Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 051: Tendangan untuk Liu Hao


__ADS_3

"Di mana kalian mengurung tuan putri?" tanya seorang pemuda dengan suara yang keras. Ia adalah orang yang membuat Wang Hongli dan para pasukannya bekerja ekstra akhir-akhir ini. Andai saja mereka bisa menangkapnya, sudah pasti mereka akan melakukannya. Sayangnya, latar belakang orang itu terlalu merepotkan.


"Pergilah, Tuan Muda Liu," usir Wang Hongli yang sudah sangat kesal, tapi masih berusaha untuk menahan amarahnya, "Tuan Putri Ketiga sedang tidak ada di dalam paviliun."


"Bohong!" tuduh Liu Hao keras, "Buat apa kalian memperketat penjagaan kalau tuan putri tidak di dalam, hah?"


"Ini adalah perintah Pangeran Kedelapan," jawab Wang Hongli yang semakin kesal, "Enyahlah, Tuan Muda Liu."


"Heh, bocah itu," Liu Hao malah terang-terang menunjukkan permusuhannya kepada Pangeran Kedelapan di depan Wang Hongli, guru sekaligus pendekar setia sang pangeran, "Dasar tak tahu diuntung. Beraninya dia menjual tuan putri pada orang asing demi harta benda yang berlimpah itu."


"TUAN MUDA LIU!" panggil Wang Hongli dengan penuh penekanan. Kedua tangannya menyatu, salah satunya mengepal, menunjukkan bahwa ia bisa melayangkan tinjunya kapan saja. "Jaga lidah Anda atau urusan ini akan jadi sulit."


"..."


Liu Hao mundur dari tempatnya dengan air muka yang jelas tak puas. Andai ia seorang pendekar, ia pasti tak akan takut melawan pria kekar di hadapannya ini. Masalahnya, ia hanya dilatih ilmu-ilmu kesarjanaan sejak kecil. Tuan muda dari Keluarga Liu itu pasti akan langsung babak belur jika bertarung dengan Wang Hongli.


"Ada apa ini?" Li An pulang bersama Yun Jili ke kediamannya di Paviliun Aixin. Pemuda itu ingin mengemas barang-barang Li Huanran yang akan dibawa ke Guangzhou. Ia menghela napas kesal saat melihat Liu Hao ada di depan gerbang kediamannya.


"Pangeran, Tuan Muda Liu mendesak ingin bertemu dengan Tuan Putri Ketiga," lapor Wang Hongli yang terlihat lega karena bisa menyerahkan masalah ini pada Li An segera, "Kami sudah memintanya untuk pulang karena Tuan Putri Ketiga sedang tidak ada, tapi dia terus bersikeras."

__ADS_1


"Hais …," Li An menoleh pada Liu Hao tanpa menghilangkan kekesalan di wajahnya, "Tuan Muda Liu, Anda tidak akan bisa bertemu dengan Putri Ketiga. Pulanglah dan jangan kembali lagi!"


"Heh, aku tak akan menyerah sampai bertemu Huan'er," Liu Hao menunjukkan tanda-tanda tak mau menyerah sama sekali, "Aku tahu kalian sengaja mengurung Huan'er di dalam sampai acara pernikahannya. Dasar kau adik tak tahu diuntung. Kamu bahkan tak malu menjual kakakmu sendiri kepada orang asing."


"..."


Li An tak membalasnya dengan sepatah kata pun. Ia maju mendekati Liu Hao dengan tangan mengepal. Pandangannya menatap tajam pada pemuda itu seakan-akan ia adalah ujung pedang yang terhunus. Setiba di jarak jangkau serang, Li An segera melesatkan tendangannya lurus ke arah ulu hati Liu Hao. Tendangan itu sangat cepat tanpa aba-aba sampai korbannya tak sempat berkelit sama sekali.


"Kamu pikir kamu itu tokoh utama novel klasik, hah?" tanya Li An membentak keras, "Hentikan saja imajinasi liarmu itu. Kamu pikir itu benar hanya kerana terdengar romantis? Heh! Itu adalah omong kosong. Kamu pikir tokoh utama yang menghancurkan rencana pernikahan itu benar? Bodoh! Itu hanyalah keegoisan nyata dari seorang pecinta gila."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu," Liu Hao bangkit sambil memegang perutnya yang sakit. Ia menyeringai remeh seolah tak merasa bersalah sama sekali. "Aku hanya berusaha menyelamatkan Huan'er yang kaupaksa menikah demi keuntunganmu sendiri."


Liu Hao kembali mendapat serangan, kali ini tendangan dari samping yang Li An berikan. Ia pun terpental sampai bahunya menabrak tembok. Bukannya menyerah, seringai di wajahnya malah semakin lebar.


"Menteri Liu!" seru Li An tegas. Seruannya itu mengejutkan Menteri Liu yang kebetulan melihat kejadian barusan. Li An pun menunjuk Liu Hao sambil menatap Menteri Liu dengan tajam, "Beginikah cara Keluarga Liu mengajarkan anak-anak? Sejak kapan kalian diizinkan memanggil putri keluarga kekaisaran dengan enteng begitu?"


"Ampun, Pangeran Kedelapan," Menteri Liu yang awalnya hendak menegur Li An malah menjadi ciut. Ia tertunduk dalam, tapi matanya diam-diam melirik Liu Hao yang tergeletak mengenaskan di dekat tembok. "Apakah gerangan yang terjadi sampai membuat Pangeran Kedelapan marah?"


"..."

__ADS_1


Li An tak langsung menjawab. Bagaimanapun juga, Menteri Liu adalah sosok yang dihormati di istana. Yah, meskipun kasus yang menimpa Permaisuri Eminen membuat derajatnya turun secara alami, ia tetaplah tetua yang dihormati.


"Menteri Liu, aku menghormati dan mengagumi kebijaksanaanmu," ucap Li An memulai kalimat protesnya dengan mengangkat derajat Menteri Liu, "Aku pun sempat mengagumi kecerdasan Tuan Muda Liu yang lebih senior dariku. Namun, aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang ia lakukan padaku. Dia bahkan berani mengusik pernikahan Putri Ketiga."


"Paman …!" panggil Liu Hao yang hendak meminta bantuan, tapi Menteri Liu malah membentaknya, "Diam! Jangan membuat Keluarga Liu malu lebih dari ini. Perbuatanmu sejak kemarin sudah sangat keterlaluan. Kamu tidak sadar, heh?"


Menteri Liu pun kembali menghadap pada Li An dan memohon maaf padanya karena telah menyela. Ia yang awalnya memang berniat membela Liu Hao jadi urung karena sadar latar belakang dari masalah ini. Meskipun reputasinya telah tercoreng, ia tetaplah menteri yang dekat dengan Kaisar Yung Wei. Karena itulah ia tahu perhatian yang diam-diam sang kaisar berikan pada Pangeran Kedelapan. Ia tidak ingin menambah masalah dengan pangeran itu sekarang.


"Apa yang akan Anda lakukan setelah mendengarnya, Menteri Liu?" tanya Li An setelah ia menceritakan kronologi masalahnya dan segala kelancangan Liu Hao sejak kemarin. Menteri Liu yang masih tertunduk sejak tadi pun menjawab, "Pangeran Kedelapan, Liu Hao masih muda dan ceroboh. Saya sendiri yang akan membimbingnya setelah ini. Mohon maafkan kesalahannya kali ini."


"Pastikan dia tak datang lagi ke mari," ucap Li An palan, tapi tegas, "Aku tidak akan membiarkan masalah ini untuk kedua kalinya."


"Terima kasih atas keluasan hati Pangeran Kedelapan," Menteri Liu kembali melirik Liu Hao yang menatap tak percaya, "Kalau begitu, saya dan Liu Hao pamit undur diri."


"Pergilah!" jawab Li An dingin. Setelah kedua anggota Keluarga Liu itu pergi, ia menghela napas lega. Rasanya seperti ada yang mengalir setelah tersumbat cukup lama. Mungkin karena ia sudah berhasil menendang Liu Hao dua kali. Yah, akan lebih seru kalau bisa lebih sih.


"Syukurlah Putri Ketiga memutuskan untuk tinggal di Istana Pangeran Zhizhe," kata Yun Jili selepas mereka masuk ke Paviliun Aixin. Dilihatnya Mimi yang mengenakan salah satu gaun Li Huanran, juga Yun Annchi yang duduk di pangkuan wanita itu.


"Mimi juga sudah melaksanakan perannya dengan baik," Li An tersenyum tipis setelah mukanya masam selama beberapa saat tadi, "Berkatnya, kita tahu kalau orang itu mengintip Paviliun Aixin. Aku akan mengirimkan laporan ini kepada pengadilan untuk disimpan. Kalau sampai dia berulah lagi, aku tinggal membukanya untuk menahan makhluk tak tahu malu itu."

__ADS_1


__ADS_2