
“Kamu suka kucing?” tanya Li Huanran begitu sampai di teras rumah Selir Ai. Dilihatnya Li An tengah memberi makan kucing kecil yang baru ia temukan. Bocah itu pun menjawab dengan tulus dan singkat, “Lembut, lucu.”
Li Huanran menahan tawa mendengarnya. Sambil menutup setengah wajahnya dengan kipas, Ia berkomentar, “Kucing itu kotor. Biarkan Mimi membersihkannya. Pasti kucingnya bakal kelihatan lebih imut setelah itu.”
“Nggak, aku sendiri yang bersihin,” Li An menoleh ke Kakaknya. Bocah itu memberi tatapan tajam seolah menegaskan bahwa kucing ini miliknya. Ia tidak ingin miliknya direbut siapa pun.
“Ha? Oke,” Li Huanran awalnya agak bingung, tapi langsung tersenyum jahil sampai membuat Li An curiga, “Gimana kamu mau bersihinnya?”
“Air,” jawab Li An santai. Lagi-lagi Li Huanran menahan tawa. Ia membayangkan hal menarik yang akan terjadi saat Li An memandikan kucingnya. Pasti itu akan sangat menyenangkan untuk ditonton. Putri Ketiga pun berkata tanpa menyembunyikan tampang usilnya, “Cepat, cepat! Mandikan kucing itu! Aku mau lihat bagaimana adik kecilku memandikan kucing.”
“Hm? Nanti aja. Biar Miao-Miao makan dulu,” Li An tidak peduli dengan apa pun yang Li Huanran sembunyikan. Bagaimanapun, ia tidak akan membiarkan kucingnya diambil alih oleh Putri Ketiga yang licik itu.
“Miao-Miao? Kamu sudah kasih dia nama?” senyum jahil di wajah Li Huanran luntur digantikan mimik penasaran. Itu bukan nama yang aneh memang. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benak Li Huanran, “Kenapa kamu kasih nama itu?”
“Suaranya kan ‘miao-miao’. Ya … gitu deh,” jawaban simpel Li An membuat Li Huanran kehilangan kata-katanya. Gadis itu teringat salah satu marga suku minoritas saat mendengar nama Miao. Ia berpikir Li An memberi kucingnya nama berdasarkan marga suku minoritas tersebut, Suku Miao.
“Itu nama yang bagus. Sekarang, mandikan dia. Kayaknya Miao-Miao sudah keyang,” bujuk Li Huanran sambil tersenyum tipis. Ia sudah tidak sabar melihat kejadian itu. Bibirnya kembali berusaha menyembunyikan senyum usil yang merupakan buah dari imajinasinya.
“Kenapa Kakak terburu-buru? Apa yang Kakak sembunyikan?” tanya Li An selidik. Li Huanran menggeleng, lantas tersenyum manis seperti biasa. Ia sudah memakai kembali topengnya dengan sempurna.
“Aku cuman mau lihat gimana imutnya Miao-Miao habis An’er mandikan,” jawab Li Huanran setengah jujur. Li An pun tak peduli lagi setelah tak mendapat informasi lebih lanjut. Ia meminta Mimi untuk mengambilkan seember air sehingga membuat Li Huanran menghela napas maklum. Penolakan Li An tadi jadi tidak berguna karena pada akhirnya Mimi membantu.
“Ini, Pangeran. Mohon berhati-hati. Kucing itu akan mencakar bila terkena air tiba-tiba,” peringatan Mimi membuat Li Huanran kembali membuang napasnya. Kali ini karena kecewa telah kehilangan tontonan yang seharusnya menarik lantaran Li An bukan anak yang bodoh dan egois.
Bocah itu menyerahkan Miao-Miao pada Mimi, lalu menatap tajam pada Li Huanran yang membuang muka sambil menutup setengah wajahnya dengan kipas. Li An turut membuang muka. Kini, ia mengerti bahwa kakak liciknya itu ingin melihat ia dicakar kucing. Sungguh kakak antagonis.
Li An memperhatikan Mimi memandikan kucingnya dengan telaten. Li Huanran bahkan juga ikut menikmati pemandangan itu dari jauh. Miao-Mioa awalnya memberontak saat terkena air. Namun, entah bagaimana Mimi dapat menenangkannya dengan cepat kemudian.
“Mimi punya kucing?” tanya Li An penasaran. Gadis yang ditanya hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Ia tengah mengeringkan rambut-rambut Miao-Miao yang lembap dengan handuk. Tangannya amat lihai mengurus kucing oranye itu.
Miao-Miao mengeleng-gelengkan tubuhnya, mengibaskan sedikit air yang tersisa. Bulu rambutnya pun berdiri karena itu. Mimi dengan cakap menyisirnya sehingga rambut-rambut oranye belang itu jadi terlihat lebih cantik. Li An dan Li Huanran sampai gemas melihatnya. Mimi pun jadi merasa punya teman sesama pecinta kucing di istana.
Awan-awan mulai memerah tanpa terasa, menandakan bahwa hari telah sore. Li Huanran menyeret adiknya untuk kembali ke kamar mereka terlebih dahulu sebelum mengklaim hak atas kediaman Selir Ai. Mereka harus bertemu dengan Kaisar Yung Wei dulu agar prosesnya cepat berjalan.
“Memangnya kapan kita ketemu ayahanda kaisar?” tanya Li An dalam perjalanan. Walau terdengar cuek dan dingin, Li Huanran dapat tahu bahwa adiknya sedang antusias. Mungkin karena ia akan tinggal lagi di kediaman lamanya, mungkin juga karena Miao-Miao yang kini dititipkannya pada Mimi.
“Malam ini kita akan makan bersama. Setelah beberapa hari sibuk sejak kedatanganmu, akhirnya ayahanda kaisar punya waktu untuk bertemu,” Li Huanran mengabarkan. Li An bukannya tersenyum, tapi malah tetap saja berwajah datar. Bocah itu lantas bergumam pelan, “Kenapa nggak kerja saja terus?”
__ADS_1
“Hais … makan bersama keluarganya itu juga pekerjaan kaisar,” balas Li Huanran yang ternyata mendengar gumaman lirih itu. Li An tidak menrespon komentar kakaknya lebih lanjut. Ia memperhatikan air muka sang putri yang tampak begitu jernih dengan senyuman anggun tersungging di sana. Hari ini Pangeran Kedelapan masih belum mengerti, tapi di masa depan ia akan paham bahwa itu adalah senyuman kebahagiaan.
“Bersiap-siaplah! Para dayang akan ikut membantumu,” ucap Li Huanran sebelum meninggalkan Li An di kamarnya. Ia tersenyum manis seperti biasa. Berbeda dengan adiknya yang tampak terkejut dan tidak terima, “Apa!? Nggak mau! Aku mau siap-siap sendiri.”
“Ini tanggung jawab mereka. Tolong jangan dipersulit. Lagian kan kamu masih kecil,” Li Huanran berpaling begitu saja tanpa peduli gugatan adiknya. Saat ia pergi, para dayang telah siap mendandani Li An dengan mata yang berbinar-binar.
Li An ngotot mengusir mereka, tapi tak ada satu pun gadis dayang yang menghiraukannya. Mereka ada di bawah pengawasan Li Huanran. Jadi, perintah Li An tidak berarti bagi mereka.
“Nah, kamu jadi kelihatan tambah cakep sekarang,” Li Huanran menepuk tangannya sekali, takjub dengan ketampanan adiknya yang berpakaian mewah ala pangeran, berjubah gelap dengan lengan gantung elegan. Syal sutra melilit di pundaknya. Giok cantik bergelantung di pinggangnya.
Li An membuang muka, merajuk atas perbuatan kakak perempuannya yang semena-mena. Namun, mereka tetap berjalan bersama. Sebelum ke aula penjamuan, Li Huanran mengajak adiknya ke sebuah komplek paviliun yang cantik.
"Hm? Apa ini bocah yang kamu ceritakan itu?" seorang pemuda yang pakaiannya tak kalah glamor nan elegan dari Li An tiba-tiba menoleh saat merasakan kehadiran Li Huanran. Ia adalah Pangeran Keempat yang merupakan saudara kandung Li Huanran. Wajahnya sangat mirip dengan Putri Ketiga, tapi air mukanya tampak beku.
"Mau apa kamu? Awas saja kalau sampai An'er ikut-ikutan nakal gara-gara kamu," ancam Li Huanran garang. Sang putri langsung memasang wajah waspada. Ia merentangkan tangannya untuk menghalangi Pangeran Keempat yang ingin mendekati Li An itu. Li An sendiri diam memperhatikan. Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi Li Huanran yang seserius itu.
"Hai! Apa maksudmu? Aku cuman mau menyapanya," protes Pangeran Keempat kesal. Jelas sekali ia tidak terima dipanggil nakal. Pandangannya pun tertuju kepada Li An. Ada hawa dingin yang familiar di sana. Li An yakin sekali pernah merasakan tatapan dingin yang serupa. Rasa familiar itu pun terjawab tak lama kemudian.
"Bai'er, sapa adikmu baik-baik. Jangan buat dia takut dan menangis," Selir Shu keluar dari rumahnya dengan dandanan yang mewah. Rambutnya dikepang begitu rumit seperti gunung-gunung yang tinggi. Ia pun ikut menatap Li An dengan tatapan matanya yang tajam dan tak kalah dingin, "Yah ... walaupun sepertinya dia tidak punya rasa takut."
"Salam, Bibi Shu," Li An menunjukkan hormatnya, kemudian mendekatkan diri kepada Li Huanran untuk memalingkan wajahnya dari tatapan dingin yang menusuk itu. Li Huanran pun mengelus kepalanya sambil tersenyum lembut seakan berkata, "Serahkan semuanya padaku."
"Jangan takut dan pegang saja tanganku. Mereka tidak akan melakukan apa-apa selama kamu di sisiku," Li Huanran meminta Li An untuk menggandeng tangannya sebelum masuk ke aula penjamuan. Walaupun dengan wajah yang datar dan terkesan tidak peduli, Li An tetap menerimanya. Di belakang keduanya, Li Bei berbisik kepada Selir Shu, “Ibunda, apa ini akan baik-baik saja?”
“Hah … biarkan saja Huan’er bermain dengan Pangeran Kedalapan. Selama ini, tak ada seorang pun putra-putri baginda kaisar yang benar-benar dianggapnya adik selain bocah itu,” balas Selir Shu kalem. Li Bei tak mempermasalahkannya lagi setelah mendengar penjelasan itu. Rombongan Selir Shu pun disambut hangat begitu masuk ke aula.
Li An memperhatikan lingkungan sekitar tanpa pandangan tertarik atau terkesan sedikit pun. Padahal, aula penjamuan telah dihias sedemikian rupa. Dilihatnya lampion-lampion cantik bergambar unik yang digantung di berbagai tempat. Bonsai-bonsai tua yang indah ditata dengan rapi dan elegan, mengesankan hawa natural yang pekat.
Para dayang dan kasim mondar-mandir membawakan makan malam besar. Mereka sangat antusias dan sigap melaksanakan tugasnya. Acara semacam ini tidaklah berlangsung setiap hari. Sangat jarang Kaisar Yung Wei mengajak seluruh anggota keluarganya untuk makan bersama-sama.
Para pangeran dan putri duduk di meja yang sama dengan ibunda masing-masing. Posisi mereka bergantung dari kedudukannya di istana. Selir Shu duduk di posisi keempat. Selir Zhouyi di posisi keenam, sedangkan Permaisuri Eminen duduk di samping kaisar.
Walaupun wanita paling utama itu tidak memiliki anak, Ia tetap dapat bertahan di posisinya saat ini karena pengaruh dari kerabatnya yang merupakan menteri kelas atas di Istana Kaisar. Parasnya sangat cantik dan rupawan. Tindak-tunduknya anggun dan elegan. Saat melihat Li An masuk bersama Li Huanran, ia tersenyum ramah menyambut keduanya.
Seandai Selir Ai masih ada, Li An pasti duduk di sisinya. Berhubung ia tidak memiliki ibu lagi, ia duduk bersama Putri Ketiga dengan Selir Shu sebagai wali. Sikapnya yang tenang dan kalem membuat ia terlihat dewasa. Sayangnya, gandengan tangan Li Huanran memecahkan semua kesan itu. Ia jadi lebih terlihat seperti anak normal yang kalem.
“Ini adalah malam yang bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya aku memiliki waktu untuk berkumpul bersama kalian semua,” ucap Kaisar Yung Wei membuka acaranya. Berbagai makan telah tersedia di meja masing-masing selir. Setelah sang Kaisar Tang menyelesaikan sambutannya, barulah para anggota keluarga kaisar dapat makan. Anak-anak adalah yang paling senang ketika saat itu tiba.
__ADS_1
“Makanlah dengan santai. Kamu bisa makan semua yang kamu mau,” ucap Selir Shu datar kepada Li An yang masih belum mulai menyantap makanan. Awalnya, ia sedikit khawatir kalau-kalau putrinya luput mengajari adab makan pada bocah itu. Namun, kekhawatirannya itu luntur saat melihat Li An dapat makan dengan tenang.
Di antara anak-anak yang hadir, Li An adalah yang paling anteng. Dari awal sampai akhir acara, dia tidak bergeming dari tempatnya bahkan saat makan malam dimulai. Ia tidak menimbun makanan seperti anak-anak yang lain dan hanya makan yang ada di dekatnya saja. Perilakunya ini menjauhkan ia dari kesan mencolok.
“Anak-anak, kudengar kalian ingin bertemu baginda kaisar,” kata Selir Shu ketika acara makan malam hampir selesai. Li Huanran dan Li An pun mengangguk. Memang ada yang ingin mereka bicarakan dengan ayahanda kaisar mengenai klaim Kediaman Selir Ai. “Tunggulah di rumahku setelah ini. Baginda kaisar akan bertemu dengan kalian di sana.”
“Hm, baiklah,” Li Huanran pun berterima kasih. Li Bei jadi tertarik mendengar itu. Ia ingin tahu apa yang akan diminta oleh adiknya. Li Huanran bukannya menjawab malah berkata ketus, “Hmph, ini bukan urusan Kakanda. Kakanda nggak perlu tahu.”
“Apa? Aku cuman penasaran!” Li Bei tidak terima dengan sikap Putri Ketiga. Yah, beginilah interaksi kakak beradik itu. Masing-masing saling bersaing untuk mendominasi. Karena itu, Li Huanran sangat senang ketika dapat menarik Li An ke dalam genggaman tangannya. Tidak seperti Li Bei, Li An lebih mudah dikendalikan dan tidak banyak melawan. Namun, tidak terlalu polos juga.
Malam itu, Li An dan Li Huanran benar-benar bertemu ayahandanya. Tentu saja Kaisar Yung Wei tidak keberatan untuk memberikan Kediaman Selir Ai kepada Li An. Hal itu akan diurus segera di esok hari. Anak kecil harus segera beristirahat seiring larutnya malam. Sebelum Li An pergi meninggalkan kediaman Selir Shu, Kaisar Yung Wei berpesan kepadanya, “Besok petang, datanglah ke tempatku. Mari kita berbincang bersama. Aku yakin Ai Ai mengajarkan banyak hal baik padamu.”
Li An hanya mengangguk. Li Huanran yang menjawabkan. Ia mengerti bocah itu ingin segera pulang ke kamarnya. Di tengah jalan, mereka bertemu Li Bei yang tampaknya sengaja menunggu.
“Apa yang mau Kakaknda lakukan?” tanya Li Huanran sinis, “Hari sudah malam. An’er harus segera tidur.”
“Hais … aku tahu itu. Aku hanya ingin mengajaknya ke suatu tempat besok. Dia pasti bosan bersamamu terus,” Li Bei sebenarnya tak ingin mengatakan itu. Namun, ia terlalu terseret dengan hawa persaingan Li Huanran. Jadi, mereka malah saling berebut pengaruh atas Li An. Pangeran Kedelapan sebagai pihak yang bersangkutan sendiri tak peduli dan meninggalkan mereka di luar.
Urusan klaim Kediaman Selir Ai berlangsung cepat dengan kertas bertinta dari sang kaisar. Para kasim mengurus perpindahan sebaik mungkin di bawah pegawasan seorang sarjana. Tanaman-tanaman yang rusak diganti, setiap jengkal bagian yang kotor dibersihkan. Li An dapat menikmati kembali kediaman itu di siang hari.
“Kenapa barang Kakak banyak sekali?” protes Li An begitu melihat dayang-dayang Li Huanran berbondong-bondong membawakan aset-aset keseharian sang putri. Barang-barang Li An sendiri tidak banyak, kebanyakan di antaranya pun hanya buku-buku dan gulungan yang ia pinjam dari Pagoda Arsip Kecil. Li Huanran tersenyum tipis merespon protes adiknya, “Hais … kamu masih kecil. Belum mengerti urusan wanita dewasa.”
“Hmph! Kakak sendiri juga belum dewasa,” sindir Li An. Li Huanran tidak membalas lagi. Ia hanya tetap tersenyum tipis karena memang begitulah adanya. Ia masih belum melakukan upacara kedewasaan. Namun, bukan berarti ia belum dewasa.
“Di mana Miao-Miao?” tanya Li An begitu melihat Mimi di antara dayang-dayang Li Huanran. Mimi menjelaskan bahwa ia melepaskan kucing kecil itu di taman begitu sampai di sini. “Harusnya Miao-Miao ada di sana. Mohon maaf karena tidak dapat menjaganya dengan benar. Ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”
“Hm, tidak masalah,” Li An pun segera meninggalkan rombongan para dayang dan mencari kucing kecilnya.
...***...
“Kaisar ingin bertemu pribadi dengannya? Xiang’er bahkan tak pernah mendapat kesempatan semacam itu,” Nyonya Zhaoyi bertanya dengan nada yang datar, tapi menusuk, “Kepala Dayang Yi, bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu?”
Seorang wanita paruh baya berseragam khusus berlutut di hadapan sang nyonya. Kepalanya tertunduk dalam tak berani saling bertatap muka dengan junjungannya. Ia pun menjawab sejujur-jujurnya, “Pangeran Kedelapan dan Putri Ketiga selalu bersama. Kami sama sekali tidak dapat mendekat.”
“Apa yang mereka lakukan?” Nyonya Zhaoyi memilin-milin anak rambutnya. Suasana hatinya kurang baik akhir-akhir ini. Kalau saja kaisar tidak menunjukkan tanda-tanda perhatiannya pada bocah itu, tentu dia tidak akan segelisah ini. Pandangannya pun menatap angkasa. Langit cerah hari ini. Hanya ada sedikit awan di sana.
“Pangeran Kedelapan dan Putri Ketiga hanya berjalan-jalan biasa. Tidak ada hal khusus yang mereka lakukan,” lapor Kepala Dayang Yi, “Nyonya Zhaoyi tidak perlu khawatir. Kami pastikan bahwa Pangeran Kedelapan tidak akan menghalangi jalan Anda.”
__ADS_1
“Ck, pergilah dan terus awasi dia. Aku hanya ingin mendengar pernyataan yang benar-benar serius,” ucap Nyonya Zhaoyi tanpa menoleh. Kepala Dayang Yi pun pamit undur diri. Di halaman kediaman nyonyanya, ia bernapas panjang.
“Dunia dalam istana ini sungguh rumit. Seorang anak yang belum beranjak sepuluh tahun pun dapat tertelan olehnya,” gumam Kepala Dayang Yi. Ia merasa iba kepada Li An. Dalam hati, ia berharap semoga bocah itu baik-baik saja dan tumbuh dengan sehat sentosa. “Yah, selama Pangeran Kedelapan benar-benar lepas dari mata sang kaisar, beliau pasti bisa lepas dari mata para bangsawan yang mengincar kekuasaan.”