Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Kembali ke Istana


__ADS_3

Li Huanran segera mengirim surat kepada kaisar begitu adiknya benar-benar mantap untuk berkunjung ke istana. Mereka telah sepakat bahwa tidak akan ada penyambutan yang mencolok atau sebagainya. Li An hanya akan ke Istana Kebahagiaan Abadi bersama rombongan Putri Ketiga, lantas bertemu dengan Kaisar Yung Wei, ayahandanya secara pribadi.


Li Mei dan Li Chen mengoceh keras di depan kamar Li Huanran sehari sebelum kepulangan Putri Ketiga itu. Mereka sangat tidak terima ketika mendengar saudaranya akan dibawa ke Istana Kebahagiaan Abadi begitu saja. Bagi mereka, hanya Istana Pangeran Zhìzhě yang aman untuk Li An.


“Kakak Mei, Chen’er, bisa diam nggak sih?” protes Li Roulan kesal. Ia berkacak pinggang dengan songongnya, sedangkan Li Xiulan hanya berdiri terdiam sambil mengamati situasi. Kedua putri kembar Nyonya Chu itu adalah pihak yang bersekongkol dan memuluskan rencana Putri Ketiga. Jadi, mereka menunjukkan sikap yang berbeda dari putra-putri Nyonya Lu.


“Mau apa kamu? Diam saja! Pergi jauh-jauh sana!” bentak Li Mei geram. Li Chen mengangguk-angguk setuju. Sasaran mereka hanyalah Li Huanran. Mereka sama sekali tidak mengetahui persekongkolan lawannya.


“Hmph! Kakak yang harusnya pergi dari sini. Kakak Huanran baru siap-siap untuk pulang. Buat apa Kakak Mei mengganggu?” Li Roulan menggunakan nada bicaranya yang menyebalkan seperti biasa. Suaranya mengalun lembut, tapi menusuk ke dada. Di kesempatan ini, ia merasa berada di atas angin. Putri kedua dari Pangeran Zhìzhě itu telah menunggu-nunggu saat yang tepat untuk membalas perbuatan Li Mei tempo hari.


“Aku …,” Li Mei ingin menjawab, tapi ia bingung ingin mengatakan apa. Kalau saja Li An dibawa pergi dengan paksa, ia pasti akan berdalih dengan hak-hak adik sepupunya. Namun, ia tahu bahwa Li An pergi dengan keputusannya sendiri. Gadis kecil itu mengerti bahwa ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Mungkin saja Li An akan membencinya jika ia terlalu menuntut begitu.


“Kakak An harus di sini!” Li Chen yang menjawab pertanyaan Li Roulan, “Kakak An bilang, dia nggak mau ke istana itu. Kakak An sendiri yang bilang ke aku. Kalian apakan Kakak An? Pasti kalian memaksanya kan?”


Tuduhan Li Chen yang sembarangan membuat Li Roulan naik pitam. Gadis itu pun menyangkalnya dengan tegas. Perdebatan mereka malah membuat lorong kamar Li Huanran semakin berisik. Putri Ketiga itu hanya dapat menghela napas maklum dan tetap menyimak sambil menulis sesuatu dengan santai di dalam kamarnya.


Saat Li Roulan sibuk melawan saudara tirinya, Li Xiulan pergi meninggalkan mereka tanpa bersuara. Ia berjalan secepat mungkin—tapi masih tetap memperhatikan etiketnya—ke kamar Li An. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia membuka pintu kamar sepupunya dengan keras. Li An sendiri sampai terkesiap karenanya.


“Kakak, sudah kubilang, aku belum selesai milih buku-bukuku,” ucap Li An tanpa menoleh. Ia mengira bahwa yang datang adalah Li Huanran. Bocah itu baru berpaling karena tak ada jawaban setelah beberapa saat berlalu. Dilihatnya Li Xiulan yang biasanya kalem, kini berwajah masam dan galak. Gadis itu melotot tajam padanya.


“Kakak Xiu, ada apa datang ke mari?” tanya Li An penasaran. Ia menaruh buku-buku yang ada di tangannya, lantas mendekati gadis itu dengan hati-hati. Sekali lagi ia memanggil, “Kakak Xiu?”


Wajah Li Xiulan semakin masam dan dingin. Kalau saja ia punya kemampuan yang sama dengan saudarinya, ia pasti sudah menghujami Pangeran Kedelapan dengan kata-katanya. Gadis pendiam itu berpikir bahwa hanya biang masalah ini yang dapat menengahi perdebatan kakaknya. Para orang tua sedang sibuk sekarang, sedangkan para dayang tidak berani mencampuri urusan mereka karena memang Li Huanran melarangnya.


“Kakak Xiu!?” Li An kembali memanggil sepupunya dengan tanda seru tanya di dahi saat tiba-tiba kedua tangan Li Xiulan meraih pergelangannya. Gadis itu masih menatapnya tajam seakan ada kemarahan di sana. Ia pun akhirnya berkata, “Cepat ikut aku. Kamu harus bilang yang tegas ke Kakak Mei.”


Setelah mendengar suara Li Xiulan yang lirih itu, barulah Li An mengerti letak permasalahannya. Ia menduga bahwa Li Roulan dan Li Mei sedang berdebat tentangnya sekarang. Padahal, masalah itu sudah diselesaikan semalam, tapi tabiat mereka yang cerewet itu memang kerap membuat orang pusing.


“Cepat!” Li Xiulan menarik-narik lengan Li An agar bergegas. Sebenarnya, Li An bisa berjalan lebih cepat kalau Li Xiulan tidak menarik-nariknya begitu. Pangeran Kedelapan itu hanya sedang kebingungan melihat wajah sepupunya yang tidak biasa.


“Cepat bantu Rou’er!” Li Xiulan terus menarik Li An. Wajah bayinya yang kesal amat imut di mata para dayang. Air muka Li An yang kebingungan pun tak kalah menggemaskannya. Kejadian seperti ini jarang terjadi karena Li Xiulan adalah gadis yang pendiam, tapi amat berambisius jika sudah berkeinginan.


Li An pun menghela napasnya, lantas menarik lengan dari genggaman tangan Li Xiulan. Ia pun melangkah cepat sampai sempat membuat Putri bungsu Pangeran Zhìzhě kebingungan. Gadis itu pun segera mengikuti sepupunya yang kini telah melangkah jauh di depan.


“Itu Kakak An. Coba saja tanya ke Kakak An langsung!” seru Li Chen dengan nada yang kesal. Ia terus ngotot di hadapan Li Roulan, tak mau mengalah sama sekali. Bocah paling kecil itu bahkan membangun kuda-kuda walaupun masih salah dan kaku. Mungkin ia mau bermain duel dengan Li Roulan jika kalah berdebat.


“Semuanya sudah jelas semalam. An’er kan sudah bilang mau ke Istana Kebahagian Abadi. Enggak ada yang memaksa. Dia pergi, ya karena dia mau,” tegas Li Roulan keras. Para dayang yang sejak tadi menunggu dan mengawasi anak-anak masih terdiam. Mereka baru akan bergerak kalau sampai timbul pertengkaran fisik. Semoga saja itu tidak terjadi.

__ADS_1


“An’er, cepat katakan!” Li Xiulan menyuruh. Ia mendorong pundak Li An dari belakang, lantas berjalan ke sisi saudarinya. Gadis itu berdiri tegak menatap Li Chen dengan dingin. Tak ada lagi ekspresi kesal yang tadi ditunjukkannya pada Li An.


“Eh, ya? Aku harus bilang apa?” Li An malah bingung sendiri. Kalau perihal ia kembali ke istana, itu sudah disampaikan semalam. Apalagi yang ingin anak-anak Pangeran Zhìzhě ini dengarkan darinya?


Li Huanran yang tengah menulis di dalam kamarnya pun berhenti. Ia terus mengamati perkembangan bocah-bocah di depan kamarnya yang kini terdiam. Setelah tersenyum tipis memikirkan sesuatu, barulah ia kembali menulis.


“An’er, kamu bakal balik lagi kan?” tanya Li Mei yang sejak awal tadi sudah terbungkam oleh Li Roulan. Wajahnya terlihat gelisah. Ia tak pernah menyangka bahwa persaudaraan mereka akan sesingkat ini. Padahal, baru beberapa bulan lalu Li An datang. Walaupun mereka masih bisa bertemu lagi setelah Li An tinggal di Istana Kebahagian Abadi, tetap saja rasanya akan berbeda.


“Iya,” jawaban Li An membuat Li Roulan yang baru mau mencibir terhenti. Ia memiringkan kepalanya, heran dengan keplin-planan Li An. Jelas sekali semalam bocah itu bilang bahwa ia akan pergi, tapi barusan dia bilang akan kembali?


“Li An nggak lama-lama kok tinggal di istana,” pintu kamar Li Huanran terbuka, sementara gadis itu berdiri di sana. Kalau saja ia mengatakan hal itu sejak tadi, tentu perdebatan Li Chen dan Li Roulan tak akan jadi separah ini.


“Putri Mei tidak perlu khawatir. Aku akan segera mengembalikan An’er setelah urusan di istana selesai,” Li Huanran menyungging senyum kemenangannya. Ia cukup puas melihat Li Mei yang murung begitu. Anggap saja ini sebagai pembalasan karena gadis itu menyodorkan seekor kodok padanya tempo hari.


“Aku bukan barang!” protes Li An kesal. Li Huanran malah menertawakannya. Ia pun mencengkeram lengan baju adik kecilnya, lantas menarik bocah itu masuk ke kamar. Sebelum menutup pintu, ia tersenyum menyebalkan pada Li Mei sambil berkata, “Kita sudahi dulu hari ini, Putri Mei. Aku akan menghadapimu langsung lain kali.”


“Hmph!” Li Mei memalingkan wajah dan beranjak pergi. Hatinya merasa sakit. Bendungan di matanya hendak pecah. Tangannya mengepal erat. Setelah ia sampai di kamar, barulah ia menumpahkan semua keluh kesahnya itu. Ia menangis tersedu-sedu sendirian sambil menyelimuti diri di atas peraduan. Tak seorang pun boleh melihat wajahnya yang buruk saat ini, apalagi Li An.


Inilah pertama kalinya gadis kecil itu merasakan kehilangan. Perasaan yang amat menyakitkan ketika kehilangan keluarga yang dicintai. Ia sudah menganggap Li An seperti adik kandungnya sendiri. Ia merasa lebih tahu tentang kondisi Li An di bandingkan dengan siapa pun yang ada di kediaman ini. Karena itu, ia sangat khawatir pada adiknya.


...***...


“Kakak Mei masih ngambek,” jelas Li Chen lugas. Matanya menatap ke Li Huanran yang tersenyum manis dengan wajah tak berdosa. Putri Ketiga Kekaisaran Tang itu pun menyibakkan kipas merah kesayangannya, menyembunyikan tawa gemas yang membawa kesan licik.


“Ini pasti gara-gara Kakak,” Li An ikut menatap Li Huanran dengan tajam. Nada bicaranya ketus dan menyindir, tapi Putri Ketiga tidak peduli sama sekali. Gadis ayu itu hanya menitipkan salam dan permintaan maafnya kepada Li Mei melalui Nyonya Lu. Ia berjanji akan membawakan hadiah yang bagus saat mengantar Li An kembali nanti. Setelah semua siap, rombongan Putri Ketiga pun berangkat.


Di sebuah kamar yang luas, Li Mei bangun terperanjat. Jendela kamarnya telah terbuka lebar-lebar. Sinar mentari menyusup dengan bebas dari sana. Ini adalah hari yang penting, tapi dia malah bangun kesiangan. Melihat jendela kamar yang terbuka itu, Li Mei pun menggerutu.


“Ih …! Kenapa aku nggak dibangunin sih? An’er belum pergi kan?” Li Mei dengan tergesa bangkit dari ranjangnya. Biasanya akan ada dayang-dayang yang mendandaninya. Namun, hari ini mereka tidak ada.


Ah, bukannya mereka tidak datang. Mereka pasti sengaja tidak membangunkan putri sulung dari Pangeran Zhìzhě itu karena berpikir bahwa sang putri masih merajuk dan enggan bertemu Putri Ketiga. Wajah gadis itu masih terlihat murung dalam tidurnya pagi ini.


Li Mei memakai gaun sekadarnya. Ia pun keluar kamar dengan terburu-buru. Saat seorang dayang muda melihatnya, dayang itu langsung mengejar sang putri dengan panik. Tidak seharusnya seorang putri bangsawan berdandan asal-asalan begitu.


“Cepat! Jangan lama-lama!” seru Li Mei sebal. Dayang muda yang akan mendandaninya jadi gelagapan. Mereka berhenti di sebuah lorong yang masih di sekitar area kamar para putri Pangeran Zhìzhě .


“Kenapa kalian tidak membangunkanku?” tanya Li Mei menginterogasi sambil menunggu dirinya selesai didandani. Ia dibawa kembali ke kamar. Rambutnya sedang dirapikan. Tinggal sedikit lagi sampai proses dandan kilat itu selesai.

__ADS_1


“Maaf, Tuan Putri. Anda terlihat masih kelelahan sehingga Nyonya Besar Lu memerintahkan kami untuk tidak membangunkan Anda,” jawab si dayang muda sejujur-jujurnya. Ia adalah salah satu pelayan terdekat Li Mei yang ditugaskan oleh Nyonya Lu. Namanya Bai Wei.


“Apa? Lalu, bagaimana dengan An’er?” tanya Li Mei lagi dengan raut wajah yang semakin kesal. Ekspresinya yang seperti itu membuatnya tampak mengerikan. Bai Wei pun menjawab dengan hati-hati, “Pa, Pangeran Kedelapan sudah berangkat ke istana.”


“Hah?! Sudah berangkat katamu?” Li Mei bangkit dari kursinya sampai membuat Bai Wei terkejut. Tinggal satu untai lagi yang sampai dandanan sang putri selesai. Akan tetapi, gadis itu sudah lebih dulu keluar dari kamarnya demi mengejar Li An.


“Kakak Mei mau kemana?” sebuah pertanyaan dengan nada menyindir terdengar begitu Li Mei keluar dari kamarnya. Ia pun menoleh. Dilihatnya Li Roulan dan Li Xiulan di sana. Li Roulan tersenyum menyebalkan, sementara Li Xiulan berwajah datar.


“Mana An’er?” Li Mei langsung bertanya sembari menahan emosinya yang hampir meledak setiap kali melihat Li Roulan. Li Roulan pun menbentangkan sebuah kipas di tangannya untuk menutupi setengah wajah. Ia menirukan kebiasaan Li Huanran yang menurutnya menarik. Kipas itu pun juga pemberian Putri Ketiga.


“An’er sudah pergi. Tadi dia cari Kakak karena nggak datang. Jangan bilang …,” Li Roulan sengaja menjeda perkataannya untuk menggoda sang kakak. Ia tertawa kecil di balik kipasnya yang cantik.


“Eh!?” Li Roulan tertegun begitu melihat Li Mei pergi begitu saja tanpa memberi muka padanya. Li Xiulan pun menepuk pundaknya sehingga gadis itu menoleh. Dilihatnya si putri bungsu yang menggeleng pelan, memperingatkan Li Roulan agar tidak berlebihan.


Li Mei menuju ke gerbang Istana Pangeran Zhìzhě secepat mungkin. Saat sampai di sana, ia hanya mendapati dua prajurit yang menjaga di sana. Tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan Putri Ketiga, apalagi Li An.


“Tuan Putri, ada apa Anda ke mari?” tanya penjaga yang bingung dengan kehadiran Li Mei. Putri kecil itu tak menjawab dan malah segera pergi. Hal itu membuat prajurit yang diam menyalahkan kawannya, “Hai, kamu menakuti tuan putri.”


“Mana mungkin!?” bantah si prajurit yang kebingungan.


“Mama! Mama!” tujuan Li Mei selanjutnya adalah Nyonya Lu. Ia menghampiri sang ibu dengan wajah sedih dan kecewa. Nyonya Lu yang sedang membaca pun menoleh, “Hm? Mei’er, kamu sudah bangun? Ada apa?”


“Kenapa Mama nggak bangunin aku?” Li Mei merengek sambil mencengkeram gaun Nyonya Lu. Perbuatannya itu sampai membuat sang ibu kaget. Wanita itu tak menyangka bahwa putrinya akan sesedih ini saat ditinggal oleh Li An.


“Cup … Cup … sudahlah, Sayang,” Nyonya Lu memeluk putrinya dengan erat. Tangan lembutnya menepuk-nepuk punggung Li Mei perlahan. Pelukan itu membuat tangis sang putri kecil berangsur tenang sampai tersisa isakan saja. Tak lama kemudian, Li Mei kembali tertidur karena terlalu lelah menangis. Nyonya Lu pun mengantarnya langsung ke kamar.


...***...


“Putri Ketiga berhasil membawa bocah itu kembali?” seorang wanita cantik yang tampak masih muda bertanya pada dayangnya. Wajahnya sebeku musim dingin. Ia terlihat tidak senang dengan kedatangan Li An.


“Benar, Nyonya Zhaoyi. Pangeran Kedelapan akan sampai di Istana Kebahagiaan Abadi siang ini,” jawab si dayang yang merupakan seorang wanita paruh baya. Ia membungkuk penuh hormat pada junjungannya. Ekspresinya datar dan sulit dibaca.


“Hah … sebenarnya apa yang membuat Baginda Kaisar tertarik pada bocah itu?” keluh wanita cantik yang dipanggil Nyonya Zhaoyi itu. Jari-jemari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja. Ia terlihat sedang berpikir keras.


“Saya rasa, Nyonya Zhaoyi tidak perlu terlalu khawatir,” ucapan si dayang menyibak ketegangan yang ada di ruangan itu. Nyonya Zhaoyi pun menoleh. Matanya menyiratkan tanda tanya, “Apa maksud Kepala Dayang Yi?”


“Saya dengar, Pangeran Kedelapan tidak ingin tinggal lama di Istana Kebahagiaan Abadi. Pangeran Zhìzhě akan mengambil tanggung jawab untuk merawatnya. Pangeran Kedelapan sangat membenci istana semenjak dipisahkan dari Selir Ai,” jelas Kepala Dayang Yi, “Lebih baik kita waspada dengan Pangeran Pertama yang mendapat dukungan dari Permaisuri Eminen. Demikian pula ibu Pangeran Pertama, Selir Gui.”

__ADS_1


“Semoga saja itu benar,” Nyonya Zhaoyi berucap pelan, “Namun, kita tetap harus memperhatikan gerak-gerik bocah itu. Kepala Dayang Yi, pastikan dia benar-benar keluar dari istana secepat mungkin.”


“Hamba terima titah Nyonya Zhaoyi,” Kepala Dayang Yi memberi hormat, lantas keluar dari ruangan majikannya tanpa suara. Ia pun mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di sana. Pada seorang gadis bawahannya, ia berkata, “Berikan ini padanya.”


__ADS_2