
“Sa–salam, Tuan Putri,” sapa seorang gadis muda berparas ayu yang sore itu berkunjung ke tempat Li Xiayu. Gadis itu datang dengan seorang dayang di sisinya. Ia terlihat malu-malu dan ketakutan berhadapan dengan Putri Ketujuh.
“Asina, selamat datang,” sambut Li Xiayu ramah. Kebetulan sekali ia sedang bosan hari ini. Seharian ini, ia terus terkurung di kamarnya karena Li An tak kunjung pulang dari pekerjaannya. Dia hanya bisa berdiam diri bersama Mimi seorang yang menemaninya.
“Bibi, tolong siapkan camilan,” pinta Li Xiayu, “Kita harus menjamu Asina dengan baik.”
“Baik, Tuan Putri,” Mimi mengangguk patuh. Ia pun bergegas pergi ke belakang untuk menyiapkan jamuan yang Putri Ketujuh minta. Begitu ia pergi dari ruang tamu, Li Xiayu langsung bertanya pada Asina tanpa berbasa-basi sama sekali, “Jadi, ada apa Asina ke mari?”
“Em~” Asina menekuk wajahnya dalam-dalam. Ia tidak kuasa menatap Putri Ketujuh yang menurutnya sudah seperti dewi dari kahyangan. Maksudnya, derajat wanita di hadapannya ini jauh di atas dirinya yang sekadar putri seorang khagan, padahal mereka sama-sama putri seorang penguasa besar. Hanya saja, peradaban kekaisaran yang lebih maju membuat Asina rendah diri.
“Anu … saya …,” Asina masih ragu-ragu untuk mengatakannya. Ia sedang berusaha menguatkan hati untuk bisa mengungkapkan isi hatinya yang sedang bergejolak ini.
“Hm? Kenapa? Katakan saja! Jangan malu-malu,” Li Xiayu jadi keheranan karena sikap Asina yang pemalu itu.
“Em~ anu …,” Asina menggigit bibir bawahnya karena gugup. Setelah beberapa saat, akhirnya ia baru bisa berkata, “Saya minta maaf.”
“Ha? Untuk apa?” Li Xiayu semakin bingung.
“Anu~ itu …,” Asina berusaha memandang Li Xiayu dengan sempurna, tapi ia masih saja ketakutan untuk melakukan itu, “Sa–saya dengar, An–Anda memarahi Pangeran Agung pagi ini. Saya kira itu ….”
“Itu bukan salahmu,” Li Xiayu paham garis besar. Namun, sebenarnya ia salah paham dalam satu dua hal, “Tenang saja. Kamu tidak perlu merasa terbebani karena hal itu. Itu salahnya karena dia tidak peka.”
__ADS_1
“Ja–jadi, Anda masih marah dengan Pangeran Agung?” Asina mencoba untuk bertanya. Sama seperti para penduduk Tarkan lainnya, ia salah paham dengan hubungan antara Li Xiayu dan Li An. Jadi, ia merasa telah merusak rumah tangga seseorang.
“Tentu saja, Si Tidak Peka itu bahkan belum minta maaf atas perbuatannya tadi pagi,” jawab Li Xiayu ketus. Cara menjawabnya yang seperti itu membuat Asina semakin merasa bersalah. Ia tidak pernah ingin merusak hubungan rumah tangga siapa pun. Ia memang tidak keberatan dijadikan selir oleh penguasa tertentu, tapi ia tidak ingin bersaing dengan istri utama dari penguasa itu.
“Tuan Putri, tolong jangan terlalu marah pada Pangeran Agung,” pinta Asina lembut, “Itu hanyalah tawaran iseng dari Baginda Khagan.”
“Tawaran iseng?” Li Xiayu memicingkan matanya. Ia sedang mencerna situasi. Tampaknya, ia mulai menyadari sedikit kesalahpahamannya, “Oh, tawaran untuk menikah denganmu itu?”
“Be–benar,” Asina mengangguk sambil diam-diam menelan ludahnya. Ia sudah siap menerima makian dan cacian dari Putri Ketujuh. Apa pun itu, ia akan berusaha bertahan.
“Aku …,” belum sempat Li Xiayu mengungkapkan pendapatnya, Mimi sudah lebih dulu datang membawakan camilan. camilan itu secara tidak langsung memotong obrolan antara kedua putri di sana.
“Tuan Putri, ini camilan yang Anda minta,” kata Mimi sambil meletakkan kue-kue kering di atas meja. Kue-kue itu adalah hasil buatan tangannya sendiri. Beberapa buat dari kekhaganan ini cukup cocok untuk dijadikannya makanan baru yang sedap. “Putri Asina juga, silakan dimakan kuenya.”
“Eh? Ah, baiklah,” akhirnya Asina ikut mengambil kue kering itu. Ia juga membaginya pada dayang yang datang bersamanya. Saat ia menggigit potongan pertama, ia langsung terpesona dengan rasa khas asam manis dari kue kering itu.
“Kue apa ini?” Asina baru pertama kali memakan kue seperti itu. Meski ia seorang putri, ia cukup jarang memakan makanan asam manis yang lembut dan renyah seperti ini.
“Itu kue yang saya buat dengan buah-buahan dari kekhaganan,” jawab Mimi bangga, “Putri Asina, negeri Anda memiliki buah-buahan eksotis yang berbeda dengan buah-buah kami. Saya sangat senang dapat membuat kue seperti ini.”
“Benarkah?” Asina baru mengetahui fakta itu. Sebagai putri yang terisolasi, ia tidak banyak mendapat pendidikan tentang dunia luar, berbeda dengan beberapa kakak perempuannya yang berbakat, bahkan dapat menjadi panglima dari pasukan khusus kekhaganan.
__ADS_1
“Apa kamu sangat menyukainya Asina?” tanya Li Xiayu dengan senyum simpul di wajahnya. Ia jadi ingat dengan usulan Li An tadi pagi. Putri Ketujuh itu ingin membawa Asina ke sisinya.
“Bagaimana mungkin saya tidak menyukainya?” tanpa sadar, Asina menyungging senyum yang tulus di wajahnya. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan tulus dari dalam hatinya, “Ini adalah kue yang sangat enak dari buah-buahan negeri saya. Tentu saya sangat menyukainya.”
“Bagus,” sebuah seringai yang samar di balik senyum Li Xiayu jadi sedikit kentara, “Asina, bagaimana kalau kamu ikut denganku? Aku yang akan menjamin kebahagiaanmu.”
“A–apa maksud, Tuan Putri?” Asina terkejut mendengar tawaran itu. Pipinya seketika merona merah karena salah paham akan sesuatu. Meski begitu, ia tak berani berharap kecuali setelah mendengar lebih jelas maksud dari ucapan itu.
“Jadilah dayangku, maka aku akan membantumu untuk bahagia,” ucap Li Xiayu memperjelas tawarannya. “Kamu tidak terlalu suka tinggal di sini, kan? Kudengar, kamu bahkan sering dihina karena lemah. Ikutlah saja denganku. Kujamin, kamu tidak akan mendapat penghinaan seperti itu lagi.”
“Itu …,” Asina seolah melihat harapan yang besar dari ucapan Li Xiayu. Namun, ia masih ragu dengan sesuatu yang ada di dalam hatinya. Ia pun bertanya untuk memastikan, “A–apa Tuan Putri tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak,” jawab Li Xiayu enteng. Ia pun mendekatkan dirinya pada Asina, lalu berbisik di telinga gadis kecil itu, “Aku juga akan membantumu untuk mendapatkan hati An’er. Kulihat, kamu jatuh hati padanya. Bagaiamana? Apa kamu bersedia menjadi dayangku?”
“Tu–Tuan Putri serius?” Asina semakin merona mendengar penawaran itu. Ia juga jadi semakin salah paham akan sesuatu, “Apa Anda akan membiarkan, bahkan membantu saya untuk mendekati Pangeran Agung?”
“Aku sangat serius asalkan kamu menerima tawaranku,” Li Xiayu mengembangkan senyumnya, menunjukkan keramahan dan keseriusan pada ucapannya. Ia adalah Putri Tang yang terhormat. Ia punya keteguhan untuk menepati janjinya sebagai keluarga kekaisaran.
“...”
Asina tertunduk dalam. Dalam pikiran kalutnya yang masih dipenuhi salah paham, ia mengira bahwa Putri Ketujuh melakukan itu untuk menjaga posisinya sebagai istri utama. Posisi dayang dari istri utama tidak akan pernah bisa melebihi derajat istri utama itu sendiri. Bahkan, bila ia memiliki seorang anak laki-laki kelak, posisi anak laki-lakinya tidak akan lebih tinggi dari putri sang istri utama.
__ADS_1
Meski begitu, tawaran dan jaminan Li Xiayu sudah lebih dari cukup bagi Asina. Ia bukanlah gadis yang ambisius. Seperti kara Li Xiayu, ia memang sering dirundung oleh saudara-saudarinya karena lemah. Jika ia mendapatkan perlindungan dari putri itu, hidupnya pasti akan berubah. Baginya, cinta yang tulus dari Pangeran Agung lebih berarti dari kedudukan apa pun.
“Saya …,” Asina pun menjawab dengan kemantapan hati, “Bersedia untuk menjadi dayang Tuan Putri.”