Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Utusan Keluarga Shen


__ADS_3

“Pangeran, ini laporan terbaru terkait Kafilah Aman,” Jian Hai menyerahkan sejilid dokumen yang tidak terlampau tebal. Itu adalah arsip notulensi pertemuan utusan dari Serikat Dagang Fuli dengan Ketua Muda Kafilah Aman. “Cerita mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang Anda dengarkan dari Wali Kota Shen. Hanya saja, mereka berpendapat bahwa orang-orang mereka tidak seharusnya ditahan karena orang-orang dari Keluarga Shenlah yang memulai perseteruan itu.”


“Apa kalian sudah mengonfirmasinya lebih lanjut dari sisi Keluarga Shen? Bagaimana dengan saksi di tempat kejadian?” tanya Li An sembari memeriksa laporan yang Jian Hai berikan. Ia beberapa kali mengerutkan kening, lalu mengangguk-anggukkan kepala pelan.


“Kami akan segera menyelidikinya, Pangeran,” Jian Hai tak berpikir untuk menyelidi saksi sebelumnya. Menurut intuisinya sebagai pedagang, masalah perseteruan itu tak perlu digali lebih dalam demi kelangsungan bisnisnya. Namun, yang ada di hadapannya sekarang adalah seorang pangeran. Mungkin karena kehidupan Pangeran Kedelapan yang sarat dengan perpolitikan istana, pangeran muda itu pun jadi demikian seriusnya menyelidiki masalah publik.


“Selidiki dengan teliti. Jangan sampai masalah ini membesar di masa depan kelak,” tegas Li An yang masih fokus pada laporan yang diterimanya.


Jian Hai terdiam sejenak. Baginya, masalah pertikaian antarpedagang hanyalah masalah sepele yang tidak akan terlalu berpengaruh kepada kondisi kekaisaran. Ia tidak mengerti bagaimana jalan berpikir junjungan mudanya, Pangeran Kedelapan. Karena itu, ia bertanya, “Pangeran, masalah seperti apakah yang Anda khawatirkan?”


“Perbedaan ras, diskriminasi sosial, dan ketimpangan ekonomi,” Li An berpaling dari lembar-lembar laporan dan menatap Jian Hai, “Termasuk di dalamnya perkembangan sentimen negatif tentang orang asing. Jika penduduk Tang sampai terpengaruh dengan hasutan jahat seperti ini, hubungan dagang antara Kekaisaran Tang dan dunia luar akan memburuk. Saat itu terjadi, kota bandar sebesar Guangzhou pun bisa jadi tersingkir dari jalur perdagangan, bahkan lumpuh selama puluhan tahun.”


“Apakah efeknya bisa separah itu?” Jian Hai mengerti kekhawatiran Li An, tapi ia tak bisa membayangkan hal itu benar-benar terjadi. Li An bangkit dari kursinya dan mengembalikan laporan yang telah selesai ia baca. Sebelum keluar dari kantor, ia menjawab, “Pohon yang dipupuk sedikit demi sedikit pun pasti akan tinggi seperti gunung yang dipasak perlahan-lahan.”


Jian Hai kembali terdiam. Kini, ia duduk sendirian di kantornya. Hanya ada tumpukan berkas yang menemaninya. Pria paruh baya itu pun menyandarkan tubuhnya pada kursi dan merenggangkan badan. Ia menghela napas lelah, lantas kembali memproses perkerjaannya yang belum terselesaikan. Di dalam ruangan yang sarat akan keheningan itu, ia bergumam, “Bisa jadi pangeran benar. Selama ini aku terlalu meremehkannya. Aku bahkan baru sadar bahwa kami duduk di alam yang berbeda.”


“Pangeran, utusan dari Keluarga Shen memohon izin untuk bertemu dengan Anda,” seorang pesuruh datang menghadap Li An begitu pangeran muda itu keluar dari ruangan direktur serikat. Li An pun menoleh dan bertanya, “Apa dia sudah lama menunggu?”


“Mereka datang tak lama setelah Anda memasuki ruang direktur,” jawab si pesuruh, “Saat ini, mereka masih menunggu di ruang tamu.”


“Suruh mereka untuk menunggu sebentar lagi, aku akan datang segera,” ujar Li An yang kemudian pergi meninggalkan pesuruh itu. Ia mampir dulu ke ruang istirahat khususnya untuk menulis beberapa hal di atas selembar kertas kecokelatan. Setelah selesai menulis dan menggulung lembaran itu, barulah ia datang ke tempat utusan Keluarga Shen menunggu.


Seorang pria berkumis panjang dan pemuda yang usianya sekitar dua puluhan segera berdiri begitu mendengar kedatangan Pangeran Kedelapan. Keduanya langsung memberi hormat formal pada Li An begitu pangeran muda itu memasuki ruangan.


“Saya Shen Shuxiang, Kepala Urusan Dagang di Kaluarga Shen. Panggil saja saya Shuxiang, sedangkan ini adalah keponakan saya, Shen Diwei, Tuan Muda Keluarga Shen,” ucap pria berkumis panjang memperkenalkan diri. Li An mengangguk sekilas, lalu memandang Shen Diwei sejenak.


“Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda, Pangeran Kedelapan,” Shen Diwei menunjukkan hormatnya dengan nada yang datar dan terkesan tak acuh. Bagaimanapun, usianya jauh lebih tua dari Li An dan dia digadang-gadang sebagai jenius di generasinya dalam kesarjanaan dan akademik maupun urusan perdagangan. Meskipun ia telah mendengar bakat Li An yang luar biasa dalam bidang yang sama, ia tidak ingin serta-merta mempercayainya. Rasa hormatnya sekadar etiket yang lazim diberikan orang kepada setiap anggota Keluarga Kekaisaran Tang.


“Pangeran, Anda pasti sudah mendengar permasalahan kami dari wali kota,” ujar Shen Shuxiang mulai dengan berbasa-basi, “Kami memiliki masalah dengan Kafilah Aman baru-baru ini. Padahal, kami sudah bermitra sejak lama, tapi tiba-tiba mereka meminta perubahan kontrak bahkan berniat memutuskannya.”


“Aku sudah mendengar semuanya, Tuan Shuxiang. Anda bisa langsung masuk ke intinya,” balas Li An setelah cukup lama mendengar basa-basi dan cerita Shen Shuxiang. Ekspresinya dingin dan tenang. Shen Shuxiang jadi sedikit gelagapan dalam menentukan sikapnya. Pria berkumis panjang itu pun berkata, “Baik, Pangeran. Sesuai yang Anda minta, saya akan langsung memberikan hasil kesepakatan para tetua.”


“Ehem!” Shen Shuxiang bedeham sekali, baru kemudian melanjutkan, “Para tetua dari keluarga kami telah bersepakat, mereka bisa mempertimbangkan perubahan beberapa bulir kontrak tergantung dari bagaimana Kafilah Aman memintanya. Kami tidak akan bisa menerima banyak perubahan yang muluk-muluk. Mohon kebijaksanaan dan keadilan Pangeran dalam masalah ini.”

__ADS_1


“Aku mengerti. Kalian tinggal mengajukan waktu dan tempat perundingan kepada Kafilah Aman. Serikat Dagang Fuli akan mengirimkan utusannya untuk menjadi penengah di antara kalian,” ucap Li An memberikan persetujuannya, “Apakah ada lagi yang ingin kalian sampaikan?”


“Hm … begini, Pangeran,” Shen Shuxiang mngungkapkan kekhawatirannya akan kegagalan dalam negosiasi itu. Jika perjanjian dagang antarkedua belah pihak terputus, Keluarga Shen akan mendapat kerugian yang tidak sedikit. “Kami sudah mendengar bahwa ada kemungkinan Kafilah Aman akan membangun mitra baru dengan Serikat Dagang Fuli. Bagi kami, itu ….”


“Intinya, kalian merasa dirugikan karena Kafilah Aman membangun relasi baru dengan pedagang lain jika negosiasi tidak berjalan baik?” potong Li An dengan nada suara yang dingin, “Ataukah kalian pikir Kafilah Aman berniat melakukan hal itu karena hasutan kami?”


Shen Shuxiang terkesiap dalam hati. Ia segera meluruskan maksudnya agar Keluarga Shen tidak terlibat masalah dengan serikat dagang yang dirintis oleh anggota keluarga kekaisaran, “Bukan begitu, Pangeran. Ka—kami hanya menyayangkan masalah ini jika hal itu benar-benar terjadi. Bagaimanapun, Kafilah Aman dan Keluarga Shen telah lama bermitra dengan baik sejak lama. Kami bahkan berbesan dengan mereka. Kami tidak ingin hubungan itu terputus begitu saja.”


“Maka, kalian harus bisa membuat negosiasi ini berjalan lancar. Jagalah hubungan itu dengan serius. Jangan hanya bermain-main kata saja,” ujar Li An memperingatkan, “Lalu, ketahuilah bahwa Kafilah Aman juga memiliki hak untuk bekerja sama dengan siapa saja, termasuk Serikat Dagang Fuli. Keluarga Shen tidak memiliki kuasa untuk menghalangi mereka.”


“Pangeran,” Shen Shuxiang ingin mengatakan sesuatu. Namun, seolah ada sesuatu yang menghalanginya. Dalam hati, ia tahu bahwa apa yang dikatakan Pangeran Kedelapan adalah benar. Apalagi kalau Serikat Dagang Fuli sudah mengikat kontrak dengan mereka. Keluarga Shen tidak akan bisa menekan Kafilah Aman dengan gegabah jika hal itu sampai terjadi.


“Apa lagi yang ingin Anda sampaikan, Tuan Shuxiang?” Li An mengambil teh hangat yang baru diseduh pelayannya beberapa saat yang lalu. Ia memandang kedua tamunya dengan mata selidik yang terkesan datar dan tidak peduli. Namun, di belakangnya terdapat kewaspadaan yang tinggi.


Shen Diwei memberi kode kepada pamannya. Tuan Muda Keluarga Shen itu ingin menyampaikan sesuatu pada Pangeran Kedelapan. Ia ikut datang ke mari bukan hanya untuk menonton saja.


“Katakan yang ingin Anda katakan, Tuan Muda Shen,” titah Li An begitu melihat gelagat pemuda itu. Shen Diwei sedikit terkejut, tapi bisa menyembunyikannya dengan baik. Ia pun melirik pamannya yang mengangguk.


Shen Shuxiang menoleh cepat kepada kemenakannya. Ia merasa bahwa ucapan yang pemuda itu katakan bisa menyinggung Pangeran Kedelapan. Mereka tidak akan diuntung apabila Pangeran Kedelapan menyimpan dendam pada mereka. Sayangnya, sebelum ia bisa menyikut keponakannya itu, Li An sudah lebih dulu menyela, “Tuan Muda Shen ingin mendahului Kafilah Aman. Bukankah tadi kalian keberatan kalau Kafilah Aman berdiri bersama kami?”


“Itu adalah pandangan konservatif para tetua kami,” Shen Diwei menjawab tanpa ragu dan dengan sadar menyinggung pamannya yang berkedudukan tinggi di Keluarga Shen, “Saya yakin bahwa Keluarga Shen tidak akan bertahan lebih lama lagi apabila mereka terus mempertahankan egonya untuk memonopoli perdagangan di Quanzhou. Karena itu, saya perpandangan bahwa Serikat Dagang Fuli adalah mitra terbaik untuk saling berbagi keuntungan. Kami tetap akan bekerja sama dengan Kefilah Aman bahkan setelah mereka menjalin hubungan dengan Pangeran nantinya. Pangeran yang bijaksana pasti mengerti maksud saya.”


Shen Shuxiang ingin menyeret keponakannya ke luar dan memberi pemuda itu pelajaran keras, tapi ia tidak bisa melakukannya karena tempat ini adalah ruangan milik Pengeran Kedelapan. Para pengawal pasti akan segera merengsek masuk jika terjadi keributan.


“Tuan Muda Shen memiliki pikiran yang terbuka,” Li An menatap tajam pemuda di hadapannya, “Anda bisa mengajukan hal itu pada saat yang bersamaan dengan Kafilah Aman nanti. Untuk sekarang, Anda harus mempertanggungjawabkan dulu perkataan itu pada para tetua Keluarga Shen. Aku tidak ingin menerima kerja sama dengan sebuah keluarga yang sedang berselisih.”


“Saya mengerti, Pangeran. Shen Diwei ini pasti akan mempertanggungjawabkan kata-katanya,” teguh Shen Diwei. Ia pun menjelaskan beberapa rencana investasi dan program yang akan ditawarkannya nanti. Pemuda itu berniat mempengaruhi Li An untuk secepatnya menjalin kerja sama dengan Keluarga Shen tanpa menunggu lebih lama lagi. Jika beruntung, ia mungkin bisa tetap menekan Kafilah Aman dengan Serikat Dagang Fuli.


“Anda sudah selesai?” tanya Li An dengan intonasi yang tak menghangat sedikit pun. Air mukanya tetap saja tenang dan dingin. Meskipun ia tertarik dengan program-program yang Shen Diwei paparkan, ia tetap teguh pada pendiriannya, “Silakan Tuan Muda Shen menyusun rencana itu dalam bentuk dokumen dan ajukan pada saatnya nanti. Kami pasti akan mempertimbangkannya.”


“Baik, Pangeran,” Shen Diwei menelan ludah. Ia sudah berbicara panjang lebar dengan sangat meyakinkan. Namun, ia tetap saja gagal memancing targetnya. Yah, setidaknya ia memegang sebuah jaminan. Ucapan Pangeran Kedelapan itu bisa ia gunakan saat berhadapan dengan para tetua Keluarga Shen nanti. Shen Shuxiang pun terlihat akan mendukungnya argumentasinya. Semoga para tetua itu tidak terjebak dalam kekolotannya. “Terima kasih atas perhatian, Pangeran.”


Shen Shuxiang dan Shen Diwei pamit tak lama kemudian. Mereka berdua sama-sama menghempuskan napas begitu keluar dari Gedung Serikat Dagang Fuli. Tak disangka bahwa menghadapi Pangeran Kedelapan yang masih sangat muda akan seberat itu.

__ADS_1


...***...


“Urusanmu di serikat dah selesai?” tanya Li Huanran begitu mendapati Li An sampai di penginapan. Bocah yang ia tanya hanya mengangguk saja. Dilihatnya ada noda kelelahan pada wajah adik kesayangannya itu.


“Ada masalah, ya?” Li Huanran kembali bertanya, kali ini ada nada khawatir pada ucapannya.


“Nggak kok,” Li An menggeleng. Ia pun duduk di samping kakaknya dan bersandar pada kursi. Pandangannya menyapu langit-langit ruangan yang dihias seelok mungkin dengan berbagai ornamen sulur yang cantik. “Cuman cape saja. Harusnya kan aku liburan sama Kakak.”


“Hmph! Kamu sih pake sok buat serikat. Jadi sibuk kan sekarang. Masa mudamu jadi nggak seindah anak-anak bangsawan lainnya tuh,” ucap Li Huanran berpura-pura menggerutu kesal, “Kamu juga buru-buru banget buat lulus ujian kesarjanaan. Belajar kan nggak bakal sesibuk kayak kamu sekarang.”


“Biarin, yang penting masa mudaku nggak sia-sia,” balas Li An ketus, “Aku kan jadi nggak kena skandal kayak Kakak dulu.”


Puk!


“Aduh!” Li An bangkit dari duduknya sambil mengelus-elus kepala dengan kedua tangan. Ia manatap tajam pada Li Huanran yang barusan menotokkan kipas berangka keras ke kepalanya. Ia pun berseru protes, “Sakit tahu!”


“Siapa suruh kamu ngungkit masalah itu lagi?” cuek Li Huanran.


“Kakak kan nggak harus mukul,” balas Li An dengan mata yang masih melotot. Sisi kekanak-kanakannya seolah datang kembali. Li Huanran selalu tertawa saat melihat. Ia pun memasang topeng sok empatinya.


“Sakit banget, ya? Mau kakak elus? Sini, duduk samping Kakak sini!” kata Li Huanran sambil menepuk-nepuk tempat yang tadi diduduki Li An. Bukannya datang, Li An malah berpaling ke kamarnya dan berseru, “Aku bukan anak kecil lagi!”


“Hais … dia masih belum juga dewasa,” gumam Li Huanran dengan senyum tipisnya, “Sampai kapan aku harus jadi walinya, ya?”


Di dalam kamarnya yang sepi, Li An langsung menggeletakkan tubuh di kasur. Ia menghela napas panjang, lalu menolehkan wajah ke samping. Dilihatnya sebuah buku berkertas kulit. Warnanya kecokelatan dan tebalnya setinggi bantal.


Li An pun bangkit dari baringnya. Ia mengambil buku itu dan menaruhnya di atas pangkuan. Itu adalah buku pemberian Ali. Pemuda Arab itu berpesan padanya untuk menjaga buku ini dengan baik dan berhati-hati karena isinya sangat penting. Li An belum tahu persis apa isi buku itu. Sejauh pengetahuannya selama ini, buku itu adalah buku yang selalu Ali bawa setiap kali ia membacakan lantunan-lantunan indah yang menyejukkan hati meskipun tidak mudah dimengerti.


“Padahal aku sudah lumayan bisa baca aksara Arab,” gumam Li An sambil membolak-balik lembar demi lembar buku yang dipangkunya, “Tapi, ia bilang, aku harus membaca buku ini dengan bimbingan seorang alim. Ini kitab suci mereka kan?”


Li An kembali berbaring. Ia mengangkat tinggi-tinggi buku pemberian sahabatnya. Setelah puas memandangi buku itu cukup lama, barulah ia kembali menaruhnya di tempat semula. Tak lama kemudian, ia pun terlelap dalam lelahnya. Saking nyenyaknya ia, pangeran muda itu sampai tidak sadar saat pintu kamarnya dibuka.


“Kamu sudah bekerja keras,” Li Huanran mencium kening adik kesayangannya dengan tulus, “Istirahat yang benar, ya. Jangan sampai kamu sakit.”

__ADS_1


__ADS_2