Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 039: Kobaran Api


__ADS_3

Suara-suara pertempuran terdengar di seluruh pelosok istana. Dentingan pedang, teriakan pilu kesakitan, tangisan ketakutan, semuanya bersatu padu di sana. Istana mewah itu talah menjadi medan perang yang tak pernah terbayangkan.


Shust! Shust!


Bayang-bayang musuh terus berterbangan di atap-atap istana. Pasukan penjaga kerajaan amat kesulitan menggapai mereka. Panah-panah pun diluncurkan. Namun, musuh terlampau gesit sehingga panah-panah itu terbuang sia-sia, bahkan ada yang mengenai kawan sendiri.


"Chen'er, jaga Rou'er dan Putri Seonghwa! Jangan sampai musuh mendekati mereka," kata Li An dengan suara yang lirih. Ia kembali menembakkan panah. Setiap anak panah yang ditembakkannya selalu tepat mengenai sasaran. Musuh sampai bergidik setiap kali melihat anak panahnya yang berseliweran buas.


Yah, meskipun Li An tidak sekuat Li Xiang dalam bela diri maupun seni berpedang, ia lebih baik dari Pangeran Ketujuh dalam keeahlian memanah. Dua-duanya sama-sama pandai, tapi Li An lebih hebat sejak dulu. Andai ia tertarik pada acara-acara berburu yang diadakan oleh kekaisaran, ia pasti bisa menang dengan mudah dan mendapatkan kepopuleran yang lebih dibandingkan sekarang.


"Incar dulu bocah itu!" seru salah satu pasukan pelopor musuh. Ia menunjuk Li An. Kawan-kawannya pun meluncur ke Pangeran Kedelapan seketika. Mata-mata senjata mereka yang tajam berkilat ngeri mengincar sasarannya.


"Jangan pikir kalian bisa lolos dariku!" bentak Wang Hongli. Ia menubruk dua musuh sekaligus. Pedang kembarnya langsung menebas kadua-duanya tanpa ampun. "Pasukan Cenangkas! Habisi mereka semua!"


"Ha ...!" seluruh pendekar dalam Pasukan Cenangkas yang Wang Hongli pimpin berseru. Seruan mereka sangat keras sampai membuat musuh bergidik sebentar. Ada aura kuat yang terpancar dari mereka.


"Cih!" salah seorang musuh berdecak kesal dan melemparkan pisaunya dari atas atap. Pisau itu melesat cepat dalam kegelapan sampai menusuk salah satu pasukan Wang Hongli.


"Argh ...!" teriak pendekar yang tumbang seketika itu. Kawan yang paling dekatnya pun berseru. Ia menatap tajam ke musuhnya dan turut meleparkan belati ke sana.


"Xixixi! Dasar bodoh!" ejek si pelempar belati, "Kau pikir bisa mengenaiku dengan lemparan busuk seperti itu?"


Jleb!

__ADS_1


Tiba-tiba, sepucuk panah menusuk kepalanya dari samping. Ia pun terjatuh dari atap dan mati dalam sekejap. Matanya terbelalak kaku seakan tidak terima dengan kematiannya yang tiba-tiba ini.


"Bawa yang terluka ke tempat yang aman! Tetap waspada! Kita belum tau jumlah musuh yang tersisa," seru Li An. Ia melirik ke adik-adiknya di belakang. Li Rouwei dan Seonghwa terlihat tangah memejamkan matanya sambil mencengkeram jubah Li Chen. Mereka menahan diri untuk tidak berteriak histeris. Tampaknya, Li Chen dapat menjaga mereka dengan baik.


Kepulan asap terlihat membumbung ke langit. Salah satu sudut istana kebakaran. Api mulai menjalar naik bak siluman feniks yang mengamuk. Kobarannya amat tinggi bagai gunung yang menjulang ke langit.


"Kita harus mengungsi," Li An berseru pada Wang Hongli, "Api itu akan segera sampai ke sini!"


"Saya akan menahan mereka, Pangeran," balas Wang Hongli yang tengah bertarung satu lawan satu dengan musuh yang sangat lincah dan merepotkan. "Pangeran silakan pergi dari sini. Saya dan pasukan yang tersisa akan segera menyusul."


"Ikuti kami secepat mungkin! Jangan sampai kamu terbunuh, Kakak Hong," Li An pun segera memerintah pasukan di sekitarnya untuk mengawal para putri keluar. Mereka segera pergi sebelum siatuasinya semakin sulit.


Sebelum sempurna keluar dari Kompleks Tamu Kehormatan, Li An menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Wang Hongli. Ia pun menarik anak panah di tangannya. Matanya yang tajam mengincar bayang-bayang yang bergerak cepat ke sana-ke mari di sekitar pelindungnya seperti lalat yanng kurang ajar. Ia pun melepaskannya.


Shust!


***


Di sisi lain istana, Yong Seong terduduk gemetaran seorang diri. Ia disembunyikan oleh pelayannya di dalam sebuah lemari yang cukup besar. Dari dalam lemari itu, ia melihat langsung bagaimana palayannya dibantai oleh orang misterius.


Tubuhnya pun merinding ngeri. Namun, ia masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak agar tidak ketahuan oleh penyerang misterius itu. Kedua tangannya membungkam mulut. Keringat dingin mengalir di dahinya. Air mata tangis ketakutan tumpah membasahi pipinya. Hatinya terguncang oleh teriakan-teriakan pilu di luar.


"Cih! Sial! Bocah itu tak ada di sini. Ini hanya kamar pelayan biasa," gerutu penyerang itu, "Aku yakin tempatnya di sini ... atau di sebelah?"

__ADS_1


Orang misterius itu pun pergi tanpa mengecek lebih detail kamar yang didesain sederhana itu. Saat ia pergi, Yong Seong membuka pintu lemarinya pelan-pelan dengan jari-jemari mungil yang gemetaran.


Begitu mendapati kamarnya kosong, ia pun berlari ke arah pintu. Cahaya api yang datang dari luar membuatnya bisa menuju ke pintu secepat-cepatnya. Ia sangat terkejut ketika melihat kobaran api yang besar itu.


"Seonghwa! Ibunda!" teriaknya melihat bangunan yang terbakar itu adalah Istana Ratu sekaligus tempat para putri tinggal. Ia ingin berlari ke sana. Namun, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan keras.


"Pangeran Seong, mohon jangan ke sana," kata orang itu. Yong Seong pun menoleh dan mendapati seorang pria berkulit pucat. Rambutnya panjang acak-acakan. Jelas sekali ia juga buru-buru terbangun begitu suar berbunyi.


"Kasim Ji!" Song Yeong ingin menepis tengan Ji, tapi tenaganya terlalu lemah dibandingkan dengan si kasim. Ia pun berhenti melawan dan menatap Ji dengan tajam. Ada kobaran amarah di matanya. "Mana baginda ratu?"


"Baginda ratu dan para putri sudah dievakuasi. Pangeran Seong tidak perlu cemas," jawab Ji tanpa perubahan sedikit pun pada mimik wajahnya. "Mari Pangeran juga pergi ke tepat yang aman. Di sini sangat berbahaya."


"Bagaimana dengan Seonghwa?" tanya Yong Seong khawatir. Ia harus tahu kondisi adik kandungnya itu sebelum pergi. Keberadaan Seonghwa yang samar kadang membuatnya terlupakan oleh orang-orang di sekitarnya.


"...," Ji terdiam. Ia tak mau bebohong pada sang Pangeran. Firasatnya mengatakan bahwa akan sangat fatal jika ia berbohong pada Yong seong sekarang.


"Di mana Seonghwa?" tanya Yong Seong lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih keras. Ji sampai tertegun sejenak karena teriakan itu. Ia pun menghela napas dan menjawab dengan jujur, "Maaf, Pangeran. Kami tidak bisa menemukan Tuan Putri Seonghwa di dalam."


"Kenap–?" sebelum Yong Seong mengucapkan sepatah kata pun, Ji tiba-tiba kembali menariknya. Ia memeluk sang pangeran dan mendapati sebilah belati yang tertancap di tanah tak jauh dari mereka.


Yong Seong terbungkam melihat belati itu. Jari-jemarinya pun mencengkeram jubah Ji tanpa sadar. Ketakutan kembali meliputi dirinya.


"Mohon maaf, Pangeran," Ji menggendong Yong Seong yang kembali gemetaran hebat, "Kita harus segera pergi dari sini sekarang."

__ADS_1


Isakan tangis Yong Seong terdengar di telinga Ji. Pangeran kecil itu pasti sangat syok sekarang. Matannya memerah sembab. Ia merutuki dirinya yang sangat lemah ini. Ada kekesalan dan penyesalan yang dalam di sana.


__ADS_2