seperti Anda berdua bisa pergi ke luar istana tanpa pengawasan?"
"Em ... itu ...," mulut Li Chen hendak berbohong lagi, tapi hati terdalamnya menghalangi. Ia hanya dapat terdiam seribu bahasa dalam posisi ini. Mentalnya langsung runtuh begitu dicecar dengan pertanyaan oleh sang sarjana yang terkemuka.
"Wah, apa Tuan Putri datang ke mari untuk memilih sendiri pakaian hangatnya?" Mimi yang tiba-tiba muncul kembali membuat kedua bocah itu terkejut, terutama Li Rouwei. Ia merasa janggal dengan pertanyaan yang Mimi lontarkan.
"Aku, aku ...," Li Rouwei pun tak kuasa berbohong.
"Tuan Putri tidak perlu sungkan. Mari ikut saya memilih pakaian yang Anda suka," ucap Mimi mempersilakan. Li Rouwei yang masih tegang dan bingung hanya menurut saja. Ia pun pergi meninggalkan Li Chen bersama Yun Jili sendirian.
"Jadi, Pangeran," panggil Yun Jili dengan seringai di wajahnya, "Bagaimana Anda akan memberikan penjelasan?"
...***...
"Kakak Kaisar, kenapa Anda tidak mengatakannya saja pada Rou'er kalau Anda mengizinkannya pergi ke Wilayah Utara?" tanya Li Fengying yang tengah menemani Kaisar Yung Wei mengamati persiapan rombongan delegasi ke sekutu mereka, Kerajaan Kiri. Sebagai Menteri Urusan Luar Negeri, ia juga ikut mengurus keberangkatan ini.
"Bukan begitu, Zhizhe. Sejujurnya, aku akan lebih tenang kalau Rou'er tidak ikut. Itu karena Zhouyi mengizinkannya. Rou'er terus merengek sejak kemarin. Dia bahkan sampai berani berbohong dan menyogok tabib yang memeriksanya untuk memalsukan diagnosis. Mungkin Zhouyi ingin memberinya sedikit pelajaran," Kaisar Yung Wei menggeleng. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia bersyukur karena hubungannya dengan Li Fengying tidak terputus begitu saja meskipun mereka telah berbeda keyakinan. Tidak ada yang lebih ia percayai di keluarganya selain Pangeran Zhizhe ini, adiknya yang paling cerdas memahami segala sesuatu.
Beberapa tahun yang lalu, Keluaarga Pangeran Zhizhe sempat membuat gempar Kekaisaran Tang. Kedekatannya dengan orang-orang Arab membuat Menteri Urusan Luar Negeri itu memeluk agama yang datang dari jauh dan meninggalkan agama leluhurnya. Tentu saja itu sempat membuat para bangsawan geram. Untungnya, Kaisar Yung Wei dapat bertindak bijak sehingga Li Fengying yang cerdas tidak harus diasingkan dari negerinya.
"Hah ... putraku sendiri juga sudah berbuat kesalahan. Aku harus mendidiknya lebih baik setelah urusan Wilayah Utara ini selesai," ucapan Li Fengying itu malah membuat Kaisar Yung Wei terkekeh, "Zhizhe, Chen'er memang telah melakukan kesalahan besar. Namun, Kesalahan Rou'er bahkan lebih besar. Itu karena semangatnya yang membara untuk melihat dunia luar. Sebaiknya, kita memberi pelajaran yang tepat untuk dapat mendidik mereka dengan baik."
"Tentu, Kakak Kaisar," Li Fengying mengangguk takzim.
__ADS_1