
"Kakak!" seru Li Rouwei keras, "Pokoknya, gadis yang mau kakak nikahi harus bertemu denganku dulu. Aku harus memastikan bahwa gadis itu pantas untuk Kakak."
"Kenapa kamu yang harus memastikannya?" tanya Li An dengan senyum usil di wajahnya, "Ada banyak orang lain yang bisa kumintai pendapat soal itu."
"Ih …!" Li Rouwei meraih rambut Li An yang menjuntai panjang dan menariknya dengan kuat. Li An refleks menahan jambakan gadis kecil itu agar rambutnya tidak tercerabut. Namun, jambakan adiknya itu tetaplah sakit sampai ia mengaduh.
"Ro-Rou'er, hentikan!" pinta Li An yang kini menahan kedua tangan Li Rouwei dengan kuat, "Bisakah kamu menjelaskannya tanpa kekerasan? Tolong jangan gunakan cara ekstrim Kakak Xiang terhadapku."
"Hmph!" Li Rouwei membuang muka kesalnya dari pandangan Li An, "Itu kerana aku harus memastikan bahwa gadis itu tidak …."
"Tidak apa?" tanya Li An penasaran karena tiba-tiba Li Rouwei berhenti.
Li Rouwei menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakan bahwa gadis pilihan Li An itu tidak boleh licik seperti Li Huaran. Ia lebih suka kakak ipar sekaligus teman yang adil dan terbuka. Namun, ia tidak bisa mengatakan hal itu langsung pada Li An karena mengetahui bahwa kasih sayang kakaknya ini pada Putri Ketiga sangatlah besar.
"Dia tidak boleh …," Li Rouwei masih berusaha mencari kata yang tepat untuk disampaikan pada kakaknya, "... punya niat buruk dan akal busuk pada kekaisaran!"
Li Rouwei mengucapkannya dengan semangat. Meski tidak seratus persen sesuai dengan suara hatinya, ia tetap puas karena hal itu sudah cukup mewanti-wanti kakaknya agar tidak mempersunting gadis yang culas. Pokoknya, calon saudari iparnya itu tidak boleh gadis yang licik.
__ADS_1
"Oh, tentu aku tidak akan mencari gadis yang seperti itu," Li An setuju dengan ucapan adiknya, lantas mengelus rambut Putri Kesembilan dengan lembut sebagai balasan atas jambakannya, "Rou'er tidak perlu khawatir karena kakak pasti bisa memilih orang yang tepat."
"Hmph!" Li Rouwei lagi-lagi membuang muka, lalu berceletuk, "Laki-laki itu cenderung seenaknya dan tidak peka dengan perasaan wanita."
"Dari mana kamu belajar kata-kata seperti itu?" tanya Li An dengan tatapan selidik. Li Rouwei pun menjawabnya dengan enteng, "Kakak Huanran."
"..."
Li An terdiam. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Putri Ketiga mengatakan hal itu pada Putri Kesembilan. Maka, ia pun memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya lagi.
Menjelang siang, Yun Jili dan Li Rouwei pergi meninggalkannya. Sebelum pergi, Putri Kesembilan sempat mengecam Li An agar mengingat baik-baik ucapannya. Li An pun hanya tersenyum ramah membalas penekanan adiknya yang manis itu.
Di awal surat, Li Huanran menyinggung pertemuan pertama mereka di malam bulan purnama, yaitu saat Li An tersedu-sedu merindukan ibundanya. Sang putri juga menyentil bagaimana dinginnya Li An saat awal-awal perkenalan mereka dulu. Ia bahkan juga mengingat keusilan-keusilan yang pernah Li An lakukan bersama Li Mei dan Li Chen.
"Terima kasih sudah mewarnai setiap hirup napasku selama ini," tulis Li Huanran dalam suratnya, "Kamu adalah penyejuk hatiku, satu-satunya saudara kecilku yang tulus menyayangi dan membelaku. Meski kita tidak sekandung, kamu tetaplah adik kesayanganku.
*
__ADS_1
An'er, kamu sudah dewasa sekarang. Kamu bukan lagi anak cengeng yang dulu menangis tersedu-sedu di pangkuanku. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu akan tumbuh secepat ini. Padahal, beberapa tahun lalu, kamu bahkan tidak lebih tinggi dari pundakku.
Hidup bersamamu adalah kenangan terindah bagi kakak. Kakak selalu bangga memiliki adik yang cerdas sepertimu, bahkan walaupun kamu kadang terlalu protektif terhadapku. Bukankah harusnya aku yang melindungimu?
Kamu tumbuh dewasa terlalu cepat, An'er*," Li An berhenti sejenak di kalimat itu. Ia mengusap setetes air mata yang tumpah di pipinya. Berbagai kenangan berputar-putar di benaknya. Kasih sayang, senyum, dan belaian Li Huanran seakan masih menyelimuti dirinya bahkan setelah sang kakak pergi meninggalkannya.
“Kamu bahkan mencarikan jodoh yang baik untukku,” Li An kembali membaca surat dari kakaknya setelah beberapa saat terdiam dalam renungan, “Kakak sungguh berterima kasih atas itu. Kamu membawakan cahaya pada kakak, maka izinkan kakak membawakan cahaya untukmu pula. Kamu ingat Putri Kecil, kan?”
Li An mengerutkan keningnya. Hatinya mulai berdesir ketika membaca nama yang Li Huanran sebutkan itu. Ia pun menggigit bibir bawahnya pelan.
“*Kamu tidak perlu membantah isi hatimu. Aku tahu bahwa kamu mencintainya dalam diam. Meski kamu bisa menyembunyikan dari orang lain, kamu tidak akan bisa menyembunyikan perasaan itu dari kakakmu ini. Jangan buat dia menunggumu terlalu lama. Dia juga mencintaimu. Aku tidak keberatan kalaupun kamu mengadakan akad langsung setelah menerima surat ini. Pokoknya, kamu harus bergegas sebelum orang lain meminangnya.
Ingat ini baik-baik! Aku akan menuntutmu kalau sampai kamu membuatnya kecewa. Kamu mengerti, kan, Adikku sayang?*”
Wajah dan telinga Li An seketika memerah dengan sendirinya. Ia menatap surat dari Putri Ketiga dengan tangan gemetar. Itu jelas peringatan keras. Tanpa menundanya sama sekali, ia bergegas mengambil beberapa lembar kertas, pena, dan tinta.
Li An menulis dua pucuk surat. Satu untuk kakaknya, satu untuk keluarga Putri Kecil. Sesuai dengan perintah Li Huanran, ia tidak akan membuat pujaan hatinya itu kecewa. Namun, ia meminta penangguhan waktu agar Putri Kecil sudi menunggunya barang satu atau dua tahun. Suratnya itu langsung mendapat balasan beberapa hari kemudian.
__ADS_1
“Urusan kita di sini sudah selesai,” kata Li An sebelum mengakhiri rapat dengan eksekutif-eksekutif Serikat Dagang Fuli di Guangzhou, “Sudah saatnya untuk kembali ke ibu kota.”
Pangeran Kedelapan pun meninggalkan Guangzhou dengan sepucuk harapan dan janji. Ia menatap langit Guangzhou untuk terakhir kalinya. Ada satu tabir yang membuatnya belum mampu untuk menikahi Putri Kecil segera. Padahal, ia sudah berusaha menembus tabir itu sejak kecil. Ia membutuhkan jubah cahaya yang lebih besar. Cahaya yang membuat yakin untuk melangkah dari zona nyamannya yang aman tanpa ragu sedikit pun.