Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Pergi! Jangan Ganggu Aku


__ADS_3

Li An duduk sendirian di sebuah ruangan yang sepi. Ruangan itu memiliki tiga rak setinggi orang dewasa yang dipenuhi buku-buku dan gulungan. Di tengahnya terdapat sebuah meja bundar berbahan kayu. Aroma kayu tua tercium harum semerbak di sana. Gambar naga perkasa yang terbang di langit terukir di atasnya. Buku-buku dan gulungan yang Li An ambil tergeletak menutupi sebagiannya.


“Hah …! Bosan,” Li An menaruh buku yang sejak tadi hanya ditatapnya. Ia pun menempelkan pipi ke meja tua yang sejak tadi menemaninya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu itu tanpa menimbulkan suara. Perasaannya sedang buruk. Ia ke mari untuk menghibur dan menenangkan diri. Namun, ia sama sekali tak dapat menemukan penenangan batin itu.


“Gara-gara kakak itu. Apa katanya? Putri Ketiga? Berarti dia kakakku?” gerutu Li An kesal, “Buat apa dia datang? Aku kan dah nggak punya apa-apa.”


Setelah beberapa saat Li An terdiam, ia pun teringat dengan ibunya. Kenangan-kenangan yang muncul di Kediaman Selir Ai ketika itu datang kembali menyapanya. Li An pun sama sekali tidak menampiknya. Ia bahkan membiarkan dirinya tenggelam dalam memori-memori yang indah dan kelam itu. Tanpa sadar, si pangeran kecil memejamkan matanya. Ingatannya jadi semakin jelas terbayang. Hawa kantuk sedikit demi sedikit menyelimutinya. Sebelum ia benar-benar tertidur, ia pun menggumamkan sepatah kata, “Bunda.”


Li Huanran terhenti saat mendengarnya. Ia berdiri di tempat sambil menutup setengah wajah dengan lengan gaunnya yang besar. Mata sipitnya mengamati Li An dengan seksama. Akalnya yang bijak mencari cara agar tidak mengganggu tidur bocah itu, tapi bisa memperbaiki posisi tidurnya. Tidak baik tertidur sambil duduk berbantalkan kedua tangan di atas meja begitu. Itu akan membuat tubuhnya kesemutan dan sakit ketika bangun nanti.


Dengan anggun dan senyap, Li Huanran pun melangkah perlahan untuk mendekati adiknya. Ia lantas berlutut di samping bocah itu dan mengelus punggungnya dengan lembut. Setelah beberapa saat tak ada respon, barulah Li Huanran membenarkan posisi tidur Li An. Ditaruhlah kepala pangeran kecil yang malang itu di pangkuannya.


Melihat wajah bayi bocah yang imut dan menggemaskan itu, Li Huanran tersenyum hangat dan spontan mengelus-elus kepala adiknya dengan halus. Ia tak pernah merasakan perasaan seindah ini saat masih tinggal di Istana Kebahagian Abadi. Mahligai yang mewah itu penuh dengan intrik dan kepentingan politik. Sedikit saja menonjol tanpa ada pihak yang menyokong hanya akan menjadi bencana seperti yang terjadi pada Selir Ai dan putranya ini.


“Bunda Ai, ya? Kedengarannya mesra sekali,” gumam Li Huanran sambil terus mengelus kepala adiknya. Sesekali ia merasa gemas dan mencubit pelan pipi tembam Li An. Li An akan menggelengkan kepalanya jika merasa terganggu. Sungguh hiburan yang menarik. Tak ada ruginya mengikuti saran dari Nyonya Lu pagi ini.


“Hm? Apa ini buku yang biasa dia baca? Aku yakin ini sulit dipahami bahkan untuk saudara kandungku yang cerdas. Pantas saja Permaisuri Istana sangat ingin memotongmu sebelum mekar. Kamu adalah tunas lotus yang spesial,” Li Huanran memperhatikan buku tua yang tadi hendak di baca Li An. Buku itu berisikan catatan sejarah dinasti-dinasti terdahulu yang berbentuk syair. Kebanyakan di antaranya adalah pesan tersurat, tapi tak sedikit pula yang tersirat. “Kalau sampai Ayahanda Kaisar mengetahui ini, apa yang akan beliau lakukan, ya?”


Li Huanran mengangkat kepala adik mungilnya sebentar. Ia pun meluruskan kaki ke kolong meja, kemudian menaruh kembali Li An ke pangkuannya. Dibuangnya secarik napas bosan. Sembari menunggu Li An bangun, ia membaca buku-buku yang tergeletak di meja.


Buku-buku itu adalah buku yang sudah dan akan Li An baca. Beberapa gulungan bergambar juga terbentang di sana, bahkan ada peta rumit kekuasaan dinasti sebelumnya. Tak Kurang pula catatan-catatan para sarjana dan jurnal perang para panglima. Li Huanran hanya dapat menggeleng-geleng saat melihatnya. Ia ragu adik kecilnya dapat memahami semua itu.


“Silahkan dinikmati, Tuan Putri. Ini adalah teh herbal dengan madu,” Kakek Ma datang menyuguhkan secangkir teh lengkap dengan tekonya dan beberapa camilan manis, “Maafkan hamba. Hanya ini yang hamba punya.”


“Tak apa, itu cukup untuk menemaniku,” Li Huanran mengulas senyumnya yang cantik tanpa menatap kakek tua itu. Ia lebih fokus pada buku terakhir yang adiknya baca. Sebelum Kakek Ma pergi, gadis ayu itu pun bertanya, “Pustakawan Ma, apa Pangeran Kedelapan sudah membaca semua buku ini?”


Kakek Ma terhenti dan mengernyitkan dahi. Alis putih di atas mata sipitnya terangkat sedikit. Hari ini, ia sangat terkejut dengan kunjungan Putri Ketiga. Padahal, biasanya hanya Pangeran Kedelapan yang datang. Setelah memperhatikan dengan seksama, Kakek Ma pun sadar bahwa Putri Ketiga itu datang untuk adiknya yang terlihat sedang depresi. Ini adalah pemandangan yang jarang pak tua itu lihat.


“Beliau sudah membaca sebagiannya. Arsip-arsip yang ditaruh di bawah kaki naga adalah arsip-arsip yang sudah beliau baca, sedangkan yang masih ditaruh di atas pundak naga adalah arsip-arsip yang akan beliau baca,” jelas Kakek Ma komplek. Ia sangat hafal kebiasaan Li An. Bocah itu tak akan mengembalikan bukunya ke rak sampai menyelesaikan semua targetnya. Jika ia sudah melahap semuanya, barulah ia akan mencari buku-buku yang lain.


“Benarkah? Buku-buku sulit itu?” Li Huanran masih tidak percaya.


Kakek Ma pun mengangguk sopan, lantas menjelaskan, “Pangeran Kedelapan selalu bertanya setiap kali menjumpai hal yang tidak beliau mengerti. Saat diberi tahu, beliau dengan cepat memahaminya.”


“Bagaimana Pangeran Kedelapan menurut Pustakawan Ma?” Li Huanran mencoba menggali informasi lebih dalam tentang adiknya. Semakin banyak yang ia dapat, semakin detail perkiraannya mengenai masa depan bocah itu.


“Pangeran Kedelapan sangat santun dan berbudi luhur,” jawab Kakek Ma jujur. Hatinya jadi sedikit was-was. Ia pun mulai meragukan motif kunjungan Putri Ketiga. Seakan tahu apa yang gadis itu cari, Kakek Ma mengatakan, “Beliau sangat ingin menjadi sarjana dan menjauhkan diri dari takhta. Karena itu, beliau selalu main ke mari setiap ada waktu.”


Li Huanran pun mempersilakan Kakek Ma pergi setelah menjawab beberapa pertanyaan lagi. Ia lantas kembali membaca bait dari buku riwayat dinasti-dinasti terdahulu. Gadis itu amat menghayatinya sampai tanpa sadar berhenti mengelus-elus kepala Li An. Tak lama kemudian, jari-jemarinya digenggam tangan mungil pangeran kecil itu seakan diminta untuk kembali mengelus.

__ADS_1


Putri Ketiga spontan menutup setengah wajahnya seperti biasa. Ia sedikit terkejut dengan genggaman mungil itu. Dilihatnya rona di wajah Li An yang tampak memburuk. Ia pun kembali mengelus-elus kepala adiknya sambil melantunkan secarik syair kasih sayang keluarga.


Suaranya lembut nan merdu. Iramanya mengalir sendu. Ada nada kesedihan di sana. Liriknya mengandung makna rindu mendalam seorang ibu yang ditinggal anaknya merantau jauh guna menimba ilmu. Rasa berat hati, cemas, dan bahagia bercampur aduk dalam satu lagu.


Seorang ibu …


Waktu demi waktu dilaluinya. Sejak ruh baru terkandung dalam rahimnya, cinta kasihnya pun tertanam seketika. Ketika tangis pertama si buah hati yang mungil terdengar di daun telinganya, kebahagiaan pun mengalir dalam dadanya. Disayangnya ananda, diciumnya, dan dibuainya. Masa demi masa berlalu. Buah hatinya yang lucu nan imut itu pun ranum, tumbuh menawan nan elok bagai kupu-kupu yang beranjak dewasa.


Seorang ibu …


Ketika ia mengantar kepergian si buah hati yang telah pandai bercakap, di wajah teduhnya hanya tersungging senyum yang tulus, padahal lubuknya menangis tersedu-sedu. Batinnya gelisah, tak tega meninggalkan ananda berjuang sendirian. Tangis pun pecah dalam kesendiriannya, merindukan sang putra yang amat dicinta.


Seorang ibu …


Cintanya tulus tak terbilang. Meski seribu bulan menunggu, kasihnya tak akan padam untuk buah hati yang disayang. Musim demi musim berganti. Sekalipun ananda tak pernah kembali, di surga nanti tempatnya bersua abadi.


“Dari mana Kakak belajar syair itu?” tanya Li An tiba-tiba. Suaranya terdengar dingin dan tertahan. Wajahnya dihadapkan ke lantai memunggungi Li Huanran. Air mata menggenang di pelupuknya. Ia pun malu menunjukkan sosoknya yang sendu.


“Dari Bibi Hien, ibu kandungmu. Indah kan?” balas Li Huanran dengan senyum yang mengembang. Ia sudah tahu bahwa adik seayahnya itu sedang menangis. Tangannya pun terus mengelus-elus kepala Li An kecil agar bocah itu tahu bahwa ia tak sendiri.


“Kamu tahu?” Li Huanran lantas berkata, “Ibumu adalah wanita yang lembut dan pemalu. Sangat mirip dengan dirimu. Aku sering mengunjunginya dulu. Beliau selalu bersama dengan Bibi Ai. Karena itu, beliau menitipkanmu padanya. Ibumu sangat mencintaimu sebesar cinta Bibi Ai padamu. Aku pun ….”


“Benar sekali!” Li Huanran mengacak rambut Li An gemas. Gadis ayu itu pun memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia bahkan mengecup kening bocah itu agak lama. Entah mengapa Li An tidak menolak meskipun ia tidak menyukainya. Rasanya seakan sudah kebal dengan perbuatan seperti ini dari kerabat-kerabatnya.


“Kakak ngapain ke sini?” tanya Li An datar. Ia masih terjebak dalam pelukan kakak tirinya. Namun, ia sama sekali tidak berniat melepaskan diri. Tangan mungilnya pun hanya mengaduk-aduk teh herbal yang baru saja diseduhkan.


“Bukannya sudah kubilang, panggil aku ayunda. Ayo panggil aku yang benar,” pinta Li Huanran setengah merengek, “Nanti, kuberi hadiah spesial.”


“Nggak mau!” tolak Li An tegas. Ia pun membuang muka tanda tak sudi. Li Huanran jadi mencubit pipinya kerana gemas. Sifatnya sangat mirip dengan Li Mei yang tak bisa menahan jari-jemarinya untuk mencubit pipi tembam Li An. Li An hanya dapat pasrah dan terheran-heran melihat itu.


“Cukup!” Li An pun bangkit dari pangkuan kakaknya dan berlari cepat ke luar. Ia tak mau menderita lebih lama lagi. Jadi, ia bersembunyi di bawah kolong meja Kakek Ma agar tidak diikuti. Sarjana tua itu jadi ikut gelisah karenanya.


“Ah! Aku bikin kesalahan lagi,” gumam Li Huanran sambil menutup setengah wajahnya seperti biasa. Ia pun membuang napasnya dan ikut bangkit untuk menyusul Li An. Saat hendak keluar pintu, dilihatnya Kakek Ma tampak gugup dan aneh. Namun, ia tak peduli. Baginya, menyusul Li An lebih penting sekarang. Ia pun pamit, “Aku pergi dulu, Pustakawan Ma. Terima kasih teh herbalnya.”


“Kakek, Kakek,” panggil Li An lirih, “Apa dia sudah pergi?”


“Sudah, Pangeran. Namun, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kakek Ma penasaran. Ia sangat heran melihat raut wajah Pengeran Kedelapan yang terlihat sebal. Karena Li An tidak menjawabnya sama sekali dan kembali begitu saja ke ruangannya, kakek tua itu pun tak mempertanyakannya lagi.


Li Huanran mencari Li An ke suluruh tempat di Istana Pangeran Zhìzhě dengan perasaan gelisah. Ia dibantu oleh dayang-dayangnya untuk mencari Pangeran Kedelapan. Nyonya Lu dan Nyonya Chu bahkan ikut mengerahkan dayang-dayangnya juga setelah mendengar bahwa Li An menghilang. Anak-anak Li Fengying jadi ikut heboh karenanya. Hari itu, sebuah keributan kecil terjadi di Istana Pangeran Zhìzhě. Li Fengying selaku penguasa di istana itu hanya dapat menggelang-geleng sambil tersenyum kagum.

__ADS_1


“An’er …! An’er …!” teriak Li Mei di mana pun ia melangkah. Suaranya sangat keras dan nyaring. Selain takut terjadi apa-apa pada Li An, ia juga merasa kesal dengan Li Huanran sebab gadis ayu itulah yang membuat Li An dalam bahaya.


Suara-suara panggilan itu menggema di seantero Istana Pangeran Zhìzhě. Para dayang dan dan sebagian unit prajurit berteriak-teriak mencari Pangeran Kedelapan. Saking berisiknya mereka, Li An sampai kesal mendengarnya. Namun, ia tetap tidak mau keluar dari ruangannya di Pagoda Arsip kecil. Biarlah mereka lelah dengan sendirinya,


“Pustakawan Ma! Apakah An’er tidak kembali ke mari?” Li Huanran datang sampai membuat kakek tua itu gelagapan. Napas gadis ayu itu ngos-ngosan. Sudah jelas ia mencari Li An dengan serius. Saat itu, awan-awan mulai memerah, tanda bahwa mentari akan segera kembali ke peraduannya.


“Silakan Tuan Putri periksa ke dalam,” Kakek Ma dengan ramah membantu Li Huanran.


Li An segera bersembunyi setelah mendengar itu. Ia masuk ke kolong meja bundar yang rendah sampai rasanya tidak mungkin bisa dimasuki. Namun, tubuh Li An yang kecil masih muat di sana. Sambil matian-matian menahan hawa keberadaannya, bocah itu menuding-nuding Kakek Ma sebagai pengkhianat.


“An’er … An’er …,” panggil Li Huanran dengan lembut. Matanya menyapu seisi ruangan. Ia pun meminta dayang-dayangnya untuk memeriksa di ruangan lain dan lantai atas. Suaranya terdengar amat gelisah, tapi Li An sama sekali tidak peduli, “An’er … kamu di mana? An’er.”


Li An menutup mulut rapat-rapat. Dari dalam kolong meja bundar, ia melihat ujung gaun Li Huanran. Gaun putih yang menjuntai sampai terseret di tanah itu jadi sangat kotor karena dibawa ke mana-mana seharian ini.


Setelah beberapa saat, Li Huanran pun pergi dari sana. Suara langkah kakinya yang tergesa-gesa dengan cepat menjauh. Baru saja Li An hendak keluar dari tempat persembunyiannya, suara langkah kaki yang lain terdengar.


Suaranya sangat berisik dan memburu. Makin lama makin dekat pertanda bahwa pemilik langkah itu sedang menuju ke arah Li An. Li An pun segera mengurungkan niatnya untuk keluar. Belum siap ia menghilangkan hawa keberadaannya, sebuah panggilan keras terdengar, “Kakak An! Aku menemukanmu!”


Duak …!


Kepala Li An membentur meja saking kagetnya. Matanya pun melotot ke wajah Li Chen yang sedang mengintip. Karena merasa situasi belum aman, ia pun menyuruh si bungsu itu untuk menunduk dan segera menyeretnya masuk ke kolong.


“Ssst … diam!” bisik Li An serius. Li Chen mengangguk saja. Ia merasa telah bergabung dengan permainan petak umpet yang sebenarnya bukan permainan. Wajahnya yang imut menahan tawa, membayangkan betapa bodohnya orang-orang dewasa di luar sana yang tak dapat menemukan Li An di sini. Li An pun segera menyuruhnya diam kembali.


“Pangeran An, Pangeran Chen, hari sudah sore. Sebaiknya anda berdua menyudahi permainan ini. Lihat! Para putri dan dayang telah menyerah. Kalianlah yang menang,” kata Kakek Ma yang juga mengira kalau orang-orang di Istana Pangeran Zhìzhě sedang bermain petak umpet berskala besar. Mendengar itu, Li Chen segera keluar. Ia pun berseru, “Kakak An, Kakak An, ayo keluar. Kita sudah menang.”


“Hah …,” Li An membuang napasnya panjang. Ia lantas menuruti bujukan Kakek Ma dan keluar dari kolong meja. Bocah itu pun duduk dan menggeleng-gelengkan kepala sambil membersihkan rambut. Saat ia selesai, tiba-tiba saja Li Huanran memeluknya. Ternyata gadis itu belum pergi dari Pagoda Arsip Kecil.


“An’er, kamu nggak kenapa-napa kan? Kamu masih marah sama aku? Kakak cuman bercanda. Maafin kakak, ya,” kata Li Huanran bertubi-tubi. Mata gadis itu sembab. Pipinya memerah karena terlalu cemas. Ia lantas terisak dan menangis sambil memeluk Li An. Li An jadi gelagapan dan bingung dengan apa yang terjadi.


Masalah itu pun selesai dengan cepat. Orang-orang yang ikut mencari Li An disuruh untuk segera beristirahat. Putri Huanran dan anak-anak Pangeran Zhìzhě pun kembali ke paviliun pusat. Tepat sebelum masuk ke rumah, Li Roulan yang jengkel dengan perbuatan Li An mencibir, “Dasar jahat. An’er bikin Kakak Huanran menangis. Harusnya kamu malu.”


“Kenapa kamu menyalahkanku? Aku kan nggak ngapa-ngapain!” balas Li An tidak terima.


“Kamu jahat, An’er,” entah mengapa Li Mei mendukung Li Roulan, padahal biasanya mereka selalu bertentangan, “Kamu bikin kami semua khawatir. Hmph!”


“Hah?” balas Li An tidak mengerti. Ia tetap tidak merasa bersalah sedikit pun. Lagian, ia memang tidak melakukan apa-apa. Buat apa peduli? Ia juga tidak menyuruh mereka untuk khawatir. Bocah itu pun hanya terdiam setelah itu.


“Dasar nggak peka!” cemooh Li Roulan yang kemudian pergi dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2