Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 065: Gunting dalam Lipatan


__ADS_3

Mentari bersinar terik di ufuk terbitnya. Langit cerah menunjukkan kebahagiaannya. Angin berhembus sepoi-sepoi membawakan udara hutan yang segar. Selepas sarapan singkat, para pemburu berbaris di satu tempat yang lapang.


“Kita akan mulai perburuannya hari ini,” seru Otugai yang merupakan kepala penyelenggara perburuan ini. Ia yang mengajak orang-orang untuk berburu, tentu ia yang harus bertanggung jawab penuh untuk mensukseskannya. “Tidak ada aturan khusus. Buru saja hewan yang kalian temui! Mau itu rusa, banteng, singa, atau bahkan beruang. Terserah kalian. Kalian bisa memburunya selama kalian bertemu dengan hewan-hewan itu.”


Otugai berhenti sejenak. Pandangannya menyapu barisan para pemburu dari sepuluh suku anak panah ditambah delegasi kekaisaran. Panji-panji mereka terpancang tinggi seolah berusaha mencabik-cabik langit. Pada setiap panji itu, tergambar kewibawaan dari masing-masing kelompok.


“Wahai Para Pemberani!” seru Otugai dengan lantangnya. Tangan kekarnya diangkat ke langit dengan menjunjung busur panah. Ia berteriak memberi semangat pada para pemburu, “Tunjukkan kemampuan terhebat kalian! Tunjukkan bahwa kalian adalah orang-orang paling berani dari suku kalian! Bawakan buruan terbaik! Mari tunjukkan bahwa dirimu adalah pejuang sejati!”


“Ho …!!!” para pemburu berseru semangat mendengar orasi itu. Mereka makin tak sabar untuk berburu. Darah yang terkandung dalam badan seolah mendidih oleh semangat pertempuran.


“Pergilah ke seluruh penjuru! Ingatlah bahwa kamu bertanggung jawab atas keselamatan dirimu sendiri! Kembalilah hidup-hidup dan jangan sampai kamu dimangsa oleh hewan buas!” ujar Otugai menutup orasinya. Satu kata selanjutnya yang ia ucapkan pun menjadi pertanda bahwa perburuan telah dimulai, “Berangkat!”


Sebelas kelompok pemburu segera menyebar ke setiap penjuru mata angin. Mereka yang bersisian akan berpisah di persimpangan jalan yang besar untuk mencari spot perburuannya sendiri. Sebelum mentari terbit, mereka harus kembali ke tenda dengan hewan buruannya masing-masing dan beristirahat agar bisa melanjutkan perburuan di hari-hari berikutnya.


“Pangeran,” panggil Wang Hongli yang selalu berada di sisi Li An menjaganya, “Apa yang akan Anda buru di hutan ini?”


“Rusa,” jawab Li An singkat, “Atau beruang merah. Kudengar, beruang itu cukup besar dan ganas.”


“Apa Anda ingin membuat pakaian dengan kulit beruang?” Wang Hongli mengernyitkan alisnya, “Atau Anda ingin mencicipi dagingnya?”


“Tidak, mana mungkin aku memakan daging hewan yang bertaring dan bergigi tajam?” Li An menggeleng pelan, “Kalau rusa, kita masih bisa mencicipinya. Kalau beruang, itu sangat tidak mungkin. Aku mungkin akan memberikannya pada Ertamis Khagan. Terserah dia mau apakan beruang itu.”

__ADS_1


“Ho, balas budi, ya?” tebak Wang Hongli. Ia tersenyum simpul. Dalam hati, ia kagum pada Li An yang telah sukses menegosiasikan perdamaian dengan kekhaganan, bukan sekadar gencatan senjata sehingga persahabatan dapat dilaksanakan.


“Ini hanya hadiah kecil semata,” Li An ikut tersenyum simpul, “Itu pun kalau kita bisa mendapatkannya.”


“Kita pasti mendapatkannya, Pangeran,” ujar Wang Hongli optimis, “Beruang merah itu pasti akan kita dapatkan bagaimana pun caranya.”


Xiao Chyou yang berkuda di belakang Li An dan Wang Hongli menggigit bibirnya. Ia masih saja bimbang sampai sekarang. Kalaupun ia memutuskan untuk berpihak pada menteri tinggi, ia harus bisa menghadapi Sang Pendekar Cenangkas Kembar jika ingin menjalankan siasatnya. Jangankan melawan, bertatapan dengan pendekar gagah itu pun ia takut.


Mentari memanjat tinggi cakrawala sampai tepat di atas kepala. Ia akan segera tergelincir ke ufuk terbenamnya. Hari semakin siang dan panas, sedangkan Li An dan rombongannya belum menemukan satu pun hewan buruan walau seekor pipit.


“Pangeran, bagaimana kalau kita berpencar dalam kelompok yang kecil?” usul Xiao Chyou di sela istirahat siang, “Sepertinya, hewan-hewan buruan takut pada kita karena bergerak dalam jumlah yang banyak. Mereka pasti langsung kabur begitu mendengar suara gemuruh langkah kaki kita.”


“Benar juga,” Li An mengelus dagunya berpikir, “Itu bisa jadi usulan yang bagus.”


“Kita harus cermat memilih lawan kalau begitu,” Li An merasa bahwa kekhawatiran itu tidak perlu, “Lagi pula, kuda-kuda kita adalah kuda yang paling cepat dan terlatih. Kita bisa meninggalkan musuh kapan saja.”


“Tuan Pendekar,” Xiao Chyou memberanikan diri untuk menghadap pada Wang Hongli, “Anda tidak perlu risau. Orang-orang yang berada di sinu adalah para pendekar dan kesatria yang kuat. Kita pasti bisa menghadapi semua masalah. Malah aneh kalau kita mundur dan lari dari tantangan.”


“Heh! Kepala Logistik, kupikir kau hanya tahu soal barang-barang saja,” Wang Hongli menyeringai tipis, “Ternyata kau bisa memikirkan kata-kata yang bagus begitu. Kuakui keberanianmu itu.”


Xiao Chyou menelan ludah. Ia pura-pura tersenyum agar rencananya tidak dicurigai. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa mendekati Li An dan menjauhkannya dari Wang Hongli.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita akan membagi kelompok dengan anggota yang kecil,” Li An melihat tidak ada lagi yang diperdebatkan. Ia pun berinisiatif membagi kelompok, “Setiap kelompok akan berisikan tiga orang. Sebelum mentari terbenam, kita harus kembali ke perkemahan.”


“Pange—” Xiao Chyou baru ingin meminta agar ia bisa sekelompok dengan Li An, tapi terlambat karena Wang Hongli sudah maju duluan. “Pangeran, izinkan saya dan saudara Ling Bao menyertai Anda.”


“Baiklah,” Li An menerimanya dengan senang hati. Ia pun menoleh pada anggota kelompoknya yang lain, “Bagaimana dengan kalian?”


“Semuanya beres, Pangeran,” seorang pendekar menjura. Para anggota pemburu Li An sudah otomatis membentuk kelompoknya masing-masing. Xiao Chyou mendapat kelompok dengan dua orang pria bangsawan yang sepantaran dengannya.


“Kita akan menyebar mulai dari sekarang,” Li An bangkit dari duduknya, lantas naik ke atas kudanya yang juga sudah cukup beristirahat, “Jagalah diri kalian baik-baik. Kak Hongli, Kak Bao, ayo kita pergi.”


Begitu Li An dan kelompoknya pergi, kelompok-kelompok lain juga mulai ikut berpisah. Tersisalah tiga orang yang masih berdiri di tempat peristirahatan itu. Mereka adalah Xiao Chyou dan kedua bangsawan lainnya.


“Jadi, Kepala Chyou,” panggil salah seorang dari bangsawan itu, “Apa yang ingin kamu tawarkan pada kami?”


Xiao Chyou menoleh dan diam-diam menelan ludah. Ia mengenyahkan segala keraguan yang tersisa di hatinya. Sungguh, ia tak menyangka bahwa pada akhirnya ia mengkhianati kepercayaan Pangeran Kedelapan dan berpihak pada menteri tinggi.


“Ini adalah rahasia kekaisaran,” ucap Xiao Chyou lirih dan penuh perhitungan. “Kalian harus menjaga rahasia ini baik-baik ….”


“Ho~ kalau ini adalah rencana menteri tinggi, maka kita tidak perlu ragu lagi,” balas salah seorang pria bangsawan dengan seringai tipis di bibirnya. Ia memiliki dahi yang lebar dan sebuah tahi lalat di dagunya. Namanya adalah Qin Guang.


“Pfth! Kebetulan sekali, aku juga tidak suka dengan Pangeran Kedelapan yang sombong itu,” seorang bangsawan yang lain menimpali. Namanya Shien Lubu, “Hanya seorang anak selir, berani sekali dia memimpin kita para bangsawan mulia. Aku pasti akan membalasnya.”

__ADS_1


“Kita sudah sepakat kalau begitu,” Xiao Chyou menyeringai tipis. Karena sudah terjerumus dalam intrik kekuasaan, ia harus melaksanakan tugasnya dengan totalitas. Tidak boleh ada celah dalam rencana ini, “Kita akan menghabisi Pangeran Kedelapan demi kejayaan kekaisaran. Seharusnya beliau merasa terhormat karena berkorban demi Kekaisaran Tang.”


__ADS_2