Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Esensi


__ADS_3

"Rou'er, ingat janjimu kemarin," kata Li An sebelum mereka turun dari kereta kuda, "Jaga adabmu dan bersikaplah layaknya seorang putri."


"Hm," Li Rouwei hanya mengangguk kecil. Matanya mengerjap beberapa kali. Kantuknya masih terlihat dengan jelas sehingga Mimi harus mendandaninya kembali sebelum ke luar. Kalau tidak, Li Rouwei akan terlihat buruk dan jelek.


"Selamat datang di Kerajaan Kiri, Pangeran dan delegasi sekalian," sambut Raja Kiri dengan sopannya. Matanya menatap seluruh anggota delegasi sekaligus. Barisan paling depan adalah Li Bei. Di belakangnya ada Li An dan Li Chen yang mengikuti, sementara Li Rouwei di antara mereka berdua. Sisanya adalah para menteri dan pengawal yang menyertai mereka.


Raja Kiri mengantar langsung rombongan delegasi sampai ke tempat peristirahatan mereka. Sepanjang jalan, ia asyik mengobrol dengan Li Bei. Pangeran itulah kunci utama keberhasilannya. Ia menampakkan sikap sebaik mungkin pada sang Pangeran Keempat.


"Yong Seong, pangeran dari Kerajaan Kiri membari salam," kata Yong Seong pada Li An. Diperhatikannya Pangeran Kedelapan dari bawah sampai atas. Berbeda dari kebanyakan bangsawan, pangeran dari Tang itu mengenakan pakaian yang lebih polos dan sederhana, tapi elegan. Ada hawa cendekiawan yang memancar darinya.


Kemudian, Yong Seong memperhatikan Li Chen. Pangeran itu tak jauh berbeda dengan Pangeran Kedelapan. Dia juga punya hawa cendekiawan, tapi terasa lebih tipis. Yong Seong pun melirik pada sang putri yang berdiri di tengah. Putri itu jelas terlihat dingin dan angkuh. Sebisa mungkin, Yong Seong tak ingin terlibat apa pun dengannya.


"Kamu bukan pangeran satu-satunya, kan?" tanya Li An selama perjalanan. Yong Seong pun mengangguk. "Kakak-kakak saya sedang berjuang di garis depan. Mereka sangat gigih mempertahankan benteng-benteng kerajaan yang tersisa. Andai aku sudah sedikit lebih besar, aku pasti akan ikut menyusul mereka."


"Kamu tak takut berperang?" Li An melihat ada sesuatu pada diri bocah yang mengantarnya ini. Kondisi sekitar yang mencekam pasti telah memaksanya untuk tumbuh dewasa lebih cepat dari anak-anak seusianya. Persis seperti Li An saat ibunya ditangkap dulu.


"Sa—saya sebenarnya takut," jawab Yong Seong jujur, "Tapi, saya akan terus berjuang untuk mempertahankan kerajaan. Saya terus berlatih setiap hari. Kelak, saya tak akan takut untuk maju ke medan juang untuk membela negeri ini."


"Kamu pasti bisa," Li An mengulas senyum tipis, "Lalu, apa kamu tahu mengapa kalian saling berperang, padahal kalian adalah satu dahulu?"


Yong Seong terdiam. Ia memang tak mengerti sebab musabab terjadi konflik yang berkepanjangan di Wilayah Utara ini. Bocah itu hanya tahu kenyataan bahwa ia harus mempertahankan kerajaannya. Ia juga sadar bahwa posisi kerajaannya berada paling lemah saat ini. Andai Kekaisaran Tang tidak menyokong mereka, Kerajaan Kiri pasti sudah jatuh ke tangan dua kerajaan lainnya.


"Saya tidak mengerti mengapa mereka terus menyerang kami sejak dulu," Yong Seong kembali menjawab jujur, "Apa pun itu, saya harus memperjuangkan Kerajaan Kiri sampai titik darah penghabisan."

__ADS_1


"Kamu punya tekad seorang jenderal," puji Li An dengan tulus, "Saat seusiamu dulu, aku bertekad untuk menjadi sarjana terhebat. Hari ini, aku telah menjadi sarjana termuda di kekaisaran. Pertahankanlah tekadmu. Kelak, kamu pasti akan memimpin pasukanmu sendiri untuk melawan semua musuh."


"Ya," Yong Seong menatap Li An dengan kagum. Aura cendekiawan yang Pangeran Kedelapan pancarkan itu memang nyata. Bocah pangeran itu pun berkata, "Saya akan mengingat nasihat Anda selamanya."


"Bagus," Li An menepuk pundak Yong Seong, "Begitulah sejatinya seorang pangeran."


Yong Seong mengangguk takzim. Ia merasa senang dapat bertemu dengan Pangeran Kedelapan dari kekaisaran. Sebagai sesama pangeran, ia berharap dapat terus menjalin hubungan yang baik dengannya. Namun, masa depan amatlah misterius. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya?


***


"Kakak, Kakak," Li Rouwei menyelonong masuk ke kamar Li An. Ia bosan bermain sendirian. Karena kamarnya bersebalahan dengan sang kakak, ia bisa berkunjung kapan saja. "Kakak sedang apa? Belajar lagi?"


"Hm, yah. Ini laporan dari serikat yang belum sempat kubaca selama perjalanan," kata Li An yang berpaling dari tumpukan kertasnya karena panggilan sang putri, "Mereka memang dapat berjalan secara mandiri. Namun, aku harus tetap mengawasinya dengan baik agar dapat segera memberi keputusan saat diperlukan."


"Serikat Dagang Fuli?" Li Rouwei memang pernah mendengar bahwa kakak laki-laki kedelapannya ini menjalankan sebuah serikat. Namun, ia belum pernah berkunjung atau melihat langsung bagaimana serikat itu berjalan.


"Ya, mereka melayani tamu-tamunya dengan baik seperti para abdi senior di istana," Li Rouwei mengangguk-angguk paham, "Em ... berafiliasi itu berarti mereka bergabung di bawah Kakak, kan?"


"Ya, kamu sudah belajar dengan baik," puji Li An tulus. Li Rouwei pun berseru bangga, "Tentu, aku kan putri yang cerdas," Li Rouwei pun penasaran akan sesuatu, "Gimana Kakak bisa buat mereka mau berafiliasi dengan serikat?"


"Dengan akad yang baik, kejujuran, kepercayaan, dan untung sama untung," kata Li An menjelaskan asas-asas dalam serikat yang didirikannya, "Pada dasarnya, status sebagai serikat yang didirikan oleh keluarga kekaisaran saja sudah berpengaruh besar untuk meraih perhatian mereka, utamanya kaum bangsawan. Namun, dengan asas yang serikat junjung, rakyat biasa juga mau ikut mencoba bekerja sama dengan kita. Denga begitu, kepercayaan rakyat pada keluarga kekaisaran pun meningkat."


"Kakak menarik simpati rakyat," Li Rouwei menyadari sesuatu, "Kakak mau jadi kaisar?"

__ADS_1


Li An pun tersenyum dan menggeleng. Ia mengelus kepala Li Rouwei dengan lembut dan berkata padanya, "Aku sudah pernah bilang, aku tak tertarik dengan takhta kekaisaran. Biarlah saudara-saudara lain yang mengusahakannya. Aku yang akan menjadi saksi atas mereka."


"Benarkah?" Li Rouwei pun meminta penekanan lain.


"Ya," Li An tak mengubah senyum di wajahnya, "Semoga nggak ada pertumpahan darah pada proses suksesi nanti. Aku cuman mau kedamaian dan ketenteraman. Karena itu, sebisa mungkin aku mengurangi ketergantunganku pada istana."


"Hm? Kakak mau jadi saudagar kaya?" Li Rouwei menyimpulkan lain.


Li An pun terkekeh. Kata-kata adiknya memang tidak salah, tapi tujuan utamanya bukanlah hal itu. Ia adalah pangeran yang menerima misi khusus dari sang kaisar. Perannya adalah sebagai "tabib" di kala kekaisaran sakit karena perang saudara nanti. Karena itu, ia tetap butuh banyak kekuasaan, pengaruh, dan wawasan yang cukup untuk mendamaikan saudara-saudaranya ketika hal itu terjadi.


Sayangnya, ia tak bisa dengan bebas menceritakan hal itu kepada Li Rouwei. Bisa jadi, Permaisuri Zhouyi sengaja menempatkan Putri Kesembilan untuk membuatnya lengah, sedangkan sang putri sendiri tak menyadari hal itu. Sebab itulah Li An tak terlalu mencurigai Li Rouwei, tapi tetap waspada dengannya.


"Anggap saja begitu," jawab Li An usai terkekeh, "Aku mungkin akan jadi sarjana terkaya beberapa tahun mendatang."


"Kakak harus memberiku banyak hadiah saat itu," Li Rouwei menunjuk Li An dengan senyum manis di bibirnya, "Aku juga akan jadi sarjana yang kaya raya seperti Kakak."


"Pfth!" Li An kembali terkekehh, "Rou'er, esensi hidup ini bukan untuk menjadi kaya. Ada banyak penguasa, tapi kekuasaannya hanya menjadi beban untuknya. Ada banyak saudagar kaya, tapi kekayaannya sama sekali tak membuatnya bahagia. Ada banyak pula sarjana cerdas nan banyak akal, tapi kecerdasannya itu malah menjatuhkannya pada kerugian yang kekal."


"Lalu, buat apa kita hidup?" tanya Li Rouwei serius.


"Itulah yang sedang kucari," jawab Li An sembari menata dokumen-dokumennya, "Yaitu esensi kehidupan yang sejati, juga rahasia kebahagiaan nan kekal dan abadi. Aku sudah mendapatkan secercah cahaya untuk meraihnya. Kelak, aku pasti benar-benar meraihnya."


Li An pun terdiam sesaat, lalu bertanya pada adiknya, "Rou'er, apa kamu tahu apa itu pintu keabadian?"

__ADS_1


Li Rouwei menggeleng tak mengerti.


"Ia adalah kematian," Li An pun melanjutkan penjelasannya, "Ada dua pilihan dalam keabadian itu, yaitu kesenangan abadi atau kesengsaraan abadi. Kehidupan inilah yang menjadi penentu nasib kita di masa depan."


__ADS_2