Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Hari Pertama Keberangkatan


__ADS_3

"Saya dengar, Anda sedang tidak enak badan," kata Mimi berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan Putri Kesembilan, "Baginda kaisar meminta saya untuk merawat Anda selama perjalanan nanti. Beliau ingin Anda menjadi putri yang cerdas dan tangguh. Jadi, saya harap Anda dapat menjadi seperti yang beliau harapkan."


"Ayahanda benar-benar mengizinkanku pergi?" Li Rouwei masih kurang percaya. Mimi pun tersenyum simpul dan mengangguk, "Yah, dengan segudang syarat tentunya. Anda dan Pangeran Chen akan berada di bawah pengawasan Sarjana Rubah Perak untuk belajar nantinya. Jadi, mohon jangan mengeluh selama kelas berlangsung nanti."


"Aku tetap ikut ke Wilayah Utara kan?" Li Rouwei curiga ia akan dibawa ke pengasingan untuk belajar sebagai hukuman untuknya. Itu pernah terjadi pada salah seorang saudaranya yang bandel. Ia tidak akan terima diperlakukan seperti itu.


"Tentu, Anda akan belajar selama perjalanan dan juga saat berada di Wilayah Utara," jawab Mimi memperjelas kontrak belajar Li Rouwei sebagai syarat utamanya untuk dapat ikut delegasi. "Ah, kalau Anda keberatan, Anda bisa menolak tur pembelajaran ini.."


"Tidak, aku mau ikut," Li Rouwei menggeleng keras. Mimi pun menyemangatinya untuk jadi tuan putri terbaik yang cerdas dan berwawasan. Ia juga berharap agar putri yang terkenal nakal dan hiperaktif itu tidak membuat banyak masalah yang merepotkan.


Li Rouwei keluar dari toko pakaian dengan wajah yang berseri. Ia menggandeng tangan Mimi dengan riangnya. Berbeda dengan Li Chen yang tertunduk lesu karena barusan diinterogasi dengan serius oleh Yun Jili.


"Akhirnya kalian datang. kupikir kalian akan berangkat belakangan," ujar Li Bei yang hampir berangkat bersama rombongannya. Ia pun menghela napas, merasa perjalanan ini akan semakin berat karena keberadaan Putri Kesembilan, "Naiklah ke Kereta An-An. Ingat! Jangan buat masalah sedikit pun."


"Aku tahu," balas Li Rouwei yang merasa tersinggung atas peringatan Li Bei terhadapnya. Ia pun membuang muka dan menarik Mimi untuk naik ke Kereta Li An. Gadis kecil itu sudah memutuskan untuk lebih banyak bermain dengan Yun Annchi daripada yang lain.


"Hais ... sejak kapan delegasi ini jadi taman kanak-kanak?" keluh Li Bei yang masih belum mengerti dengan keputusan ayahnya. Ia sangat terkejut saat kemarin tiba-tiba diberitahu bahwa Li Rouwei akan ikut berangkat ke Wilayah Utara. Pagi ini, ia sempat bersyukur dan lega karena Putri Kesembilan itu dikabarkan sakit. Namun, rasa leganya langsung pupus seketika setelah kabar terbaru datang beberapa saat yang lalu.


Rombongan pun berangkat. Sesuai yang dijanjikan, Li An bergabung bersama mereka sebelum delegasi keluar dari gerbang ibu kota. Ia sama terkejut dengan Li Bei saat diberi tahu kalau Li Rouwei ada di keretanya.


"Dia adalah tanggung jawabmu mulai sekarang," kata Li Bei melimpahkan amanat. Li An yang berkuda di sampingnya pun keberatan, "Hai, kenapa dia bisa ikut dalam delegasi dan menjadi tanggung jawabku?"


"Aku pun tidak mengerti dengan keputusan ayahanda kaisar," Li Bei menggelengkan kepalanya sebagai ekspresi atas apa yang ia katakan, "Katanya, Bibi Zhouyi yang memberi izin. Pokoknya, kamu dan Sarjana Rubah Perak yang akan mengawasinya."

__ADS_1


"Dia nggak bakal bikin masalah kan?" Li An membayangkan betapa ributnya delegasi ini nanti. Li Rouwei akan sangat cerewet dan merepotkan bila menginginkan sesuatu. Adik kecilnya itu mungkin adalah beban paling berat untuk delegasi ini ke depannya.


"Entahlah, kamu jaga dia baik-baik pokoknya," Li Bei menegaskan. Ia adalah tipe laki-laki yang sulit dekat dengan anak kecil. Apalagi adik-adiknya yang hiperaktif dan nakal. "Dia kan suka menempel denganmu. Bagaimanapun caranya, kamu harus buat dia tenang agar tidak menimbulkan masalah."


"Hai! Aku juga punya tugas penting lainnya," protes Li An tak setuju dengan limpahan amanat yang merepotkan ini. Li Bei pun menatapnya dengan pandangan datar, tak peduli dengan penolakan itu, "Tenanglah. Tugasmu hanya mengamati dan mengawasi hasil negosiasi saja. Lagian, mereka berdua akan di bawah pengawasan penuh Sarjana Rubah Perak. Beliau adalah abdi setiamu. Jadi, jangan terlalu banyak mengeluh."


"Tetap saja, memangnya Kakak belum tahu gimana nakalnya Rou'er itu?" Li An masih berusaha protes. Namun, tetap saja Li Bei tidak peduli, "Aku mendapat omelan panjang yang diulang-ulang oleh Huan'er karenamu. Bersabar dan jalani saja peranmu dengan baik."


"Ck, Kakak hanya ingin balas dendam," tuduh Li An sarkastis. Li Bei pun membalasnya acuh tak acuh, "Terserah, anggap saja beegitu."


Saat sampai di area peristirahatan pertama, Li An langsung mengecek kondisi Li Rouwei. Ia berniat untuk membujuk Putri Kesembilan untuk pulang bagaimana pun caranya. Barangkali ini kesempatan terakhir sebelum delegasi bergerak lebih jauh dari ibu kota. Namun, niatnya itu batal begitu melihat Li Rouwei yang sedang tertidur pulas di keretanya. Ia pun tak tega untuk membangunkan gadis kecil itu.


"Anda tidak perlu khawatir, Pangeran," ucap Mimi yang tengah memomong dua bocah kecil di pangkuannya, "Saya akan menjaga Putri Kesembilan dengan baik."


Mimi menggeleng. Seandainya Li Huanran tahu, urusannya pasti semakin runyam. Putri Ketiga itu pasti tak akan mau kalah dengan adiknya. Lagipula, Kasus Li Rouwei ini sedikit spesial.


"Kakak An," suara lirih seorang pemuda menarik perhatian Li An. Dilihatnya Li Chen yang baru terbangung dari tidur. Ia menguap lebar seakan menghisap kembali seluruh nyawanya yang masih berterbangan.


"Hais ... kok kamu bisa ikut ke sini sih? Rou'er pasti ikut-ikutan kamu kan," tuding Li An.


Li Chen tak langsung meresponnya. Mata sipitnya masih berkedip-kedip mengantuk. Ia pun menggeleng pelan, lalu meluruskan, "Kebalik. Rou'er yang menyeretku ke mari. Gara-gara dia, aku jadi dikasih banyak tugas sama Kakak Yun, sedangkan dia hanya disuruh menghafalkan karakter hanzi."


"Heh, itu masih mending daripada kamu dituduh makar menculik keluarga kaisar," ucapan Li An kali ini menusuk telak jantung Li Chen. Pemuda itu memang sudah menimbang berbagai skenario sebelumnya, termasuk yang terburuk dan itu adalah apa yang barusan Li An katakan.

__ADS_1


"Hah ... untung itu nggak terjadi. Sejak kemarin, baginda kaisar memang sudah meengizinkan Rou'er untuk ikut. Aku pun kena getah dari ulahnya," gerutu Li Chen, "Yah, tapi ini lebih seru daripada menyimak cerita-cerita hambar Kakek Bao sih."


Tuk!


Li An memukul sepupunya itu dengan sebuah gulungan daun lontar. Itu adalah salah satu materi yang akan dipelajari oleh Li Chen selama perjalanannya ini. Ia pun bersikap layaknya seorang kakaknya bijak yang menasihati adiknya, "Kamu jangan malas belajar. Omong kosongmu yang akan mengalahkanku jadi semakin kentara karena ucapanmu tadi."


"Itu bukan omong kosong!" Li Chen berusaha merebut gulungannya agar tidak digunakan untuk memukul lagi, "Lihat saja nanti."


"Hais ... 'dahlah. Kamu nggak perlu bersaing denganku di segala bidang. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitu pun kamu. Jangan terpaku untuk mengejar karir yang sama denganku. Kamu pasti unggul atasku di bidang yang lain," Li An menyerahkan kembali gulungan yang diambilnya, "Aku juga nggak pernah bisa menang sparing dari Kakak Xiang."


"Ya," Li Chen membalas lirih. Diamatinya gulungan yang Li An berikan barusan. Ia pun merenung dalam. Tiba-tiba Li An menepuk kepalanya lembut dan pamit untuk pergi, "Semangat, ya. Mutiara tiram itu juga dihasilkan dari pengorbanan dan perjuangan yang berat. Kamu harus sabar."


Li Chen mengangguk pelan. Sesaat setelah Li An keluar, Li Rouwei membuka salah satu matanya, memastikan Li An telah benaar-benar pergi. "Mimi, apa Kakak An sudah pergi?"


"Tuan Putri?" Mimi sedikit terkejut, "Anda sudah banngun?"


"Sst ... diam! Kakak akan menyuruhku pulang kalau dia melihatku," bisik Li Rouwei sambil menaruh telunjuknya di depan bibir.


Di bawah sebuah pohon yang rindang, Li An tersenyum getir. Apa yang ia katakan kepada Li Chen tadi adalah kejujuran dari hati terdalamnya. Meskipun sekarang ia sudah jauh di atas sepupunya itu dalam berbagai bidang, ia masih tetap kalah dalam satu hal.


Orang-orang mengira bahwa Pangeran Kedelapan adalah anggota Keluarga Kekaisaran Tang yang paling dekat dengan orang-orang asing. Yah, mereka semua bilang begitu karena melihat betapa cepatnya Li An menjalin kontrak perserikatan dagang dengan mereka melalui Serikat Dagang Fuli. Dengan begitu, Li An memonopoli sebagian besar hak pemasaran atas komoditas-komoditas impor di seluruh Kekaisaran Tang, baik berupa komoditas pangan maupun barang perhiasan berharga seperti mutiara, giok, dan permata.


Namun, mereka semua salah. Kerabat kaisar yang paling dekat dengan orang-orang asing adalah Keluarga Pangeran Zhizhe, Menteri Urusan Luar Negeri yang sering berkorespondensi dengan para duta-duta dari luar. Dekatnya Li Fengying dengan mereka bahkan sampai membuat ia berani membawa keluarganya menanggung risiko.

__ADS_1


"Paman bilang, itu adalah iman," gumam Li An sambil mengamatii kitab yang Ali dihadiahkan untuknya, "Iman yang tak tergoyahkan sampai ia berani mempertaruhkan segalanya demi kepercayaannya itu. Li Chen sudah memilikinya, sementara aku masih terjebak dalam keragu-raguan."


__ADS_2