
Suasana malam itu sangat berbeda dari biasanya. Rembulan tengah berada di penghujungnya, tak tampak sama sekali. Awan mendung pun menaungi langit. Hawa dingin terbang bersama angin yang berhembus kencang menerpa ibu kota Kerajaan Kiri yang sepi.
"Kakak, aku akan tidur bersama Seonghwa malam ini," kata Li Rouwei usai makan malam. Li An pun menoleh padanya, lalu tersenyum dan mengangguk kecil, "Tak masalah selama kalian tidak tidur terlalu malam."
"Kakak," panggil Li Rouwei lagi, lalu memohon, "Temani kami. Mau, ya?"
"Kenapa? Bukannya sudah ada Putri Seonghwa?" Li An menutup bukunya karena sepertinya pembicaraan ini akan memakan banyak waktu, "Kamu kan juga putri dari Tang yang pemberani? Biasanya, kamu juga tidur sendiri."
"Aku mau ditemani," Li Rouwei terus membujuk, "Ayo temani kami. Malam ini sangat gelap. Aku mau Kakak An bersama kami."
"Aku masih ada pekerjaan," Li An menunjukkan bukunya. Li Rouwei pun terdiam sejenak, lalu kembali memohon, "Kakak kan bisa membacanya di kamarku. Ayo, temani kami."
Li An mencoba untuk menolak dengan berbagai alasan lainnya. Namun, Li Rouwei terus bersikeras dan memaksanya sampai ia tak punya pilihan lain selain menurut. Putri Kesembilan itu jadi semakin rewel akhir-akhir ini.
"Hais ... baiklah," Li An pun menyerah dan bangkit dari duduknya, "Aku akan menemani kalian. Jadi, cepat tidur dan jangan bermain-main. Aku mau ke kamarku sebentar."
"Hm," Li Rouwei mengangguk senang. Ia pun segera mengajak Seonghwa masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, Li An menyusul dengan sepucuk lentera dan sejilid buku di tangannya.
"Seonghwa, ayo cepat tidur," bisik Li Rouwei pada sahabatnya itu, "Kakak, nanti jangan pergi, ya."
Li An tak menjawab. Ia hanya tersenyum halus dan mengelus kepala Li Rouwei dengan lembut. Li Rouwei pun meraih tangannya itu seakan benar-benar serius meminta kakaknya untuk tidak pergi.
***
Terlahir sebagai putri dan memiliki kehidupan mewah. Segala keinginan pasti dikabulkan. Punya paras yang cantik dan imut, serta suara yang lembut. Pasti beruntung sekali ia. Begitulah sosok Li Rouwei kecil. Ia memiliki segalanya sejak lahir. Namun, kebahagian sejati itu bukalah berasal dari kemewahan yang fana. Semua itu palsu. Itu bukanlah hal yang benar-benar sang putri harapkan.
Ibunya adalah seorang selir yang berpengaruh, punya banyak dayang, dan sibuk berpolitik. Yah, sangat sibuk berpolitik sampai-sampai seakan ia lupa dengan keberadaan anak-anaknya, apalagi Li Rouwei yang tidak mungkin mewarisi takhta. Permaisuri Zhaoyi yang saat itu masih jadi selir sangat jarang memperhatikan putrinya. Karena itu, Li Rouwei jadi merasa kesepian.
Sejak dalam buaian, Li Rouwei selalu dirawat oleh dayang. Apa pun yang dia inginkan, para dayang itu pasti akan segera menurutinya. Mereka semua melakukannya sekadar untuk menjalankan tugas saja.
Li Rouwei selalu mengharapkan perhatian. Setiap kali ia berusaha mendekat pada ibunya, sang ibu hanya membalas dengan dingin dan nyaris tak acuh. Rou'er kecil tak bisa merasakan kasih sayang darinya, apalagi dari ayahnya yang seorang kaisar. Ia pun jadi menempel pada kakak kandungnya, Li Xiang.
Sayangnya, sang kakak juga sibuk latihan dan latihan. Meskipun ia memberi sedikit perhatian pada Li Rouwei, tetap saja sang putri merasa kurang karena sang Pangeran Ketujuh lebih sering mementingkan ambisinya. Itu membuat Putri Kesembilan cukup sebal.
__ADS_1
Hari itu, Li Rouwei iseng mengikuti kakaknya berkunjung ke sebuah paviliun kecil di kompleks istana. Li Rouwei memang sudah pernah mendengar tentang kediaman itu, tapi ia belum pernah melihat isinya secara langsung sebelumnya. Dengan jurus mengendap-endap ala putri kecil, ia menyusup ke dalam dengan hati-hati.
"Kak Xiang, dia adikmu?" sebuah suara yang asing menyambut Li Rouwei kala itu. Saat Li Xiang menoleh, pangeran itu sangat terkejut dan buru-buru ingin membawanya pulang kembali. Namun, Li Rouwei langsung menolak.
"Tidak apa-apa, biarkan saja dia bermain di sini," suara itu kembali terdengar. Ada aura yang berbeda terpancar darinya. "Dia bisa bermain bersama Miao-Miao. iya, kan, Kak Huanran? Hai, Adik kecil. Apa kamu suka kucing?"
"Iya, biarkan saja dia di sini," Li Huanran juga mengizinkannya saat itu, "Dia pasti mengikutimu karena penasaran, Xiang'er."
"Rou'er," kata Li Rouwei memperkenalkan dirinya sambil menatap waspada dari balik jubah Li Xiang, "Aku Li Rouwei, Putri Kaisar Tang Kesembilan."
"Rouwei? Itu nama yanng cantik. Ibumu pasti sangat sayang padamu. Aku Li An, Pangeran Kedelapan," pemilik suara itu memperkenalkan diri. Ada seulas senyum khas yang mengandung kepedulian pada bibir. Entah mengapa, Li Rouwei sangat betah saat bersamanya.
Di hari-hari berikutnya, Li Rouwei pun jadi lebih sering berkunjung ke Paviliun Aixin. Ia selalu mendapati Li An sedang belajar di sana. Setiap kali ia datang, Pangeran Kedelapan pasti menyambut dan menyuguhinya dengan makanan-makanan manis buatan Mimi.
Pangeran Kedelapan memang sibuk sama seperti kakak-kakak Li Rouwei yang lain, apalagi saat ada Yun Jili yang mengawasinya. Namun, ia selalu mau menemani Li Rouwei untuk bermain di waktu senggang. Biasanya, mereka juga bermain bersama Miao-Miao.
Intinya, suasana di Paviliun AIxin sangat berbeda dari Istana Kebahagiaan Abadi. Andai mahligai itu adalah padang pasir emas dan berlian, maka Paviliun Aixin adalah oase yang cantik dan sederhana. Itu karena penghuninya yang ramah dan perhatian. Li Rouwei berharap agar oase itu tak pernah menghilang.
"Yah, tolong jangan pergi ...
***
"Tak!"
Suara hentakan kecil itu membangunkan Li An yang tertidur sambil duduk. Matanya langsung menyapu ke sekitarnya dengan waspada. Lentera yang dibawanya ke kamar Li Rouwei telah mati. Namun, ia masih bisa merasakan jari-jemari Putri Kesembilan yang masih mencengkeram tangannya.
"Kakak Hong," panggil Li An.
"Ya, Pangeran," Wang Hongli langsung menjawab. Selama di Kerajaan Kiri, ia selalu mengawal Pangeran Kedelapan bersama prajurit-prajuritnya. Kebetulan sekali, ini adalah gilirannya menjaga.
"Apa kamu dengar suara itu?" tanya Li An. Ia melepaskan cengkeraman Li Rouwei pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Pandangan, pendengaran, dan hatinya terus waspada mengamati sekitar.
"Saya mendengarnya," Wang Hongli juga sudah memasang kewaspadaannya. Sebagai seorang pendekar berjuluk, ia memiliki indra pengamatan yang lebih baik daripada kebanyakan orang. "Apa perlu kami periksa, Pangeran?"
__ADS_1
"Berapa orang yang sedang berjaga di sekitar sini?" Li An tak langsung menjawab pertanyaan Wang Hongli dan malah balik bertanya. Ia harus mempertimbangankan segalanya dengan baik. Kalau tidak, ....
"Sekitar ...," Wang Hongli baru mau melaporkan ...
"Duar!"
Sebuah suar kembang api meledak di langit-langit istana. Suasana menjadi ribut dan mencekam. Para prajurit dan penjaga langsung terbangun seketika. Puluhan bayang-bayang misterius melompat-lompat di atas atap istana.
"Pangeran, hati-hati!" seru Wang Hongli. Ia segera memanggil kawan-kawan terdekatnya untuk merapat ke Kompleks Tamu Kehormatan. Pasukan yang dipimpin oleh Sang Pendekar Cenangkas Kembar pun berkumpul.
"Kakak," Li Rouwei ikut terbangun oleh ledakan suar tadi. Begitu pula Seonghwa. "Apa yang terjadi?"
"Rou'er," Li An menoleh. Ia baru saja menerima sebilah pedang dan panah dari salah seorang prajuritnya. "Hati-hati, kita diserang."
"Kakak An," suara Li Chen terdengar pula. Putra Pangeran Zhizhe itu juga sudah siap dengan senjatanya. "Suara apa itu tadi?"
"Suar," jawab Li An singkat, "Musuh sudah menyerang. Berhati-hatilah, Chen'er!"
"Geh! Seperti yang dirumorkan," Wang Hongli menyeringai seram. Andai ia tidak ditugaskan untuk menjaga para pangeran dan putri, ia pasti akan ikut memburu para penyusup itu, "Jadi ini pasukan pelopor Kerajaan Tengah yang legendaris itu. Tapi ...."
"Trang!"
Wang Hongli menangkis sebuah serangan yang datang tiba-tiba. Lawannya pun langsung terpental beberapa meter. Pendekar berbadan tegap itu bukan orang yang mudah ditumbangkan begitu saja.
"Kalian terlalu lemah untuk dianggap level pasukan elit," Wang Hongli menguatkan cengkeraman kedua pedangnya. Ia membangun kuda-kuda menyerang. Sesaat kemudian, ia melesat maju menebaskan pedangnya.
"Argh ...!" lawan yang belum sempurna bangkit itu langsung tumbang. Ia tidak punya kesempatan untuk melawan Wang Hongli yang menerjang tanpa basa-basi. Pedang sang pendekar itu langsung berlumuran darah.
"Brak!"
Seonggok mayat yang terbunuh oleh anak panah jatuh tepat di depan Sang Pendekar Cenangkas Kembar. Ia pun menoleh ke atas. Belasan musuh telah siap untuk menyerbunya barusan, tapi perhatian mereka teralih kepada seorang pemuda yang dengan lihai menembakkan panahnya.
"Hai, Cecenguk!" bentak Wang Hongli sambil menghunuskan pedangnya kepada mereka. Ia telah ditemani beberapa prajuritnya sekarang. Jumlah mereka bukan lagi masalah, "Turun kalian! Lawan kalian adalah kami."
__ADS_1
Li An menatap dingin pemandangan di sekitarnya. Ia memasang baik-baik anak panahnya, siap diluncurkan kapan saja. Li Chen dan para putri berdiri di belakangnya, sementara Pasukan Cenangkas melingkar di sekitar mereka, bersiaga atas kemungkinan terburuk. Meskipun mereka sudah memperkirakannya, tapi mereka harus tetap waspada.