
Pangeran Kedelapan menyambut undangan Wali Kota Quanzhou malam itu. Kebetulan, waktu yang ditentukan masih masuk dalam jadwal luangnya. Ini bisa menjadi agenda pembukanya di Kota Bandar Quanzhou.
“Selamat datang, Pangeran,” seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Wali Kota Quanzhou, Shen Chao menyambut langsung kedatangan Li An. Di sampingnya, seorang gadis cantik berias tebal tersenyum cerah turut menyambut kedatangan sang pangeran. Ia adalah Shen Huifeng, putri kedua Wali Kota Quanzhou.
Li An mengangguk dan menjawab basa-basi Shen Chao sekadarnya. Saat ia tengah beramah tamah dengan pria paruh baya berbadan jangkung itu, Li Huanran yang menemaninya tersenyum manis pada Shen Huifeng. Shen Huifeng pun hanya dapat membalas senyum itu dengan senyuman serupa.
“Silakan dinikmati, Pangeran. Hidangan ini kami persiapkan khusus untuk Anda dan keluarga,” ucap Shen Chao ramah. Ia pun melirik Wang Hongli dan Yun Jili dengan senyum yang sama ramahnya, “Tuan Pendekar dan Tuan Sarjana juga silakan nikmati. Tolong jangan sungkan.”
Wang Hongli yang pertama mencicipi hidangan. Setelah ia mengangguk, barulah yang lain ikut makan. Sebagai seorang pedekar berbakat jebolan Parguruan Pedang Langit, ia memiliki teknik ketahanan dan deteksi racun tingkat tinggi. Tidak hanya belajar berpedang, ia juga mempelajari hal itu di sana. Pendekar Cenangkas Kembar itu jadi ingat dengan masa-masa sulitnya saat pertama kali berusaha menetralisasi racun.
Tidak ada banyak percakapan yang mengalir selama sarapan berlangsung. Kebanyakan obrolan ditanggapi oleh Wang Hongli atau Yun Jili. Itu karena sifat Li An yang tidak suka membalas pujian dari orang lain. Ia mungkin hanya akan menjawab singkat atau mengangguk pelan.
“Silakan Wali Kota Shen tuturkan langsung maksud Anda mengundang kami,” ucap Li An setelah menghela napas ringan. Sarapannya hampir habis. Ia sudah bosan mendengar cerita basa-basi Wali Kota Quanzhou yang cerewet.
“Ehem!” Shen Chao hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia memang tidak bisa melihat ada celah lebar untuk menjalin kedekatan dengan Pangeran Kedelapan itu. Sejauh pengamatannya sampai saat ini, pangeran yang tenang itu sosok yang memasang tembok tebal di mukanya. Ia jadi pesimis untuk dapat mendekatkan putri keduanya dengan Pangeran Kedelapan.
“Begini, Pangeran,” Shen Chao mulai menjelaskan hajatnya untuk bertemu dengan Li An. Ia menceritakan bahwa ada beberapa masalah dan kesalahpahaman antara pedagang Keluarga Shen dengan saudagar dari negeri asing. Ia ingin meminta tolong agar Serikat Dagang Fuli yang berada di bawah pengawasan pangeran dari Kekaisaran Tang sekaligus memiliki kedekatan dengan orang-orang asing untuk menjadi penengah di antara mereka.
“Saya yakin mereka akan mendengar apa yang Serikat Dagang Fuli katakan,” ucap Shen Chao dengan hati-hati, “Apalagi Anda adalah orang yang tersohor di lingkungan mereka. Mohon Pangeran Kedelapan membantu hamba yang kecil ini.”
“Wali Kota Shen, masalah seperti apa yang Anda maksud barusan?” Li An meminta kejelasan lebih lanjut. Ia tidak bisa langsung memberi tanggapan bila tidak mengerti duduk masalah sebenarnya.
“Kami telah membuat kontrak dengan pedagang dari negeri asing. Itu adalah kontrak yang umum dan telah lama dipergunakan selama ini. Namun, saudagar baru yang masih muda dari negeri asing itu tiba-tiba meminta perubahan kontrak dalam kerja sama kami. Padahal, kontrak itu sudah berlaku sejak generasi sebelumnya dan tenggat masa berlakunya masih belum selesai,” ujar Shen Chao panjang lebar, “Saudagar muda itu bilang akan mencabut kerja sama dagang dengan keluarga kami jika tuntutannya tidak segera dipenuhi.”
“Tunjukkan kontrak dagang kalian,” pinta Li An dengan wajah yang datar, tapi serius. Wali Kota Quanzhou awalnya agak keberatan dengan itu. Namun, akhirnya ia tetap menyerahkannya juga demi menyambung pembicaraan dengan Pangeran Kedelapan.
Li An memeriksa isi kontrak itu dengan cepat. Sekilas, tak ada masalah dalam bulir-bulir kontraknya yang mungkin menyebabkan saudagar muda yang dimaksud Shen Chao menuntut perubahan kontrak. Saat sampai di bagian kontrak jual beli kredit, Li An pun mengerutkan kening, “Kalian menetapkan harga yang mengandung bunga dalam cicilan bertempo?”
“Benar, Pangeran,” Shen Chao mengangguk, “Itu merupakan salah satu hal yang dituntut oleh saudagar yang bersangkutan. Di generasi sebelumnya, ini adalah hal yang biasa dan tidak masalah sama sekali. Bunga itu ditetapkan agar pembeli menyelesaikan pembayarannya tepat waktu.”
Li An kembali membaca buku kontrak yang dibawanya setelah mendengar penjelasan Wali Kota Quanzhou. Kali ini, ia membacanya dengan lebih teliti. Ia pun kembali mengerutkan kening saat membaca bab barter barang.
“Ada apa, Pangeran?” tanya Shen Chao begitu melihat gelagat Pangeran Kedelapan itu.
“Kalian menukar barang yang sama dengan takaran yang berbeda,” jawab Li An tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar kontrak.
__ADS_1
“Itu berdasarkan perbedaan kualitasnya, Pangeran,” terang Shen Chao, “Kami menjual 1 kati garam tinggi dengan 2 kati garam rendah karena kualitasnya berbeda.”
“Bagaimana kalian menjamin garam yang kalian punya memiliki kualitas yang lebih tinggi?” tanya Li An dengan dingin.
Wali Kota Shen Chao terdiam. Ia ingin menjawab pertanyaan pemuda itu, tapi seolah lidahnya patah hingga tak dapat berkata-kata. Pria paruh baya itu sangat yakin dengan kualitas garam yang diolah oleh keluarganya. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, ia memang harus membandingkan ulang kualitas barangnya dengan saudagar asing itu.
“Sekalipun kualitasnya berbeda, kalian tidak bisa menukarnya dengan takaran maupun timbangan yang timpang,” ucapan Li An membuat Shen Chao sedikit terkejut. Ia merasa tidak terima dengan perkataan itu, tapi Li An sudah lebih dulu mengatakan, “Kalian tidak perlu menukarnya jika memang tidak suka dengan perbedaan kualitasnya. Kualitas itu tidak bisa dijadikan dasar penetapan takaran dan timbangan dalam praktik barter.”
“Itu adalah hal yang biasa kami lakukan. Para pedagang lain pun tidak masalah dengan aturan itu sampai akhir-akhir ini,” Shen Chao mencari pembenaran, “Itu adalah hal yang lumrah dengan membandingkan kualitas barang takarannya.”
“Kecurangan tetaplah kecurangan,” tukas Li An tegas.
“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” suara Shen Chao agak tinggi kali ini, tapi ia tetap menjaga etikanya karena berhadapan dengan keluarga kekaisaran. Apalagi Wang Hongli menatapnya dengan tajam setelah itu.
“Tukar dengan jenis barang yang berbeda atau jual dengan uang,” jawab Li An simpel, “Kalian bisa menukar 1 kati garam dengan sekian kati beras sesuai takaran dan timbangan yang kalian tentukan atau kalian bisa menjualnya dengan emas dan perak sesuai harga yang kalian berikan. Selama kedua pihak bersepakat, maka tidak akan ada masalah di antara kalian. Begitulah perdagangan yang bersih.”
Shen Chao masih ingin membantah, tapi urung karena apa yang dikatakan oleh Pangeran Kedelapan masuk akal. Ia pun ingat dengan masalah pertama yang disinggung oleh pemuda itu, “Bagaimana dengan masalah bunga yang Anda tanyakan di awal?”
“Itu juga bentuk kecurangan,” jawab Li An sambil meletakkan buku kontrak Keluarga Shen, “Bunga tidaklah sama dengan perdagangan. Kalian mengambil tambahan dari ketidaksanggupan seseorang dalam membayar utang. Hal itu adalah tindakan culas dalam jual-beli maupun utang-piutang sekalipun kalian menamainya denda agar pihak bersangkutan membayar tepat waktu.”
“Benar, itu bisa menjadi masalah yang serius, apalagi kalau utang tidak dibayarkan. Namun, tak ada gunanya kalian memaksa pihak yang memang tak dapat membayar untuk membayar segera, apalagi kalau kalian memberi bunga. Hal itu malah berpotensi membuat yang bersangkutan tak dapat membayarkannya,” Li An menoleh ke luar jendela. Terdengar suara-suara kebisingan dari sana. Para warga kota ini sedang sibuk-sibuknya bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari. Sebagian besar mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.
“Karena itu, kalian bisa memberi penangguhan pada pihak yang bersangkutan agar dia dapat segera menyanggupinya,” saran Li An kemudian, “Jika pihak yang bersangkutan tidak juga membayarkannya, maka bentuklah suatu badan yang dapat membimbing dan memberi bantuan bagi yang bersangkutan agar ia segera melunasi utangnya. Dengan demikian, Anda telah menjadi pemimpin yang baik bagi warga yang tinggal di kota ini. Namun, jika yang bersangkutan memang tidak berniat untuk membayarnya sama sekali, maka urusannya dengan Tuhan dan kalian pun dapat menindaknya sesuai dengan hukum yang berlaku.”
“Kami mengerti,” kata Shen Chao setelah mendiskusikan beberapa hal lagi, “Keluarga Shen akan segera mendiskusikan masalah ini. Kami akan langsung menghubungi Pangeran jika hasilnya telah keluar.”
“Bagus, kita sudah selesai kalau begitu,” Li An berniat untuk pamit, tapi Shen Chao terlihat masih ingin menyampaikan sesuatu. Jadi, ia terdiam menunggu tanggapan pria berkumis runcing itu. Wali Kota Quanzhou pun mengungkapkan masalah berikutnya, “Maaf, Pangeran. Sebenarnya … masalah ini tidak hanya dalam buku kontrak itu saja.”
“Hm, lanjutkan,” Li An mengangguk saat pria paruh baya itu terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan urusannya.
“Di antara anggota kami dan anggota dari saudagar asing itu telah terjadi perseteruan. Kami menahan orang-orang yang terlibat, lalu kelompok saudagar asing itu meminta kami untuk segera membebaskan orang-orang mereka,” Shen Chao memasang wajah depresinya, “Kami khawatir masalah ini akan mempersulit proses rekonsilisasi nanti. Mau bagaimanapun, kami harus menindak pelanggaran sesuai dengan hukum yang berlaku.”
“Kalian menahan semuanya? Termasuk dari anggota kalian juga?” selidik Li An dengan mata yang menatap tajam.
“Em, itu … kami,” Shen Chao keberatan menjawabnya. Sebagai seorang wali kota, ia memang tidak ingin berpihak dalam menegakkan hukum. Namun, pihak yang terlibat dari keluarganya adalah seorang putra dari lingkaran dalam Keluarga Shen. Ia tidak bisa berbuat banyak demi mengamankan posisinya dalam keluarga.
__ADS_1
“Kamu tidak bisa melakukannya? Bukankah orang yang bersalah harus ditindak sesuai hukum yng berlaku?” Li An berdecak kesal, tapi pelan sehingga tidak terlalu terdengar.
Shen Chao lagi-lagi terdiam. Ia sedang menimbang-nimbang masalah yang akan menjeratnya di masa depan. Manakah yang lebih besar? Berurusan dengan seorang pengeran muda dari Kekaisaran Tang? Ataukah berurusan dengan orang-orang dari Keluarga Shen yang masih merupakan kerabat dekatnya?
“Kami akan menindak masalah ini dengan seadil-adilnya, Pangeran,” akhirnya Shen Chao memutuskan untuk tidak bermain-main dengan Pangeran Kedelapan. Sekalipun pangeran itu masih muda, ia tahu bahwa Pangeran Kedelapan bukan sosok yang biasa. “Sekali lagi, saya minta tolong agar Pangeran Kedelapan berkenan menjadi penengah di antara kami dan mereka.”
“Baiklah, aku juga akan mengutus seseorang untuk meminta keterangan dari pihak mereka. Ingatlah! Aku maupun Serikat Dagang Fuli tidak akan bisa membantu Keluarga Shen jika kalian sama sekali tidak bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah ini,” Li An memberi peringatan kemudian, “Lagi pula, kalian tidak akan mendapat masalah atau kerugian besar hanya karena mengubah beberapa butir kontrak.”
“Baik, Pangeran,” Shen Chao memberi Hormat, “Saya akan mengingat hal ini.”
“Apakah masih ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Li An sebelum benar-benar pamit.
Wali Kota Shen berdeham pelan. Ia pun melirik ke anak gadisnya yang sejak tadi terdiam seribu bahasa, baru kemudian menanyakan keluangan Li An hari ini, “Jika Anda tidak keberatan, izinkan putri saya memandu Anda berkeliling kota.”
Li An mengangangkat alisnya. Ia mengerti dengan motif Wali Kota Quanzhou itu, tapi tidak merasa ada masalah dengannya. Ia pun menoleh pada Li Huanran seolah meminta persetujuan Putri Ketiga sebagai perempuan dalam rombongannya. Sang kakak hanya tersenyum dan mengangguk memberi persetujuan itu. Ini bisa jadi kesempatan yang bagus untuk meneliti peringai putri Wali Kota Shen.
“Baiklah, kami memang berencana untuk mengunjungi beberapa tempat setelah ini. Putri Wali Kota Shen bisa ikut jika memang menginginkannya,” jawab Li An kemudian. Gadis cantik berias tebal itu pun langsung menjawab, “Saya tidak keberatan sama sekali.”
Suara nyaringnya yang keras membuat semua orang menoleh padanya. Sang putri wali kota pun langsung menundukkan wajah karena malu. Ia merasa terlalu berlebihan dalam menanggapi ucapan Pangeran Kedelapan. Pipinya jadi merona karena itu.
“Wah, tampaknya ini akan jadi perjalanan yang menarik,” Li Huanran untuk pertama kalinya angkat bicara. Senyum usil tersungging lebar di wajah ayunya. Ia memberi tatapan ramah pada gadis lugu di hadapannya itu.
“Tentu saja,” ucap Wali Kota Shen sambil terkekeh. Rupanya ia masih memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan dekat dengan keluarga kekaisaran. Ini mungkin akan menjadi hal baik baginya di masa depan.
“Kalau begitu, kami pamit undur diri,” Li An bangkit diikuti orang-orang yang bersama dengannya. Begitu pula wali kota dan keluarganya. Shen Chao pun memberi salam terakhir dengan ramah untuk mendapat kesan baik dari Pangeran Kedelapan, “Silakan, Pangeran. Selamat menikmati hari Anda.“
Li An hanya mengangguk. Ia pun keluar diikuti Yun Jili dan Wang Hongli, sementara Li Huanran berjalan bersisian dengan Shen Huifeng. Kedua gadis itu naik dalam satu kereta kuda yang sama, sedangkan Li An menunggang kuda di barisan paling depan rombongannya.
“Kenapa ayah memilih Hui’er untuk mendampingi Pangeran Kedelapan,” tanya seorang gadis yang kelihatannya lebih tua dari Shen Huifeng, “Apa ayah yakin dia bisa menarik perhatian pangeran?"
“Mungkin saja,” jawab Wali Kota Shen takzim, “Pangeran Kedelapan terkenal dengan ketenangannya. Kalau aku mengutus gadis supel sepertimu, mungkin Pangeran Kedelapan malah akan merasa risih atau terganggu.”
“Hm, ayah meragukan kemampuan Ling’er?” gadis bernama Shen Ling itu berdecak kesal. Shen Chao pun terbatuk pelan. Bukan begitu maksudnya, “Ling’er, ayah hanya ingin menyesuaikan diri dengan kepribadian pangeran saja. Menurut ayah, pangeran yang tenang itu akan lebih suka gadis yang kalem.”
“Hmph! Aku juga bisa jadi gadis yang kalem kok,” Shen Ling menggelembungkan pipinya. Ia pun meninggalkan ayahnya yang termangu sendirian di balkon. Perasaannya jadi buruk karena sang ayah membanding-bandingkan ia dengan adiknya.
__ADS_1