Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bocah yang Menutup Hati


__ADS_3

Bulan sabit terkantuk-kantuk di angkasa. Cahayanya redup dan suram sedingin malam yang sunyi ini. Bintang-bintang bertaburan, berbinar indah menghias angkasa. Anak-anak bintang berlarian. Ekor-ekornya berbinar bagai hujan kirana yang terang-benderang.


“Akhirnya kamu bangun,” sebuah suara yang mengalun lembut mengalir ke telinga Li An. Bocah itu pun terkesiap. Ia langsung bangkit dari tidurnya dan duduk dengan merapatkan selimut. Di jendela kamarnya yang terbuka lebar, seorang gadis ayu bergaun biru muda duduk dengan santainya.


Cahaya bulan yang temaram menyiram muka gadis itu samar-samar. Ia tersenyum kepada Li An dan mendekatinya perlahan. Sosoknya yang berdiri terlihat menakutkan. Bayangan hitam seakan menutupi seluruh tubuhnya. Ia tampak seperti hantu malam berambut panjang yang akan menculik anak-anak jika mereka tidak lekas tidur.


Li An pun segera menutup wajahnya dengan selimut dan bertiarap. Tubuhnya merinding ketakutan. Ini adalah kali pertamanya digentayangi oleh hantu seperti itu. Matanya dipejamkan erat, tapi ia tak dapat segera kembali tertidur. Jantungnya berdetak kencang. Tangannya terus gemetaran tak karuan. Saking hebatnya, getaran itu sampai terlihat walaupun tubuhnya tertutup selimut.


Sebuah tangan dingin menyentuh kepala Li An. Ia mengelus-elusnya pelan sambil berbisik lembut dengan irama penuh perhatian, “Cup … cup …, Adik kecilku. Aku di sini menemanimu. Jangan menangis, jangan menangis. Bulan dan bintang nanti ikut bersedih. Cup … cup …, Adik manisku.”


Lantunan itu tak juga berhenti. Sentuhannya yang berangsur menghangat juga terus mengelus lembut. Saat diri Li An mulai tenang, ia pun memberanikan diri untuk menatap sosok yang kini duduk di samping peraduannya itu.


Sebatang lilin menyala sehingga wajah gadis ayu itu terlihat lebih jelas. Senyum manis di bibirnya menyambut Li An yang masih syok dan kebingungan. Ada aura yang khas dalam senyuman itu. Rasanya seperti dapat menarik Li An ke masa lalu.


Li An kembali merinding. Ia tak dapat percaya dengan apa yang dilihatnya. Senyuman itu milik ibunya. Senyum yang selama ini dirindukannya. Pangeran malang itu pun kembali menangis terisak-isak. Ia langsung berhambur memeluk gadis itu dan menangis di pangkuannya.


Gadis ayu itu sempat terkejut sampai senyumnya luntur sesaat ketika Li An tiba-tiba memeluknya. Namun, ia mengulas lagi senyuman itu dan membalas pelukan Li An. Dielusnya kepala bocah itu dengan hangat. Ia juga menepuk-nepuk punggungnya pelan agar Li An kembali tenang dan berhenti menangis.


Kamar Li An seketika terbuka. Li Fengying muncul dari balik daun pintunya. Ada rona kecemasan di wajah Pangeran Zhìzhě itu. Ia jelas khawatir saat mendengar tangis keponakannya yang sempat meledak tadi. Dilihatnya Li An sudah tenang di pangkuan seorang gadis.


Gadis itu menempelkan telunjuk dibibir sambil tetap menepuk-nepuk punggung Li An pelan. Parasnya yang dan murah senyum memancarkan keteduhan. Dalam diam, ia meminta Li Fengying untuk kembali dan menyerahkan masalah Li An padanya. Pangeran Zhìzhě pun dengan patuh kembali menutup kamar dan pergi dengan tenang.


Li An kembali tertidur pulas saking lelahnya menangis. Jari-jemari mungilnya yang tadi mencengkeram erat gaun gadis di kamarnya telah melemas. Ia pun dipindahkan kembali ke ranjangnya. Air mukanya masih keruh oleh gundah gulana. Saat terbangun, ia sadar akan kesendiriannya. Tak ada seorang pun yang menemaninya di sini. Mungkin yang semalam itu hanya mimpi. Benarkah ada kesempatan baginya untuk bertemu dengan Selir Ai lagi?


“An’er!” seruan Li Mei membuat Li An tersentak, “Kamu sudah bangun belum?”


“Sudah,” jawab Li An lirih, tapi masih dapat terdengar oleh Li Mei. Gadis itu pun membuka pintu kamar adik sepupunya. Ia masuk dengan membawa nampan sarapan. Ditaruhnya nampan itu di meja kayu Li An.


“Cepat makan! Jangan sampai kamu sakit,” sewot Li Mei, “Kamu bikin aku cemas tahu? Datang-datang sakit. Katanya kamu nangis seharian. Semalam juga lagi. Hedeh, bikin sakit kepala.”


Li Mei menepuk kepala Li An, kemudian kembali berceloteh, “Cepat sembuh! Nanti Li Chen akan mengejarmu kalau kamu malas-malasan begini. Kamu kan anak laki-laki yang mau jadi sarjana. Kamu harus tumbuh sehat.”

__ADS_1


Li An tertegun. Ada kehangatan yang mengalir dari ucapan dan usapan Li Mei. Ia sangat terhibur dengan ucapan polos gadis itu. Padahal, biasanya ia merasa sebal dengan celotehan itu. Ia pun ingat dengan kebaikan Keluarga Pangeran Zhìzhě yang merawatnya. Baru sekarang ia sadar bahwa mereka amat mengasihinya seperti Selir Ai yang sangat menyayanginya.


“Kenapa kamu tertawa?” seru Li Mei saat Li An tiba-tiba terkekeh tanpa sebab. Gadis itu mengira bahwa Li An sedang mengejeknya. Ia pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian menepuk kepala Li An agar ia berhenti. Saking kerasnya, Li An sampai nyaris menarik perasaannya tadi.


“Kenapa Kakak Mei malah memukulku? Aku kan cuman lagi senang,” Li An pura-pura merajuk lagi. Wajahnya yang sok bersedih mudah ditebak oleh Li Mei. Kedua pipinya pun dicubit sehingga ia memohon-mohon, “Ampun, Kak. Aku cuman bercanda. Aku cuman bercanda.”


“Hmph! Awas kalau kamu ngetawain aku lagi,” Li Mei membuang wajahnya, benar-benar merajuk. Tangannya disatukan ke dada, mengisyaratkan kalau dirinyalah yang benar. Li An hanya dapat tertawa hambar melihat sikap kakaknya yang emosional itu.


“Sekarang, kamu benar-benar bangun ya, An’er,” seorang gadis ayu datang menyusul Li Mei. Gadis itu masih mengenakan gaun putih berhias bunga latus merah yang cantik. Ia datang untuk menjenguk Li An setelah puas beristirahar sepanjang pagi ini.


Li An sangat terkejut. Pangeran kecil itu sampai berhenti mengunyah makanannya. Ia mengira kejadian semalam itu hanya mimpi. Mimpi yang terlalu nyata sampai mustahil terwujud. Nyatanya, mimpi bertemu Selir Ai itu memanglah fana. Gadis yang berdiri dihadapannya sekarang adalah Putri Ketiga Kekaisaran Tang sekaligus kakak tirinya, Putri Li Huanran.


“Kakak Huanran, An’er masih capek. Jangan diganggu dulu,” usir Li Mei halus.


“Hais, padahal aku cuman mau menjenguk adik manisku. Kenapa Mei’er malah mengusirku?” balas Li Huanran dengan senyum yang terlihat mempertanyakan. Mata sipitnya yang nyaris terpejam membuat ia terlihat licik. Jika dilihat dari sudut pandang yang buruk, senyuman itu pasti memiliki maksud tersembunyi yang tidak baik. Padahal, belum tentu begitu.


“An’er benar-benar butuh istirahat. Ayo keluar dulu biar nggak mengganggunya,” Li Mei menarik-narik gaun putih Li Huanran. Tingginya hanya sepundak Putri Ketiga itu. Padahal umurnya hanya terpisah empat tahun.


“Kamu pergilah dulu, Mei’er. Aku mau ngobrol bentar sama adikku,” Li Huanran mengusap rambut Li Mei. Itu membuat putri sulung Pangeran Zhìzhě tak dapat berkutik. Ia hanya dapat menggelembungkan pipi, kemudian berkata tegas, “An’er adikku!”


Li Mei pun pergi dengan wajah sebal. Ia menghentak-hentak kakinya ke lantai begitu berada di luar. Suaranya sangat keras sampai terdengar ke kamar Li An. Li Huanran tertawa kecil melihat tingkah gadis kecil yang menggemaskan tersebut. Ia sampai bertanya-tanya apa dirinya juga seegois itu waktu kecil dulu.


“Siapa?” suara dingin Li An menyibak keheningan sejak Li Mei pergi. Ia menatap Putri Ketiga awas, tak percaya sedikit pun dengan gadis ayu itu. Kewaspadaannya yang terlampau besar itu membuatnya tak memiliki banyak teman bahkan di Kedutaan Khilafah, tempatnya belajar sehari-hari.


“Sedihnya … bagaimana adik manisku ini tidak mengenal kakaknya?” Li Huanran menutupi setengah wajah dengan lengan gaunnya, menyembunyikan senyum gemas yang mungkin akan menyinggung Li An. Mata sipitnya membalas tatapan tajam bocah yang mirip kucing hitam liar itu. Ia tak gentar sedikit pun beradu pandang dengan lawannya.


“Siapa?” tanya Li An dengan nada yang lebih dingin. Mata elangnya terus beradu pandang dengan Li Huanran. Tangannya mencengkeram erat mangkut yang ia bawa. Ketegangan membuat bocah itu tak dapat melepas awas sedikit pun.


“Dinginnya … kamu bisa tanya lebih lembut nggak sih? Hais, padahal mukamu cantik begitu,” ucapan Li Huanran membuat Li An merinding. Pangeran Kedelapan itu pun langsung berseru, “Aku anak laki-laki!”


“Ah! Benar juga. Adikku yang tampan dan manis, coba tanya lebih lembut dong,” Li Huanran sudah mendekati Li An entah sejak kapan. Tangan halusnya menyentuh pipi Li An saat mengucapkan kalimat terakhir itu. Sikapnya yang sok akrab membuat Li An terkejut dan segera mengusirnya, “Pergi! Siapa kamu? Pergi sekarang!”

__ADS_1


Li Huanran lantas melepas tangannya dan menutupi setengah muka, menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Entah mengapa ia selalu melakukan itu. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.


“Hah … padahal aku cuman mau buat kamu lebih santai. Ternyata kamu bener-bener waspada berlebihan gini,” Li Huanran mengeleng-geleng iba. Ia berpikir sebentar, kemudian berkata, “Maafin kakak, ya. Kakak nggak bermaksud nakutin kamu kok. Cuman bercanda dikit. Kenalin, aku Putri Ketiga, Li Huanran. Namamu Li An kan? Aku panggil kamu An’er, ya? Kamu bisa panggil aku Ayunda Huanran atau Ayunda An juga nggak apa-apa. Kita samaan nama.”


Li An terdiam. Raut wajahnya tak berubah sedikit pun. Hanya peringainya yang lebih tenang walaupun tetap awas. Ia menilai situasi dan kondisi. Menurut penilaiannya, tak ada jalan keluar dari masalah pelik ini kecuali ada intervensi dari luar.


“An’er, kamu kenapa?” Li Mei mendobrak pintu dengan keras sampai membuat Li An dan Li Huanran terkejut. Ada Li Chen, Li Roulan, dan Li Xiulan di belakangnya. Mereka sangat cemas ketika Li An tiba-tiba berteriak tadi.


“Nggak apa-apa kok. Kita cuman baru kenalan,” Li Huanran yang menjawab dengan santainya. Ia tersenyum dingin pada Li Mei dan adiknya. Senyuman itu lebih mirip seringai sekarang. Ia berencana mengusir mereka sekali lagi.


Namun, sebelum Putri Ketiga melakukan itu, Li An sudah lebih dulu bangkit dari ranjang dan berlari ke arah Li Mei. Ia bersembunyi di balik sepupu-sepupnya tanpa berkata sepatah kata pun. Ia bahkan tak mau memandang Li Huanran lagi. Gangguan pagi ini sudah cukup baginya. Ia hanya ingin segera menghabiskan sarapannya dan pergi ke Pagoda Arsip Kecil.


“Kakak Huanran! Kakak apain An’er?” bentak Li Mei. Gadis itu berdiri dengan kuda-kuda mantap. Walaupun masih kecil, ia bukan anak yang dapat diremehkan kemampuan bela diri dan seni pedangnya. Karena itu, tak anak yang berani mengusiknya selain Li Roulan di Istana Pangeran Zhìzhě.


“Ternyata aku sudah keterlaluan, ya?” Li Huanran justru balik bertanya. Jelas pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban. Senyum di wajah gadis ayu itu luntur sejak Li An melewatinya. Ia sudah gagal untuk bertukar sapa dengan adik kecilnya. Jika sudah begini, lebih baik ia membiarkan Li An untuk menenangkan diri dulu. Siapa sangka trauma bocah itu lebih parah dari yang diduga?


“Kakak sungguh minta maaf, An’er. Nanti, Kakak datang lagi, ya,” ucap Li Huanran pada Pangeran Kedelapan yang memunggunginya. Tak ada balasan dari permintaan maaf itu. Putri Ketiga pun kembali menyulam senyumnya dan beranjak pergi dari lorong kamar Li An.


“An’er, kamu nggak apa-apa?” Li Xiulan mendahului Li Mei bertanya saat putri sulung Pangeran Zhìzhě itu masih fokus mengamati garak-gerik Li Huanran. Tangan mungilnya mengelus-elus punggung Li An. Ia mengajak Pangeran Kedelapan itu ke taman untuk memulihkan kondisinya.


Tepat saat itulah Li Fengying dan Nyonya Lu datang. Mereka amat terkejut melihat rona wajah Li An yang kurang baik. Li Fengying mencoba meminta penjelasan, tapi Li An sama sekali tidak menjawab. Akhirnya, Li Xiulan menyebut nama Li Huanran menggantikan sepupunya.


“Aku akan berbicara dengan Huan’er dulu. Bawalah An’er untuk menenangkan diri,” ucap Nyonya Lu berinisiatif. Anak-anak pun mengikuti Li Fengying, sementara Nyonya Lu sendirian mengikuti arah Li Huanran pergi. Arah itu menuju ke Taman Persik di Komplek Utara Istana Pangeran Zhìzhě.


“Seperti yang Bibi bilang, dia anak yang sulit didekati,” sambut Li Huanran begitu Nyonya Lu sampai. Gadis ayu itu duduk sendirian di gazebo yang ada di tengah taman. Tangannya mengelus-elus bebungaan cantik yang mekar dipagi hari. Senyum di wajahnya tetap tersulam seperti biasa, tapi ada bayang-bayang kesedihan di sana.


“Itu perangai yang turun dari ibu kandungnya. Adikku tidak bisa merubahnya kecuali sedikit saja,” balas Nyonya Lu yang kemudian duduk di depan Li Huanran, “Kalau saja ia tidak terseret kasus yang ditangani dengan ceroboh itu, kondisi An’er tidak akan seperti ini.”


“Saya turut berduka atas musibah itu, Bibi. Kaisar Yung Wei pun menitipkan permohonan maaf yang paling tulus,” ucap Li Huanran dengan air muka yang sebening hujan. Ia benar-benar serius menyampaikan pesan ayahnya.


“Sudahlah! Kamu sudah mengatakan hal itu berkali-kali sejak kemarin. Aku bisa memaafkan kecerobohan beliau, tapi tidak akan mudah untuk melupakannya,” Nyonya Lu sedikit membuang muka. Kesedihan terbayang di parasnya. Dengan suara yang lirih, ia melanjutkan, “Apalagi anak itu. Dia sangat menyayangi Selir Ai seperti anak yang menyayangi ibu kandungnya sendiri. Kalau kamu merasa bersalah, maka hibur ia dengan kasih sayang yang tulus.”

__ADS_1


“Nasihat Bibi akan selalu saya ingat,” Li Huanran menunjukkan rasa hormatnya. Ia pun mengobrol dan meminta saran pada Nyonya Lu terkait Li An. Perbincangannya mengalir sampai mentari nyaris duduk melayang di atas ubun-ubun. Begitu pusa berbincang, Nyonya Lu pun pergi mencari anak-anaknya dan membiarkan Li Huanran termenung sendirian.


Arang hanya bersisa abu. Apa yang lenyap tak akan kembali lagi. Hanya sisa-sisanya saja yang terbang mengarungi bumi. Putri Ketiga tidak pernah mengira bahwa misi dari ayahandanya akan jadi sesulit ini, apalagi ia sudah bersumpah tidak akan kembali sampai dapat menyelesaikan tugasnya. Kalau ia tidak dapat mengambil hati adik kecilnya yang malang itu, ia tidak akan bisa pulang ke rumahnya. Sambil menatap langit cerah dalam kesendirian, Li Huanran bergumam pada dirinya sendiri, “Yah, ini tidak buruk juga. Aku bisa bebas dari intrik Istana Kebahagian Abadi untuk sementara.”


__ADS_2