Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 063: Tenang Sebelum Badai


__ADS_3

“Kita berangkat sekarang,” seru Otugai memimpin rombongan. Orang-orangnya pun berseru semangat. Mereka semua menunggang kuda masing-masing untuk berangkat ke tempat perburuan. Meski tidak berbaris rapi, para penunggang kuda dari kekhaganan itu tampak gagah dan berwibawa.


Di sisi lain, Li An memimpin rombongannya yang terpilih untuk ikut berburu. Di antara anggotanya, ada beberapa pendekar hebat seperti Wang Hongli. Ada juga bangsawan Tang yang memang suka berburu, termasuk di antaranya Xiao Chyou.


Tak hanya Suku Anak Panah Kedua dan Delegasi Kekaisaran yang ikut berburu, ada juga kelompok dari suku anak panah lainnya yang dipimpin setiap kepala suku setingkat Otugai. Mereka baru sampai di ibu kota Tarkan beberapa hari yang lalu. Kedatangan mereka disambut baik oleh Ertamis Khagan.


“Pangeran, apa ini akan baik-baik saja?” tanya Xiao Chyou khawatir. Ia masih belum jadi melaksanakan perintah dari menteri tinggi yang menemuinya waktu itu. Sampai saat ini, ia masih merasa bimbang untuk berpihak pada Pangeran Kedelapan atau menteri tinggi. Meskipun terkenal dingin dan susah didekati, pangeran itu sebenarnya adalah orang yang baik dan berhati mulia.


“Apa yang kamu takutkan, Kepala Chyou?” Li An malah balik bertanya. Sebenarnya, ia tidak berencana mengajak Kepala Bagian Logistik itu. Namun, karena yang bersangkutan sendiri yang meminta, ia pun tidak keberatan untuk membawanya.


“Anu …,” Xiao Chyou ragu untuk mengungkapkan pikirannya. Ia berpikir dalam dahulu sebelum mengatakan isi hatinya itu pada Pangeran Kedelapan. “Apa Anda yakin untuk menerima undangan berburu ini? Seandainya mereka merencanakan sesuatu di tengah perjalanan, kita tidak akan bisa berbuat banyak dengan orang yang sedikit.”


 “Kamu takut mereka akan mengkhianati kita?” Li An mengerutkan keningnya. Kemungkinan itu memang ada. Namun, Pangeran Kedelapan segera menggeleng dan mengenyahkan pikiran buruk itu. “Kekhaganan tidak akan mendapat apa pun dengan menyakiti kita. Mereka malah akan mendapat bencana besar kalau sampai kita terluka. Kekaisaran bisa menjadikan kita sebagai alasan untuk kembali menyerang kalau mereka berbuat macam-macam.”


“Ah, begitu, ya …,” Xiao Chyou sedikit menundukkan wajahnya, merenungkan hal yang selama berminggu-minggu ini sudah menyibukkan dirinya. Sebenarnya, alasan itulah yang diinginkan oleh sang menteri tinggi dari Kekaisaran Tang. Beberapa pihak di kekaisaran berniat mengorbankan Pangeran Kedelapan untuk kembali menginvasi Kekhaganan Tarkan. Bagi mereka, itu sama saja dengan “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.”


Tak hanya mendapat alasan untuk menaklukkan kekhaganan, mereka dapat sekalian membuang Pangeran Kedelapan dari panggung perpolitikan istana. Serikat Dagang Fuli pun mungkin akan jatuh ke tangan mereka. Xiao Chyou tidak tahu apakah ada orang lain selain dirinya yang mengetahui rencana itu. Ia tidak diberi tahu sama sekali apakah dirinya memiliki sekutu atau tidak dalam menjalankan siasat pengorbanan ini. Selama ia sukses menjalankan tugas, ia dijanjikan jabatan yang lebih tinggi dari karirnya sekarang.


Otugai memimpin seluruh rombongan ke sebuah padang rumput yang luas. Di bagian utara padang rumput itu, ada formasi perbukitan yang panjang. Pohon-pohon rimbun berdaun hijau terlihat di sana.


“Kita akan membangun perkemahan di sini,” seru Otugai memberi instruksi. Orang-orang pun melaksanakan perintahnya dengan sigap. Mereka mengatur wilayah masing-masing dengan sendirinya. Li An sendiri memilih tanah tempat ia berpijak begitu rombongan sampai. Panji kekaisaran ditancapkannya di tanah itu guna menunjukkan kepemilikan wilayahnya.

__ADS_1


Setiap Suku Anak Panah Tarkan memiliki panjinya masing-masing. Sejatinya, mereka adalah suku-suku yang terpisah di bawah satu kepemimpinan khagan. Namun, setiap kepala suku memiliki otoritasnya sendiri untuk memimpin sukunya masing-masing.


“Silakan beristirahat sejenak,” teriak seorang penyeru, “Perburuan akan dimulai besok.”


Suasana perkemahan jauh berbeda dengan suasana di istana. Suasana hati Xiao Chyou pun juga sama begitu. Ia merasa semakin gelisah setiap waktunya. Pria muda itu bahkan tidak bisa menutup mata. Ia terus menimbang-nimbang untuk memutuskan keberpihakannya. Perburuan ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk menjalankan misi dari menteri tinggi kalau ia mantap hati menerimanya. Kalau tidak, tentu ia akan tetap pada posisinya hari ini.


Begitulah pikirnya. Andai ia berpikir lebih dalam lagi, bisa jadi Li An memberinya posisi yang lebih baik selepas negosiasi ini menimbang kinerjanya yang baik selama menjadi Kepala Bagian Logistik. Pangeran Kedelapan yang bijak pasti tidak akan mengabaikan orang berbakat sepertinya.


***


“Akhirnya kita pulang~” seru Li Xiayu senang. Setelah acara perjamuan kemarin, negosiasi dengan kekhaganan dianggap sudah sukses dan tuntas. Putri Ketujuh yang sejak awal tidak memiliki pekerjaan pun dipulangkan bersama Asina dan Mimi—dia harus pulang untuk membina Asina, sedangkan Yun Jili masih harus bersama Li An sebagai penasihatnya. Li An menitipkan surat yang ditulisnya semalam pada Mimi. Ia mengamanahkan pesan penting itu pada dayang kepercayaannya.


Berkat negosiasi yang berjalan mulus, Li Xiayu tidak perlu berkorban sedikit pun. Ia sangat senang karena bisa segera kembali ke Istana Kebahagiaan Abadi yang tenteram. Selain itu, Li An malah mendapat seorang selir yang menandakan terikatnya hubungan kekerabatan antara kekaisaran dan kekhaganan.


“Tentu saja bukan,” jawab Li Xiayu dengan senyum usil di wajahnya, “Aku adalah kakaknya. Kalau aku istrinya, aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan dia barang sejengkal pun.”


“Ah …,” Asina menelan ludahnya. Entah ini keberuntungan atau bukan, yang jelas ini adalah kesempatan baginya. Ia bisa saja menjadi istri utama Pangeran Agung kalau ia bisa mendapatkan hatinya.


“Karena itu, aku mau berjanji untuk membantumu, bukan?” Li Xiayu menyinggung kembali perihal janjinya beberapa hari yang lalu, “Sayangnya, kamu tidak menjadi dayangku karena Baginda Khagan menyerahkanmu langsung pada An’er. Aku tidak akan bisa berbuat banyak kalau begitu.”


“Hm?” Asina masih belum mengerti maksud Li Xiayu.

__ADS_1


“Tenang saja, aku akan tetap membantumu untuk mendapatkan hati bocah tidak peka itu,” Li Xiayu kembali tersenyum usil. Ia suka sekali melihat gadis di hadapannya ini merona. Entah mengapa, itu cukup menyenangkan baginya. “Kamu harus tahu bahwa bocah itu sudah diincar oleh banyak gadis di kekaisaran.


Oh, ya,” Li Xiayu teringat dengan salah seorang sosok yang paling dekat dengan Li An selama beberapa tahun ini, “Kamu juga bisa mendekati seorang lagi kalau kamu ingin usahamu lancar. Dia adalah seorang wanita cerewet yang sejak kecil mengasuh bocah tidak peka itu. Kalau kamu menarik perhatiannya, dia akan membantumu mendapatkan Adik Kedelapan.”


“Si–siapa dia?” tanya Asina malu-malu.


“Putri Ketiga,” jawab Li Xiayu enteng, “Sayangnya, dia sudah menikah dan tinggal di Guangzhou bersama suaminya. Mungkin kamu bisa bertemu dengannya kalau meminta pada bibi.”


“Kebetulan sekali, saya juga akan mengantar surat ke Guangzhou,” Mimi menunjukkan sikap yang koordinatif, “Nona Asina bisa sekalian ikut dengan saya ke sana.”


“Ah, aku hampir lupa,” Li Xiayu mengingat hal lainnya, “An’er punya janji dengan Baginda Kaisar Yung Wei. Dia tidak boleh menikahi gadis bangsa asing sebelum menikah dengan seorang gadis bangsawan dari kekaisaran. Tampaknya, kamu tidak akan bisa menjadi yang pertama, Asina.”


“...”


Asina terdiam. Ambisinya kandas seketika. Namun, ia masih memiliki harapan untuk mendapatkan cinta dari Pangeran Agung yang didambakannya itu. Ia pun membalas peringatan Li Xiayu itu dengan suara yang lirih, “Saya sudah mendengarnya dari Pangeran Agung. Beliau adalah pria yang tahu cara menghormati wanita. Saya tidak akan keberatan meskipun menjadi yang kedua, ketiga, atau bahkan yang keempat. Sosok yang mulia seperti beliau pantas mendapatkan itu. Gadis seperti saya pun tidak pantas memonopolinya sendiri.”


“Asina,” panggil Li Xiayu dengan suara yang datar kali ini. Senyum di bibirnya pun luntur. Ada raut iba yang seolah terukir di wajahnya. Ia berkata pada Asina dengan dingin. “Aku heran denganmu. Kenapa kamu begitu mudah membiarkan bocah tidak peka itu direbut wanita lain?”


“Saya …,” Asina kembali tertunduk. Andai ia setingkat dengan Li Xiayu, mungkin ia akan berpikir seperti itu juga. Ia adalah gadis yang tahu posisinya. Sejak kecil, ia sudah mempelajari arti dari berlapang dada. Itu adalah ilmu mahal yang tidak bisa dibeli maupun dimiliki oleh sembarang orang. Kalau seseorang sudah memiliki kelapangan dada itu, ia tidak akan pernah merasakan sesak yang menyakiti hatinya.


“... sudah mengatakan sebelumnya,” lanjut Asina, “Pangeran Agung adalah pria mulia yang tahu cara menghormati wanita. Tidak pantas bagi saya untuk berambisi memilikinya sendiri. Lagi pula, beliau sudah memiliki gadis yang ia cintai di hatinya.”

__ADS_1


Li Xiayu terdiam mendengar jawaban Asina. Ia jadi kembali penasaran dengan sosok gadis yang bertunangan dengan Pangeran Kedelapan itu. Yah, katanya sih bukan pertunangan, tapi perjanjian. Namun, sejatinya, itu tak jauh berbeda.


Perjalanan pun berlanjut dalam keheningan sampai di pos peristirahatan pertama. Setelah melalui berbagai medan yang berbeda-beda, mereka sampai di kekaisaran sebulan kemudian. Kaisar Yung Wei amat senang menerima kabar gembira dari rombongan yang baru tiba itu. Namun, belum genap seminggu sejak mereka sampai, kabar buruk tetiba datang menyusul mereka.


__ADS_2